PLAYBOY COP IS MY LOVER ( Angga & Meyka )

PLAYBOY COP IS MY LOVER ( Angga & Meyka )
A&M PART 33


__ADS_3

Meyka tidak mau menerima kenyataan. Apabila, Angga benar-benar tidak ada lagi di kehidupannya. Meyka histeris dan terus memanggil Angga. Meyka berlari kesana kemari sambil memanggil Angga. Namun, hasilnya nihil. Angga tidak terlihat sama sekali di segala penjuru ruangan.


" Angga,,, Angga, Angga kamu di mana. Angga..." Meyka terus berteriak memanggil Angga, tetapi tak mendapat jawaban. Cristal bening terus membanjiri wajah Meyka.


Meyka menaiki tangga dan menuju setiap kamar. Membuka pintu satu persatu kamar yang tertutup rapat. Hingga tiba di satu kamar yang bercat putih bersih, Meyka berhenti sejenak sebelum membuka pintu itu dan masuk.


" Angga,,, kamu di mana. Jangan permainin aku kayak gini. Ini nggak lucu, Angga keluar sekarang. Aku akan membencimu jika kamu tidak muncul sekarang juga. Jadi tolong, berhenti bermain denganku seperti ini." Tutur Meyka histeris, bagaikan orang tidak waras, Meyka menjerit memutari kamar Angga dengan rambut tergerai sangat berantakan.


Meyka terus mencari dan mencari, akan tetapi hasilnya tetap sama, nihil. Meyka terus berteriak di sertai dengan cristal bening yang berjatuhan. Meyka mengusap air matanya dengan kasar, tetapi cristal bening itu terus saja lolos tanpa hambatan.


" Angga ini nggak lucu. Berhenti mempermainkanku. Aku hitung satu sampai tiga, jika kamu tidak keluar. Aku akan membencimu selamanya." Gertak Meyka dengan buliran yang semakin deras mengalir.


" Satu " Meyka menghitung dengan lantang.


" Du-dua." Meyka terbata dan terus menggeleng. Sungguh ini kenyataan yang tidak bisa Meyka terima.


" Please,,, Angga keluar. Jangan seperti ini." Meyka memohon dalm batinnya.


" Ti-Tiga." Meyka begitu terbata mengucapkan hitungan ke tiga.


Meyka memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya begitu kuat, bahkan kuku panjangnya melukai tangannya sendiri.


Satu detik...


Dua detik...


Tiga detik...


" Anggaaaaaaaa....." Meyka luruh ke lantai dengan jeritan yang sangat menyakitkan.


Mendapati hanya lukisan dan foto Angga yang terpampang jelas di dinding kamar itu. Meyka meraih figura yang berwarna hitam. Menatap Angga yang tersenyum manis, tangisan Meyka semakin pecah seraya memeluk foto Angga yang terbingkai dengan rapi.

__ADS_1


" Tidak, tidak. Jangan lakukan ini padaku, aku mohon jangan." Meyka semakin terisak, menggelengkan kepala seraya berbicara dengan figura foto Angga.


" Aku mohon jangan. Hiks,,,hiks,,,hiks." Meyka semakin terisak, memeluk dan mencium foto Angga dengan erat.


Kenyataan yang Meyka hadapi sungguh berat. Laki-laki yang ia cintai telah tiada dan itu sulit ia terima. Meyka benar-benar terpuruk, jatuh ke dalam lembah yang dalam penuh dengan luka.


" Pah,,, mama tidak tega melihat Meyka seperti ini. Kasian dia sangat terpukul." Lirih mama Anis yang ikut menyaksikan bagaimana histerisnya Meyka mencari putranya.


" Iya mah, papa juga kasian melihatnya seperti ini. Tapi, mau di apa lagi. Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semuanya sudah terjadi." Balas papa Anwar seraya merangkul mama Anis dan meninggalkan Meyka di kamar Angga.


Mama Anis dan Papa Anwar sengaja meninggalkan Meyka, untuk memberikan Meyka lebih banyak waktu untuk menyadari semuanya. Percuma ia menjelaskan jika Meyka tidak mau mendengar dan menerima kenyataan. Maka dari itu, Papa Anwar membiarkan Meyka sendiri. Agar bisa mengerti dan menerima semuanya dengan ikhlas.


Sedangkan di rumah sakit, semua orang begitu panik mengetahui jika Meyka telah tidak ada di tempat tidurnya. Papa Malik segera melapor pada pihak rumah sakit, agar cepat mencari Meyka.


" Bagaimana Pah, apakah ada yang melihat Meyka..?" Tanya Mama Mia dengan nada cemas. Menghampiri papa Malik untuk memastikan.


" Mereka tidak melihat kemana perginya Meyka. Tapi Papa sudah memberi tahu pihak rumah sakit, sekarang semuanya sudah berpencari Meyka. Sebaiknya kita tunggu sebentar dan tenang dulu, mungkin saja Meyka hanya keluar sebentar jalan-jalan untuk menenangkan diri." Papa Malik berfikir positif dan menenangkan sang istri agar tidak cemas. Walau papa Malik sendiri tidak yakin seratus persen dengan apa yang ia ucapkan barusan.


" Meyka pasti pergi. Jaket dan kunci mobilku tidak ada, padahal aku simpan di sini. Aku yakin Meyka meninggalkan rumah sakit ini." Tutur Naya setelah mengetahui jika jaket dan kunci mobilnya tidak ada.


" Ya Allah, bagaimana ini pah. Kemana perginya Meyka, kita harus mencarinya cepat pah." Mama Mia lemas bercampur cemas, mencemaskan anaknya yang tidak tahu kemana perginya. Terlebih kondisi Meyka belum stabil.


Naya dan Rianti diam sesaat karna berusaha bersikap tenang, agar otaknya mampu berpikir. Untuk mama Mia dan papa Malik pastilah tidak bisa tenang karna perasaan cemas yang mendominasi perasaan saat ini.


" Hanya satu tujuan Meyka. Aku yakin, Meyka pasti mendatangi rumah kak Angga. " Ucap Naya dengan optimis.


" Iya Nay, aku juga berpikir seperti itu. Mending sekarang kamu telfon kak Bima, tanyakan alamat rumah kak Angga." Ucap Rianti.


Naya mengambil benda pipihnya dan menlfon Bima. Menanyakan alamat rumah Angga. Setelah berhasil menelfon Bima dan mendapatkan alamat rumah Angga. Naya, Rianti dan kedua orang tua Meyka, bergegas menuju kekediaman Angga dengan menggunakan mobil papa Malik.


***

__ADS_1


Papa Anwar memandangi wajah Meyka yang sembab, hampir semalaman Meyka terus menangis, meratapi kepergian Angga. Saking tidak terimanya dengan kepergian Angga.


" Kasian kamu nak. Kamu harus menderita seperti ini karna ulah putraku. Bersabarlah, dan berusahalah untuk mengikhlaskannya." Lirih papa Anwar sebelum meninggalkan Meyka yang masih terlelap dalam kamar putranya.


" Bagaimana pah...? Apa Meyka masih menangis...?" Mama Anis segera menghampiri suaminya saat melihat menuruni tangga.


" Iya mah, tapi papah lihat ia sangat memderita akibat kepergian putra kita." Ucap papah Anwar sambil berjalan menuju sofa.


" Iya pah, Mama juga tidak tega melihat nak Meyka seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi, ini sudah jalannya." Ucap mamah Anis lesu seraya menjatuhkan bokongnya di atas sofa yang berwarna putih tulang itu. Menarik nafas panjang dan membuang dengam berat.


Tak terasa, tibalah kedua orang tua Meyka dan kedua sahabatnya. Dengan wajah cemas mereka melangkah tergesah-gesah menuju rumah Angga setelah papah Malik berhasil memarkir mobilnya.


Mama Anis mempersilahkan masuk, tersenyum ramah pada tamunya. Tanpa bertanyapun mamah Anis sudah mengetahui maksud kedatangan mereka.


Mama Anis menceritakan bagaimana histerisnya Meyka ketika mendapati Angga telah tiada. Meyka tidak terima dengan kenyataan ini, bahkan sangat tidak mempercayai orang di sekelilingnya, jika mengatakan kalau Angga sudah tiada.


Mamah Mia meneteskan air mata mendengar mendengar penuturan mama Anis. Sungguh malang nasib anaknya. Mengalami sakit yang bertubi-tubi, belum juga fisiknya sembuh, kini hatinya mendapat hantaman luka yang sakitnya tidak bisa di jabarkan.


Semuanya menapaki tangga, menemui di mana Meyka berada saat ini. Saat pintu berhasil Mama Anis buka dengan pelan, karna setahunya Meyka masih terlelap, takut membangunkan. Tetapi, pandangan menyesakkan mata pertama mereka lihat. Meyka sudah bangun dan kini sudah di bawah lantai dengan memeluk bingkai foto Angga, dengan tangis yang begitu memilukan.


Mama Mia membekap mulutnya, menyaksikan sang anak begitu terluka. Ingin membantu namun tak tahu harus dengan cara apa. Saat ini, Meyka telah tenggelam lautan luka yang dalam. sehingga mereka hanya mampu mengawasi sebelum jauh. Menunggu hingga ada celah biar mereka bisa bergerak. Ini tidak bisa di biarkan, berlarut-larut dalam kesedihan yang berkepanjangan maka bisa mengakibatkan Meyka melupakan dirinya.


" Sayang, dengarkan mama. Kamu boleh bersedih, tapi jangan terlarut dalam kesedihan seperti ini. Semuanya juga sedih kehilangan nak Angga. Ingat, apa yang nak Angga katakan dalam suratnya. " Dengan tegas mama Mia memberikan pengertian pada Meyka. Memegang kedua bahu Meyka yang terus bergerak naik turun.


" Ma,,, lelaki bajingan itu meninggalkanku mah. Dia tidak memberikanku kesempatan untuk memaafkannya. Dia malah membuatku menyesal dan semakin terluka." Meyka bergetar bahkan hampir tak terdengar suaranya karna sesegukkan dalam menangis.


" Kamu harus sabar sayang, harus kuat. Kuatkan dirimu nak, semuanya pasti akan baik-baik saja." Mama Mia memeluk erat putrinya. Dirinya tak kalah bergetar, melihat putrinya yang terus menangis.


" Tidak akan, tidak akan pernah baik. Tidak akan mah." Geleng Meyka dalam pelukan mama Mia.


Menyaksikan kesakitan Meyka, Naya, Rianti, mama Anis, papa Malik dan papa Anwar. Tak urung cristal bening menghampiri mereka. Bahkan mama Anis ikut sesegukkan melihat Meyka yang rapuh. Naya dan Rianti pun tak kalah, melihat kesakitan sang sahabat yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


***


Maaf baru bisa up, soalnya lagi dalam masa ngidam berat, makanya nggak ada mood dan tenaga untuk nulis.


__ADS_2