
Angga naik di kursi roda dan di dorong oleh suster menuju di mana ruangan operasi yang sudah di siapkan. Di mana juga Meyka sudah berada di sana. Mama Anis dan papa Anwar hanya menangis dengan tubuh bergetar hebat. Harapannya hanya satu, operasinya berhasil dan anaknya juga selamat.
Angga naik di tempat tidur, membaringkan tubuhnya dengan pelan di bantu oleh suster. Setelah berbaring, pandangan Angga beralih kekanan, di mana Meyka sudah terbaring di sana dengan warna kulit yang pucat. Cairan bening kembali mengalir di peluk mata Angga seraya menatap wajah Meyka.
" Sayang,, kuharap pengorbananku ini tidak sia-sia. Kamu harus hidup bahagia dan melupakan aku. Agar rasa sakit di hatimu tidak lagi kamu ingat. Lupakan aku Meyka dan hidup bahagilah bersama Ken." Angga berkata dalam hati seraya menatap Meyka. Angga
Angga mengahpus air matanya, dan memalingkan wajah dari penglihatannya ke Meyka. Menatap nanar langit-langit rumah sakit tersebut. Entah apa yang di pikirkan Angga, hanya dia yang tahu. Menunggu dokter mempersiapkan segalanya, Angga kembali memejamkan mata, entah ia merasa ngantuk atau apalah.
Tek...
Tek...
Tek...
Proses operasi transplantasi hati kini di mulai. Dokter membedah dan mengambil organ hati Meyka, kemudian menggantinya dengan hati Angga. Keringat di kening Dokter terus membanjiri selama operasi berlangsung, tetapi suster dengan sigap, mengelap agar keringat itu tidak jatuh pada mata sang dokter.
Sedangkan orang yang berada di luar ruangan, merasakan ketegangan tingkat tinggi. Papa Malik terus memeluk mama Mia yang sedang khawatir. Ken yang terus menatap ruangan itu dengan hati berdebar, Ribbye bersandar pada bahu suaminya karna tegang menunggu hasil, begitu pula dengan Naya dan Rianti. Tangan mereka berada dalam genggaman kekasihnya. Sedangkan Anto berdiri menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu.
Berbeda dengan papa Anwar dan mama Anis, mereka diam dalam tangisan, hatinya sangat kalut dan ketakutan. Perasaan berbeda terus menghantui dirinya saat ini, rasa ketakutan lebih mendominasi dirinya ketibang berpikir positif. Entah mengapa perasaan seorang ibu mengatakan jika anaknya dalam bahaya. Air mata terus mengalir di pipi mama Anis, tetapi ia tidak bergerak dan matanya terus tertuju pada satu ruangan. Tidak terisak tetapi aliran itu selancar dengan air terjun tanpa jeda. Bahkan matanya tidak berkedip sama sekali.
Semuanya tegang menunggu hasil, operasi ini tergolong operasi besar yang memakan waktu sekitar enam hingga dua belas jam. Semuanya berdo'a dalam hati, bukan cuma untuk keselamatan satu orang tetapi untuk dua orang yang berada dalam ruangan operasi tersebut yang sedang berjuang.
" Ma,,, tidurlah dulu. Nanti jika dokter keluar, baru papa membangunkan mama." Ucap papa Malik dengan lembut. Tetapi, mama Mia menggeleng sambil menggenggam tangan suaminya.
" Tidak pa,,, mama mau menunggu. Mama tidak mau tidur." Ucap mama Mia dengan kekeh.
Begitupula yang lainnya, dia antaranya tidak ada yang mau tidur. Mereka menunggu sampai proses operasi selesai.
" Aku kalah lagi, kamu memang hebat Angga. Kamu berani mengambil keputusan tanpa memikirkan resikonya. Di sini aku mengerti, jika cintamu sangat besar untuk Meyka. Andai aku punya keberanian seperti dirimu. Tetapi akal sehatku tidak sampai seperti yang otakmu pikirkan. Kamu cepat dalam mengambil langkah, sedangkan aku.... Aku terlalu lambang, sehingga aku kalah telak darimu. Kamu pria sejati, aku bangga padamu sekaligus aku juga cemburu. Sekali lagi kamu menang satu langkah dariku. Ken bermonolog dalam hati, menautkan kedua tangan dengan pandangan terus terarah ke pintu yang tertutup rapat.
Ceklek...
Pintu terbuka, semua orang yang merasakan ketegangan dalam menunggu dengan mata yang sudah sayu, kini menjadi berbinar kegelisahan. Serempak berdiri dan menghampiri dokter. Mama Anis dengan langkah gemetar, ia menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan anaknya. Hati yang membuncah seakan ingin menjatuhkan diri mama Anis. Untungnya ada Papa Anwar yang selalu siap berada di sisi Mama Anis, menopang tubuh Mama Anis agar kuat.
__ADS_1
" Bagaimana dengan operasinya dok...? Apakah berjalan dengan lancar..?" Tanya Mama Mia dengan perasaan yang was-was. Pertanyaan mama Mia juga menjadi pertanyaan yang mewakilkan seluruh orang yang berada di situ.
" Tenang ya bu, lebih baik ikut ke ruangan saya. Nanti saya jelaskan." Ucap Dokter dengan ramah." Suster, tolong pantau terus keadaan kedua pasien, jangan tinggalkan sebelum kita memindahkan ke ruangan rawat inap." Lanjut Dokter dengan lembut." Mari bu ikuti saya." Sambung Dokter dan berjalan.
Mama Mia, Papa Malik, Mama Anis dan papa Anwar mengikuti Dokter. Sedangkan Ribbye dan yang lainnya menunggu di tempat masing-masing yang sejak kemarin ia tempati. Dua belas jam mereka menunggu dengan perasaan yang bercampur aduk. Mereka berharap semuanya berjalan apa yang mereka inginkan. Berhasil dan keduanya tidak terjadi apa-apa.
Anto terus diam, matanya tak lepas dari pandangannya pada Angga. Sebulir kristal bening mencuat di ujung mata yang berwarna merah. Anto adalah sahabat pertama Angga sebelum mereka menjalin persahabatan dengan Reyhan, Bima dan Rendy. Sejak kecil mereka sudah bersama-sama, tumbuh bersama dan satu sekolah bareng. Bahkan ketika Angga melanjutkan sekolah ke luar negeri untuk menghindari anak perempuan yang selalu menempel pada Angga, Anto juga pindah mengikuti Angga, Angga sudah seperti saudaranya. Suka duka sering mereka lalui, walau mereka dari keluarga yang berada, tetapi Anto dan Angga selalu menggunakan hasil jeripayahnya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya, bahkan mereka berdua sejak kecil mereka sering menyumbangkan sesuatu kepada panti dan sekitar orang yang tak mampu. Memang Angga seorang playboy, tetapi hatinya selalu tulus saat memberi dan membantu seseorang. Berbeda dengan pacar-pacar mainannya, ia tidak pernah menggunakan uang hasil jeripayahnya untuk memanjakan pacar sementaranya melainkan uang saku dari orang tuanya.
Di ruangan dokter, kedua orang tua Meyka dan orang tua Angga di persilahkan duduk oleh dokter. Dokter tersebut menarik kursi kebesarannya setelah melepas jas putihnya dan menggantung di gantungan kayu yang bercat coklat tepat di belakang kursinya. Melipat lengan kemeja dengan dua lipatan yang sempat jatuh gara-gara membuka jas kebesarannya. Lalu dokter itu memperbaiki letak kaca mata yang bertengger di hidung mancung.
" Begini buk, pak. Alhamdulillah operasinya berjalan lancar." Ucap Dokter dengan menyunggingkan senyum ramah kepada ke empat orang tua pasien yang baru saja di tanganinya selama dua belas jam lamanya.
" Alhamdulillah..." Ucap semuanya dengan serempak.
Senyum kebahgaian terlihat dengan jelas di wajah Mama Mia dan Papa Malik. Begitu juga dengan Mama Anis dan Papa Angga. Ketakutan dan kekhawatiran yang di rasakan oleh Mama Anis seketika berubah menjadi perasaan legah karna perkataan Dokter. Mama Anis dan Mama Mia masing-masing menggenggam tangan suaminya dengan perasaan bahagia, bahkan tangisannya pecah bukan karna kesedihan melainkan perasaan legah.
" Meski dapat mengatasi gagal fungsi hati, namun prosedur transplantasi hati tidaklah bebas resiko. Ada dua komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan transplantasi hati.
Pertama_ Terjadi penolakan. Hal ini di sebabkan imunitas bekerja untuk menghancurkan hati yang di anggap asing yang masuk dalam tubuh. Ini di sebut masa penolakan, di alami sekitar enam puluh empat persen dari pasien transplantasi hati. Terutama pada enam minggu pertama. Untuk itu, Saya akan memberikan obat untuk menekan sistem imunitas tubuh anak ibu dan bapak , agar menekan reaksi penolakan setelah transplantasi hati.
" Selain itu, Resiko lain pascaoperasi transplantasi hati yang dapat terjadi adalah pendarahan, komplikasi saluran empedu, penggumpalan darah, hingga masalah dengan memori atau ingatan. Anak ibu dan bapak kemungkinan harus seumur hidup mengonsumsi obat penekan sistem imunitasi tubuh. Agar tidak terjadi penolakan terhadap organ yang di cengkokkan. Sayangnya, obat-obatan tersebut memiliki efek samping . Antara lain diare, sakit kepala, diabetes, tekanan darah tinggi, kolestrol tinggi dan penipisan tulang." Ucap Dokter yang seketika membuat mama Mia dan papa Malik menjadi pias.
Mama Mia mencengkram tangan suaminya, tadinya ia pikir ketika dokter mengatakan jika operasinya berhasil, membuat semuanya menjadi baik-baik. Namun ternyata pikirannya salah, di balik pascaoperasi yang berhasil terdapat efek samping yang berbahaya. Tubuh mama Mia seketika menjadi lemah.
" Tapi bu, pak. Itu hanya kemungkinan berdasarkan ilmu kedokteran. Tetapi bisa saja Allah memberikan keajaiban, jika Allah sudah berkehendak maka semuanya bisa terjadi. Bisa saja saya mengatakan seperti ini, tapi kita tidak tahu kedepannya seperti apa. Siapa tahu besok atau satu jam kedepan anak bapak dan ibu mendapat keajaiban. Kita tidak tahu, maka dari itu perbanyaklah berdoa." Ucap dokter menenangkan karna tubuh mama Mia terguncang karna tangisan.
" Sabar bu ya, semua akan baik-baik saja. Teruslah berdoa demi kesembuhan nak Meyka. Aku yakin anak saya mencintai wanita yang kuat, jadi pasti nak Meyka akan kuat." Ucap Mama Anis dengan lembut seraya mengelus bahu mama Mia. Mama Mia hanya mengangguk dan berterima kasih.
" Lalu keadaan anak saya bagaimana dok...?" Ucap papa Anwar dengan nada cemas.
" Kalau anak bapak, alhamdulillah tidak ada masalah. Cuma kita tetap memperhatikan kondisi pasien. Karna terkadang efek samping setelah melakukan donor transplantasi hati, bisa mengakibatkan pendarahan, infeksi, reaksi alergi, kerusakan organ atau jaringan dekat organ yang mengalami sayatan, dan penggumpalan darah. Tetapi sampai saat ini, alhamdulillah pasien dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Dokter tersenyum ramah.
" Syukur alhamdulillah. Terima kasih banyak dokter." Ucap Papa Abwar dan Mama Mia bersamaan.
__ADS_1
" Kalau begitu, kami permisi dulu Dok." Sahut papa Anwar seraya merangkul tubuh mama Mia yang masih dalam keadaan lemas karna kurangnya istirahat.
***
Ceklek...
Pintu terbuka dengan luas, suara roda brangkar terdengar dengan keras. Beberapa suster mendorong keluar dua brangkar yang di atasnya terdapat seseorang yang masih setia memejamkan mata. Suster masing-masing membawa kedua pasien itu menuju ruangan di mana yang sudah dia siapkan. Ruangan vvip yang begitu luas dan fasilitas yang lengkap.
Reyhan sengaja memilih ruangan vvip untuk sahabatnya dan sahabat istrinya, bahkan Reyhan memilih kamar yang bersebelahan, agar ia lebih mudah menjangkau keduanya jika ada sesuatu tanpa harus berjauhan.
***
Hai readers yang tercinta. Maaf ya selama beberapa hari ini aku tidak bisa memenuhi keinginan kalian. Di samping aku sibuk, aku juga lagi sakit makanya nggak bisa up. Harap di maklumi ya. hehehe
__ADS_1
Jangan lupa like, comment, vote dan rate ya. Jika kalian menyukai cerita Meyka dan Angga ayo mainkan jempol kalian dengan mendukung ceritanya. Gunakan vote kalian yang kalian dapat seminggu sekali. Banyak dukungan dari readers tercinta maka author semakin semangat untuk up. hehehe
Bye-bye