
"Lo yakin dia bisa diandalkan?" Ali memutar kursinya ke belakang, mengamati indahnya pemandangan dari ruang kantornya. Sengaja dia memilih ruangan paling atas tepat di belakang bukit, rasanya melihat pemandangan yang bebas dari batasan-batasan dinding bisa melegakan hatinya sendiri, seperti bisa sejenak melepas beban yang selama ini dia rasa.
"Yup gue yakin, gue udah baca sendiri novelnya, feelnya dapet dan unsur korea nya ngena banget." Jelas Jessica mantap reflek mengetukkan bolpoin yang dia pegang di meja kerjanya Ali.
"Oke kalau gitu, atur jadwal gue ketemu dia." Kembali Ali memutar kursinya, mengambil beberapa lembar laporan yang Jessica bawa, Jessica adalah asistennya di kantor. Dialah orang kepercayaan Ali, yang menggantikan posisi Ali selama Ali nggak berada di kantor, maklum dia kan masih harus sekolah.
"Kalau itu tenang aja Al, hari ini dia datang, lo mau temui hari ini?"
"Gitu? Jam empat gue harus balik lagi ke sekolah gimana?" tanya Ali balik menengok arlojinya sendiri. Yah hampir saja dia lupa kalau punya acara jadi panitia lomba panjat tebing.
"15 menit lagi." Jessica berdiri menjinjing tasnya beranjak keluar, "Nanti kalau udah datang biar gue suruh langsung kesini." Lanjutnya melempar senyum sebelum menutup pintu ruangan Ali.
***
Aisyah terus berjingkat-jingkat menepi ke tepi pohon yang ada di depan sekolah, tapi semakin dia menepi seakan terik matahari terus mengejarnya. Karena hari ini Wahyu nggak masuk, terpaksa deh Aisyah harus naik bus, dan juga tadi Abangnya buru-buru pulang ada urusan mendadak di kantor.
"Iya, iya mbak saya kesana sekarang saya lagi ada di sekolah ini mau berangkat!" ucap buru-buru seseorang yang ada di samping Aisyah, Aisyah hanya menyipitkan mata lalu nggak lama matanya langsung melotot. Baru mau dia memanggilnya, tapi dia sudah masuk ke dalam bus.
"Haisttt, tuh cewek, bikin gue nggak tenang aja!" gumam Aisyah kesal melihat kepergian bus, bus? Ya ampunnn, Aisyah menggeram kesal, dia tendang kaleng yang ada di depannya keras. Gimana bisa hanya karena cewek yang barusan ada di sampingnya, sampai dia lupa bus sudah ada di depannya dan membiarkan pergi begitu saja.
"Haissttt, sial !" umpat Aisyah lagi kesal.
__ADS_1
"Gue yang sial bukan lo!" timpal seseorang kembali mengejutkan Aisyah, hampir saja Aisyah terhuyung ke belakang saking kagetnya.
"Mas Eza ..." gumam Aisyah pegangan pagar yang ada di belakangnya.
"Ini dua kali ya lo lempar kaleng di kepala gue!" omel Eza sambil menunjukkan kaleng yang ada di tangan kanannya. Aisyah yang sadar, cuma bisa nyengir garuk-garuk kepala. Sesekali matanya menoleh ke belakang melihat kepergian bus, bukan busnya tapi cewek yang tadi masuk ke dalam bus tadi, Lintang.
"Maaf ..." ucap Aisyah menunduk beranjak pergi, nggak seharusnya dia sesering ini bertemu Eza, bisa gila dia dibuatnya. Tapi tiba-tiba ...
"Tunggu, ..." cegah Eza menahan tangan Aisyah, untuk beberapa detik ada yang aneh dengan Aisyah, rasanya ada yang nyeri di dadanya perutnya juga terasa mulas.
"Lo gue anter ya?" tanya Eza setengah berbisik, seketika tangannya pun langsung dihempaska Aisyah kasar.
"Dengerin gue, abang lo lagi nggak ada disini, bodyguard lo Wahyu juga nggak ada, di perempatan sana sudah ada anak buah Dimas, lo mau diapa-apain mereka? Lo mau abang lo khawatir?" cerocos Eza panjang lebar, untuk sepersekian detik berhasil membuat Aisyah melongo.
"Bang Al bilang aku nggak boleh deket-deket sama Mas Eza, dan aku cuma mau turutin omongan Bang Al, makasih Mas Eza udah khawatir." Wajah Aisyah langsung muram, ada yang aneh, dia ingin bisa dekat dengan Eza, bahkan saat tadi Eza mengkhawatirkannya pun dia sangat senang. Tapi Abangnya? Dia nggak mau mengecewakan abangnya, dia percaya pasti abangnya tahu mana yang terbaik untuknya.
Eza hanya menghela nafas kesal, harus seperti ini kah? Sekali lagi dia harus melepas Aisyah pergi begitu saja? Kenapa waktu masih saja terus terasa sulit untuknya?
"Sampai kapan gue harus kayak gini hah???" geramnya melemparkan kaleng yang ada di tangan kanannnya.
***
__ADS_1
"Wahyuuuuuu, lo kemana sih? Jemput gue sekarang, gue ada di perempatan sekolah, gue ketinggalan bus, ya ya ya, pokoknya gue tunggu!!!" tut ... tut ... tut ... Aisyah langsung menutup ponselnya begitu dia menelpon si mata bening. Diam-diam Aisyah cekikikan sendiri geli bisa mengerjai Wahyu yang sebenarnya lagi istirahat di rumah. Yah salah sendiri ngapain mau saja jadi bodyguardnya, bukankah tugas bodyguard itu harus terus mengawasi majikannya? Ahhh, iya sih memang posisinya Aisyah bukan majikan, hanya adik dari senior si mata bening yang di titipkan ke juniornya, tapi tetap saja kan, dirinya itu secara nggak langsung sudah menjadi tanggungjawabnya si mata bening. Aisyah nyengir memikirkannya, mengayunkan kakinya duduk di halte bus yang sudah mulai sepi. Matanya menyipit mendongak ke atas, heran padahal tadi masih panas banget, kenapa tiba-tiba langit jadi mendung.
"Kenapa bisa ketinggalan bus hah?" omel Wahyu datang setelah 30 menit Aisyah menunggunya, rintikk hujan sudah mulai turun. Belum sempat Aisyah menjawabnya hujan langsung turun derasnya. Segera Wahyu menepikan motornya, berlari menghampiri Aisyah yang masih duduk mengawasinya.
"Kenapa bisa ketinggalan sih? Bang Al mana? Gara-gara lo kan gue jadi kejebak hujan disini!" omel Wahyu lagi melepas jaketnya memasangkan ke tubuh Aisyah.
"Tadi ada insiden kecil," jawab Aisyah kikuk karena tiba-tiba tanpa ijin Wahyu memakaikannya jaket di tubuhnya, tapi Aisyah langsung terkesiap sadar kalau dia nggak boleh sampai punya perasaan aneh lagi, dia nggak mau jadi salting di depan Wahyu, nggakk tahu kenapa hatinya seperti mengingatkan kalau dia nggak boleh tersentuh dengan apapun yang dilakukan Wahyu. "Makanya gue panggil lo, lo kan bodyguard gue, seharusnya lo selalu ada dong buat gue!!!" bentak Aisyah tiba-tiba mengomel memanyunkan bibirnya kesal.
"Lo ngomelin gue? Dasar cewek resek!" omel balik Wahyu mengacak-acak rambut Aisyah kesal.
"Lo berani banget sih ngacak-ngacak rambut gue hah?!"
"Nah lo udah bagus gue jemput malah ngomelin gue!"
"Emang lo pantes diomelin, lo nyebelin!"
"Lo lebih ngeselin, gimana bisa Bang Al punya adek cerewet badung banget kayak lo!"
"Ya derita lo, salah lo sendiri lo mau jagain gue!!!"
"Oke kalau gitu sekarang gue pergi!!!" Wahyu beranjak berdiri tapi langsung ditarik Aisyah duduk kembali, Aisyah pun nyengir memamerkan deretan giginya, Wahyu cuma mendesis menepis tangan Aisyah. Nggak tahu sejak kapan, Wahyu sendiri juga mulai nggak bisa berhenti mengkhawatirkannya, padahal dia sudah berjanji nggak akan membuka hati untuk kedua kalinya.
__ADS_1