Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
sebuah rahasia


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ...


Suara ketukan dari luar ruangan Ali terdengar, Ali yang lagi asyik-asyiknya mendengarkan musik jadi menghela nafas kesal mematikan mp3 di ponselnya.


"Masuk .... " seru Ali kembali memfokuskan dirinya pada beberapa file yang harus dia tandatangani.


"Siang pak ...." sapa seseorang yang membuka pintu menghampiri meja Ali, "Bapak panggil saya?" tanyanya lagi masih belum dijawab. Ali masih menunduk sibuk membaca file nya itu, maklum di kantor ini dialah makhluk yang paling teliti bahkan hanya ijin cuti karyawannya dan dia harus tahu alasannya, dan alasannya harus bisa dia terima, kalau tidak terlalu mendesak jangan harap Ali akan memberinya cuti apalagi progress kinerjanya minim, atau belum mencapai target.


"Nggak usah panggil saya pak, panggil saja saya Mas, Bang, atau Bos, jangan panggil sa ..." koar Ali terhenti saat dia mendongakkan kepalanya. Matanya tercengang, mulutnya menganga saking kagetnya. Untung dia lekas sadar, dan segera mengatupkan mulutnya. "Lo?" hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Ali selanjutnya, tanpa sadar bolpoin yang dia pegang pun terjatuh.


"Mas Ali?"


Hening.


"Ngapain lo disini?" tanya Ali dingin merubah ekspresi mukanya, dia nggak seharusnya terkejut, jagan sampai hilang kewibawaannya hanya karena seorang ini, Lintang. Kenapa dia bisa ada disini? Kenapa dia lagi? Apa Eza yang menyuruhnya kesini buat memata-matai dirinya? Ali geram sendiri.


"Mas Ali juga ngapain disini?" tanya Lintang balik dengan muka tanpa merasa bersalah sedikit pun, seperti dia ada disini bukan hal yang aneh.


"Gue bosnya ." Jawab Ali dingin.


"Mas Ali bosnya?" tanya Lintang nggak percaya, sebentar dia pandangi Ali seperti dia sedang menyelidik, mungkin dia bohong, mungkin dia hanya karyawan biasa yang mengaku-ngaku. Lintang menelan ludah nggak percaya.


Ali yang melihat ekspresi Lintang langsung menyunggingkan senyumnya kesal, dia tahu kalau Lintang nggak mempercayainya.


"Lo nggak percaya sama gue?" tebak Ali jengah.


"Iya." Balas Lintang polos.


Ali berdehem. "Duduk." Perintahnya.


"Jadi lo yang punya novel itu?" tanya Ali langsung mengabaikan penilaian Lintang yang nggak mempercainya. Lintang pun langsung terkesiap, dia gelengkan kepalanya pelan mengeluarkan novelnya sendiri dari dalam tas.


"Ini Mas ..." Lintang taruh novelnya di depan Ali, novel romantis yang settingnya lebih banyak di korea. Ali hanya memandangnya sekilas, dia nggak butuh untuk membacanya. Karena dia percaya, kalau Jessica bilang bagus pasti memang benar bagus. Maklumlah Ali nggak terlalu hobi baca novel apalagi tentang romance.


"Sudah tanda tangan kontrak?" tanya Ali tanpa memandang Lintang. Kembali dia sibukkan dirinya dengan file-file yang masih harus dia cek.


"Belum mas, kata mbak jessica hari ini."


"Sebelum lo tanda tangani, lo harus baca dengan teliti, kenapa kita ambil novel lo sebagai ide cerita, bagaimana proses kerja sama kita, dan sebanyak apa nantinya lo terlibat dalam proses pembuatan film ini, lo harus tahu itu!" terang Ali nampak serius, di kata terakhir dia tatap mata Lintang yang ternyata sedari tadi mengawasinya. Seperti dia ingin menekankan kalau kerjasama ini bukan main-main.


"Iya mas ..." Lintang langsung menunduk ketika Ali menatapnya.


"Ya udah lo boleh pergi." Perintah Ali. Nggak lama Lintang sudah meninggalkan ruangan Ali. Ali langsung menarik nafas dalam, menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi, menutup mata mencoba kembali mencerna kejadian barusan. Menjadi anak baru di Almas, dan sekarang kerjasama dengan perusahaannya? Apa-apaan ini?


Tok ... tok ... tok ...


Kembali pintu ruangannya diketuk, tapi tanpa Ali perintah si pengetuk langsung nyelonong masuk, yah dia Fahmi. Mukanya seperti terkejut akan sesuatu, sesekali dia menoleh ke luar ruangan.


"Lo kenapa?" tanya Ali malas memainkan bolpoinnya di meja dengan memutar mutarnya tanda kalau dia sudah jenuh, bingung.


"It ... tu tadi, dia ...," ucap Fahmi gagap menunjuk arah luar.


"Iya ...," jawab Ali tahu siapa yang dimaksud Fahmi.


"Kok dia bisa disini? Gimana ceritanya? Apa dia disuruh Eza?" cerca Fahmi sudah menutup pintu duduk di depan Ali.


"Belum tahu gue, dia yang novelnya kita pakek. Gue punya tugas buat lo."


"Apa?"


"Lo ikutin dia, cari tahu tentang dia, siapa dia? Apa hubungannnya dengan Eza."


"Sekarang?" tanya Fahmi pasang muka paling polosnya yang membuat Ali jengkel. Cowok cakep seperti Fahmi dan bisa dibilang cerdas kenapa bisa mengeluarkan pertanyaan seperti itu?


"Nggak, TAHUN DEPANNN!" bentak Ali membuat Fahmi langsung berdiri kembali keluar ruangan buru-buru.


***


.


.

__ADS_1


.


Sayu, tapi senyumnya hangat dan lembut. Ali mengulurkan tangannya saat itu. Dia yakin akan punya waktu yang sangat lama, teramat lama untuk terus memegang tangannya. Rasanya saat itu, kebahagiaan sedang berpihak padanya. Dan waktu terus berjalan, tapi ternyata Ali hanya sendiri saat ini.


"Dia anak dari mantan pegawainya Eza. Asalnya dari Cilegon. Gue rasa dia nggak ada hubungannya dengan Eza." Terang Fahmi memaparkan apa yang dia tahu setelah selama dua hari mengikuti Lintang. Lintang hanya anak SMA biasa yang datang dari kampung, ingin melanjutkan sekolah dan mengambil beberapa pekerjaan untuk membiayai hidupnya selama di kota besar ini.


Sesaat Ali hanya diam, telinganya memang mendengar tapi pikirannya sudah jauh menembus ke belakang, ke masa lalunya, kembali ke arena balap saat itu. Dan tanpa dia sadari matanya sudah berkaca-kaca. Ini tepat dua tahun setelah kejadian itu, di tanggal dan bulan yang sama.


"Al, lo nangis?" hardik Fahmi terkejut bingung, melihat raut muka Ali. Ali yang baru sadar pun langsung mengerjapkan matanya, lalu melempar senyumnya. Ternyata Ali juga punya lesung pipit yang sama dengan adiknya, Aisyah.


"Ngapain gue nangis? Jangan keras-keras, Aisyah bisa denger nanti!" Ali menoleh ke belakang dalam rumah, untung saja Aisyah belum keluar, mungkin masih tidur. Maklum tiap hari minggu bisa dipastikan Aisyah bakalan keluar kamar kalau jam sudah menunjukkan pukul 10, dan sekarang masih jam delapan. Fahmi cuma nyengir mengangkat tangannya membuat lambang peace.


"Jadi gimana soal Lintang?" kembali Fahmi membahas soal Lintang.


"Gue rasa ini bukan kebetulan, pasti ada sesuatu ..." Ali menarik kesimpulan, dia masih merasa janggal dengan keberadaan Lintang yang serba kebetulan itu.


"Tapi gue bisa pastiin kalau nggak ada hubungannya dengan Eza." Sahut Fahmi meyakinkan Ali.


"Kenapa lo bisa seyakin itu?"


Fahmi diam, ragu menjawabnya.


"Percuma gue ngomong, lo nggak akan dengerin gue."


Ganti Ali yang diam, dia tahu apa yang dimaksud Fahmi. Apapun yang dikatakan Fahmi tentang Eza, pasti dia nggak akan peduli. Ali sudah terlanjur membencinya.


"Hari ini lo mau ketemu Dimas kan?" Fahmi mengingatkan, mengalihkan pembicaraan lebih bagus menurutnya, ketimbang memaksa Ali untuk menerima Eza. Dalam hati kecil fahmi, dia percaya kalau Eza samasekali nggak bermaksud membuat dia celaka, yah dia yang sangat berarti untuk Ali.


"Ya, gue bakal kesana, gue bawa Wahyu, lo disini aja sama anak-anak jagain Aisyah."


"Oke siap!"


***


Nafas Wahyu memburu, seakan ring basket di depannya itu musuh yang selama ini ingin dia musnahkan. Seakan ring basket itu adalah target yang selama ini dia cari.


Bola berwarna full biru itu menggelinding begitu saja saat Wahyu menghentikan permainannya. Dia hempaskan tubuhnya ke lantai lapangan basket, membiarkan sinar matahari di pagi ini menyengat tubuhnya, membuat butiran-butiran keringat mengucur dari seluruh tubuhnya.


"Lagi pengen aja Bang." Sahut Wahyu sekenanya, nggak mungkin dia mengatakan alasan sebenarnya.


"Lo lagi ada masalah?" Ali mendribel bolanya, memasukkannya ke dalam ring, dan selalu berhasil, memang Ali jagonya basket.


"Nggak Bang, tumben Bang Al kemari, ada apa?" Wahyu mengalihkan pembicaraan, dia bangkit dan merebut bola dari penguasaan Ali. Tanpa aba-aba mereka sudah bertanding satu lawan satu.


"Hari ini gue mau ketemu sama Dimas ..." Ali berhasil merebut bola dari Wahyu, segera dia lesatkan bolanya dan 3 point, sedikit dia tersenyum tipis puas.


"Buat?"


"Ada yang pengen dia tunjukin sama gue."


"Apa itu Bang?"


"Orang yang akan membeli 40% saham perusahaan gue!" deg, Wahyu yang mendengar itu, tiba-tiba langsung melepas bola yang sudah berhasil dia rebut dari Ali, sepertinya dia syok mendengarnya. Tapi kenapa?


"Lo kenapa hah?" tanya Ali panik memegang kedua bahu Wahyu, seperti Wahyu kehilangan keseimbangan, hampir saja dia terjatuh kalau tangan Ali nggak segera menangkapnya.


"Nggak papa Bang, cuma lemes aja, belum makan dari kemarin malam." balas Wahyu bohong, melempar senyum kakunya. "Beli 40% sahamnya Bang Ali? Gimana bisa? Bukannya 40% itu milik pegawai Ayah Bang Al di Yogja?"


"Dimas membuat mereka semua untuk dorong gue mundur, tanpa dia terlibat sedikit pun, setelah saham 40% itu terjual dia akan mengambil alih kekuasaan dengan alasan gue nggak sanggup mengurus perusahaan yang Ayah beri." Terang Ali kali ini memilih duduk, tanpa sengaja menghadap ke serumpun bunga tulip yang tumbuh indah di antara rumput-rumput yang kering. Aneh.


"Kalau Dimas emang mau lakuin itu, kenapa dia kasih tahu Bang Al?" Wahyu menyipitkan matanya memandang Ali penuh selidik, dia harus hati-hati di setiap ucapannya. Yah, Wahyu tahu kalau saat ini Ali pasti begitu emosi, meski nggak terlihat.


"Gue juga nggak tahu, tapi gue rasa dia tahu soal Rumah Bunga yang ada di puncak."


"Rum ... mah Bung ... nga?"


"Iya, milik Bunga ... by the way, lo suka tulip?" Ali tersenyum mendekat ke bunga tulip itu. Bunga selalu menyukai semua jenis bunga, tapi sayang dia nggak tahu bunga mana yang paling istimewa. Saat itu dia bilang Ali lah bunga yang istimewa di hidupnya. Ali mengacak-acak rambutnya, gemas lalu balik mengatakan bunga yang paling istimewa itu ya seseorang yang ada di sampingnya bernama Bunga. Gadis yang punya tempat spesial di hati Ali, yang meninggalkannya karena kecelakaan di arena balap milik Eza. Saat tikungan yang curam, entah darimana Bunga muncul ingin menghentikan Ali yang beradu balap dengan Eza. Bunga paling nggak suka dengan yang namanya balapan. Saat itu dengan mata kepala sendiri, di depannya, Eza menghempaskan Bunga dengan motornya. Saat itulah semuanya berakhir buat dirinya sendiri, Bunga, Eza dan juga adiknya Aisyah.


"Sahabat gue Bang ..." sahut Wahyu berdiri di belakang Wahyu penuh arti.


"Cowok? Cewek?" Ali tersenyum jahil, agaknya dia tahu kalau yang punya bunga ini pasti seseorang yang sangat istimewa untuk Wahyu.

__ADS_1


"Yahh pasti cewek lah Bang ..." Wahyu menggaruk kepalanya yang nggak gatal tanda kalau dia sudah salah tingkah dengan pertanyaan Ali.


"Lo yang ngerawat? Bukan dia? Kenapa disini?" selidik Ali semakin penasaran.


"Dia uda nggak pernah balik lagi kesini Bang. Dulu dia paling suka tempat ini. Dan dia juga yang minta gue buat bikin lapangan basket ini, tapi sayang di saat gue uda bisa buat lapangan ini, dia malah ngilang." Jelas Wahyu, wajahnya berubah muram, meski tersenyum Alii tahu kesedihan yang Wahyu rasa.


"Lo nggak cari dia?" suara Ali sedikit ragu menanyakan, takut kalau Wahyu malah semakin badmood.


"Dia udah bahagia sekarang, gue nggak bisa ganggu dia lagi Bang!"Wahyu petik satu bunga tulip, seakan bunga tulip itu sahabatnya yang telah lama pergi. Senyum pun menghiasi lekuk bibir Wahyu, sedih itu yang terlihat dari raut mukanya.


Ali beranjak berdiri, menepuk punggung Wahyu, berharap bisa memberi semangat untuknya. Bagaimanapun juga Wahyu ini salah satu juniornya yang paling dia sayang. Ali sudah menganggapnya seperti adik sendiri.


"Lo pasti juga bisa bahagia, ada atau nggak ada sahabat lo!" ujar Ali memberi semangat, mengeratkan rangkulannya.


"Iya Bang, Bunga, kapan-kapan Bang Al mau kan cerita soal dia? Gue pengen bisa kayak Bang Al, masih tetep baik-baik aja walaupun Bunga udah nggak ada!"


"Pasti, pasti gue bakal cerita sama lo, tapi satu hal yang lo harus tahu kenapa gue masih bisa bertahan sampai sekarang ..."


"Kenapa Bang?"


"Aisyah, karena gue masih punya Aisyah!"


"Aisyah?"


"Iya, dia berarti banget di hidup gue, gue nggak mau sesuatu terjadi sama Aisyah, gue nggak mau Aisyah punya nasib yang sama seperti Bunga!"


Wahyu tersenyum, tersenyum penuh arti, dia menatap Ali penuh keyakinan kalau dia percaya memang Aisyah sangat berarti untuknya.


"Iya Bang, gue percaya itu. Mungkin kalau gue punya adek juga bakal seperti Bang Al." Gumam Wahyu melepas bunga tulip itu, dia biarkan bunga tulip itu mengambang di kolam ikan kecil buatannya yang nggak jauh dari rerimbunan bunga tulip.


***


"Gimana, kamu betah tinggal disini?" Pak Kuncoro ikut membantu Lintang membereskan kerupuk-kerupuk yang dijemur. Lintang hanya tersenyum nggak menjawab, tangannya begitu cekatan memasukkan kerupuk-kerupuk udang yang masih mentah itu ke dalam plastik besar. Setelah ini dia akan menggorengnya dan menjualnya di warung-warung dekat rumah kontrakannya.


"Mas Eza baik kan?" tanya Pak Kuncoro lagi, ragu kalau keponakkannya ini akan betah kerja dengan Eza yang notabene agak sedikit kasar dengan pegawainya.


"Baik kok paman, Mas Eza baik ..." jawab Lintang sekenanya, bingung harus menjawab seperti apa lagi.


"Mas Eza nggak tanya yang aneh-aneh kan?" selidik Pak Kuncoro sambil mengaitkan tali di plastik yang sudah penuh dengan kerupuk-kerupuk itu.


Lintang hanya menggeleng kembali melempar senyum.


"Nggak sih, lagian apa yang mau Mas Eza curigai dari gadis desa kayak aku." Lintang mengangkat bahu, merasa kalau nggak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Terus dia dimana sekarang? Bukannya sudah janji mau kasih kita uang?"


"Lagi ada urusan, besok juga ketemu lagi. Saya pengen semua cepet selesai, nggak mau terlibat lebih dalam sama urusan mereka."


"Kamu sabar ya, ini semua juga demi masa depan kamu, mana ada orang yang berbaik hati seperti dia. Paman yakin, kalau kamu bisa bantu dia menyelesaikan semua ini."


"Semoga ..."


***


"Bang Fahmiiiiii ..." Aisyah mengerucutkan bibirya kesal, nggak gini juga kali mau jalan-jalan di mall aja diikutin terus. Yasmin hanya mengangkat bahu saat Aisyah melancarkan aksi protesnya.


"Ini abang lo yang nyuruh!" ucap fahmi berkali-kali, nggak bosen ya?


"Tapi Ai mau main sama Yasmin, masak Bang Fahmi ngikut mulu? Lagian Ai kan bukan presiden, nggak ada juga anak buahnya Dimas disini, segitu serem kah Dimas?" terocos Aisyah menuntut keadilan versinya.


"Tapi Ai ... "


"Udah udah, nggak usah bertengkar, mending lo telpon Kak Ali, minta sama dia buat bisa keluar tanpa dikawal kayak gini." Sela Yasmin memberi nasehat yang sangatttt jitu menurut Aisyah. Aisyah langsung sumringah mengambil ponsel di tasnya.


"Assalamualaikum Bang, Bang Ai mau jalan-jalan sama Yasmin, masak iya harus diikutin sama Bang Fahmi?" rengek Aisyah manja.


"Iya, minta Fahmi buat nyusul gue aja, tapi lo harus inget apa yang selalu gue omongin!" sahut Ali dari seberang telepon.


"Yuppp, kalau ada orang asing yang mecurigakan ngikutin Ai, Ai harus pergi ke tempat yang rame, telpon Bang Al atau Wahyu atau Bang Fahmi, kalau ada yang nyerang dari depan sebisa mungkin tendang alat vitalnya, gigit tangannya kalau sudah berhasil pegang Ai, dan kalau nyerangnya dari belakang langsung injek kakinya, sikut dadanya sekeras mungkin, jangan sampai sesuatu menyentuh mulut, karena pasti itu obat bius! Dan harus waspada sama sesuatu yang ada di belakang, liat lewat bayangannya yang ada di depan!" Hufttt Aisyah menarik nafas panjanggggg banget, tanpa Yasmin sadari dia juga ikutan menarik nafas panjang mendengar ucapan Aisyah barusan.


"Yuupp, betul, kalau gitu sekarang lo suruh Fahmi nyusul gue, dan jangan pulang larut malam."

__ADS_1


"Siap Bos!" Aisyah menghentakkan kakinya mantap seakan dia ini sedang ikut pelatihan tentara dan Ali adalah kaptennya. Yah memang Aisyah agak lebay sih.


__ADS_2