Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Mr. X


__ADS_3

"Lintang, Lintang kamu pasti bisa, kamu pasti bisa, ini cuma sebentar, setelah itu kamu nggak perlu ketemu lagi sama mereka!" gumamnya berdiri di depan sepeda. Tadi pagi dia bingung memasangkan kunci sepedanya, tapi sekarang dia bingung buat membukanya, bukan karena dia nggak bisa tapi karena kuncinya hilang entah kemana. Lintang menepuk keningnya sendiri kesal. Kenapa selalu seceroboh ini, kalau sampai yang hilang itu surat perintah dari Mr. X bosnya gimana? Bisa mati deh ...


"Ngapain lo disini?" celetuk seseorang sudah ada di belakang Lintang. Lagi-lagi dia dibuat melongo. Gimana nggak, Ali selalu muncul di saat yang nggak tepat, Ali dengan masih nangkring di motornya memperhatikan sepeda kepunyaan Lintang.


"Kenapa lagi sepedanya?" tanya Ali lagi, baru Lintang tersadar.


"Ehh ..."


"Sekarang nggak bisa buka kunci?" potong Ali mengernyitkan kening, Lintang menggeleng.


"Kuncinya ilang mas ..." jawab Lintang lesu memegangi sedel sepeda.


"Ya udah bareng gue aja ke kantornya, sepeda lo biar disini, punya kunci cadangannya kan?"


"Ehhh, punya sih mas, tapi nggak usah mas, saya naik bus aja ..." tolak Lintang ragu, sebenarnya sih dia mau aja bareng sama Ali, hemat ongkos juga. Tapi kalau dia bareng Ali takutnya dia nggak berkutik, takut ketahuan.


"Udah nggak papa, searah juga kan, sama-sama ke kantor." Ali masih mendesaknya, dan itu memang sengaja dilakukan, soal kunci sepeda? Yah memang sengaja dihilangkan Ali. Dalam hati Ali tersenyum.


"Nggak usah mas, nggak papa, saya naik bis aja." Lintang bersikukuh menolaknya, beranjak meninggalkan parkiran yang masih ramai anak kelas tiga. Tapi, langkahnya langsung berhenti saat Ali mengklakson motornya keras, keras banget membuat semua orang yang ada di parkiran menoleh ke arahnya.


TINNNN TINNNNNNN TINNNNNN ...


"Mas Ali, ngapainnn???" teriak Lintang kaget campur kesal, karena bukannya pasang tampang bersalah, Ali malah menyunggingkan senyumnya, dan sialnya Lintang harus terpesona. Memang benar rumor kalau Ali si pentolan sekolah ini selain terkenal ganas di jalanan juga punya pesona yang selalu membuat kaum hawa diam nggak berkutik termasuk dirinya. Beruntung Aisyah punya kakak setampan Ali.


"Nggak ada yang boleh nolak gue!" ucap Ali santai masih terus menekan klakson motornya.


"Iya, iya iya ..." gumam Lintang pasrah naik keboncengan, memang melawan pentolan sekolah nggak akan menang kalau terang-terangan gini.


***


Semua urusan di kantor sudah Ali bereskan. Ali sudah meminta jessica menghandle semua pekerjaaannya selama dia berada di Jogja. Dan untuk Lintang, Ali masih terus menyuruh Fahmi untuk mengawasi Lintang. Walaupun kemarin Fahmi sudah memastikan Liintang nggak ada hubungannya dengan Eza maupun Dimas. Bahkan kemungkinannya kecil banget kalau seorang Dimas berani memasukkan seseorang di perusahaan Ali. Walaupun Dimas sering mengancam Ali, semua juga tahu, Dimas nggak seberani itu. Gimana pun juga, kalau sampai benar Dimas yang menyuruh Lintang dan ketahuan, dia bisa kena tendang ayahnya Ali. Sedang Eza? Rasanya nggak mungkin banget, bukan cuma nggak ada bukti secuilpun Eza terlibat dengan Lintang. Tapi Eza terlalu anti menyuruh seorang perempuan untuk melakukan hal yang terlalu berbahaya. Kalau hanya untuk memata-matai seseorang pun Eza masih bisa menyuruh anak buahnya.


Ali menghentikan langkah kakinya saat melewati kamar Aisyah, masih tertutup. Dia tengok ke ruang makan, hanya ada sepiring nasi goreng dan telor mata sapi kesukaaannya. Kenapa sama Aisyah? Jam segini mestinya Aisyah sudah standby di ruang makan menunggu jemputannya.


Pelan Ali mengetuk pintu kamar Aisya, tapi nggak ada sahutan. Akhirnya dia buka pintu yang nggak terkunci itu pelan. Aisyah masih terlihat tertidur di bawah selimut club sepak bola kesukaannya, Manchester United. Sebenci-bencinya Ali, Aisyah tetaplah adik yang paling dia sayang, Ali sangat menyayangi Aisyah. Dia belai pelan rambut Aisyah, Ali cium kening Aisyah.

__ADS_1


"Bang Al ..." panggil Aisyah lirih, matanya mengerjap pelan menangkap senyum abangnya yang sangat dia rindukan.


"Ai nggak sekolah?"


Aisyah hanya menggeleng memeluk erat pinggang Ali seperti biasanya.


"Kenapa? Ai sakit?" Ali menyentuk kening Aisyah, tapi Aisyah hanya tersenyum lalu menggeleng menggenggam tangan abangnya yang menyentuh keningnya.


"Ai lagi males Bang, Bang Al mau ke Jogja kan?" tanya Aisyah pelan mendongakkan kepalanya, sebentar Ali terkejut, yah pasti dia tahu semua itu dari Wahyu, karena Ali sendiri nggak sanggup untuk menceritakan semua masalahnya pada adik satu-satunya itu.


"Nggak papa abang nggak pernah cerita sama Ai, maafin Ai ya Bang nggak bisa diandalkan, maafin Ai nggak nurutin omongan Bang Al." Nggak kerasa air mata Aisyah membasahi paha Ali, "Ai nggak tahu apa-apa soal Bang Ali, Ai nggak tahu beban yang dipikul Bang Al, Ai malah mikir kalau Abang lebih percaya sama Wahyu, maafin Ai Bang, Ai nggak tahu kalau Bang Al lakuin itu karena Bang Al pengen jagain Ai, Maafin Ai Bang ..." Aisyah semakin sesenggukan.


Ali melepas rangkulan Aisyah, dia bangunkan Aisyah dan memegang erat dua pipi Aisyah, menghapus air matanya.


"Ai nggak perlu minta maaf sama Bang Al, Ai nggak salah." Suara Ali terdengar begitu lembut, tapi begitu tertekan karena harus menahan air matanya sendiri. "Bang Al sayang sama Ai, nggak boleh ngomong gitu, maafin Bang Al ya karena udah bikin Ai mikir kayak gitu, Bang Al janji akan terus jagain Ai, dan inget Bang Al lakuin ini semua karena Bang Al sayang sama Ai, bukan karena Bang Al lebih percaya Wahyu atau apa." Ali tarik Aisyah kepelukannya, dia peluk erat Aisyah, air mata Aisyah membasahi jaket kulit milik Ali, semakin erat pelukan Ali semakin Aisyah terisak, terakhir Ali memeluknya seperti ini saat hari pertama mereka tidak tinggal bersama orang tua mereka. Ali sudah seperti Ayah juga Ibu untuk Aisyah.


"Nggak papa Ai nggak masuk sekolah, Bang Al hari ini ke Jogja, cuma sehari kok ..."


Aisyah melepas pelukannya memandang Ali memegang kedua tangan Ali erat.


"Iya Bang, besok berarti Bang Al pulang kan? Ai bakal nungguin Bang Al di ruumah, Ai nggak akan kemana-mana, Ai janji akan terus di rumah, Ai juga nggak akan ketemu sama Mas Eza." Gumam Aisyah kali sudah tersenyum sesekali senggukan.


"Nggak usah!" potong Aisyah langsung tahu apa yang akan diucapkan Ali. "Bang Al nggak usah nyuruh Wahyu kesini, Ai janji nggak akan kemana-mana, biar Wahyu bantuin Bang Al ngurus kantor hari ini."


Ali menghela napas panjang, dia sadar mungkin Aisyah juga jengah kalau terus-terusan dipantau seperti itu.


"Ya udah kalau gitu, Ai di rumah aja, kalau ada apa-apa Ai hubungi Wahyu atau Fahmi."


"Siap Bos!" Aisyah nyengir, kali ini dia lebih bersemangat, nggak ada yang palinng menyenangkan di hidupnya selain melihat abangnya terus-terusan melempar senyum seperti saat ini. Kalau Aisyah bukan adiknya mungkin Aisyah juga sudah jatuh cinta pada Ali, seperti cewek-cewek yang lain. Sekali lagi Aisyah bersyukur banget punya Abang seperti dia.


***


"Lo bisa kan bikin skenario disini?" tanya Jessica memastikan kalau Lintang nyaman di ruangan Ali. Sengaja Jessica menyuruh Lintang untuk membuat skenarionya di ruangan Ali, karena di situlah satu-satunya ruangan yang bebas dari keramaian juga bisa melihat pemandangan alam berupa bukit. Tujuannya sih supaya pikiran Lintang lebih encer, dan dia lebih bagus bikin skenarionya.


"Bisa, bisa kok mbak, tapi beneran nggak apa kalau saya disini? Ini kan ruangannya Mas Ali?" tanya Lintang memastikan, padahal dalam hati dia seneng banget, keberuntungan sedang memihak dia. Dengan dia diberi ijin mengerjakan naskah skenario di ruangan Ali, dia bisa leluasa mendapat info tentang pihak-pihak yang memberi sponsor untuk pembuatan film milik Ali.

__ADS_1


"Iya santai aja, ini pertamakalinya kita buat film, dan gue mau lo dapet feel yang bagus, jadi pergunain semaksimal mungkin tempat ini, tapi inget jangan sentuh berks-berkas yang ada di meja Ali." Jelas Jessica menunjuk tumpukan berkas yang ada di meja Ali, terlalu banyak dan terlalu berat mungkin untuk anak SMA seperti Ali, yah Ali bisa menjalankan ini semua juga karena sebenarnya usia sudah tua, nggak seharusnya dia masih berada di bangku SMA.


Begitu Jessica keluar ruangan, Lintang berlari menuju pintu, membuka sedikit pintu memastikan kalau Jessica nggak akan kembali lagi. Dan setelah yakin, Lintang langsung menghampiri meja Ali, dia buka satu persatu berkas yang ada di meja Ali. Tapi yang dicari pun nggak ketemu di tumpukan pertama. Berlanjut ke tumpukan berikutnya, dan hasilnya sama sampai tumpukan yang keempat. Lintang sampai kewalahan hampir nyerah, dia hempaskan tubuhnya di kursi milik Ali, meremas kepalanya sendiri kesal.


"Ditaruh dimana coba? Kok nggak ada sih, padahal aku yakin banget kemarin setelah rapat pembagian tugas, Mbak Jessica menaruh semua berkas termasuk tentang sponsor disini!" keluhnya kesal, tapi matanya langsung tertuju pada map kuning yang berada di dekat foto Ali bersama Aisyah. Mereka nampak serasi, kalau nggak ada yang tahu hubungan mereka, pasti akan menganggap Ali dan Aisyah itu sepasang kekasih. Di atas map kuning itu ada sebuah buku, seperti buku diary, di pojok kanan atas ada tulisan SATU, lalu di bawahnya ada empat nama, Ali, Aisyah, Eza dan Bunga. Lintang mengerutkan kening saat membaca nama Bunga. Nama itu yang sering dia baca di rumah bosnya Mr.X, apa ini yang menyebabkan si Mr.X melakukan semua ini? Tapi kenapa sama Bunga? Ahhh, Lintang menggelengkan kepalanya keras. Nggak seharusnya dia memikirkan hal yang bukan urusannya. Disini dia hanya mejalankan tugas bukan mencampuri urusan orang lain. Lintang ambil map kuning itu dan membukanya. Benar saja, disitulah nama-nama pihak yang terkait sebagai sponsor pembuatan film ini.


Lintang langsung menyalin semua datanya, dan mengembalikan map kuning itu ke tempat semula. Satu pekerjaan berhasil dia lakukan.


***


Wahyu terus memandangi berkas yang ada di tangannya saat ini, berkas yang akan menentukan lanjut atau tidak pembuatan film ini. Berkas sponsor utama ada di tangannya saat ini, sponsor dari pihak korea. Ali sengaja menitipkan satu berkas itu padanya, karena Ali merasa nggak aman kalau meninggalkan berkas itu di kantor, apalagi selama sehari penuh ini dia sedang berada di Jogja. Mencoba meyakinkan para pegawai disana untuk mempercayainya.


Wahyu masukkan berkas itu ke dalam tasnya, segera dia nyalakan mesin motornya melesat menebas kepadatan lalu lintas di kota ini. Wahyu mendapat tugas dari Ali untuk mengurus penandatanganan kontrak dengan pihak korea hari ini seusai pulang sekolah. Nggak tahu kenapa hari ini Wahyu ngerasa sepi, bukan karena nggak ada Ali sih tapi hari ini dia nggak melakukan kewajibannya sebagai penjaga Aisyah.


Sepertii ada yang kosong, sekali dia menoleh ke belakang jok motornya, sepi itu yang dia rasa. Tapi pikirannya terus mendekte dirinya untuk tidak larut dalam perasaan, dia harus menyelesaikan semua ini sampai tuntas, melibatkan perasaan hanya akan menambah rasa sakit hati.


Tapi tiba-tiba di tikungan jalan motornya dihadang beberapa orang berjas hitam. Terpaksa Wahyu berhenti, sedikit senyumnya melihat semua ini. Permainan sudah dimulai.


"Mau apa kalian?" tanya Wahyu santai tanpa sedikit pun merasa khawatir.


***


DUGG ... DUGG ...


Aisyah langsung lari ke ruang tamu saat terdengar ketukan pintu keras, dia pikir pasti itu abangnya, tapi kenapa nggak langsung masuk aja. Sebentar sebelum menuju ruang tamu, Aisyah menengok ke belakang atas, jam masih menunjukkan pukul 9 malam, belum waktunya sih Ali pulang, seharusnya Ali pulang jam 11 malam. Dan kalau ini bukan Ali, siapa? Tiba-tiba Aisyah ngerasa ketakutan, tangannya gemetar karena suara gedoran di pintu belum juga berhenti. Kalau memang ini orang jahat gimana bisa masuk ke dalam halaman rumah? Apa penjaga di rumahnya sudah dilumpuhkan. Aisyah bergidik ngeri, mengambil tongkat baseball yang ada di pojok dekat tv.


Dengan sekuat tenaga memberanikan diri, Aisyah menuju ruang tamu, berdiri di depan pintu. Suara gedoran itu masih terus terdengar, "Aisyah, Aisyah lo di dalem kan? Aisyah ini Bang Fahmi, lo di dalam kan???" teriak suara itu dari luar, seketika tongkat baseballnya langsung terlepas dari tangan. Lega, ternyata Fahmi sahabat Ali, abangnya.


Segera Aisyah buka pintunya, terlihat Fahmi begitu panik memegang erat kedua pundak Aisyah.


"Lo nggak papa kan? Ada orang kesini nggak? Ada yang mata-matain lo nggak?" tanya Fahmi begitu berantakan, belum pernah Fahmi sepanik ini.


"Ai nggak papa Bang, Ada apa emang?" tanya Aisyah masih nggak mengerti dengan situasi ini.


"Syukurlah, lo ikut sama gue aja. Sekarang kita ke rumah sakit. Wahyu ada di rumah sakit, dia baru aja dihajar."

__ADS_1


"Dihajar? Siapa?"


"Orang suruhannya Eza."


__ADS_2