Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR VII: Pikiran Hari Tua


__ADS_3

Di dalam café, Mona memandang kearah Gama dengan tatapan tajam sementara Gama terus memakan roti isinya dengan lahap. Sambil menatap layar ponsel dan menggeser jarinya kebawah, Gama sesekali tertawa kecil oleh postingan lucu dari akun yang dia follow.


Mona didepannya yang tengah memegang ponsel juga kini tengah menonton berita. Mona sengaja membesarkan suara beritanya hingga di dengarkan Gama namun Gama tetap asyik sendiri dan tampak acuh.


“Lo kemaren malam dimana?” tanya Mona yang akhirnya kesal.


Gama mendongak menatap Mona dengan mulut penuh roti isi. Gama menelannya kemudian berkata, “Kerja kok.”


Mona menghela napas berat lalu menunjukkan berita tentang perseteruan antar geng di klub malam BLOCLK. Melihat berita itu Gama menelan makanannya lalu berkata, “Oh, iya, itu gue sama sepupu gue.”


“Lo ga takut ditangkap polisi apa?”


“Gak sih, gak bakal ada polisi di kota ini yang berani ikut campur.”


“Kok gitu?”


“Kepala kepolisian kan teman main golf kakek gue. Lagian dia dapat potongan dari setiap aktifitas keluarga Kolandam. Gak mungkin dia mau nangkap sumber uang pensiunnya.”


Mona menatap Gama tak percaya, “Gila ya, gue masih gak nyangka lo itu pelaku kriminal. Padahal lo bisa jadi pengusaha atau pegawai hebat pake ijazah S1 kita. Emang mafia mesti jadi sarjana dulu, ya?”


“Yoi, zaman sekarang mafia terdidik. Harus pergi kuliah dulu biar bisa bersaing. Dunia kriminalitas itu juga punya persaingannya sendiri, lho.”


“Gak ngerti lagi deh gue sama lo.”


Gama tertawa kecil lalu meletakkan ponselnya di meja. Dia mengelap mulut hingga bersih kemudian bertanya mengalihkan topik, “Gimana makan malam lo kemaren?”


Mona dengan cepat teringat kejadian kemaren.


“Hmm ga bisa di bilang makan malam juga.”


“Kenapa gitu?”


“Kita cuman makan es krim terus ke rumah sakit.”


“Buat ngobatin jari lo?”


“Iya,kesayat gegara pecahan.”


“Pantesan. Orangnya gimana?”


“Baik sih, kayak perhatian gitu.”

__ADS_1


“Lo bakal ketemu dia lagi?”


“Mungkin. Kan dia rekan kerja bokap gue.”


“Gitu ya. Mudah-mudahan yang ini bakalan cocok sama lo.”


Gama tersenyum lebar mengangkat gelasnya untuk bersulang dan meneguk kopinya.


Mona tersenyum melihat ini. Kejanggalan di hubungan mereka hanya membuat keduanya makin akrab. Mendengar Gama yang begitu suportif terhadap calon-calon yang dipilihkan orang tuanya sebenarnya membuat Mona sedikit risih.


Perasaan bercampur antara senang dan sedih membuatnya bingung harus berkata apa. Mona menatap Gama dalam-dalam kemudian berkata, “Lo tau kan kalo gue fix tunangan kita gak bisa ‘gituan’ lagi..”


Gama mengangguk, “Tau kok.”


“Kita bakalan jadi teman biasa kayak waktu masih kuliah lagi.”


“Iya, ngerti kok. Yang penting kan kita masih temenan, iya nggak?”


Mona tersenyum. “Pastinya dong. Tapi bakalan aneh gak sih?”


“Harusnya sih nggak. Yang penting calon suami lo gatau.”


Gama mengangkat wajahnya menatap Mona kemudian bertanya dengan nada serius, “Kenapa emang?”


“Yaaaa gimana aja gitu. Kita gak pacaran, gak saling suka juga. Masa sampai kakek-nenek kita FWB-an mulu. Kan aneh aja gitu.”


Gama mangguk-mangguk. “Gini aja, gimana kalau sampai umur 30 terus lo masih single dan gue juga, gue bakal ngelamar?”


Mendengar itu mata Mona terbelalak lalu kemudian tertawa terbahak-bahak. “Hahahaha apaan sih? Lo serius bilang begituan?”


Gama mengangguk kecil.


Mona masih tersenyum kemudian berdeham dan berkata, “Hmm, gimana ya, gue gak yakin mau jadi menantu dari keluarga mafia.”


“Iya juga sih, repot juga nanti. Tapi paling nggak kita gak bakal ngabisin sisa hidup sendiri, ‘kan?”


Mona mengambil jus alpukatnya dan menyedot pelan, “Lah, emang lo gak ada niat nikah?”


Gama menggeleng.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Gak pengen aja.”


“Kalo kayak gitu kedengaran kayak lo nikahin gue berlandaskan kasihan doang.”


“Kan emang gitu.”


“Hah… malang banget nasib gue.”


Keduanya terdiam lalu saling pandang. Keduanya memang akrab dengan satu sama lain, mereka nyaris tidak pernah bertengkar sepanjang hubungan mereka. Menghabiskan sisa hidup berdua memang bukan ide yang buruk.


Hanya saja Mona tidak pernah merasakan perasaan suka pada Gama. Begitu pun Gama sebaliknya. Keduanya terikat bukan karena cinta namun oleh pertemanan dan sebagai partner ****. Hanya sebatas itu.


Mona tidak menginginkan hidup di hari tua seperti itu. Meski dia tipe orang yang liberal, dia tetap menginginkan keluarga, memiliki anak-anak yang mewarisi wajahnya, dan berkebun bersama suaminya saat mereka sudah pensiun nanti.


Apabila dia setuju menikah dengan Gama dimana hubungan mereka sendiri yang tidak berlandaskan cinta, Mona tidak yakin dia bisa menemukan masa tua yang indah. Mona memandang Gama dalam-dalam.


“Tempatnyabosenin, ya?” tanya Gama sambil memandang kesekitar.


“Duh, kan lo sendiri yang ngerekomendasiin."


“Iyasih. Ke apart lo aja yuk.”


Mona tersenyum mengejek, dia hafal betul kebiasaan Gama kalau lagi pengen. Keduanya pun membayar tagihan yang berbeda di kasir lalu pergi ke parkiran dan meninggalkan tempat itu dengan mobil Mona.


Lalu lintas malam itu tidak terlalu padat. Malam senin begini orang-orang lebih memilih diam di rumah ketimbang keluyuran karena besok harus pergi bekerja. Keduanya tiba di apartemen Mona 10 menit kemudian lalu segera masuk kedalam lift dan menekan lantai 10.


Setibanya di lantai 10 keduanya pergi ke kamar 1007 lalu masuk kedalam. Gama pergi ke ruang tamu dan menyalakan TV untuk di tonton. Sementara itu Mona ke kamarnya dan berganti. Mona keluar dari kamarnya beberapa menit kemudian dan menemukan Gama tengah terkikik sambil menonton acara TV tengah malam.


Melihat ini Mona memutuskan untuk mencuci piring-piring sisa makan siangnya. Mona mengenakkan sarung tangan karet dan mulai mencuci. Pikirannya sekali lagi terngiang oleh perkataan Gama tentang keduanya menikah.


Mona buru-buru menggeleng mengeluarkan pikiran itu dari kepalanya. Mendadak dari belakang muncul tangan yang melingkar di atas perutnya. Gama memeluknya erat kemudian berbisik, “Gue suka kalo rambut lo diikat gitu.”


“Ekor kuda gini?”


Gama mengangguk lalu memberikan kecupan kecil di pundak Mona. Buluk kuduk Mona menjerit saat bibir hangat Gama menyentuh permukaan kulitnya yang dingin. Mona mencoba untuk mengfokuskan dirinya untuk menyelesaikan cucian piringnya terlebih dahulu. Namun nampaknya itu semua bakalan sia-sia saat akhirnya Gama menempelkan bibirnya di leher Mona dan mulai menyedotnya pelan-pelan.


Mona meringis pelan mencoba menahan. Namun  rayuan Gama terlalu kuat untuknya. Air dingin yang membasahi tangannya dan ciuman hangat beruntun yang dilayangkan membuatnya semakin bernafsu.


Mona tiba-tiba melepaskan sapu tangan karetnya lalu berbalik menghadap Gama untuk mencium bibirnya dengan mesra. Ciuman mereka berlangsung lama dan dalam. Ciuman basah itu membuat Mona bergetar hebat oleh kenikmatan.


Gama tiba-tiba menangkap kakinya dan mengangkatnya seolah dia seorang putri. Gama melemparkan Mona ke sofa dan melepaskan pakaiannya. Nampaknya malam ini mereka akan melakukannya di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2