
Tepat pukul 11.00 malam, pelan Ali membuka pintu rumahnya, dia nggak mau sampai mengeluarkan bunyi sekecil apappun karena nggak mau adiknya terbangun. Yah walaupun mungkin Aisyah nggak akan dengar. Kalau sudah tidur pulas, Aisyah paling sulit dibangunkan. Dia langkahkan kakinya menuju ruang keluarga, berhenti dan tersenyum melihat adik satu-satunya tertidur pulas di sofa dengan selimut yang setahun lalu Ali beli, selimut bergambar wajahnya dan Aisyah. Dia hampiri Aisyah duduk di sampingnya, dia pandangi setiap lekuk muka mungil yang ada di depannya itu.
"Ai, bangun Ai ...." panggil Ali mengusap pipi Aisyah pelan, nggak lama Aisyah mengerjapkan matanya, dia tersenyum begitu melihat abangnya sudah ada di depannya. Sebentar dia tengok jam dinding yang ada di atas tv, lalu dia tarik kepalanya untuk tidur di pangkuan Ali, dia pegang erat pinggang Ali, seakan dia nggak mau melepasnya.
"Bang Al, pulangnya kok malem sih ...." protesnya pelan serak.
"Tadi gue masih ada urusan, ngapain lo tidur di sini?"
"Nungguin abang lah, Bang Al udah makan?" Ai mendongakkan kepalanya memandang Ali, Ali hanya menggeleng.
"Ya udah makan sekarang yuk, tadi udah Ai beliin sate kesukaan Bang Al." Ajak Aisyah bangun lalu menggandeng tangan Ali menuju ruang makan.
"Bang Al ...." panggil Aisyah ragu di tengah-tengah makan, matanya agak ragu memandang kakaknya itu, dari tadi sore dia duduk di ruang keluarga menunggu Ali pulang. Dia ingin sekali menanyakan tentang Eza, siapa sebenarnya Eza, kenapa Eza begitu dibenci kakaknya.
"Kenapa Ai?"
"Hmmm, Nggak papa, sate nya diabisin, Ai tadi udah makan kok." Jawab Aisyah bohong. Dia urungkan niatnya untuk menanyakan tentang Eza, mungkin lain kali.
"Ai ...." panggil Ali balik setelah selesai menghabiskan satenya, dia usap pucuk kepala Aisyah lembut. "Sekarang kita hidup cuma berdua, tapi gue nggak bisa setiap hari terus ngawasin elo, jadi selama gue nggak ada di deket lo, lo harus bisa jaga diri ya?" ujar Ali lembut, matanya berkaca-kaca, tapi langsung dia kerjapkan supaya nggak ada setetes pun air mata yang jatuh. Pantang buatnya kalau harus menangis di depan adiknya sendiri.
"Siap Bang!" jawab Aisyah tegas mantap, menyambut permintaan Ali dengan hormat seperti Ali itu komandan perang, senyum manis pun mengembang membuat lesung pipit Aisyah terlihat jelas. "Bang Al nggak usah cemas, Ai bakal jaga diri Ai, kalau ada apa-apa Ai bakal langsung lapor ke Bang Al, lagian Ai kan sekarang punya bodyguard, si kampret Wahyu, hehehe ...." jelas Aisyah terkekeh teringat si mata bening tapi menyebalkan alias si pentolan sekolah junior, Wahyu. Ali cuma tersenyum tipis mengacak-acak rambut adiknya gemas. Yah, ini jauh lebih baik saat melihat adiknya penuh semangat.
***
Olahraga. Satu kata yang paling dibenci Aisyah. Bukannya dia lebih suka di dalam kelas dengan buku-buku pelajarannya, tapi dia itu paling nggak bisa dengan yang namanya olahraga. Yang dia bisa cuma main bola,balap sepeda dan lari, selain itu dia dijamin langsung didiskualifikasi seandainya mengikuti ajang perlombaan apapun. Untungnya, hari ini sedang berpihak sama Aisyah. Cuma 15 menit Pak Mustofa guru olahraga memberi pengarahan tentang cara permainan bola basket. Setelah itu beliau meminta izin untuk meninggalkan jam pelajaran dikarenakan istrinya sedang sakit.
Begitu si guru sudah pergi Aisyah langsung lari mengeliligi lapangan voli seperti yang biasa dia lakukan di sekolah lamanya, nggak heran dia selalu bisa lari secepat kilat kalau lagi dalam masa kabur-kaburan dari abangnya sendiri misalnya. Nafasnya langsung ngos-ngosan dalam dua kali putaran, dia hempaskan tubuhnya di rerumputan dekat tiang net voli, panasnya sinar matahari yang menyengat tubuh samasekali nggak dihiraukan.
"Lo selalu gitu ya?" celetuk Yasmin menghampiri Aisyah duduk di sampingnya. Sejak disahkannya Wahyu menjadi bodyguard Aisyah, dia jadi jarang ngobrol dengan Aisyah. Aisyah jadi sulit dijangkau, yah kadang Yasmin berharap bisa jadi seperti Aisyah, dikelilingi orang-orang yang keren.
"Apanya?" tanya Aisyah balik nggak paham.
"Lari-lari." Sahut Yasmin pendek.
"Udah kebiasaan, kalau udah ada di lapangan, nggak afdol kalau nggak pakek lari-lari, itu ajarannya Bang Al, minimal kalau lo nggak bisa olahraga, seenggaknya lo punya tenaga buat lari sekenceng-kencengnya, itu udah point plus!" koar Aisyah bangga mengingat omongan Ali saat dia masih kelas 3 SD.
"Gue nggak nyangka kalau lo itu adiknya Kak Ali." Ucap Yasmin masih saja kagum, apalagi di mata Yasmin, Ali itu cowok yang sempurna, sangat sempurna. Mungkin Yasmin bakalan nangis semalaman saat nanti kelulusan Ali, saat sang pentolan sekolah senior sudah nggak ada lagi di Almas. Haisttt, Rena benci membayangkan itu semua.
"Nggak usah disangka, santai aja. Hmmm, by the way, kok si Wahyu nggak keliatan?" tanya Aisyah tiba-tiba teringat Wahyu, dia edarkan matanya ke arah lapangan basket tempat biasanya Wahyu menghabiskan jam olahraganya, tapi nggak kelihatan juga batang hidung si mata bening.
__ADS_1
"Wahyu? Tadi gue lihat dia tiduran di sana!"Yasmin menujuk pohon beringin yang ada di dekat lapangan upacara. Tempat yang tepat untuk melanjutkan tidur pagi yang tertunda, batin Aisyah yang sudah punya ide jail untuk mengerjai si mata bening itu.
***
Nggak jauh, Aisyah duduk jongkok tepat di depan Wahyu yang sedang tidur sambil duduk, menutupi mukanya dengan buku diktat matematika. Si mata bening, itulah kesan pertama saat pertamakali Aisyah bertemu Wahyu di depan gerbang pintu sekolah, saat Wahyu menyamar jadi guru.
"Wahyu, Wahyu, setiap liat muka lo, ide jail gue selalu muncul." Gumam Aisyah lirih menopangkan dagunya di tangan kanan. Setelah mengamati kondisi sekitar yang benar-benar sepi, Aisyah pun memulai aksinya. Dia dekati Wahyu dan jongkok di bawahnya, pelan dia urai tali sepatu milik Wahyu dengan sangat hati-hati. Jangan sampai Wahyu terbangun. Setelah tali sepatunya terurai, dengan sangat cekatan juga, dua tali sepatu itu dia kaitkan, senyum Aisyah merekah puas. Setelah selesai, Aisyah langkahkan kakinya mundur, berdiri di depan Wahyu.
"Woyyy, bangun woyyy ...." teriak Aisyah sengaja, tapi Wahyu nggak bangun-bangun juga. "Woyyyy cowok gila, bangun woyyyy ...." teriak Aisyah sekali lagi dan berhasil.
Wahyu memindahkan buku diktat dari mukanya, memandang Aisyah sinis, seperti matanya sudah siap untuk memangsa sang pengganggu tidurnya. Tapi Aisyah yang dipandang malah pasang muka tenang tanpa sedikit pun takut dengan singa yang baru saja dia bangunkan.
Aisyah melipat tangannya di dada menegakkan kepalanya tinggi, seakan dia juga siap untuk melawan. "Lo itu mau jadi apa hah, generasi jaman sekarang, hobinya cuma tidur aja!" koar Aisyah sengaja membuat Wahyu memerah mukanya.
"Lo bilang apa tadi?" tanya Wahyu dingin siap-siap berdiri.
"Mau jadi apa lo kalau kerjaannya cuma tidur, pentolan sekolah nggak bermutu lo itu, Wahyu." Jelas Aisyah menyunggingkan senyum puas.
"Lo itu ya, pagi-pagi udah cari gara-gara, lo itu harus dikasih pel ..."
BRUKKK
Waktu pun enggan untuk berlalu
Ku berjanji tuk menutup pintu hatiku
Entah untuk siapapun itu
Semakin kulihat masa lalu
Semakin hatiku tak menentu
Tetapi satu sinar terangi jiwaku
Saat ku melihat senyummu
Penggalan lagu Adera, "Lebih Indah"
Wahyu menimpa Aisyah saat dia ingin mengejarnya. Tali sepatu yang dikaitkan Aisyah berhasil membuat Wahyu terjatuh. Tawa Aisyah pun langsung meledak. Saking merasa lucunya, Aisyah nggak sadar kalau Wahyu sedang diam mengawasinya begitu dekat. Mata Wahyu menatap Aisyah begitu lekat, dan tiba-tiba detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, abnormal. Dia belum pernah melihat mata gadis sedekat ini, sangat dekat, bahkan jarak hidung mereka pun hanya dibatasi kalung Wahyu yang menguntai di atas hidung Aisyah. Untuk beberapa detik, Wahyu seperti terhinoptis, tawa Aisyah yang renyah, lesung pipit si muka mungil.
__ADS_1
"Makanya jangan molor mulu kerjaannya!" olok Aisyah mendorong Wahyu ke samping menyingkir darinya. Sumpahhh saat ini Aisyah benar-benar nggak sadar kalau Wahyu sudah keringat dingin dibuatnya. Wahyu hanya diam, melihat Aisyah yang masih saja tertawa beranjak berdiri mengawasinya yang masih duduk di bawah.
"Lo seneng hah?" tanya Wahyu masih duduk memandang Aisyah yang belum juga berhenti tertawa.
"Banget, banget senengnya ... lo tu lucu banget, hehehe ...."
"Kalau gitu giliran gue ...." jawab Wahyu berdiri, segera dia hapuskan pikirannya yang nggak jelas barusan, dia singkirkan perasaan aneh yang tadi tiba-tiba datang. Yang boleh ada di pikirannya sekarang adalah bikin kapok adik dari seniornya itu.
"Mau ngapain lo hah?" tanya Aisyah mulai waspada, agaknya Wahyu sudah mulai tersadar.
"Gue mau ngapain?" tanya Wahyu balik tersenyum jahil memasukkan kedua tangan di saku celana olahraganya, sok pasang muka sangar, menakut-nakuti Aisyah yang mulai waspada. Wahyu celingukan melihat sekitar, mengedarkan matanya lalu tersenyum tipis. "Waktunya pas nih, mumpung sepi nggak ada orang." Lanjut Wahyu masih mengumbar senyum memandang Aisyah yang semakin waspada saja. Pelan Aisyah melangkah mundur, siap-siap berlari kalau sampai Wahyu melakukan sesuatu, sesuatu yang entah apa tapi pasti bisa sangat merugikannya.
"Gue ...." ucap Wahyu mendekat selangkah, "Mau ...." semakin dekat Wahyu, "Sesuatu dari lo, ...." kali ini Wahyu sudah tepat berada di depan Aisyah, hanya terpisah beberapa jengkal, Aisyah hanya diam berdiri, kalau sampai sejengkal aja Wahyu berani macam-macam, yahh Aisyah bakal segera mengeluarkan jurus andalannya, lari!
"Ap ... pa yang lo mau dari gue? Kalau lo ma cem ma cem, lo bak kal berurusan sama Bang Al!" ancam Aisyah terbata-bata malah ngebuat Wahyu menahan tawa.
"Gue cuma mau sedikit aja dari lo, Ai ...." ucap Wahyu nggak takut samasekali dengan ancaman cewek mungil di depannya ini. Tapi baru Wahyu akan melangkahkan kakinya untuk lebih dekat, tiba-tiba Aisyah mendorongnya keras dan ya, lari. Aisyah langsung mengeluarkan jurus andalannya lari sekenceng-kencengnya yang lagi-lagi membuat Wahyu nggak bisa menahan tawa. Wahyu terpingkal-pingkal melihat Aisyah lari begitu cepat meninggalkannya. "Dasar cewek ...." gumamnya di sela tawa.
***
BRUKKK
Lagi dan lagi. Sesaat mereka saling diam, ini kebetulan yang kayak gimana sih? Dalam hati Aisyah terus mengumpat merutuki dirinya sendiri. Setiap kabur dari Wahyu, kenapa kakinya terus ngajak dia ketemu sama ini makhluk. Aisyah menghela nafas, melempar senyum kakunya, seandainya ceritanya nggak seperti ini, pasti dia sudah loncat-loncat kegirangan karena dua kali nggak sengaja ketemu aktor favoritnya-Eza.
"Sorry Mas ...." ucap Aisyah lirih, karena nggak sengaja saat dia lari menabrak Eza di persimpangan koridor.
"Jadi ini gimana?" tanya Eza tenang mengangkat tangannya. Gelang yang Eza pakai nyangkut di jam tangan Aisyah.
"Haisttt, ngapain pakek nyangkut segala sih." Gumam Aisyah kesal berusaha melepas jam tangannya dari gelang Eza, tapi tetap nggak bisa. Rasanya seperti jam tangan Aisyah itu emang udah lengket nggak mau dipisah.
"Pelan aja, nggak usah buru-buru, sinih." Sela Eza menarik tangannya sendiri mendekat dan otomatis Aisyah pun sedikit ikut tertarik. Sebentar seperti ada yang aneh sedang terjadi, Aisyah ngerasa seperti disetrum saat tangan Eza menariknya. Aisyah yang menyadari itu, cuma menunduk, nggak berani memadang Eza yang ada di depannya, karena dia sadar kalau saat ini jantungnya jadi abnormal, berdetak nggak karuan. Lagi-lagi dalam hati Aisyah mengumpat, berusaha menyadarkan dirinya sendiri kalau itu nggak boleh terjadi.
"Kalau lo buru-buru gimana mau bisa lepas gelang gue ... nah udah kan, beres." Ucap Eza lagi melempar senyum, menaikkan sebelah alisnya memandang wajah mungil yang ada di depannya, ini hari keberuntungannya, sangat beruntung.
"Maaf mas, maaf." ucap Aisyah buru-buru pergi, tapi langkahnya langsung terhenti, saat Eza memanggilnya.
"Ai ...," suara Eza berhasil menghentikan Aisyah, yah menghentikan detak jantung Aisyah sesaat, kakinya seperti kaku nggak bisa bergerak. Mimpi apa coba sang aktor idola manggil namanya. Aisyah menggeram kesal, kesal karena abangnya harus bermusuhan dengan Eza. Dan kenapa juga Eza itu harus jadi jahat, ngebuli murid lain? Langsung Aisyah tersadar, kalau nggak seharusnya dia menyukai Eza si aktor jahat. "Nggak, nggak, gue harus sadar, Eza itu bukan orang baik!" batin Aisyah komat kamit, memantrai dirinya sendiri, seperti Eza itu udah menyihir pikirannya.
"Kenapa lagi?" tanya Aisyah sewot, wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat jadi ketus. Dia harus nurutin omongan Wahyu untuk nggak deket-deket Eza, apalagi ngobrol? Itu terlarang! Aisyah tegaskan sendiri dalam hatinya berulang kali, supaya nggak terpengaruh lagi dengan pesona aktor itu.
__ADS_1
"Salam kenal ya, gue Eza ...