Pindah Ke Raden Van Nijhof

Pindah Ke Raden Van Nijhof
CPTR VI: Yang Terkuat


__ADS_3

Setelah dokter membantu Mona mengoleskan beberapa obat di permukaan jarinya sang dokter menyerahkan resep padanya.


"Irisannya memang cukup lebar tapi saya sudah mengobatinya. Anda beruntung ada yang cepat membawa Anda kesini, kalau sudah infeksi akan lebih merepotkan. Aku akan memberikanmu obat ini, gunakan tepat waktu agar lukanya tidak meradang. Juga, untuk beberapa hari ke depan jangan biarkan lukanya menjadi basah.”


Mona sedikit mengangguk. “Terima kasih dokter.”


“Jangan khawatir, berhati-hatilah lain kali.”


Mona mengangguk pada dokter lalu berjalan keluar ruangan. Diluarsana Devin telah menunggunya. Mereka berjalan dalam diam yang menyesakkan. Suara langkah kaki mereka bergema di koridor kosong.


Devin berjalan di depan sementara Mona mengikuti tepat di belakangnya. Langkah kaki ritmis mereka terdengar sangat berbeda di jalan setapak yang kosong ini.


Mereka berdua tidak mengatakan apa-apa


Ketika mereka berjalan keluar dari rumah sakit, hujan masih turun dan langit sudah berubah gelap. Lampu jalan di trotoar juga dinyalakan.


“Terima kasih banyak sudah menolongku hari ini.” Mona mengangkat tangan terikatnya dan berusaha membuat senyum elegan.


Devin mengangguk sebelum dia menjawab dengan lembut, “Kamu sudah mengatakan terima kasih kepadaku lebih dari sepuluh kali hari ini.”


“Yah, aku memang rada kikuk orangnya. Hmm, aku harus pulang sekarang.”


“Ah, tentu saja. Berhati-hati lah.”


“Apa kau mau diantar?” tawar Mona.


“Sepertinya tidak perlu. Aku harus mengambil mobilku di restoran. Lagipula semakin cepat tiba di rumah maka semakin baik untukmu. Jangan lupa minum obatmu.”


Mona mengangguk lalu melambai pada Devin yang berjalan menjauh. Mona masuk kedalam mobilnya dan duduk di kursi kemudi. Dia bersandar dan melihat langit malam yang mendung. Meskipun ini tidak dapat di sebut kencan, Mona merasakan setitik cahaya terang di hatinya.


Itu membuatnya tersenyum simpul sendiri.




*


Sementara Mona harus menghabiskan malam minggunya di sebuah rumah sakit di pusat kota, Gama harus bekerja bersama dua sepupunya di malam yang dingin begini.

__ADS_1


Ketiganya berjalan masuk kedalam sebuah klub malam bernama BLOCLK. Namun ketiganya disini tidak untuk berpesta dan menikmati malam melainkan melakukan tugas yang telahdiberikan kakek pada mereka.


Di pintu masuk, dua penjaga klub malam dengan cepat mengenali sosok ketiganya. Mereka hendak menghentikan Gama dan dua sepupunya. Namun sepupu yang termuda bernama Sonny mengeluarkan dua lembar pecahan seratus ribu untuk kedua penjaga dan memasukkannya kedalam kantung kemeja mereka. Ketiganya pun dibiarkan masuk begitu saja.


Langkah ketiganya saat masuk kedalam klub malam ini terkesan santai dengan aura berkuasa yang jelas. Suara musik disko dengan lampu kerlap-kerlip yang khas membuat suasana malam ini terasa begitu membahana.


Klub malam bernama BLOCLK ini adalah klub malam milik keluarga rival mereka, keluarga Kaligis. Mereka dulunya adalah rekan kriminal bersama namun berpisah akibat keluarga Kaligis yang ikut campur dengan pemilihan kepala keluarga Kolandam, keluarga Gamaliel dan sepupunya.


Orang-orang yang menyadari sosok ketiganya langsung membuka jalan untuk mereka. Ketiganya yang menggunakan jas hitam, rompi hitam, dasi merah dan bros kecil di ujung kerah kemeja putih mereka yang melambangkan simbol keluarga Kolandam sudah cukup untuk membuat orang-orang takut menatap mereka lama-lama.


Dandanan mereka yang tidak labil dan terlalu formal membuat orang-orang penasaran. Ketiganya melewati lantai dansa dan mengambil tempat di salah satu meja yang jauh dari keramaian lantai dansa.


Akan tetapi di meja tersebut dihuni seorang pengunjung dengan sejumlah wanita sewaannya. Gama mendekatinya dan berkata, “Kami sudah memesan meja ini. Pergilah.”


“Hah? Orang ga ada tulisan reservasinya!” balas pria itu dengan nada menantang.


Sonny sepupu Gama yang paling muda menangkap leher pria itu dan berkata, “Kalau lo gak percaya kita bisa selesaiin diluar sekarang.”


Mata pria itu terbelalak lalu buru-buru bangkit dari tempat duduknya. Sejumlah wanita sewaannya mengikutinya dan mereka pergi lari tunggang langgang meninggalkan Gama dan sepupu-sepupunya.


Ketiga duduk, seorang pelayan lewat kemudian sepupu yang seumuran dengan Gama bernama Toni berkata, “Berikan kami satu botol vodka.”


“CEPAT LAH!” teriak Sonny saat pelayan itu lewat di depannya.


Gama mengeluarkan sebungkus rokok dan menyulutnya. Sonny memandang ke sekitar kemudian berkata, “Ah, mereka semua disini, Gam. Sepupu, menantu, bahkan keluarga jauh keluarga Kaligis semuanya disini. Lo yakin tetap mau melakukan ini?”


Gama menarik rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Gabakal ada yang mati malam ini, Sonny. Kalaupun ada tidak mungkin dari keluarga Kolandam maupun Kaligis. Lo mesti belajar santai kalau kerja beginian.”


Sonny mangguk-mangguk mendengarkan nasihat Gama.


Beberapa saat kemudian pelayan membawakan minuman yang mereka minta. Sonny membuka botol tersebut lalu menuangkannya di gelas kedua sepupunya yang lebih tua.


Mendadak dari arah bar muncul menejer klub yang berjalan mendekati mereka.


“Tuan-tuan, maafkan saya, tapi Anda sekalian harus pergi darisini.”


Sonny meneguk minumannya sampai habis kemudian berkata, “Kita baru saja membeli satu botol, apa-apaan ini? Kalian kira kami gak punya uang? Ga mampu bayar gitu?”


“Tentu, bukan begitu, Tuan-tuan. Beberapa anggota keluarga Kaligis disini mengenali Anda bertiga. Terutama Anda, Tuan.” menejer itu menatap tajam kearah Gama.

__ADS_1


“Lalu? Apa masalahnya?” tanya Toni yang mulai sebal.


“Mereka mengatakan hanya dengan datang begini Tuan-tuan sekalian tengah memprovokasi perang antar keluarga.”


Gama tertawa kecil dan bilang, “Katakan pada para Kaligis kalau kami disini untuk santai. Klub ini adalah klub terbaik di kota.”


Belum sempat menejer membalas mendadak sebuah botol vodka yang dilemparkan dari sudut lain ruangan mendarat tepat di atas meja mereka.


“SIALAN KAU KOLANDAM!”


Gama memukul meja dan bangkit dari tempat duduknya. Dibelakangnya sudah ada pria yang bersiap menyerang tapi Gama dengan cepat meninjunya tepat di wajah dan melumpuhkannya seketika.


Pukulan itu dengan cepat membuka jalan untuk perkelahian yang lebih bessar. 5 pria Kaligis langsung menyerang mereka bertiga sekaligus, namun mereka sama sekali bukan tandingan Gama dan sepupu-sepupunya.


Sonny yang paling muda mengambil botol alkohol lainnya dari meja disekitar lalu menghantamnya keras-keras di kepala pria yang hendak menyerangnya. Sementara itu Toni menghindar dan membenamkan wajah musuhnya ke lututnya.


Perkelahian mereka dengan cepat dimenangkan oleh ketiga pria Kolandam tersebut. Namun suara tembakkan pistol terdengar dan itu dengan cepat mencuri perhatian semua orang.


DJ menghentikan lagu, lampu dinyalakan, dan yang pasti perkelahian berhenti. Gama memandang kearah sosok yang baru saja melancarkan tembakan peringatan ke langit-langit klub. Itu adalah seorang wanita Kaligis.


Gama menatap wanita itu lalu berjalan kearahnya. Wanita itu kini menodongkan senjata pada Gama dan berkata, “Pergi sekarang juga Kolandam kalau kau masih mau hidup.”


Gama berjalan tepat kearah tembakkan wanita itu dan berkata, “Oh ya? Kau akan menembak kami dengan itu heh, tante?”


Mereka saling pandang cukup lama. Tidak lama kemudian wanita itu memalingkan pandangannya dan menurunkan senjatanya. Gama tersenyum melihat ini.


“Kayaknya tante tidak cukup berani menembakkannya.”


Gama berputar menghadap semua pengunjung klub. “Kami keluarga Kolandam. Kami disini bukan untuk mencari musuh. Kami disini untuk berteman. Orang-orang Kaligis ini tidak mampu melindungi klub mereka sendiri, bagaimana mereka bisa melindungi kalian para pebisnis?”


Gama menatap kearah sekelompok pria paruh baya yang merupakan CEO dari perusahaan terkenal di kota ini. Gama tersenyum pada mereka dan mengangguk. Mereka pun mengangguk sopan membalas Gama.


“Bagi kalian yang ingin bekerjasama, kalian tahu bagaimana menemukan kami para Kolandam.”


Dengan begitu Gama dan sepupunya pergi meninggalkan klub malam itu dengan kemenangan besar ditangan mereka. Mereka berhasil menegaskan pada para pebisnis bahwa keluarga Kolandam adalah keluarga terbaik di bisnis bawah tanah seperti ini.


“Lo baik-baik aja, Son?” tanya Gama pada Sonny yang sejak tadi memegangi mulutnya yang penuh darah.


“Kayaknya gigi belakang gue copot, deh.”

__ADS_1


Toni tertawa kecil, “Kita ke dokter gigi besok. Sekarang gimana, Gam?”


Gama tertawa kecil, “Gimana kalau pergi makan-makan di warung Bu Ina?”


__ADS_2