Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
bunga tulip


__ADS_3

"Lo yakin Bang ini tempatnya?" Wahyu membuka helm mengerutkan keningnya, aneh rasanya kalau harus datang ke tempat seperti ini. Seperti bukan markas Dimas biasanya. Ini lebih seperti ke taman bunga. Wahyu pun baru sadar, dia melirik Ali yang sepertinya nggak terkejut samasekali.


"Yuk masuk!" ajak Ali mengabaikan pertanyaan Wahyu. Mereka memasuki ke taman bunga dari pintu pagar yang terbuat dari jeruji kecil, Ali pernah melihat seperti ini. Mungkin benar dugaannya kalau Dimas pasti akan menyangkut pautkan semuanya dengan Taman Bunga yang ada di puncak.


Dan kali ini mereka berdua sama-sama mengerutkan keningnya agak terkejut, begitu banyak bunga tulip di samping kiri kanan mereka. Kenapa harus bunga tulip. Mereka masih terus berjalan lurus ke depan, dan ternyata sudah ada seseorang yang berdiri di sana, mungkin menunggu mereka. Dia laki-laki berbadan tegap, tinggi sekitar 185 cm dan memakai jas serba hitam, layaknya bodyguard. Cuma satu kata yang Ali dan Wahyu pikirkan, kebetulan sama,"Lebay".


Laki-laki itu tanpa bicara, dengan tangannya yang panjang menunjuk ke arah selatan, isyarat kalau Ali dan Wahyu harus mengikutinya. Sampai di pertigaan mereka belok ke kanan, terdapat sebuah bilik kecil dan lagi-lagi penuh dengan bunga tulip. Laki-laki itu mengetuk pintunya dan membukanya langsung.


"Lama nggak bertemu ya, Ali ..." terdengar sambutan dari suara yang samasekali nggakk asing di telinga mereka. Cowok bertubuh kekar bermata sipit kulit kuning langsat ini sudah berdiri di depan Ali dan Wahyu. Saat ini hanya mereka bertigalah yang ada di dalam ruangan, mungkin tadi setelah membukakan pintu, laki-laki yang mengantar mereka langsung kembali ke tempatnya.


"Apa yang mau lo omongin, Dimas ..." mata Ali lurus dingin menatap Dimas, tapi Dimas malah melempar senyumnya berbalik dan duduk di kursi yang ada di belakangnya, tanpa diperintah Ali dan Wahyu mengikutinya, duduk di dua kursi yang ada di depan Dimas.


"By the way selamat atas kemenangannya kemarin!" Dimas memutar koin yang ada di mejanya lalu menutupnya dengan telapak tangan kanan saat koin itu tengah berputar, koin naga keberuntungan. Ali tahu betul itu koin milik ayahnya. Tapi kenapa bisa ada di Dimas? Haisttt, pengen rasanya Ali menendang muka yang ada di depannya saat itu.


"Lebih baik lo nggak usah banyak basa-basi!" sahut Ali geram, sekali lagi Dimas hanya tersenyum tapi kali ini melirik Wahyu yang sedari tadi hanya diam dengan ekspresi yang nggak dapat dijelaskan.


"Oke, lo beneran nggak sabar ya? Pasti lo juga kan, Wahyu, terakhir ketemu sama lo kapan ya?" tanya Dimas menyipitkan matanya, memutar-mutar jari telunjuknya mengarah ke muka Wahyu.


"Lo punya urusan sama gue atau Bang Al?" timpal Wahyu akhirnya bersuara.


"Owhhh jelas sama Ali, ya kan Al ... oke gini!" Dimas memajukan sedikit kursinya merapat ke meja, mengetuk-ketukan kelima jari tangannya ke meja, wajahnya mulai nampak serius.


"Pasti lo udah tahu soal 40% saham pegawai di Jogja kan?" kali ini mata Dimas memandang Ali serius, "Gue akan bikin mereka menjual saham mereka, dan lo tahu itu apa artinya?"


"Itu nggak akan terjadi!" potong Ali dingin,


"Ya ya ya, Mr.Optimis, lo selalu optimist ya raja jalanan. Gue bangga punya saudara tiri kayak lo! Tapi sayangnya itu pasti bisa terjadi!" tandas Dimas berdiri menggebrak meja sekali, keras seperti peringatan untuk Ali agar dia mau mundur.


"Lo pasti tahu gue siapa? Dan lo bilang, ini nggak mungkin terjadi?" Dimas tertawa pendek berdiri di belakang kursinya sendiri, kali ini matanya lurus ke depan menembus jendela bening, dari tempatnya berdiri dia bisa melihat bunga tulipnya mekar begitu indah.


"Itu pasti terjadi! Tapi gue punya penawaran bagus supaya mereka nggak jadi menjual sahamnya dan lo nggak perlu ditendang keluar sama bokap lo sendiri!" tanpa menunggu jawaban dari Ali, Dimas melanjutkan penjelasannya atau lebih tepat ancamannya. "Serahin Taman Bunga di puncak buat gue, dan semuanya, tentang penjualan saham bakal gue batalkan!"


"Apa lo bilang?" suara Ali terdengar sinis, geram sudah dia, rasanya tangan Ali itu sudah nggak bisa lagi menahan untuk memberi satu pukulan keras ke muka Dimas. Dimas mengangguk menyunggingkan senyum, puas akhirnya punya cara untuk menyingkirkan Ali berkat bantuan seseorang itu.


"Perlu gue ulang?" tanya Dimas balik menyunggingkan senyum, sekali melirik Wahyu.


"Lakuin apa yang mau lo lakuin, tapi itu nggak akan terjadi, perusahaan, taman bunga nggak akan bisa lo miliki! Inget itu!" tandas Ali.

__ADS_1


***


"Tahu gitu dari tadi gue bilang sama Bang Al, kan beres." Seru Aisyah mengayunkan kakinya pasti menuju game zone di mall ini. Yasmin hanya mengangguk mengiyakan, duhhh pengen banget deh rasanya dia jadi adik Ali. Enak kali ya punya Kakak cowok preman yang punya teman-teman yang berkuasa, seakan jadi orang penting.


"Eh, Eh itu Ira kan?" Aisyah menghentikan langkahnya, matanya menyipit memastikan kalau yang dia lihat nggak salah, tapi ngapain dia disini? Mau main game juga?


"Iya, kita kesana yuk, keliatannya dia lagi ngumpulin orang tuh!" timpal Yasmin melihat Ira berdiri pinggir pintu game zone, dan satu persatu cewek-cewek mendatanginya. Ada apa?


Tanpa banyak kata, mereka pun dengan mengendap menghampiri Ira, sembunyi di balik mesin pengambilan boneka, mereka sedikit jongkok mulai pasang mata juga telinga.


"Mana nih Eza nya, kok nggak datang, katanya sekarang?" omel salah satu cewek yang ada di depannya. Eza?


"Sabar sabar, dia pasti datang kok, sesuai janji!" ucap Ira nampak ragu, sesekali menoleh ke arah luar arena game zone, sepertinya dia lagi nungguin Eza. Aisyah dan Yasmin saling berpandangan mengangkat kedua bahu mereka.


"Ai, Ai ..." panggil Yasmin berbisik.


"Apa?" jawab Aisyah masih terus mengawasi Ira, semakin banyak saja cewek yang medatangi Ira. Dan ternyata baru Aisyah tahu, kalau di belakang Ira itu sudah ada banyak kursi, seperti akan ada acara MnG (Meet and Greet) gitu, mungkin. Apa Ira ini managernya Eza? Tanpa Aisyah sadari dia bersikeras tentang itu.


"Gue kebelet, gue ke toilet bentar ya." Ucap Yasmin lagi berbisik.


"Iya buruan sana gih!" sahut Aisyah sekenanya, dia lagi asyik-asyiknya mengawasi Ira. Pengen memastikan kalau Ira memang managernya Eza, tapi kalau bener managernya, kok mau sih si Eza itu sama cewek agresif? Aisyah menggelengkan kepalanya pelan, bergidik.


"Apaan sih Yas, iya udah sana pergi, gue tunggu disini!" sahut Aisyah sewot masih saja berkonsentrasi mengawasi Ira. Ira sepertinya semakin panik, kelimpungan karena yang ditungu-tunggu nggak muncul juga.


"Lagi ngapain Ai?"


"Ya ampun Yasminnn, lo itu ya kalau mau ke toilet ya ke toilet aja, gue mau awasin Ira, gue penasaran Apa hubungannya dia sama Ez ..." putus Aisyah tiba-tiba saat menoleh ke belakangnya, syok. Malang banget nasibnya, setiap kali dia kaget selalu saja hampir jatuh, untung saja tangan orang yang ada di belakangnya itu langsung meraihya, menariknya berdiri. Senyumnya, haistttt ... Aisyah nggak berkedip samasekali. "Mas ... Ez ... Za?" Yah, dia Eza, yang berdiri di belakang Aisyah bukannya Yasmin tapi Eza. Gimana bisa?


Masih memegang tangan Aisyah Eza menengok ke arah Ira yang semakin panik karena semakin banyak suara protes terdengar.


"Lo ikut gue yuk sekarang, sebelum ketahuan Ira!" tanpa bisa menjawab karena masih syok, Aisyah nggak berkutik saat tangan Eza menariknya menjauh dari arena game zone.


***


Begitu Eza meletakkan coffe chocolate di depannya, langsung Aisyah sahut dan menyedotnya cepat seakan dia belum minum selama dua hari. Eza hanya diam, tersenyum mengawasi Aisyah, lucu manis, ngegemesin, dasar cewek badung.


"Mas Eza ..." panggil Aisyah setelah selesai meminumnya, hanya tersisa seperempat.

__ADS_1


"Ai haus?" tanya Eza kalem, seperti menanyai anak kecil.


"Ngapain Mas Eza narik Ai kemari?" Aisyah mengabaikan pertanyaan Eza, muka cemberut langsung terlihat jelas, dan Eza harus mati-matian menahan tawanya.


"Tadi lo ngapain ngawasin Ira kayak gitu?"


"Owhh iya Ira, Ira lagi ngapain sih Mas? Dia nungguin Mas Eza kan?" seakan lupa kekesalannya sama Eza yang menarik dia seenaknya, Aisyah langsung kembali teringat tentang Ira dan cewek-cewek yang mengerubunginya.


Eza mengangguk berkali-kali, berdehem sadar banget dengan kepolosan cewek yang ada di depannya saat ini.


"Beberapa hari yang lalu gue minta bantuan Ira ..." ucap Eza menjelaskan, Aisyah pun memasang telinganya berkonsentrasi dengan Eza.


"Terus?"


"Yah, sebagai balasannya dia minta gue buat ngadain acara MnG, dia pengen gue ajak dia main film!"


"Hah????" mulut Aisyah refleks menganga kaget lagi, tangan Eza pun juga refleks mengatupkan mulut Aisyah.


"Terus Mas Eza nggak mau datang?"


Eza hanya mengangguk mengiyakan.


"Kirain Ira itu ..."


"Manager gue?"


Gantian Aisyah mengangguk kembali menyedot minumannya kemudian dia teringat Yasmin. Ah iya Yasmin, duhhh kenapa bisa kelupaan gini? Aisyah bangkit hendak pergi, tapi tiba-tiba berhenti, dia melihat sekitarnya, dimana ini? Kenapa dia bisa nggak tahu? Jadi selama ditarik Eza tadi dia nggak sadar? Haisttt, bodohnya! Aisyah menepuk keningnya sendiri, melihat ke belakang, ah iya baru tahu kalau Eza menariknya ke rooftop mall ini.


"Kenapa Ai?"


"Yasmin, Ai ninggalin Yasmin Mas, ..." Aisyah panik, mencari-cari ponselnya yang ada di dalam tas.


"Tenang aja, tadi gue udah ketemu dia, gue bilang gue mau jalan sama lo, jadi lo nggak boleh nolak!"


"Tap ... tapi Mas, Bang Al ..."


"Kalau gue ngapa-ngapain lo, Al nggak akan lepasin gue! Lo tahu itu, gue mau kasih lo sesuatu."

__ADS_1


"Sesuatu?"


__ADS_2