
Setelah Angga dan Meyka berhasil di pindahkan masing-masing di kamar, orang tua Meyka dan Angga tak berhenti mengucapkan rasa syukur karna pasca operasi telah berjalan lancar. Mama Mia dan Papa Malik tak hentinyanya berterima kasih pada Mama Anis dan Papa Anwar selaku orang tua Angga. Karna anaknya rela mendonorkan hatinya demi Meyka.
" Terima kasih bu, terima kasih banyak karna anak Ibu telah menolong anak saya. Aku tidak tahu harus membalasnya seperti apa, hanya terima kasih yang sebesar-besarnya aku ucapkan." Tutur Mama Mia dengan mata berkaca-kaca seraya menggenggam tangan Mama Anis.
" Tidak perlu berterima kasih Bu, anakku ikhlas menolong anak Ibu. Sebenarnya saya menentang keinginan anakku, tetapi dia ngotot untuk mendonorkan hatinya demi kesembuhan anak Ibu, wanita yang ia cintai. " Ucap Mama Anis menangis haru.
Mama Mia yang mendengar itu juga tak kuasa menahan haru, begitupula Papa Malik dan Papa Anwar. Mama Mia dan Papa Malik sangat bersyukur karna anaknya begitu di cintai oleh laki-laki hebat seperti Angga, tidak memikirkan dirinya yang akan menanggung resiko, seandainya operasinya gagal, hanya demi kesembuhan anaknya.
Mama Mia mendekati brangkar, menatap wajah Angga yang pucat. Mama Mia mengelus kepala Angga, seketika air matanya jatuh saat Mama Mia mengecup sayang kening Angga.
" Terima kasih banyak nak, kamu mengembalikan kebahagian keluargaku. Mulai sekarang kamu adalah anak laki-lakiku, berjodoh dengan Meyka atau tidak, kamu tetap akan menjadi anak laki-lakiku. Cepatlah bangun nak dan temui Meyka, jangan biarkan Meyka di miliki laki-laki lain. Walau mama tidak tahu apa permasalahan kalian." Ucap Mama Mia meneteskan air mata.
" Iya nak,, bangunlah secepatnya. Papa juga akan mendukungmu bersama Meyka. Benar kata istriku, mulai sekarang kamu menjadi anak laki-laki kami. Jadi kamu bukan hanya memiliki sepasang orang tua, tetapi dua pasang orang tua." Lanjut Papa Malik tenang seraya ikut mengelus kepala Angga.
Mama Anis dan Papa Anwar terharu mendengar perkataan Mama Mia dan papa Malik. Mereka tersenyum sambil mengangguk, mereka menyetujui perkataan Mama Mia saat menganggap Angga sebagai anaknya sendiri. Setelah mereka saling berbicara, Mama Mia dan Papa Malik pamit kembali ke ruangan Meyka.
Di ruangan Meyka, Ribbye, Naya dan Rianti dengan setia membersihkan tubuh Meyka, mengelap tissu basah agar tidak lengket. Mereka tahu kalau Meyka suka yang bersih dan paling bersih di antara mereka berempat. Masih dalam mengelap tubuh Meyka, Dokter masuk dan memeriksa kondisi Meyka sehingga Ribbye, Naya dan Rianti bergeser, memberikan Dokter tempat yang leluasa.
Dokter menjelaskan jika keadaan Meyka berangsur membaik pasca operasi, dan menunggu kesadarannya kembali. Semuanya bernafas lega mendengar penuturan sang Dokter. Mereka semua bahagia karna akhirnya Meyka akan kembali bersatu dengan mereka. Ken juga tak kalah bahagia mendengar semua itu. Ribbye, Naya dan Rianti saling berpelukan setelah lebih dulu Ribbye memeluk suami tercintanya saking bahagianya mendengar penuturan Dokter, begitu pula dengan Mama Mia, Papa Malik dan Ken.
Ceklek....
Pintu terbuka, salah satu suster yang bekerja di rumah sakit ini dengan wajah panik menghampiri Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Meyka. Suster mengangguk sopan dan tersenyum pada semua orang yang berada dalam ruangan itu, sebelum berjalan sedikit tergesah-gesah menghampiri Dokter.
" Maaf semuanya mengganggu." Ucap Suster itu lalu mendekat ke arah Dokter dan berbisik. Dokter mengangguk dan bersikap tenang.
" Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu. Ada pasien lain yang harus saya periksa." Tutur Dokter dengan tenang dan tersenyum ramah.
" Terima kasih banyak Dokter." Ucap Papa Malik membalas senyum ramah Dokter itu.
Di ruangan Angga, Mama Anis menangis histeris mendapati keadaan anaknya yang kritis. Mama Anis tidak sanggup melihat anak semata wayangnya pergi. Begitupula Papa Anwar yang berusaha menahan cristal bening agar tidak jatuh, namun semua itu runtuh melihat putra kebanggaannya kritis. Tubuh Mama Anis bergetar hebat, bahunya terlihat naik turun pertanda tangisan Mama Anis begitu memilukan.
" Ku mohon ya Allah selamatkan anakku..." Lirih mama Anis begitu terpukul.
Dokter masuk tergesah-gesah dan langsung mengintruksi suster agar membersihkan darah yang menggelembung keluar bekas operasi di tubuh Angga. Dokter memeriksa dan ternyata jahitannya ada yang terlepas. Sehingga membuat keadaan Angga mengalami down dan kritis. Dokter berusaha untuk mengembalikan keadaan tetapi Angga sudah terlalu kritis.
__ADS_1
" Jangan pergi sayang, jangan pergi. Mama mohon nak jangan tinggalin Mama. Mama tidak akan sanggup kehilanganmu. Ya Allah kumohon bantu anakku, selamatkan anakku ya Allah. Hiks,,,hiks,,,hiks." Mama Anis semakin histeris, hanya meminta pada sang pencipta karna hanya Allah yang mampu membalikkan keadaan.
" Tolong Dok, lakukan yang terbaik untuk putraku. Selamatkan putraku." Ucap Papa Anwar dengan tetasan yang membasahi wajahnya yang masih terlihat muda. Papa Anwar tidak bisa membendung rasa getir yang menghampiri lubuk hatinya. Di depan mata, anaknya bertaruh. Rasa sesak kini menyeruak di dada Papa Anwar, sakit menyaksikan buah hati menghadapi kritis.
Tiiittttt......
" TIIIDDDAAAAKKKK...!!!" Teriak mama Anis sekencang-kencangnya.
Brukkk...
Mama Anis ambruk di lantai seiring dengan bunyi monitor yang begitu menggema di ruangan itu. Papa Anwar dan Mama Anis seakan tidak bisa bernafas. Sehingga jatuhlah mama Anis tak terkulai. Papa Anwar bagaikan orang linglung, mematung di tempat dan bagaikan orang tuli bak kelainan. Tubuhnya gemetar, Putranya, putra satu-satunya pergi di depan matanya. Kenangan-kenangan saat Angga baru lahir, merangkak, dan mulai berjalan hingga dewasa. Semua terputar seketika di depan mata, semua yang papa Anwar lewati bersama putranya terputar seperti kaset VCD yang berulang-ulang.
Papa Anwar berjalan pelan dengan wajah yang kaku. Meninggalkan mama Anis yang tergeletak di lantai. Papa Anwar sama sekali tidak menyadari jika istrinya telah jatuh pingsan. Mata papa Anwar hanya tertuju pada putranya. Langkah demi langkah papa Anwar lalui dengan berat, begitu sulit sehingga papa Anwar merasa jaraknya dengan putranya begitu terbentang jauh. Padahal hanya berjarak beberapa meter saja. Tetapi, mengapa begitu lama dan sulit ia jangkau.
" Angga..." Papa Anwar memanggil putranya dengan gemetar. Mata yang merah dengan cairan yang tak henti-hentinya mengalir. Dengan tangan gemetar, Papa Anwar meraih tubuh putranya. Papa Anwar mengankat dan mendekapnya dengan erat. Papa Anwar menangis histeris, putra kebanggaannya, kesayangannya, kebahagiannya telah pergi. Pak Anwar sesegukkan.
Anto yang baru saja memasuki ruangan Angga, terkejut melihat apa yang terjadi. Anto berlari dan mengangkat mama Anis lalu menidurkan di sofa. Dokter dan suster hanya diam, tak mampu berucap bahkan mereka meneteskan air mata karna gagal, melihat betapa terpukulnya orang tua pasiennya. Dokter itu hanya bisa meminta maaf. Anto mendekat pada papa Anwar, Anto menarik nafas panjang yang terkecat di tenggorokan. Anto terduduk lemas dengan cairan yang merembes.
" Loe ingkar janji sama gue. Loe bilang kita akan bersama sampai kita mempunyai keluarga masing-masing, menyekolahkan anak-anak kita sama halnya kita berdua selalu bersama. " Anto menangkup wajahnya dan menangis terisak, Anto telah kehilangan sahabat nakalnya tetapi penyayang. Anto menelfon Bima yang berada di ruangan Meyka. Anto mengabarkan keadaan Angga, tetapi menyuruh Bima untuk tenang karna tidak mau sampai sahabat Meyka mengetahui semua ini.
Seketika mata Reyhan, Rendy dan Bima memerah. Tes,,,, tanpa bisa mereka tahan, cristal bening meluncur dengan bebas di wajah tampan mereka. Bima mendekat dan mengelus pundak Papa Anwar untuk menenangkan. Reyhan dan Rendy juga mendekat, manatap wajah pucat Angga yang berada dalam dekapan sang Papa. Reyhan mengalihkan pandangannya karna tak kuasa menahan air mata. Begitu pula dengan Rendy, ia menangis. Memejamkan matanya karna tak mampu melihat sahabatnya. Mereka terbiasa berlima, bagaimana sekarang jika mereka berjalan tanpa Angga...?
Merelakan seseorang yang sangat berarti dalam hidup adalah sesuatu yang sulit di lakukan. Ada perasaan sedih yang teramat dalam di sertai rasa kesepian. Semua perasaan yang rumit itu seakan mengisyaratkan bahwa kita sedang merasa kehilangan. Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan kehilangan. Rasa kehilangan terjadi ketika adanya kehampaan dalam hidup, sejak seseorang tak lagi bersamanya. Namun sebesar apa rasa kehilangan setiap orang juga berbeda. Begitu pula dengan penyebab seseorang kehilangan. Agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan, ada baiknya untuk segera menghadapi rasa kehilangan tersebut. Jika kamu sedang merasa kehilangan, kamu bisa memulai untuk merelakan kepergiannya.
***
Ken menatap surat yang di berikan oleh Angga. Bertarung dengan pikiran-pikiran yang bertolak belakang. Ken meneleang saliva dengan kasar dan memejamkan matanya. Mengingat kembali percakapannya dengan Angga tempo hari. Ken merasa tidak siap.
" Aku haru mengembalikan surat ini pada Angga. Tak perlu lagi aku memberikan surat ini pada Meyka karna Angga tidak kenapa-kenapa." Lirih Ken dengan suara berat.
Ken tidak mengetahui perihal apa yang terjadi pada Angga di rumah sakit. Karna Ken kini berada di apartmennya untuk mengganti pakaian sejenak sebelum kembali ke rumah sakit menemui Meyka.
__ADS_1
Ribbye merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suaminya karna gerak geriknya yang gelisa saat Bima menerima telfon dan membisikkan sesuatu pada suaminya dan Rendy. Ribbye pamit sebentar meninggalkan ruangan Meyka dan menuju ruangan Angga. Ribbye membuka pintu dan masuk. Betapa terkejutnya melihat apa yang terjadi.
Reyhan yang melihat istrinya di ambang pintu pun menghampiri. Mata merah dan wajah yang sangat sedih. Reyhan langsung memeluk Ribbye dan menangis dalam pelukan sang istri.
" Angga meninggalkan kita semua sayang, bagaimana kami berjalan tanpanya, sekarang kami tinggal berempat, kami sudah tidak lengkap, kami pincang kedepannya. Tanpa Angga, formasi kami tidak lengkap." Reyhan terisak sedih di dalam pelukan istrinya.
Ribbye mengelus punggung Reyhan dan sesekali menepuknya. Memberikan semangat dan ketenangan. Walau Ribbye juga sedih, mengingat Angga yang seperti kakaknya. Mereka memang sering bertengkar tetapi Ribbye tahu Angga sangatlah penyayang di luar sifat playboynya. Ribbye mengingat di mana saat ia mengerjai Angga pertama kalinya bersama Meyka di mall, sehingga Angga di putuskan oleh pacarnya, pada saat itu juga Angga menilang Ribbye hanya demi mempertemukan dirinya dan Reyhan saat itu, bahkan saat ia di culik oleh Dion, Angga ikut andil menyelamatkannya.
Mama Mia dan Papa Anwar yang mendengar berita kematian Angga, tak kalah sedihnya. Demi menyelamatkan Meyka, Angga harus pergi. Bagimana ia akan mengatakan pada Meyka jika Meyka sudah sadar nantinya. Papa Malik dan Mama Mia pergi ke ruangan Angga bergantian setelah Naya, Rianti dan Ribbye kembali. Mereka bergantian pergi karna tidak ada yang menjaga Meyka.
***
Tinggalkan jejak. Like, comment, vote dan rate ya.
Bye-bye
__ADS_1