
Menjelang akhir tahun, udara sejuk dari gunung membuat suasana kota agak dingin. Mungkin karena tahun ini banyak kejadian luar biasa sehingga seluruh kota tenggelam dalam kegembiraan yang ramai. Meskipun angin dingin terus berhembus menerpa kota metropolitan ini, hal itu tidak menyurutkan semangat semua orang. Langit malam berkabut saat mulai gerimis.
Honda Civic hitam perlahan keluar dari tempat parkir bawah tanah sebuah apartemen yang terletak di pusat kota. Sedan hitam itu melewati jalan yang panjang dan lebar dan langsung menuju pusat kota. Jalanan tampak sangat suram di malam hari. Hal itu dipengaruhi oleh hujan gerimis yang turun sejak sore tadi, gerimis ini juga membuat lampu jalan di kedua sisi tampak sedikit redup.
Di kursi pengemudi, Mona Atmadja Putri atau yang biasa dipanggil Mona dengan mantap memutar roda kemudi dengan satu tangan sementara tangan lainnya sibuk meneguk botol soda yang sejak tadi siang mengendap di kulkasnya. Angin dingin terus-menerus mengalir masuk melalui jendela, mengacak-acak rambut sebahunya yang bermodel bob.
Malam ini Mona memutuskan untuk mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam. Sejak kecil Mona selalu benci menggunakan warna terang. Semua itu dipengaruhi oleh masa kecilnya yang suram. Untuk berjaga agar tidak masuk angin Mona akhirnya memutuskan untuk membawa cardigan coklatnya.
Setelah berkendara 30 menit akhirnya Mona tiba di tempat tujuan.
Mona memarkirkan mobilnya di lahan parkir yang disediakan lalu segera turun dari mobil. Sesampainya didalam Mona dapat melihat restoran ini dipenuhi oleh tamu. Mona berjalan dengan langkah anggun, tatapannya yang dingin mengamati seluruh isi restoran dengan seksama.
Setelah agak lama, akhirnya mata Mona yang tajam tertuju pada sudut tertentu yang agak lebih sepi ketimbang bagian manapun di restoran ini. Mona berjalan kearah meja tersebut dimana ada seorang lelaki yang sudah sejak tadi duduk di sana, menunggunya sambil bertelfon dengan seorang klien lalu segera menutup teleponnya saat melihat sosok Mona.
Lelaki itu menatap Mona lama dan Mona pun bertanya duluan, “Tuan Terry Aswin?”
Suara Mona yang terkesan bermusuhan dan sedikit serak akibat meneguk terlalu banyak soda segera mencuri perhatian lelaki bernama Terry tersebut. Tatapan Mona yang kosong dan tak tertarik terus memperhatikan wajah pria itu sambil menunggu balasannya.
Mona menaksir pria didepannya berusia sekitar 10 tahun lebih tua darinya. Pria itu mengenakan setelan hitam dan memiliki penampilan khas pria kantoran. Meski pria itu tampak bersahabat Mona sama sekali tidak merassa nyaman dengan pria didepannya ini.
Alih-alih Mona malah merasa terganggu dengan tatapan Terry. Ketika Terry melihatnya ada senyum kecil yang berusaha menggoda, tetapi Mona perilaku seperti itu terlihat sedikit norak. Pria itu mengangguk dan dengan cepat berdiri. “Ya, saya Terry Aswin. Apakah Anda Nona Mona?”
Mona mengangguk kecil lalu dia menarik kursi di depannya dan duduk. “Maaf karena terlambat.”
__ADS_1
Terry juga kembali duduk. “Tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa menunggu. Saya yakin kita berdua duduk disini bukan atas kemauan kita. Tapi mau bagaimana lagi. Lebih baik jika Anda memperkenalkan diri Anda terlebih dahulu Nona Mona.”
Mona mengangguk acuh tak acuh. “Baiklah.”
Mona memberi isyarat kepada pelayan untuk menerima pesanan mereka. “Nama saya Mona Atmadja Putri. Saya bekerja di perusahaan bapak saya sendiri sebagai konsultan dan kini berusia 23 tahun. Sebenarnya saya ingat kalau saya pernah melihat Anda di acara amal yang dilaksanakan kakek saya beberapa bulan yang lalu. Saya
mendengar bahwa Anda lulusan universitas top dalam negeri dan hobi berinvestasi di bisnis-bisnis kecil di kota ini.”
Terry tiba-tiba teringat sesuatu. Dia mencoba lebih fokus, lalu menatap tajam ke arah Mona lagi, lalu berkata, “Sejujurnya saya memang hobi berinvestasi, saya suka melihat perkembangan yang dilakukan orang-orang berkemauan keras. Tetapi kitadisini tidak untuk membahas bisnis. Kita berdua duduk disini karena Ibu Anda menginginkan saya menjadi calon suami Anda.”
Ketika dia mendengar ini, mata Mona yang indah berkedip tiba-tiba mengungkapkan rasa dingin yang keras. Dia tiba-tiba merasa sebal dengan sifat arogan pria didepannya.
Sementara ekspresi Mona tidak berubah saat dia menatap tanpa perasaan pada pria sombong di depannya, Mona memilih untuk tetap diam.
“Anda pernah pacaran sebelumnya, bukan? Apakah Anda masih perawan?” tanya Terry dengan santainya, sama sekali tidak merasa canggung.
“Dari kelihatannya, maaf, tapi sepertinya Nona Mona sudah tidak perawan. Namun itu tidak jadi masalah. Saya memang menginginkan istri yang patuh dan lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Tapi dari pada mempermasalahkan keperawanan saya lebih suka wanita yang jujur daripada harus ditipu setelah menikah, lagipula wanita yang berpengalaman jauh lebih menarik”
Terry terus berbicara tanpa ragu, tampak seolah-olah dia telah banyak mengalamihal-hal seperti ini. Terry kembali berkata, “Saya tidak menyangkal bahwa saya seorang pria yang ambisius. Saya sudah melalui banyak hal. Anda bisa mengatakan bahwa saya telah melakukan semua yang dapat dilakukan seorang pria, dan telah melalui semua hal yang dapat dialami pria."
Terry mealnjutkan. "Saya ingin mencari wanita yang berpengalaman untuk menghabiskan sisa hidup bersama, bahkan kalo boleh jujur saya justru benci dengan wanita yang terlalu polos. Tapi saya juga tidak suka yang terlalu liar, saya ingin semuanya tetap seimbang. Tapi melihat dari penampilan dan profile yang disebutkan orang-orang nampaknya Anda tipe yang luar biasa liar, Nona Mona.”
Terry lanjut berbicara ketika melihat Mona tetap diam. “Saya paham Anda tipe yang tidak suka diatur-atur. Tapi mengerti lah, saat kita sudah memiliki anak tidak mungkin kita akan terus hidup liar seperti itu. Anda tidak mungkin pergi ke diskotik sambil menggendong anak atau menyusuinya saat tengah membeli alkohol. Jadi tolong pahamilah.”
__ADS_1
Setelah beberapa lama, Mona akhirnya tersenyum dingin dan berkata dengan sikap yang jauh lebih dingin, “Bukankah pandangan Anda tentang saya terlalu dilebih-lebihkan?”
“Tidak perlu berkata begitu. Saya juga sama buruknya seperti Anda, saat ini saya memiliki pacar tapi saya berselingkuh dengan istri salah satu mitra kerja saya. Belum lagi saya disini bertemu dengan Anda untuk membicarakan perjodohan. Saya juga orang yang buruk. Jadi kita bisa saling memahami.”
Terry memandang dengan angkuh pada Mona seolah-olah hal seperti itu harus dibanggakan.
“Baiklah, kalau begitu apa artinya pernikahan bagimu?” Mona bertanya sebagai balasan.
“Saling percaya dan dapat bertanggung jawab atas perbuatan pasangan.”
“Lalu, apa yang Anda lakukan sekarang termasuk Saling percaya dan dapat bertanggung jawab atas perbuatan pasangan? Karena sejak tadi nampaknya Anda mencoba untuk menyombongkan diri bahwa Anda pria yang sangat diminati."
Mona melanjutkan, "Tuan Terry, saya hanya bisa mengatakan bahwa Anda benar-benar memiliki kualitas sebagai pebisnis. Namun sebagai pasangan Anda jauh lebih buruk dari semua mantan-mantan saya.” Mona berbicara tanpa banyak emosi, tetapi matanya tetap tajam menatap tepat ke jiwa Terry.
“Saya akui apa yang saya lakukan memang salah. Tapi saat ini saya tidak mencari wanita sederhana. Saya membutuhkan wanita seperti Nona Mona yang sama-sama paham tentang hal seperti ini. Kita berdua bisa bekerja sama dan saling kita berdua punya anak. Baiklah, ini pendapat saya tentang Anda. Saya tahu Anda memiliki hubungan spesial dengan teman Anda."
Terry tersenyum kecil, "Kalian tidak berkencan, kalian tidak mencintai satu sama lain, tapi kalian tetap melakukan ****, bukan? Bukan kah itu luar biasa? Bukannya itu sama saja dengan apa yang saya lakukan sekarang?” Terry tampaknya bertekad. Matanya tampaknya dipenuhi dengan tekad saat dia memandang Mona, namun Mona menangkap kilatan cahaya tersembunyi di matanya.
“Sepertinya dari awal Anda sudah tahu tentang hubungan spesial saya dengan teman saya.”
“Teman spesial Anda adalah rekan kerja saya dulunya. Tidak sulit untuk mengaitkannya.”
“Begitu, ya.” Mona dengan santai tersenyum. Saat ini, pelayan tengah menyajikan hidangan. Mona terus menatap malas kearah Terry.
__ADS_1
“Apakah Anda marah, Nona Mona? Saya tidak dapat menyangkal bahwa hal-hal yang Anda katakan sebelumnya juga masuk akal, tetapi ini hanya pola universal. Pengalaman hidup saya memberi tahu saya bahwa wanita seperti Anda dapat diajak bekerja sama.”
"Tuan Terry, saya pikir Anda tidak perlu menjelaskan hal-hal ini kepada saya sekarang. Sejak saya duduk, saya sudah memperhatikan bahwa Anda bukan seseorang yang saya cari. Suami yang saya inginkan tidak cerewet dan hanya bisa menyombongkan dirinya sendiri. Lagipula untuk ukuran pengusaha Anda belum ada apa-apanya. Itu berarti Anda, Tuan Terry, kualifikasi Anda tidak cocok dengansaya, Mona Atmadjaja Putri. Oh, ya, saya lupa bilang. Dari awal tadi saya sebenarnya merekam pembicaraan kita berdua. Jadi sebaiknya Anda tetap merahasiakan semua ini dan bicara lah hal baik saat bertemu Ibuku. Bilang saja kita berdua tidak cocok atau apalah. Kalau kau masih ngotot mengadukan soal teman spesialku pada ibu atau orang lain akan saya pastikan perselingkuhan Anda muncul di halaman terdepan koran minggu ini. Silahkan nikmati makanan Anda!”