
.
.
.
.
.
Keesokkan harinya, Meira tetap masuk sekolah walau sudah di pinta oleh papa mama dan papi mami tak lupa abangnya yang menyuruhnya untuk tidak masuk sekolah.
Meira berjalan menuju kelasnya dengan langkah agak pincang. Saat Meira berjalan menuju kelas, ia merasa ada yang mengikutinya. Meira mencoba untuk positif dan terus melangkah kan kakinya.
Meira sampai di kelas dab duduk di tempat duduknya, disana sudah ada Sifa dan Okta.
"Kakimu kenapa Mei?" tanya Sifa.
"Keseleo" balas Meira.
"Kok bisa" tanya berbarengan Sifa dab Okta.
"Ya bisalah, kalok gak ngapain susah susah jalan pincang begini" balas Meira polos tapi membuat Sifa dan Okta berdecak kesal.
"Bukan gitu maksud kita" ujar Okta sedikit menekan kata katanya.
"Iya iya aku tau kok. Jadi kemarin aku jatuh trus keseleo deh" balas Meira yang masih menggukan alasan seperti kemarin.
"Makanya jalan tu fokus, jan liatin cogan terus jadi gini kan" ucap Sifa.
"Yeee itu sih eloo" ucap Okat sambil memukul lengan Sifa yang berada di atas meja.
"Iya tuh, gak nyadar diri banget. Btw kamu punya waktu Sif" ujar Meira disambung pertanyaan.
"Ada, kenapa emang?" balas Sifa.
"Nah mending kamu manfaatin buat ngaca aja, biar sadar" lanjut Meira diakhiri tawa bersana Okta, sedangkan Sifa meletakan tanganta di dadanya dan menghebuskan nafas kesal.
Bell masuk pun berbunyi, kegiatan belajar mengajar pun di mulai. Mereka semua pada tertib mendengarkan sang guru, tapi entah sial materinya masuk ke otak apa enggak ya gak tau. Sampai akhirnya bell istirahat berbunyi dan membuat kelas yang tadinya senyap menjadi ramai.
Meira, sifa dan Okta berjalan bersama menuju kantin. Tapi lagi lagi Meira merasa ada yang mengikuti mereka, atau lebih tepatnya mengikuti dirinya.
"Eh kalian ngerasa ada yang ngikutin kita gak?" tanya Meira pada kedua temanya sambil menghentikan langkahnya di ikuti oleh kedua temanya yang ikut berhenti
"Gaktuh, kenapa emang?" balas Okta diangguki setuju oleh Sifa.
"Oh, gak papa yuk lah kantin" balas Meira walau sebenarnya masih ragu, tapi mencoba untuk tetap positif.
Sampailah mereka di kantin, seperti biasa mereka makan bersama si kembar dan Arga dkk.
__ADS_1
"Bang aku ke toilet dulu ya" ijin Meira pada abangnya, sebenarnya ia masih penasaran sual penguntit itu.
"Iya, mau abang anterin" tawar Dafa pada Meira dan dibalas gelengan oleh Meira.
Meira pun berlalu pergi ke kamar mandi. Dan benar saja, Meira lagi dan lagi mersa ada yang mengikutinya. Meira mencari cara agar ia tau siapa orang yang mengikutinya.
Meira melihat di depanya ada banyak orang, bisa di bilang senga berkerumun. Meira mendapat ide, Meira melancarkan aksinya. Dengan menerobos kerumunan, dan setelah itu ia bersembunyi.
"Duhh hilang jejak lagi" kesal salah satu dari penguntit itu.
"Pasti ia tau kalok ada yang ngikutin dia" balas satunya lagi.
"Udah kita pergi dulu aja, nanti kalok ketemu kita ikutin lagi" ujar satunya lagi.
Di tempat Meira bersembunyi, ia hanya menganggukan kepalanya saja. Karena dari awal ia sudah menebak siapa si penguntit itu. Meira pun memutuskan untul lembali kekantin.
Setelah makan malam, Rey dkk dan Gibral dkk plus Meira sedang berkumpul di ruang keluarga, sedangkan para orang tua ada yang kekamar dan ada yang ke ruang kerja.
Mereka menikmati siaran tv, yaitu drama korea reply 1988. Sesekali mereka tertawa akibat drama tersebut.
"Kenapa" tanya mereka berbarengan.
Meira menggaruk tekuknya yang tidak gatal. "Bang Rey bang Gibral, Meira pengen ngomong sama kalian berdua" ujar Meira.
"Kenapa cuman mereka berdua aja" tanya Farhan, dibalas anggukan oleh yang lain, minus Rey dan Gibral.
"Soalnya ini tu khusus" balas Meira.
"Kenapa gak disini aja ngomongnya" tanya Rey pada Meira.
__ADS_1
"Ini privasi bang" balas Meira.
"Oke ,ikut abang ke ruang kerja aja" ujar Rey di balas anggukan,lalu mereka bertiga berjalan menuju ruang kerja Rey.
"Jadi, ada hal apa sampek kamu mau ngomong kek gini" tanya Gibral.
"Meira pengeb cerita ke abang, jadi.......bla bla bla" ucap Meira lalu menjelaskan, Rey dan Gibral mendengarkan dengan seksama.
"Jadi gitu bang, trs Meira harus gimana" selesai Meira lalu bertanya tapi agak takut karena melihat ekspresi ababnya yabg menahan marah.
"Bral kayaknya ada yang mau nantang kita" ujar Rey pada Gibral.
"Iya, keknya gak takut tu orang" balas Gibral, lalu mereka berdua menyeringai mengerikan. Meira yang di sanapun bergidik ngeri melihatnya.
"Kamu jangan lakuin apa apa, kamu jalanin seperti biasa aja. Urusan ini biar abang sama bang Gibral yang urus. Okey" Ujar Rey pada Meira.
"okey, Meira keluar dulu ya bang" setuju Meira lalu ijin keluar.
"Dapet mainan baru kita" ujar Gibral.
"Nanti kita susun rencanya" ucap Rey dengan seringai menyeramkan.
***Tbc***.....
Tidak ada
__ADS_1