
Perlahan-lahan Meyka membuka surat itu. Tangan gemetar beriringan dengan cairan bening yang terus mengalir. Belum membaca tetapi cairan itu terus membuncah, sesekali Meyka mengelap dengan kasar. Namun, tetap pada pendirian. Cairan bening itu semakin tak tertahankan.
...***...
...Hembusan angin meniup wajah alam...
Mataku tak berkedip menatap langit
Terlalu luas tak bertepi pandang
Bisakah aku menyentuh awan
Berwaktu waktu aku mengasuh rasa
Mendengarkan jiwaku berkata kata
Tak mungkin aku abaikan kata hati
Ku harus jujur pada hatiku
Kau dan aku tak bisa bersama
Bagai syair lagu tak berirama
Selamat tinggal kenangan denganmu
Senyumku melepas kau pergi
Engkau bukanlah sebuah kesalahan
Tak pernah aku menyesal mengenalmu
Tapi biarkanlah aku terbang bebas
Mencari cinta sejati...
Hay,,, Aku harap setelah kamu membaca surat ini. Kamu tetap bisa tersenyum. Seperti kemarin-kemarin.
Aku tidak pernah menyesal mencintaimu Mey. Tetapi aku menyesal karna melukaimu. Aku harap dengan pengorbananku ini bisa menebus rasa sakitmu yang aku torehkan begitu dalam.
Hmmm,,,, seperti lagu cakra khan. Kau dan aku tak mungkin bersama, bagai syair lagu tak berirama. Mey,,, aku tulus mencintaimu. Maafkan aku karna tidak bisa menepati janjiku untuk terus mengejarmu dan meraih cintamu kembali.
Aku,,, aku mengikhlaskan kamu bersama Ken. Dia sangat mencintaimu, dia laki-laki yang pantas bersanding denganmu. Meyka,,, aku menyerahkan hatiku padamu, agar kamu percaya kalau kamulah pemilik seutuhnya. Aku laki-laki bodoh yang tega menyakitimu. Maafkan aku.
__ADS_1
Meyka,,, jika aku tidak bisa mendampingimu dan berada di sisimu. Aku harap kamu tetap bahagia menjalani hari-harimu. I love you.
Selamat tinggal.
Angga.
***
" Tidak.." Meyka berkata pelan dengan gelengan kepala, seakan Angga melihat ekspresi Meyka.
Buliran bening semakin berjatuhan di pipih Meyka. Meyka tidak mau jika Angga meninggalkannya. Ini sangat menyakitkan, Meyka tidak yakin, apakah ia mampu lalui tanpa Angga. Setidaknya, kemarin-kemarin ia masih bisa melihat Angga walaupun membenci. Tetapi, sekarang harus bagaimana...?
Meyka meremas surat itu. Meyka tidak percaya jika Angga pergi. Hati dan perasaannya mengatakan jika Angga hanya pergi sebentar dan akan kembali lagi kepadanya. Meyka benar-benar tidak percaya dengan semua ini.
" Ini tidak benar, Angga masih ada. Dia hanya pergi sebentar, hanya sebentar." Teriak Meyka frustasi, lalu ia turun dari brangkar, ingin berlari keluar mencari Angga.
" Meyka sadar,,, ini adalah kenyataan. Kak Angga sudah pergi, kak Angga sudah tidak ada. Terima kenyataan." Ribbye berteriak tak kalah kencangnya dari Meyka dan menahan tubuh Meyka agar tidak pergi.
" Tidak Bye, Angga tidak pergi. Angga masih ada. Tolong kalian percaya padaku. Di sini mengatakan jika Angga masih ada." Tutur Meyka dengan terisak, menunjuk dadanya.
Ribbye memeluk Meyka yang terisak. Tak kuasa melihat sahabatnya yang begitu rapuh. Kepergian Angga benar-benar mengambil sebagian diri Meyka. Ribbye melihat bagaimana Meyka begitu mencintai Angga. Walau Meyka sering mengelak dengan perasaannya. Tetapi semuanya terlihat di mata ketiga sahabatnya.
Ken memejamkan mata, di telinganya hanya terdengar isakan Meyka yang begitu memilukan. Ken ikut terpukul dengan keadaan Meyka.
Lelah menangis, tubuh Meyka ambruk di pelukan Ribbye. Ribbye meminta tolong pada Ken untuk mengankat Meyka dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Ribbye, Naya dan Rianti menatap wajah Meyka. Wajah yang dulu penuh aura kecerian. Kini berganti dengan aura pucat, sembab karna terlalu banyak menangis.
Malam semakin larut. Ken sudah pamit pulang sejam yang lalu. Ribbye juga sudah di jemput oleh Reyhan sejam yang lalu hampir bersamaan dengan kepergian Ken. Ribbye tidak bisa menginap karna ada Yura-Yuri yang harus ia temani tidur. Kini hanya mama Mia, Papa Malik, Naya dan Rianti yang berjaga.
Jam menunjukkan di angka dua sepermalam. Semua terlelap dengan damai, apalagi bumi telah di guyur hujan deras. Baik Mama Mia dan papa Malik, maupun Naya dan Rianti. Semuanya menuju di alam mimpi. Kecuali Meyka yang berpura-pura tidur.
Meyka memperhatikan dengan seksama. Mengecek kedua orang tuanya dan kedua sahabatnya yang terlelap. Di rasa semuanya aman. Meyka mengambil jaket Naya untuk menutupi baju pasien yang ia kenakan. Tak lupa masker, topi dan kunci mobil Naya yang terletak di atas nakas. Untungnya Rianti pakai topi saat ia datang, jadi Meyka beruntung bisa menutupi wajahnya.
Sekali lagi Meyka memeriksa semuanya, semua aman. Meyka mengendap-ngendap bagaikan seorang pencuri handal. Bagai scenario yang sudah di atur. Semuanya berjalan lancar, karna rumah sakit terlihat sepi. Hanya ada satu suster yang lewat, tetapi Meyka lolos karna suster itu tidak memperhatikan Meyka, soalnya suster itu hanya sibuk dengan benda pipihnya.
Di tengah derasnya hujan. Meyka melajukan mobil Naya, membelah jalan yang begitu dingin. Hanya satu tujuan Meyka, yaitu rumah Angga. Meyka akan memastikan sendiri.
Mobil Naya berhenti tepat depan rumah yang berwarna putih tulang. Dengan pagar kokoh menjulang tingga, bercat warna hitam. Di tengah derasnya hujan, Meyka tidak peduli. Meyka membuka topinya dan segera turun dari mobil.
Meyka berjalan menuju pagar dan mencari bell. Namun Meyka tidak dapat melihat di mana tempatnya. Sebab malam di tambah derasnya hujan, dan pagar yang bercat hitam, membuat Meyka tidak melihat dengan jelas. Sehingga Meyka hanya menggunakan suara dan tenaga untuk menggedor pagar yang kokoh itu dengan teriankan yang lantang. Suara Meyka tidak terdengar seiring dengan suara deras hujan.
Tubuh Meyka sudah basah kuyub di terpa hujan yang deras. Tetapi Meyka dengan gigih terus berteriak, berharap sang pemilik rumah itu mendengar. Air matanya terus meleleh seiring dengan teriakannya. Meyka gemetar karna kedinginan tetapi Meyka tidak peduli dan terus berteriak.
__ADS_1
Security yang berjaga di pos terbangun karna samar samar mendengar suara guncangan pagar. Security itu membangunkan temannya, untuk bersama mengecek. Security itu waspada dan mengambil peralatan, siapa tahu itu adalah pencuri. Dengan langkah pelan setelah memakai jas hujan, Security itu mengintip di selah pagar. Kening Security itu mengkerut, seorang gadis yang berpakaian seperti pasien rumah sakit, dan itu sama dengan pakaian yang di gunakan oleh tuan mudanya saat di rawat di rumah sakit.
" Maaf,, nona cari siapa...?" Teriak Security dari dalam pagar. Belum berani membukakan pagar untuk gadis yang tak di kenalnya itu. Sekedar berjaga jaga, takutnya itu ada seorang penjahat dan perempuan itu hanya sekedar umpang agar Security itu membukakan pagar.
" Pak tolong bukakan pagar. Aku mau bertemu Angga. Aku mohon buka pagar ini." Suara Meyka terdengar gemetar, suaranya hampir hilang di telang derasnya hujan.
Security itu mengerutkan kening. Gadis di depan mencari tuan mudanya, berarti gadis itu baku kenal dengan tuan mudanya. Tetapi,,, apa gadis itu tidak tahu jika tuan mudanya sudah tidak ada...? Entahlah, daripada banyak pikiran, lebih baik security itu memastikan. Jangan sampai ini cuma akal akalan perempuan itu.
" Maaf nona, tuan muda tidak ada. Silahkan nona pergi, kembalikah besok pagi saja. Apalagi ini sudah dini hari, tidak baik bertamu di rumah orang." Tegas Security itu dengan kasian melihat Meyka yang sudah gemetar menahan dingin.
" Pak aku mohon ijinkan aku masuk. Aku ingin bertemu dengan Angga." Meyka terus memohon dengan suara gemetar.
Security itu melihat temannya dan memberi kode untuk memberi tahukan pada majikannya. Security yang satu itu mengangguk dan pergi menuju pos untuk menghubungi sang majikan.
Meyka di suruh masuk oleh security, sekedar berteduh di pos yang security itu tempati. Tidak berani membawa Meyka masuk ke dalam rumag, sebelum majikannya mengizinkan.
" Ini non, pakailah biar tubuh non sedikit hangat." Security itu memberikan selimut tebal pada Meyka, merasa kasian karna Meyka menggigil, bahkan wajahnya terlihat sangat pucat.
" Terima kasih banyak pak." Tutur Meyka bergetar seraya menerima selimut itu. Tubuh Meyka memang sangat membutuhkan penghangat, apalagi kondisinya belum sehat sepenuhnya.
Pintu rumah mewah itu terbuka lebar, menampakkan sepasang suami istri dengan pakaian tidur. Mengambil payung dan menuju pos.
" Meyka..." Ucap mama Anis saat melihat Meyka yang duduk dengan berbalut selimut.
Meyka menoleh, Meyka diam sejenak karna tak mengenali sama sekali mama Angga. Sebelumnya memang Meyka tidak pernah bertemu, bahkan alamat Angga ia minta secara diam-diam dari rumah sakit tempat Meyka di rawat. Tapi tak butuh waktu lama, Meyka mengetahui, karna wajah Angga perpaduan dari ke dua orang di depannya. Sehingga Meyka tahu jika di hadapannya adalah orang tua dari laki-laki yang ia cintai.
" Ta-tante.." Meyka berdiri dengan gemetar.
" Kamu ngapain ke sini malam-malam begini sayang. Kamu bahkan basah kuyub." Ucap mama Anis senduh dan langsung memeluk Meyka.
Tak memberi ruang, mama Anis langsung membawah Meyka ke dalam kediamannya, membantu mengeringkan tubuh Meyka dan memberi minuman hangat yang sudah ia seduh dengan jahe dan madu.
Mama Anis memperlakukan Meyka seperti anak kandungnya sendiri. Papa Anwar juga senang, melihat Meyka. Mama Anis terus menggosok tangan Meyka agar hangat.
Meyka yang di perlakukan dengan penuh kasih sayang. Hanya menatap wajah mama Anis. Buliran bening itu kembali mengalir di wajah Meyka.
" Jangan menangis nak. Kamu harus menjaga kondisimu, agar pengorbanan Angga tidak sia-sia." Ucap Mama Anis tersenyum lembut. Meyka hanya menggeleng tidak menerima perkataan mama Anis.
Meyka berdiri dan berlutut di hadapan mama Anis. " Aku mohon tante, jangan seperti yang lainnya. Bilang sama aku, Angga masih ada kan...? Angga tidak meninggalkanku. Ku mohon Tante, jangan lakukan ini sama aku. Bilang sejujurnya kalau Angga masih ada." Meyka mengatupkan tangannya, buliran itu semakin kencang.
Mama Anis merasa iba, mama Anis memeluk Meyka yang terisak dan terus menggeleng. Walau apa yang di katakan mama Anis, Meyka tidak menerima.
***
__ADS_1