Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
hal yang tidak terduga


__ADS_3

"Turun ...!" pinta Ali begitu motornya terparkir. Aisyah pun hanya menuruti dan memanyunkan bibirnya kesal. Aisyah rasa abangnya ini punya dua kepribadian, terkadang bisa bersikap manis, kadang juga bisa jadi manusia yang paling menyebalkan sedunia.


"Bang Al ...," panggil Aisyah memegangi tali tas ransel Ali, mencoba merajuk abangnya itu.


"Apa?"


"Beliin Ai sepeda dong, biar nggak usah repotin Bang Al. Kan Bang Al pulangnya mesti sore ...," jelas Aisyah memasang muka memelasnya. Bukannya Ali pelit atau apa, tapi setelah mendengar orangtua mereka cerai, Aisyah mengalami kecelakaan saat bersepeda. Karena itulah Ali menjual sepeda Aisyah dan mengantar jemput adiknya sekolah setiap hari atau Aisyah harus naik bus kalau mau ke mana-mana.


"Sekali nggak tetep nggak," tolak Ali menyingkirkan tangan Aisyah dari tasnya.


"Tapi, Bang, Ai nggak mau naik bus, desek- desekan panas."


"Tenang aja kalau soal itu," ucap Ali nyengir merangkul pundak adiknya berjalan menuju kelas, "Bang Al udah siapin bodyguard buat anter jemput Ai. Jadi, Ai nggak perlu nunggu Abang," terang Ali langsung dapat tatapan nggak percaya.


"Serius Bang?" tanya Aisyah memastikan, matanya sudah berbinar membayangkan kalau Ali akan memberinya bodyguard yang ganteng-ganteng seperti di drama korea. Secara, rekan bisnis abangnya itu kan kebanyakan orang Korea semua.


"Serius dong, apa sih yang nggak buat adek abang yang badung ini," ucap Ali puas mengacak-acak rambut Aisyah. Tapi langkah mereka terhenti saat ada seseorang yang tiba-tiba saja berdiri menghalangi jalan mereka. Memasang muka cemberutnya berharap Ali peduli. Ali cuma bisa menghelas napas panjang. Sudah jengah sendiri, pagi-pagi harus ngurusin ini orang. Sedang Aisyah hanya diam bingung melihat ekspresi Ali dan juga orang yang ada di depannya ini.


"Siapa dia, Al?" tanya Ira, gadis yang terobsesi dengan Ali sejak tiga tahun yang lalu. Dan bisa ditebak kalau Ali sama sekali nggak tertarik dengan ira. Padahal hampir semua murid laki-laki di SMA Almas ini mengejar Ira, cuma tiga cowok pentolan sekolah SMA Almas yang nggak berminat dengannya.


"Bukan urusan lo!" jawab Ali dingin mempererat rangkulannya pada Aisyah.


"Dia anak kelas sebelas kan? Anak baru kan, lepasin rangkulannya, Al. Aku bilang lepasin!!!" teriak Ira emosi mencoba melepaskan rangkulan Ali dan hampir saja membuat Aisyah terjatuh kalau tangannya nggak segera diraih Ali.


"Lo gila, hah?" bentak Ali. Ira yang nggak menyangka respon Ali bakal sampai segitunya langsung bergidik ngeri.


"Ta-tapi, Al, kamu belum kenal dia, dia kan ...?"


"Gue bilang diem! Lo itu bukan siapa-siapa gue jangan ikut campur urusan gue. Pagi-pagi udah bikin badmood aja sih lo!" omel Ali tak mengacuhkan ira yang sudah ketakutan. Tapi Ira nggak menyerah, melihat Ali yang mengabaikannya menggandeng Aisyah, Ira masih mengejar dan menghadang Ali. Ah, cinta memang harus penuh perjuangan, batin Aisyah yang merasa lucu lihat tingkah Ira.


"Bang, ini orang siapa sih?" tanya Aisyah akhirnya buka mulut mulai risih juga dengan gadis over di depannya. Yah walaupun dia tahu pasti gadis ini cinta mati dengan abangnya, tapi Aisyah nggak suka caranya mengejar-ngejar Ali. Tiba-tiba saja nih, ada ide gila muncul di benak Aisyah.


"Bukan siapa-siapa, Ai. Nggak usah dipeduliin."


"Apaaa??? Kamu panggil dia Ai? Itu artinya sayang?" untuk kesekian kalinya Ira terkejut, matanya sudah berkaca-kaca syok, seseorang yang dia damba selama tiga tahun pagi ini sudah menghancurkan harapannya. "Al, bilang kalau tadi kamu salah sebut," pinta Ira penuh harap.


"Bang Al, dia bukan selingkuhan Bang Al, kan?" timpal Aisyah memulai permainannya, sekilas Ali melirik adiknya bingung dengan pertanyaan itu. Tapi Aisyah diam-diam mencubit pinggang abangnya untuk memberi kode.

__ADS_1


"Auchhh, Ai apa-apaan sih?" rintih Ali kesakitan yang masih saja nggak paham dengan gelagat Aisyah.


"Bang Al lebih baik jelasin ke dia kalau aku ini emang pacarnya Bang Al, Ai nggak mau kalau Bang Al diganggu terus sama dia," koar Aisyah berlagak sok protektif memberi tatapan sinis pada Ira. Seakan Ira itu gadis penganggu hubungan orang. Padahal dalam hati Aisyah sudah sangat girang dibuatnya.


"Owhhh gitu oke Ai ...," sahut Ali tersenyum baru paham. Ali eratkan rangkulannya sambil mengelus kepala Aisyah lembut bak pasangan kekasih SMA. "Raa, lo denger sendiri kan, dia siapa? Kenapa gue panggil dia Ai? Karena gue sayang banget sama dia, jadi gue minta lo minggir deh," jelas Ali menggandeng Aisyah menuju kelasnya, meninggalkan Ira yang terbengong-bengong melihat kejadian barusan. Ekspresi nggak percaya, marah, kesal sedih campur jadi satu.


"Itu nggak mungkin, itu nggak mungkinnnn!!!!!"


"Iya tenang aja, emang nggak mungkin kok," celetuk Eza tiba-tiba dari belakang Ira. Eza tersenyum tipis saat nggak sengaja melihat kejadian barusan. Aisyah benar-benar menarik perhatian Eza, sangat menarik. Buat Eza itu nggak mungkin terjadi, yah karena dia tahu kalau Aisyah itu kan adiknya Ali, jadi nggak mungkin kan kalau mereka pacaran?


"Kenapa lo bisa ngomong gitu?" tanya Ira masih sewot.


"Lo nggak kenal gue?" tanya Eza balik. Ira diam sejenak, dan tersenyum menyetujui ucapan Eza itu.


"Lo bener banget, lo kan artis, dan lo juga playboy, lo pasti tertarik juga kan sama cewek itu, lo harus bisa dapetin dia!" pinta Ira mengurai senyumnya kembali semangat menepuk pundak Eza. Yah seakan dia baru saja dapat pencerahan. Cinta harus diperjuangkan, harusss! batin Ira puas.


***


Hampir setengah jam sejak datang, Wahyu terus menerus mondar-madir di depan kelas. Rangga dan Denis hanya memandanginya bingung, kenapa sahabatnya ini terlihat stress hanya karena memikirkan bagaimana cara balas dendam pada gadis mungil biang onar itu. Mereka nggak habis pikir, pentolan sekolah bisa kehilangan akal.


"Udah ketemu idenya?" tanya Rangga akhirnya nggak sabar.


"Apa yang bakal lo lakuin?" timpal Denis.


"Hmmm, liat aja ntar," sahut Wahyu kembali duduk di bangkunya. Dia topangkan kaki kanannya di atas kaki kiri tanda kalau sebenarnya dia benar-benar bingung.


Di tengah-tengah itu, kelas yang tadinya sudah agak ramai karena beberapa murid yang sudah sampai, langsung jadi hening seketika begitu seseorang muncul dari balik pintu kelas. Wahyu yang melihat hanya mendongakkan kepalanya, tersenyum kedatangan seniornya.


"Bang Al ..." panggil Wahyu beranjak berdiri menyambut sang senior. Yah dia, Ali Sang Pentolan SMA Almas, senior Wahyu. Ali tersenyum menepuk punggung Wahyu.


"Ada apa Bang, apa yang ngebuat Abang ke sini?" tanya Wahyu penasaran.


"Bentar ya, lama banget nih anak ke toiletnya ..." gumam Ali menoleh ke belakang, tapi yang ditunggu belum muncul juga. Karena nggak sabar, Ali pun mengambil ponsel dari saku celana dan menghubunginya, "Di mana? Lama banget buruan! Bang Al ditunggu di kelas," perintah Ali langsung menutup ponselnya. Nggak lama akhirnya yang ditunggu muncul juga.


"Ada apaan sih, Bang, lagi di toilet disuruh buru- buru jadinya kan bas-" ucapnya terhenti, Aisyah yang tadinya sibuk mengeringkan ujung dasi yang kena air, langsung terbengong melihat dua cowok berada di depannya. Sebentar dia lihat sekeliling, yang sudah memandangnya dengan tatapan penuh rasa penasaran. Semua mata tertuju padanya juga pada dua cowok yang ada di depannya, abangnya sendiri Ali dan satu lagi Wahyu. Ada apa ini? batin Aisyah bingung.


"Bang Al, nyuruh Ai buru-buru ada ap-pa?" tanya Aisyah agak gagap, feeling-nya mulai nggak enak. Tapi tiba-tiba ingatannya kembali ke hari kemarin, saat pertama bertemu Wahyu. Akhirnya Aisyah pun menghubungkan semuanya yang jadi salah kaprah. Aisyah tersenyum simpul, merasa kalau dia bakalan menang. Feeling yang nggak enak tadi langsung diabaikan seketika.

__ADS_1


"Owhh, Ai tahu, abang mau bantuin Ai buat ---"


"Yuup betul, Bang Al bakal bantu Ai," potong Ali menarik tangan Aisyah untuk lebih dekat dengannya. "Wahyu, kenalin ini Aisyah, dia adek gue, dan mulai sekarang Ai jadi tanggung jawab lo selama di sini!"


"Apa???" seru Aisyah dan Wahyu hampir bersamaan mata mereka sama-sama melotot nggak percaya, dan ternyata nggak cuma mereka tapi semua murid yang ada di situ hampir nggak peracaya, termasuk Yasmin yang baru saja datang. Aisyah si murid baru ternyata adik dari sang pentolan sekolah senior, dan sekarang dititipkan ke Wahyu sang pentolan sekolah junior? Seketika suasana jadi riuh, mereka yang ada di situ saling berbisik membicarakan tiga orang ini yang jadi pusat perhatian.


"Beneran, Bang? Serius? Dia ini adek, Bang Al?" timpal Denis yang tadinya duduk langsung berdiri di samping Wahyu diikuti Rangga. Ali hanya mengangguk mengiyakan.


"Jadi, gimana? Lo mau kan? Terus gue juga minta tolong, lo anter dia pulang sampai rumah, kalian kan pulangnya sama, gue nggak mau Ai nunggu gue sampe sore, kelamaan," papar Ali masih saja belum tersadar akan suasana hati Wahyu, juga adiknya sendiri. Sedari tadi Wahyu dan juga Aisyah hanya diam bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Kenapa bisa begini???


"Bang, Ai nggak mau! Lebih baik Ai nunggu Abang sampe sore aja," celetuk Aisyah akhirnya datar, menatap tajam Wahyu. Bayangan punya bodyguard orang korea musnah sudah. Ini pelajaran buat Aisyah untuk nggak mengabaikan feeling-nya yang nggak enak itu.


"Nggak boleh! Bang Al juga sibuk, abang harus ngurus kerja juga. Wahyu orang yang tepat buat jagain Ai," elak Ali kukuh.


"Tapi Bang, Ai nggak mau!" rengek Aisyah, memegangi ujung tali tas Ali seperti anak kecil,"Ai nggak mau sama dia, dia ini-"


"Gue mau, Bang," potong Wahyu tersenyum tipis. Yah, kapan lagi dapat kesempatan emas buat balik ngerjain gadis yang sudah bikin dia kena hukuman dan semua ini bisa melancarkan rencananya. "Gue mau kok jaga adik Abang ini, iya kan, Ai?" lanjut Wahyu kali ini dengan senyum ramah palsunya memandang Aisyah. Perang dimulai.


"Bang ... Ai nggak mau Bang." Rengek Aisyah mulai putus asa.


"Wahyu udah bersedia, jadi urusan selesai, mulai hari ini, Wahyu juga punya tanggung jawab buat jagain Ai, oke? Bang Al balik dulu ke kelas!" pungkas Ali meninggalkan kelas. Meninggalkan riuhnya kelas, ada yang mencibir iri, ada yang menyoraki ikut senang, ada juga yang mengulurkan tangan memberi selamat buat Aisyah yang sudah berhasil bersanding dengan dua pentolan SMA Gajah Mada. Aisyah sendiri langsung terduduk lesu tanpa bisa apa-apa. Yasmin memapah Aisyah menuju kursinya.


"Ai, elo nggak apa-apa kan?" tanya Yasmin lirih ragu.


"Gue yang bodoh, apa Abang gue yang bodoh?" gumam Aisyah menopangkan tangan di dagu.


"Lo beneran adiknya Kak Ali ya?" tanya Yasmin lagi tapi tak di gubris Aisyah. Saat ini Aisyah lagi badmood dengan semuanya. Rasanya dia pengen kabur saja dari sekolah. Apa pun itu, kalau abangnya sudah membuat keputusan harus dituruti. Yah sejak tinggal hanya berdua dengan Ali, Ali lah yang menjadi Ayah untuk Aisyah. Aisyah percaya siapa pun orangnya, pasti dia benar- benar dapat dipercaya. Tapi kali ini? Wahyu? Aisyah menulungkupkan kepalanya berharap dapat pencerahan.


"Elo, minggir," celetuk Wahyu mendatangi meja Yasmin dan Aisyah. Yasmin yang disuruh untuk pergi pun langsung beranjak berdiri. "Bawa juga tas lo, kita tuker tempat," sambung Wahyu berlagak galak, padahal dalam hati dia pengen tertawa keras. Kesempatan emas nggak akan dia sia-siakan. Yasmin hanya diam langsung menuruti membawa tasnya pindah tempat ke meja belakang tempat Wahyu. Yahh sampai sekarang belum ada yang berani melawan keinginan Wahyu.


"Mau apa lo?" tanya Aisyah mengangkat kepalanya menatap Wahyu sinis. Tapi yang mendapat tatapan sinis malah mengumbar senyum duduk di kursi menghadap Aisyah.


"Gue nggak nyangka, lo itu adiknya Bang Ali," kata Wahyu mengabaikan pertanyaan Aisyah. "Gimana?"


"Apanya yang gimana?" tanya Aisyah sewot tepat saat guru matematika datang.

__ADS_1


"Lo tenang ya, mulai sekarang gue bakal terus nempelin lo, Ai," jawab Wahyu berbisik tersenyum tipis memutar badannya menghadap depan. Wahyu puas, sangat puas berhasil mendapat kesempatan emas. Meski dia adik dari seniornya sendiri, tapi iseng sedikit nggak masalah kan sebelum semuanya terjadi, tentang rencana besar Wahyu di SMA Almas ini.


Dan sang pentolan junior pun beraksi.


__ADS_2