
" Meyka,,, Meyka ba-baik-baik saja kok." Ribbye terbata mengatakan alasannya. Otaknya buntu mencari alasan jadi hanya itu saja yang bisa Ribbye keluarkan. Semoga saja Angga percaya apa yang di katakannya. Ribbye kembali melihat ke arah suaminya, Reyhan mengangguk setuju dengan alasan yang ia pakai. Ribbye membuang nafas legah.
" Oh begitu...?" Angga mengangguk mendengar perkataan Ribbye. Ribbye dan yang lainnya langsung mengangguk dan tersenyum kaku.
Angga bukanlah orang yang bodoh yang mudah di kelabui begitu saja. Angga menatap Ribbye dengan tatapan yang sulit di artikan, lalu membalik tubuhnya dan melihat Reyhan yang bertatapan dengan Ribbye. Seketika Reyhan mengalihkan pandangannya saat Angga berbalik melihatnya. Angga yakin ada yang di sembunyikan.
" Tante, Om... Tolong katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi sama Meyka...? Bagaimana keadaannya sekarang...? Saya mohon, jujurlah." Angga berlutut di hadapan Mama Mia dan papa Malik yang masih terlihat lemah karna banyaknya tangisan yang mama Mia keluarkan. Memohon agar mama Mia ataupun papa Malik berkata dengan jujur.
Aksi Angga membuat mama Anis ketakutan, tangisan yang sudah redah kini kembali mengalir. Takut jika nanti anaknya mengetahui keadaan perempuan yang di cintainya membuat Angga kembali drop. Mama Anis takut jika kesehatan Angga kembali terganggu padahal ini saja belum pulih seutuhnya. Begitu juga dengan ke empat sahabatnya, membulatkan mata karna mereka pikir Angga menerima alasan yang di berikan Ribbye, namun ternyata tidak.
" Meyka masih mengalami koma, sampai saat ini Meyka tidak pernah siuman atau bahkan memberikan petunjuk kemajuan kondisinya. Bahkan Meyka sering kali mengalami masa kritis dan lebih parahnya lagi, Meyka mengalami kerusakan hati. Hati Meyka rusak total karna benturan yang terlalu keras." Papa Malik menjelaskan dengan suara pelan, sudut mata cairan yang menggenang sewaktu mengatakan perihal kondisi anaknya, kini terjun bebas. Sedangkan mama Anis semakin terisak dalam dekapan papa Malik.
Deg....
Jantung Angga serasa mau copot dari tempatnya. Mendengar penjelasan papa Malik. Sedangkan Reyhan dan ketiga sahabatnya hanya memejamkan matanya dengan lesuh. Berbeda dengan mama Anis yang ketakutan melihat anaknya yang terdiam membisu dengan wajah yang sulit ia baca.
" Kami sudah berusaha mencari pendonor beberapa hari ini. Tapi,,, kami belum sama sekali menemukan orang yang mau mendonorkan hatinya. Bahkan pihak rumah sakit juga belum menemukan pendonor. Jika dalam waktu dekat ini tidak ada pendonor. Maka,,,, ( papa Malik berhenti dan menelan salivanya dengan susah payah ) maka Meyka tidak dapat tertolong seperti yang di katakan dokter. Keadaan Meyka sangatlah kritis." Papa Malik tak mampu menahan laju air matanya, begitu juga dengan mama Mia yang semakin terisak.
Ribbye, Naya, dan Rianti ikut menangis mendengar penjelasan papa Malik, walau mereka sudah tahu, tetapi hatinya kembali hancur saat mendengar ulang penjelasan papa Malik. Ribbye di tarik oleh Reyhan untuk menenangkan istrinya yang tengah terisak. Begitu juga dengan Rianti dan Naya. Mereka dalam dekapan kekasih masing-masing. Ken yang tertunduk juga mengalirkan air mata. Memejamkan mata karna tidak bisa berbuat apa-apa. Saaty ini uang mereka tidak berarti karna tidak orang yang siap menukar hatinya dengan uang, berapapun uang yang di tawarkan.
__ADS_1
Angga seketika lemas, lututnya yang awal menopang tubuhnya lemas seketika ke lantai. Tanpa terasa cairan bening jatuh membasahi wajah tampannya, walau terdapat banyak beberapa luka, namun ketampanannya tetap terlihat. Sekilas senyum Meyka kembali terbayang, kata-kata kasar, umpatan dan tatapan tajam sekaligus tatapan jijik Meyka. Semua terbayang di lubuk sanubari Angga. Sesak menyeruak dari dalam hati, membuat Angga serasa tidak bisa bernafas.
" Angga, Angga sayang bangun nak." Mama Anis mendekat dan memegang bahu Angga yang terlihat lemas. Angga melihat ke arah mamanya dengan air mata yang terus mengalir, membuat mama Anis menangis.
Angga berdiri, tak menghiraukan mama Anis yang terus menarik lengannya, tak menghiraukan panggilan ke empat sahabatnya yang terus memanggilnya dengan khawatir. Angga berjalan dengan tertatih, mendekati daun pintu yang berwarna putih tulang, Angga mengulurkan tangan untuk memegang handle pintu, lalu Angga memutar dengan pelan.
Ceklek...
Pintu terbuka, Angga masuk menghampiri Meyka yang sudah terlihat pucat pasih, berbagai peralatan melekat di tubuh Meyka. Angga menangis melihat semua itu. Angga menatap Meyka dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Wanita yang di cintainya telah terbaring tak berdaya. Sakit di relung hati begitu menyakitkan membuat Angga tak kuasa menahan tangisnya.
" Meyka sayang bangun,,, Meyka... Maafkan aku,,, maafkan aku,,, maafkan aku. Hiks,,,hiks,,,hiks.." Angga menggenggam tangan Meyka dengan erat, mencium berulang kali dengan tangisan yang terdengar pilu. Ini sangat menyakitkan bagi Angga, melihat Meyka terkulai lemas di hadapannya. Tak kuasa melihat keadaan Meyka.
Cup...
Angga mencium kening Meyka. Memejamkan mata seraya meresapi kecupan dalam, seakan-akan itu adalah kecupan terakhir yang ia berikan pada Meyka. Tetesan cairan bening kembali mengalir, hingga cairan itu membasahi kening Meyka.
Angga berbalik melangkah keluar, baru tiga langkah, Angga berhenti dan kembali menatap Meyka dengan perasaan sayang yang tulus. Angga menghapus air matanya dan berbalik. Meninggalkan Meyka dengan perasaan sedih bercampur sakit.
" Angga,,, loe baik-baik saja...?" Rendy berujar dengan nada khawatir, mendekati Angga yang baru saja keluar dari ruangan Meyka.
__ADS_1
Bukan cuma Rendy melainkan kedua orang tua Angga dan ke tiga sahabat lainnya. Ikut mengkhawatirkan keadaan Angga. Memang kata dokter luka fisiknya tidak terlalu parah, namun jangan sampai membebangkan pikiran yang berat membuat kepulihan tubuhnya berangsur melambat. Apalagi melihat mata Angga yang merah, mereka yakin Angga menangis dan mereka yakin juga jika saat ini sangat terpukul dan lebih parahnya sakit yang di alami sahabatnya itu tidak kalah dari sakit kedua orang tua Meyka.
Angga mengangguk dan berusaha tersenyum pada sahabatnya yang nampak khawatir. Anto dan Bima mendekat untuk membantu Angga berjalan. Tak lupa mama Anis berpamitan sama mama Mia dan papa Malik, untuk membawa Angga ke kamarnya untuk istirahat. Mama Mia dan papa Malik hanya mengangguk, begitu juga Ribbye, Naya, Rianti dan Ken. Sedangkan Rendy dan Reyhan mengikuti dari belakang setelah berpamitan pada wanitanya.
***
Jika kalian suka dengan karya author,
Tinggalkn jejak ya.. like comment dan vote..
Bye-bye.....
__ADS_1