Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Kemarahan Eza


__ADS_3

PLAKKK


Kasar, Eza menonjok muka Ali dengan tangan kanannya yang masih dibalut perban. Dia tarik kerah jaket Ali lalu mendesaknya ke dinding kamarnya sendiri, dia tatap Ali tajam kesal. "Brengsek lo, mau lo apa hah?!" bentak Eza kasar tapi Ali yang dibentak hanya diam. Dia biarkan Eza meluapkan emosinya, bahkan dia membiarkan Eza menghajarnya kalau itu bisa membuat Eza merasa lega.


"Jawab Al, lo bisu hah? Lo bilang gue bisa suka sama Ai, tapi kenapa sekarang lo pisahin kita?" Kali ini perut Ali jadi sasarannya membuat Ali tersungkur jatuh.


"Gue udah bilang kan Za, itu keinginan Ai, bukan gue!" jawab Ali datar memegangi perutnya yang rasanya nyeri banget.


"Apa alasan Ai ninggalin gue? Dia nggak punya alasan Al, lo nggak usah bohong sama gue!" elak Eza, napasnya memburu duduk di sebelah Ali. Mereka sama-sama menyenderkan tubuhnya ke dinding memejamkan mata, sesaat mereka saling diam, hening, merenungi apa yang sudah, sedang dan akan terjadi. Kenapa semakin rumit? Kepergian Wahyu ternyata bukan solusi tentang kedekatannya dengan Aisyah.

__ADS_1


Sebentar Ali melirik Eza yang ada di sebelahnya lalu tersenyum mengacak-acak rambut Eza. "Ai sayang sama lo, lo lebih tahu daripada gue bro ...."


"Kalau lo tahu kenapa lo biarin Ai pergi?" tanya Eza masih menutup matanya. Rasanya ini seperti mimpi, Aisyah sudah nggak berada di dekatnya, bahkan dia nggak tahu dimana Aisyah sekarang.


"Ai mau jadi yang terbaik buat lo Za, mungkin nanti kalau kalian berjodoh, toh kalian bakal bertemu lagi." Ujar Ali menepuk punggung Eza.


"Ini karena nyokap gue ya?" Eza membuka matanya pelan memandang Ali penuh harap. Dia berharap beberapa detik lagi Ali bakal ngomong.


"Yang dibilang nyokap lo bener, kita ini hidup tanpa orangtua, wajar kalau nyokap lo anggap Ai buruk. Itu alasan Ai pergi ninggalin lo, beri waktu buat Ai, kalau sampai nanti lo masih punya cinta yang sama buat adik gue, kejar dia. Dan selama waktu itu, lo harus jadi orang hebat, hapus semua cap preman dari hidup lo Za, dan berhenti libatin diri lo dalam hal yang berbahaya, hidup sebagai aktor normal, yang bener-bener jadi panutan banyak orang. Kita berdua harus berubah jadi orang yang lebih baik lagi." tutur Ali panjang lebar, berhasil membuat Eza diam terpaku nggak menyangka seorang Ali sang preman bisa bicara sebijak itu. Ini beneran Ali? Eza sentuh kening Ali pelan, ingin tahu mungkin Ali sedang demam? Konyol!

__ADS_1


"Ini lo Al? Lo nggak lagi sakit kan?" tanya Eza ngelantur langsung dapat cibiran pedas Ali.


"Brengsek lo, emang lo pikir gue gila hah?"


"Ya, baru kali ini aja gue denger lo ngomong kayak gitu Al, lo bener-bener mau berubah?" sekali lagi Eza masih nggak percaya dengan Ali.


"Kita harus berubah Za, demi kita sendiri, demi Ai, demi keluarga lo, jangan letakkan mereka dalam bahaya lagi, cukup sampai disini masalah yang selama ini kita buat."


"Tapi apa gue bisa?"

__ADS_1


Aisyah telah pergi saat Eza masih dirumah sakit, dia tidak mau kalo sampai Eza menghalangi dia pergi, dia hanya ingin yang terbaik untuk Eza.


***


__ADS_2