
Mona duduk di ruang tamu rumah ibunya dengan pakaian lebih layak ketimbang tadi pagi. Dress hitam milik Luna kini melekat ditubuhnya menyatu dan bersiap ntuk makan malamnya bersama Devin.
Mungkin lebih tepatnya makanan malamnya bersama Devin ditemani mama dan Luna. Mona untuk kesekian kalinya menghela napas berat.
Perlakuan semena-mena mamanya memang bukan lah hal yang baru. Namun bukan berarti Mona telah terbiasa dengan hal tersebut. Entah mengapa saat berhadapan dengan mamanya dia tidak pernah bisa menolak.
Lalu sekarang Luna juga perlahan mulai menguasai tehnik paksaan semacam itu. Mona tidak pernah benar-benar khawatir soal itu, lagipula Luna memang nyaris 100% mirip dengan mama ketimbang Mona.
Bicara begini, Mona jadi sadar kalau nyatanya dia mewarisi lebih banyak sifat papanya. Sifat tekun yang keras kepala namun disegani.
Mona tertawa kecil. Persilangan gen begini benar-benar membuatnya geli.
Ditengah itu semua mendadak bel rumah berdering. Mona langsung berbalik menatap pintu masuk dimana asisten rumah tangga tengah membukakan pintu untuk tamu mereka.
Setelah akhirnya tamu mereka masuk, Mona tersenyum lebar. Mama dan Luna yang sejak tadi di dapur menghambur ke ruang tamu dan langsung terkejut bukan main.
“Kamu ngapain disini?” tanya mama dengan nada kasar.
Papa Mona tersenyum dan menjawab, “Mona yang ngundang. Iya kan Mon?”
Mona mengangguk. Mama menatap Mona dengan jengkel. Mona pun hanya senyam-senyum.
Sepertinya Mona juga mewarisi sedikit gen licik mama mereka. Lebih daripada itu Devin yang berdiri di belakang papa mendadak mencuri perhatian mama dan dengan cepat mama langsung berjalan kearahnya.
Mama dengan sengaja mendorong papa ke samping dan dengan cepat menyapa Devin.
“Devin ya? Wah kamu kelihatan lebih ganteng ketimbang di foto.”
“Ah, terimakasih tante.”
“Maaf soal yang tadi. Hanya saja saya tidak suka melihat wajah mantan suami saya jadi tolong di maklumi.”
Devin tersenyum, “Tentu, tante.”
Mama memberi kode pada Mona dan Luna untuk berdiri dan menyambut tamu mereka. Mama memegang pundak Mona dan berkata, “Kamu lagi dekat sama Mona kan? Tante harap hubungan kalian bisa jadi lebih serius mulai sekarang karena kita sudah saling kenal.”
Mona menatap mamanya dengan wajah berkerut sementara itu Devin mengulurkan tangan untuk dijabat dan berkata, “Halo, Mona. Kamu kelihatan cantik malam ini.”
“Makasih.”
Keduanya saling pandang sejenak. Ada aura berbungan diantara keduanya dan semua yang berada di ruangan ini bisa merasakannya.
Mama tersenyum kemudian lanjut mengenalkan putri bungsunya, “Kalau yang ini Luna. Mereka berdua kelihatan mirip bukan? Hati-hati ya, jangan salah tangkap, Luna sudah punya pacar soalnya.”
__ADS_1
“Haha akan saya ingat tante. Halo Luna.”
“Halo kak Devin.” Luna menjabat tangan Devin.
“Kamu kelihatan hebat di majalah minggu ini.”
“Makasih kak.”
Mama menatap Luna dan Devin bergantian, “Kalian saling kenal?”
“Nggak juga, kami pernah satu meja waktu malam penghargaan. Jadi ya, mungkin….?”
“Begitu ya.”
Papa tiba-tiba sengaja menguap kencang dan berkata, “Udah ah, mana makanannya. Luna yang masak kan? Ayo, papa udah gak sabar nyobaiin masakan Luna.”
Mendengar itu semua mama menatap jengkel tapi untuk membantu papa Devin berkata, “Saya juga kebetulan lapar.”
Mama langsung berubah ceria, “Kalau gitu ayo makan nak. Ayo, lewat sini.”
Keempatnya pun pergi ke ruang makan dan duduk di kursi masing-masing. Mama dan papa duduk di ujung meja yang saling berseberangan sementara Mona disebelah Luna di sisi kiri dan Devin di sisi kanan.
Asisten rumah tangga segera menghidangkan makanan mereka lalu menuangkan anggur untuk mama. Papa juga akhirnya meminta anggur yang sama.
Saat hidangan sayuran di letakkan diatas meja, mama langsung menghentikan asisten rumah tangga dan berkata, “Tidak perlu bawa hidangan yang ada sayur kol. Pria tua itu punya masalah kesehatan dengan kol.”
Mona yang sering lupa kadang mengajak papanya makan di restoran dan memesan sembarangan. Tapi beda dengan mamanya yang ternyata masih ingat.
Setelah beberapa saat, mama kembali menghentikan pelayan dan membuat berbagai permintaan untuk menyingkirkan atau menambahkan makanan di meja. Semua itu dilakukan semata-mata untuk mantan suaminya yang harus berhati-hati dengan makanan.
Melihat ini semua Mona tersenyum lebar. Meski mereka bercerai rupanya mama masih peduli dengan papa. Paling tidak soal makanannya.
Setelah semuanya selesai ditata, hamparan hidangan makan malam ala barat kini siap disantap. Melihat semua ini membuat selera makan semuanya bertambah.
Mama tersenyum bangga dengan masakkan Luna dan berakata, “Ayo makan!”
Mereka mengangguk dan mulai mengambil menu dengan sesukanya. Luna mengambil salad, mama dan papa berbagi ikan bakar, sementara Devin sup daging. Mona yang tidak terlalu lapar memutuskan untuk hanya mengambil sepotong sosis rebus.
Melihat ini Devin langsung mengambil satu lagi mangkuk kecil untuk daging dan berkata, “Tolong dicoba. Apa asinnya sudah pas?”
Mona mengerutkan dahi, “Kamu licik.”
Devin hanya tersenyum. Melihat tingkah Mona dan Devin, ketiganya hanya bisa menatap keheranan tak paham. Namun setelah melihat Mona makan dari mangkuk yang diberikan mama langsung tersenyum.
__ADS_1
“Wah, boleh juga jurusmu, Nak. Sepertinya kami harus mengundangmu tiap kali makan.”
Devin mengangguk kecil sambil menyeka mulutnya dan bertanya, “Mona susah makan ya?”
Papa menelan makanannya dan menjawab, “Anak ini emang susah makan dari dulu. Bukan cuman susah makan, susah tidur, susah dibilangin. Pokoknya serba susah deh.”
Mona langsung cemberut dibilang begitu. Devin yang mendengar hal tersebut membalas, “Haha tapi saya suka Mona yang seperti itu.”
Semuanya langsung menatap Devin. Bilang suka begitu dengan blak-blakan apalagi di depan orang tuanya butuh keberanian ekstra dari seorang laki-laki.
Tapi barusan Devin berkata dengan mudah dan begitu santai. Kepercayaan diri pria ini perlu diakui.
Mendadak ponsel Devin berdering dan dia berkata, “Maaf, rekan kerja saya menelfon.”
Devin berdiri dan segera pergi ke ruang tamu untuk menjawab telfonnya. Sementara itu mama yang sejak tadi mengamati reaksi wajah Mona berkata, “Mama suka dia. Kalian cocok.”
Luna mengangguk, “Iya kak, kalian cocok.”
Papa mendengus, “Siapa dulu dong yang ngenalin!”
“Ah, Si Tua ini benar-benar menjengkelkan.” kata mama.
“Apapun yang terjadi nanti Mon, jangan lupa kalau papa yang ngenalin! Kamu bakalan jadi nyonya besar kalau menikah dengan pewaris Dubois.”
Mona cuman mangguk-mangguk lalu menyeruput supnya.
Setelah agak lama menelfon di ruang tamu akhirnya Devin kembali ke ruang makan. Devin menarik kursinya mundur dan berkata, “Maaf, saya ada urusan yang benar-benar mendadak. Apakah saya boleh mengajak teman kerja saya kesini?”
“Tentu. Ajak saja.” jawab mama.
Devin pun mengangguk lalu mengirim pesan pada temannya. Keempatnya kembali makan dengan tenang. Lewat 10 menit tiba-tiba bel rumah kembali berdering. Itu adalah teman kerja Devin.
Asisten rumah tangga mengantarkan tamu Devin ke ruang makan dan saat pria itu muncul diambangan pintu dan Mona melirik kearahnya Mona langsung tersedak dengan daging yang hendak ditelan.
Luna buru-buru menepuk-nepuk punggung Mona dan Mona buru-buru mengambil tisu untuk membasuh mulutnya.
“Kamu kenapa, sayang?” tanya mama.
“A-Ah…. Nggak, Ma…..”
“Hmm, yaudah. Halo, ayo duduk. Siapa namamu?”
“Gamaliel.”
__ADS_1
Gama mengambil tempat duduk disebelah Devin dan Mona pun menatapnya dengan liar.
Suasana tidak mengenakkan saat makan malam pun harus berlanjut.