
Meyka menutup mata sekejap, namun bukan berarti sudah menerima kenyataan . Lebih tepatnya tak mau mengakui sesuatu. Namun, kadang itu merupakan caranya agar tak terlibat lebih jauh dalam kesakitan panjang yang di rasakan dalam relung hati yang terdalam. Meyka mencoba sekuat tenaga untuk tidak memikirkan luka dalam yang menggerogoti hati. Namun, tetap pada akhirnya, Meyka terluka dan itu sangat menyakitkan hingga tak satupun obat yang mampu menyembuhkan.
Entahlah...
Terdengar suara knop pintu terbuka secara perlahan. Meyka mendengar tetapi pandangannya hanya tertuju pada bingkai foto besar, yang terpampang indah di atas dinding, tepat di atas TV yang berukurang 60 inci. Seakan-akan penampakan itu yang paling spesial di mata Meyka, sehingga penampakan lain tidak begitu ia perdulikan. Langkah kaki mungil berlarian kecil menghampiri, bahkan tempat tidur yang Meyka tempati bergoyang kencang, akibat seseorang yang melompat. Tetapi, sekali lagi. Meyka hanya fokus pada satu objek, yaitu figura besar yang terpampang di salah satu dinding di ruangan itu.
" Mama Mey..." Yura memanggil terus, namun orang yang di panggil tersebut tak menyahut sama sekali. Bahkan Yura memainkan rambut panjang Meyka dengan cara menggulung ujung rambut. Tapi, tetap saja tak mendapat respon.
Yura cemberut, mengikuti arah pandangan Meyka yang tertuju pada figura besar. Sejenak terdiam lalu kembali melihat Meyka secara bergantian dengan figura tersebut. Seakan mengerti Yura menggeleng kecil bak orang dewasa, lalu menghembuskan nafas panjang. Sungguh sangat menggemaskan, jika Meyka dalam keadaan seperti biasanya, maka sasarannya ialah mencubit pipi Yura dengan gemas dan mencium berulang kali.
" Mama Mey,,, Mama Mey tidak boleh begini terus. Nanti Papa Angga ikut sedih melihat Mama Mey seperti ini. Ayo dong Mama Mey kembali seperti dulu lagi. Yura rindu sama Mama Mey, rindu lihat Mama Mey tersenyum, ngerjain Mommy, ngerjain Mama Nay dan Mama Ri. Terus Yura juga rindu jalan-jalan bareng semuanya, lalu kita makan es krim kesukaan Yura." Berceloteh dengan gemas seraya memainkan jari-jari Meyka. Sesekali menangkup wajahnya dan menarik-narik kecil rambut Meyka.
" Terus kata Mommy, kalau keseringan nangis nanti cantiknya hilang, terus berubah jadi monster. Iiihhh serem, Yura tidak mau kalau Mama Mey berubah jadi monster, nggak mau Mama Mey. Yura sayang bangat sama Mama Mey." Terus berbicara dengan panjang bak orang dewasa, Yura menangkup wajah Meyka dan terus menatap wajah Meyka yang terlihat pucat.
Yura mengelus wajah Meyka dan sesekali mencium pipi Meyka dengan celotehan yang membuat beberapa orang yang berdiri di dekat pintu tersenyum haru. Anak sekecil itu telah berusaha menarik Meyka kembali. Bahkan Yura tidak putus asa untuk menarik perhatian Meyka, berbagai cara dengan tingkahnya bahkan ucapan-ucapan yang menyentuh relung hati Meyka.
" Menangis saja Mama Mey, keluarkan suara Mama Mey. Hati Mama Mey akan lebih sakit jika menangis dalam diam. Mama Mey tahu, ini kata-kata Papa Angga yang selalu di ucapkan pada Yura jika Yura lagi nangis diam-diam ketika Daddy menghukum Yura." Ucap Yura seraya memeluk Meyka lalu mengelus punggung Meyka.
Respon yang sangat luar biasa, Meyka menangis terseduh-seduh dalam pelukan seorang anak kecil. Meyka memeluk erat Yura, mengeluarkan tangisannya yang selama ini tertahan dalam hati. Berlangsung beberapa menit, membuat mata merah nan sembab, kini hati Meyka merasakan lega. Seorang anak kecil mampu mengembalikan senyumnya, walau belum sepenuhnya.
" Terima kasih sayang." Ucap Meyka pelan dengan senyum tipis yang mengembang di bibir pucatnya. Melepas sejenak pelukannya pada gadis kecil imut dan kembali lagi memeluknya dan mencium pipi Yura.
Orang yang berdiri di dekat pintu begitu terharu melihat pemandangan yang baru saja terjadi. Tangis bahagia Mama Mia tak tertahan melihat anaknya luluh pada seorang gadis kecil. Tak henti memgucap syukur. Mereka semua mendekat.
" Ma,,, maafkan Meyka ya. Selama ini Meyka membuat mama susah. Meyka terlalu larut dalam kesedihan sehingga aku mengabaikan semuanya. Maafkan Mey Ma." Ucap Meyka parau, bahkan crystal bening kembali mengalir yang sebelumnya sudah berhenti mengalir sejenak.
Mama Mia memeluk Meyka dan ikut menangis. Mengelus rambut anaknya dengan sayang dan mencium puncuk kepala Meyka berulang-ulang. Moment yang sangat ia nantikan, untuk anaknya kembali. Selama beberapa bulan, Mama Mia melihat Meyka bagaikan patung, yang hanya berdiam diri dalam kamar, memandang foto yang hanya satu objek tanpa memandang objek lain. Makan, minum pun tak penting baginya selama beberapa bulan, hanya mencicipi sedikit lalu kembali berdiam diri, sehingga membuat bobot tubuhnya turun drastis.
" Aku ikut tour selanjutnya." Ucap Meyka pelan namun terdengar jelas di indera pendengaran ketiga sahabatnya. Menatap ketiga sahabatnya dan memberikan senyum kecil.
" Ha..." Ribbye, Naya dan Rianti kaget, melongo dengan pupil mata yang melotot. Apakah mereka salah dengar atau Meyka yang salah ucap.
" Kamu serius Mey...?" Tanya Naya dengan serius.
__ADS_1
" Iya, aku serius. Aku bakalan ikut tour dengan kalian. Maaf selama beberapa bulan ini aku tidak ikut performance dengan kalian, sehingga farmasi kalian nggak lengkap. Maaf ya aku vacum sementara. Pasti kalian harus mengambil bagianku saat performance." Kekeh Meyka dengan halus, menatap para sahabat secara bergantian.
" Ahhh Meyka...!!!" Seru Rianti dengan raut bahagia. Mengambur memeluk Meyka dengan erat, bahkan Rianti tanpa sadar ikut memeluk Yura yang berada di samping Meyka yang bersandar manja.Di susul oleh Naya dan Ribbye.
" Mommy dan Mama-Mamaku yang cantik-cantik, Yura nggak bisa nafas nih." Protes Yura dalam dekapan empat wanita dewasa yang cantik.
Mendengar suara gadis kecil di antara pelukannya,dengan buru-buru mereka berempat cepat saling melepaskan memberi jarak. Meminta maaf pada Yura lalu memeluk gemas Yura dan tak lupa mengucapkan banyak terima kasih pada malaikat kecilnya ini. Oleh karenanyalah, akhirnya Meyka bisa membuka pikiran untuk bangkit dari keterpurukannya ini.
Mata merupakan bagian tubuh paling utama, kadang kita bisa menilai seseorang dari raut matanya. Apakah dia sedang bahagia atau sedang bersedih, hal itu bisa dilihat dari matanya. Meski bibir Meyka berusaha tersenyum, tetapi mata tidak bisa berbohong. Itulah si anak kecil_Yura anak pertama dari pasangan Reyhan dan Ribbye, menangkap dari penglihatan matanya. Tersenyum pada sahabatnya namun jelas lukanya sangat nampak.
Seiring dengan berjalannya waktu, Mama Mey pasti melalui semua ini. Aku yakin ini, semua hanya butuh proses. Sekarang memang sakit, tapi nanti dari kesakitan ini Mama Mey akan memetik kebahagian yang tak terhingga.
Yura bermonolog dalam hati, walau Yura masih sangat kecil namun karna kecerdasan otaknya yang diatas rata-rata, ia mampu mengimbangi orang dewasa bahkan melebihi. kadang anak-anak seusianya tak mampu menjangkau di luar pikiran, tetapi Yura mampu berbeda dengan adik kembarnya_Yuri, yang memang usia dan tingkahnya sesuai dengan umurnya.
***
Keindahan yang terpampang di restoran ternama, bukan hanya pemandangan ataupun dekorasi yang kontras setiap tatanan yang terlihat. Tetapi restoran ini terkenal dengan berbagai macam menu yang unik dan sangat menarik, soal rasa tentu tak perlu di ragukan lagi. Rasanya sangat istimewa dan cocok di semua lidah yang mencobanya, bahkan menu di sini selalu di rindukan dan selalu ingin kembali mengulang mencoba berbagai jenis menu.
Di saat pengunjung lain menikmati hidangan dengan bahagia dan nikmat, berbeda dengan seorang Meyka yang tak merasakan kenikmatan hidangan di hadapannya. Makan tanpa menikmati, yang jelas habis. Begitulah yang ada dalam pemikiran Meyka.
Meyka hanya menanggapi dengan senyum tipis, untuk pertama kalinya ia pergi bersama Ken setelah kepergian Angga. Rasa sayangnya yang dulu pernah ada untuk Ken, kini hilang entah kemana bersamaan dengan kepergian Angga.
" Sayang, kamu beneran ikut tour minggu depan...? Apa kamu sudah merasa baikan...? Jika belum, jangan di paksakan. Lebih baik kamu banyak istirahat dulu." Tutur Ken dengan lembut seraya memegang tangan Meyka.
Meyka tersenyum canggung, menarik tangannya yang sedang di genggam oleh Ken. Meyka merasa tidak nyaman seperti ini. Padahal Ken masih kekasihnya.
Ken kecewa melihat sikap Meyka yang tidak seperti du, namun Ken tidak memaksa. Ken mengerti dengan kondisi Meyka. Maka dari itu ia mencoba bersabar. Suatu saat Meyka pasti kembali seperti dulu.
" Aku sudah merasa lebih baik, nggak perlu khwatir, aku baik-baik saja kok. Dengan ikut tour, itu lebih baik untukku. Setidaknya aku punya kesibukan dan tak selalu melulu meratapi kesedihan." Balas Meyka tenang.
" Hmm oke, jaga kesehatan kamu selama di sana ya." lanjut Ken dan di balas dengan anggukan oleh Meyka.
Setelah makan malam, Ken mengantar Meyka pulang. Walau sebenarnya Ken masih ingin menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu, dengan mengajak jalan atau sekedar nonton. Tetapi Meyka malah meminta di antar pulang. Ken harus ekstra sabar menghadapi sikap Meyka yang lebih banyak diam.
__ADS_1
Hening
Ken sesekali melirik Meyka yang melihat ke arah jalanan. Sedikitpun tak bersuara dengan basa basi seperti dulu. Sehingga Ken merasa canggung dengan keadaan seperti ini.
" Sayang..." Ken meraih tangan Meyka dan menggenggam dengan lembut.
Meyka menoleh dan memperhatikan tangannya yang kini di genggam oleh Ken. Ingin menarik tetapi Ken lebih dulu mengeratkan genggamannya. Meyka pasrah dan beralih menatap sorot mata Ken yang pandangannya fokus ke depan menyetir, namun sesekali menatap Meyka.
" Mau sampai kapan sayang kamu seperti ini, sadar atau tidaknya itu kamu seakan mulai menghindar dariku. Apa salahku..?" Ken berujar dengan lembut, mengeluarkan uneg-uneg yang bersarang dalam benaknya.
" Kamu nggak ada salah, aku juga tidak menghindar. Lupakan, itu hanya perasaanmu saja." Balas Meyka dengan tenang.
" Sayang buka matamu, Angga sudah tidak ada. Angga sudah mati, jadi please berhenti memikirkan dia. Aku yang ada di sisimu sekarang, tolong jangan terus menghindariku dan berhenti mengingat Angga." Tekan Ken dengan rahang mengeras seraya menggenggam kemudi dengan erat.
Meyka menatap tajam Ken, ingin memberontak dan marah. Saat emosi melanda Meyka meredamnya dengan memejamkan mata dan menarik nafas panjang.
" Iya." Balas Meyka dengan memaksa senyum.
" Bagus, lupakan Angga untuk selamanya karna dia sudah tiada." Ken menutup dengan senyuman seperti biasa. Puas dengan balasan kekasihnya yang menurut.
Walau tangannya masih dalam genggaman Ken, Meyka lebih memilih memalingkan wajahnya dan kembali melihat keluar melihat jalanan. Saat ini hatinya begitu panas mendengar perkataan Ken. Ingin sekali menampar wajah Ken tetapi Meyka berusaha mengendalikan diri.
Mulutnya berkata ' iya ' tetapi berbeda denga hatinya. Hatinya tidak setuju dengan perkataan Ken. Hati kecilnya menolak mempercayai semua kenyataan ini, hati kecilnya menganggap Angga hanya pergi sesaat dan akan kembali suatu saat. Angga hanya berpetualang, jika sudah lelah dan bosan maka ia akan kembali ke sisinya. Itulah pemikiran yang Meyka tekankan dalam hati kecilnya.
Sebelum berangkat ke bandara, Meyka terlebih dulu singgah di tempat yang membawah separuh hatinya pergi. Seperti biasa bercerita sejenak dan berakhir mencium batu nisan dengan linangan air mata yang mengalir deras. Walau begitu tetap ada harapan di hati kecil, jika yang ada di hadapannya bukanlah Angganya.
***
Haiii semuanya kesayangan....
hehehe maaf baru bisa update setelah beberapa bulan. Bagaimana kabar kalian, aku harap semuanya baik ya.
oke, selamat menikmati part ini.
__ADS_1
bye-bye