
Angga tertidur selama tiga hari. Perlahan mata Angga terbuka, melihat langit-langit kamar rumah sakit. Mengembalikan kesadaran sepenuhnya. Kejadian yang di alaminya bersama Meyka, kembali berputar di kepalanya dengan sempurna. Angga bangun berusaha menguatkan diri, padahal tubuhnya masih lemas karna belum pulih sepenuhnya.
" Alhamdulillah,, akhirnya kamu sadar juga nak." Ucap mama Anis dengan bahagia. Menangis haru sambil mencium seluruh wajah anaknya dengan sayang.
" Akhirnya bro, loe bangun juga dari beberapa hari tertidur." Sambut Anto sambil mendekat ke arah Angga. Kemudian di susul oleh Reyhan, Bima dan Rendy. Semua turut bahagia karna akhirnya Angga siuman dari tidurnya selama beberapa terbaring.
Angga tak menanggapi semua perkataan, baik dari mama maupun dari sahabatnya. Pikiran Angga hanya tertuju pada wanita yang ia temani berlumuran darah di dalam mobil pasca kejadian nas itu tyerjadi.
" Bagaimana keadaan Meyka...?" Angga langsung menanyakan keadaan Meyka. Saat terbangun dari tidurnya, jelas wajahnya memperlihatkan rasa kekhawatiran yang luar biasa. Mengingat bagaimana kondisi Meyka saat kecelakaan itu terjadi. Angga menatap kedua orang tuanya dan semua sahabatnya, menunggu jawaban.
Semuanya terdiam, serasa lidahnya keluh untuk memberitahukan pada Angga keadaan Meyka yang sesungguhnya. Kedua orang tuanya dan keempat sahabatnya juga terdiam. Mereka bukannya tidak mau memberitahu keadaan Meyka. Tetapi, Angga baru sadar, keadaannya juga belum pulih sepenuhnya.
Tidak mendapat jawaban, Angga melepaskan selang infus yang melekat di tangan kiri. Perasaannya tidak enak kala tidak mendapat jawaban dari orang yang berada dalam ruangan itu. Tak sabar ingin mengetahui keadaan wanita yang amat di cintainya. Angga meninggalkan ruangan itu.
" Angga_kamu mau kemana nak...? Jangan di lepas. Kamu baru saja siuman. Lebih baik kamu istirahat dulu ya. Nanti baru kamu menjenguk nak Meyka." Bujuk mama Anis dengan lembut. Namun oenuh rasa kekhawatiran, apalagi melihat tangan Angga yang bekas infus mengeluarkan darah.
" Iya Ga. Kamu jangan nekat. Lihat tangan kamu banyak mengeluarkan darah. Lebih baik kamu istirahat dulu, dengarkan apa kata mama. Nanti baru kamu jenguk Meyka." Reyhan ikut menimpali perkataan mama Mia. Berharap Angga dapat mengerti dan mendengarkan perkataannya.
" Tidak ma, Rey. Aku tidak bisa tenang sebelum aku melihat sendiri dan memastikan sendiri keadaan Meyka. Aku sangat mengkhawatirkannya." Angga berucap dengan lemah, menyiratkan keseriusan yang tidak mungkin mereka halangi. Akhirnya mereka hanya pasrah, tak tahu bagaimana jika Angga mengetahui keadaan Meyka yang sesungguhnya.
Angga keluar dengan langkah tertatih-tatih. Tak mengindahkan perkataan mamanya dan sahabatnya. Perasaan khawatir pada Meyka lebih besar ketibang rasa sakit yang ia raskan saat ini. Angga baru bisa tenang jika ia memastikan sendiri keadaan wanitanya.
Kedua orang tua Angga beserta ke empat sahabatnya hanya bisa mengikuti Angga yang sudah terlebih dulu keluar. Bima berlari mengejar agar bisa membantu Angga, karna melihat sahabatnya yang tertatih-tatih sambil memegang tembok sebagai penahan tubuh. Angga menerima bantuan Bima untuk membantunya berjalan agar tidak jatuh.
__ADS_1
Mama Anis sangat khawatir, jika anaknya mengetahui keadaan perempuan itu. Apalagi ia mengetahui jika perempuan itu adalah perempuan yang berhasil menaklukkan hati anaknya. Tentunya ia mengetahui semua itu karna berasal dari informasi yang di berikan dari ke empat sahabat anaknya.
***
Sedangkan di depan kamar Meyka. Tak berhentinya mama Mia menangis dalam dekapan papa Malik. Sampai saat ini baik pihak rumah sakit ataupun dari pencarian papa Malik dan mama Mia, tidak berhasil menemukan orang yang mau mendonorkan hati untuk Meyka, Apalgi keadaan Meyks semakin kritis. Membuat papa Malik dan mama Mia semakin drop.
Begitu juga dengan Ribbye, Naya, dan Rianti. Seperti orang yang frustasi mencari ke sana kemari pendonor. Nmaun, hasilnya sama juga dengan pencarian papa Malik dan mama Mia. Tak henti-hentinya mereka berdoa agar mendapat keajaiban supaya Meyka bisa tertolong dan selamat dari musibah ini.
" Bye,,, sebaiknya kamu pulang dulu sayang. Kasian Yura dan Yuri." Ucap mama Mia dengan masih terisak.
Lain halnya pula dengan Ken. Ken menatap Meyka penuh dengan penyesalan. Andai ia berhenti saat Meyka memanggil, andai ia mengurungkan rasa cemburunya, andai ia tidak pergi. Maka Meyka tidak perlu mengejar dan tidak sampai kecelakaan fatal seperti ini.
" Maafkan aku sayang, karna rasa cemburuku yang berlebihan membuat kamu dalam bahaya seperti ini. Andai waktu bisa aku putar kembali. Lebih baik aku tidak pergi, berhenti saat kamu memanggilku, mendengarkan apa yang ingin kamu jelaskan. Maafkan aku, maafkan aku sayang." Ken berucap dalam hati dengan penuh rasa penyesalan yang teramat dalam.
Angga tiba di depan kamar yang di tempati saat ini Meyka. Berhenti sejenak karna melihat kedua orang tua Meyka yang duduk lemas dengan bahu yang bergerak naik turun, di rangkul dengan seseorang yang pasti adalah suaminya, ya,, Angga yakin itu adalah orang tua wanitanya. Walaupun belum pernah bertemu tapi Angga yakin seratus persen. Dilihat dari wajah Wanita itu sangat mirip dengan wajah wanitanya. Di situ juga ada tiga perempuan cantik, di mana mereka bertiga adalah para wanita milik sahabatnya.
Mata Angga tertuju pada sosok laki-laki yang tengah berdiri tepat depan pintu, menghadap masuk di mana Meyka terbaring. Hanya melihat punggungnya saja, Angga sudah mengetahui siapa. Seketika rahang Angga mengeras, matanya berkilat memancarkan amarah yang begitu besar. Tangannya mengepal.
__ADS_1
Angga melepas tangannya yang berada di bahu Bima, dengan langkah tertatih-tatih Angga mendekati laki-laki itu dan langsung menarik kasar bahu laki-laki itu hingga menghadap padanya.
Bukkk....
Angga melayangkan tinju tepat di wajah Ken, membuat Ken tersungkur karna tidak dapat menghindar dengan pukulan Angga yang tiba-tiba. Darah segar seketika mengalir dari sudut bibir Ken akibat tinju yang di layangkan Angga.
" Bangsat,,, Puas kamu melihat dia seperti ini. Ini yang kamu mau hah. " Angga berapi-api menatap tajam pada Ken. Mencengkram kerah baju Ken yang masih terduduk di lantai,
Ken tidak membalas karna merasa memang ini kesalahannya. Tapi,,, ia sama sekali tidak menginginkan ini semua. Ken menggeleng dengan mata merah karna Angga menyalahkan dirinya. Tidak membenarkan tuduhan Angga. Bukan ini yang dia mau, Andai bisa mengulang maka Ken tidak akan membiarkan ini semua terjadi.
***
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote ya...
bye-bye...