Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR IV: Familiar


__ADS_3

Itu hari Sabtu pagi. Mona tidak perlu pergi bekerja, tetapi dia masih harus bangun pagi-pagi sekali, merapikan kamarnya, dan sarapan sebelum memulai aktifitasnya.


Mona adalah tipe orang yang gampang pusing apabila memulai hari tanpa sarapan. Dia harus mengisi perutnya dengan apapun itu, roti, bubur, apa saja yang penting terisi atau dia bakalan lemas seharian.


Di luar sana udara dingin masih berhembus. Ketika Mona keluar menuju balkon untuk menikmati teh hangatnya plus sepotong roti tawar, langit nampak kelabu dan seperti akan turun hujan. Udara dingin yang berhembus menyikat wajah semua orang sampai terasa sakit.


Mona merekatkan tangannya ke seluruh permukaan cangkir menyerap segala kehangatan yang ada. Itu membuatnya merasa sedikit lebih hangat dan nyaman.


Setelah merasa cukup mantap Mona hendak kembali kedalam kamar sebelum akhirnya ponselnya berdering. Itu adalah panggilan dari Gama.


“Hai, Gam.”


“Biar gue tebak, pasti lagi di balkon minum coklat panas.”


Mona tertawa kecil, “Teh bukan coklat. Coklatnya kan lo abisin waktu itu.”


“Ah gitu. Ntar malam jalan yuk. Gue nemu café bagus barusan.”


“Sorry, Gam, bokap gue ngenalin gue ke rekannya dan dipaksa ketemu malam ini. Kalo besok gimana?”


“Boleh sih. Tapi tumben bokap lo ikut campur. Bukannya dia orangnya slow aja?”

__ADS_1


“Kayaknya gara-gara rumor itu sih.”


Gama terdiam. Dia kemudian berkata, “Bakal gue cari tau siapa yang nyebarin.”


“Makasih. Lo emang yang terbaik deh.”


“Yoi,sampai jumpa besok, deh.”


“Iya..”




Mona merupakan tipe yang sangat menghargai waktu, dia selalu sangat tepat waktu dan jarang terlambat. Ketika dia mencapai tempat janjian mereka, Majapahit House & Resto, waktu telah menujukkan sekarang pukul 06.00 sore. Restoran ini meski berada di pusat kota tempatnya agak terpencil, dan itu adalah tempat yang sangat berkelas, tidak banyak orang yang mengetahui tempat ini kecuali para elit.


Mona masuk kedalam restoran dan segera diantar ke ruangan khusus tempat pertemuannya. Setibanya disana pelayan yang menemani Mona dengan sopan mengetuk pintu sebelum membukanya dan masuk. Aroma teh yang lembut dan halus dengan cepat menyerbak di hidung Mona.


Mona menatap lurus kedepan dan apa yang memasuki garis pandangnya adalah siluet seorang pria. Pria itu mengenakan kemeja denim biru dengan celana jeans gelap. Nampak sangat santai dan tidak mencoba kelihatan tengah memamerkan kekayaannya.


Dia sangat tampan dengan mata hitam dalam yang seperti lautan, membawa kedalaman dan kebijaksanaan luar biasa di dalamnya. Dia juga memiliki hidung mancung, bibir tipis, dan aura yang sangat hangat di sekelilingnya, membuat pria itu sangat mencolok. Dia tampak pendiam dan memberikan sedikit kelembutan dan nampaknya apatis.

__ADS_1


Pelayan menutup pintu dan Mona menatap pria itu begitu pun sebaliknya. Keduanya diam dan nampak bingung harus memulai bagaimana. Mona dengan cepat kembali sadar. Wajahnya yang cantik dan sedikit memerah tertegun sejenak terhadap ketampanan wajah teman kencannya.


Pria itu mendongak dan dengan tenang menatap Mona yang mengambil tempat duduk di depannya. Mona yang saat itu mengenakan kemeja santai berwarna putih lengkap dengan celana kulot coklatnya yang nampak halus dan elegan. Rambutnya yang indah dan pendek sudah ditata rapi, sementara beberapa helai rambut tipis jatuh di dahinya dengan cara yang sulit diatur. Dia memiliki mata yang jernih dan tampak cukup menawan.


“Halo, saya Mona Atmadjaja Putri.”


Pria itu dengan sopan menuangkan secangkir teh untuk Mona. Wajahnya yang tampan nampak memuka ketika membalas, “Halo, Mona. Saya Devin Dubois.”


Mona tersenyum. Dia mengambil cangkirnya, menyesap, dan kemudian bertanya, “Apakah Anda menunggu lama?”


“Saya juga baru saja sampai juga.” jawab Devin sederhana. Lalu jari-jarinya yang panjang menunjuk ke menu di samping mereka. “Ingin memesan sesuatu untuk dimakan? Menu ikan mereka cukup populer.”


Mona melirik menu makanan yang terbuka dengan malas yang menampilkan semua jenis hidangan berat. Dia dengan ringan menggelengkan kepalanya dan berkata dengan lembut, “Tidak perlu. Saya tidak lapar.”


“Bagaimana kalau kita memesan es krim?”


“Untuk makan malam?”


“Kenapa tidak?”


Devin tersenyum lebar saat mengatakannya. Melihat ini Mona merasakan sesuatu yang familiar terhadap pria ini. Dia masih belum yakin perasaan apa itu tapi yang pasti itu membuatnya tertarik.

__ADS_1


__ADS_2