Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Permainan


__ADS_3

____


Sudah lama rasanya Aisyah nggak berkeliaran di taman ini. Dari balik rerimbunan pohon di tengah-tengah taman, Aisyah bisa melihat semburat senja yang seakan merubah dedaunan menjadi warna jingga. Aisyah memainkan kedua tangannya membentuk persegi, menilik senja sore ini dari balik tangannya itu. Hari ini sepertinya akan ada yang terjadi, tapi entah apa itu, Aisyah samasekali nggak tahu. Dari tadi siang ponsel sengaja dimatikan. Dia hanya ingin sendiri, dan menata hatinya. Hatinya? Ahhh, bahkan Aisyah nggak paham betul apa yang sebenarnya dia rasa.


Pelan Aisyah menyusuri jalan setapak yang sengaja dibuat untuk satu orang menuju pintu keluar taman belakang. Kalau dari sini lebih dekat menuju rumahnya. Dulu dia ingat betul, saat orang tuanya masih bersama, setiap sore Aisyah selalu menghabiskan waktunya bersama Ali, jalan-jalan atau hanya sekedar makan sosis jumbo sambil menunggui matahari terbenam.


Sekarang Aisyah sudah terbiasa hidup tanpa kedua orang tuanya, bahkan terkadang saking terlalu nyaman dengan hidupnya sekarang, dia lupa kalau pernah punya orang tua. Boleh dikatakan Aisyah sedikit membenci orang tuanya. Setiap hari setiap saat hanya abangnya yang dia lihat di rumah dan setiap hari juga hanya abangnya yang selalu mengkhawatirkannya. Sampai Ali selalu terkekeh-kekeh setiap Aisyah berlari memeluknya dan bilang,"My Bad Boy, love you so much", tanpa sadar Aisyah tersenyum sendiri mengingatnya.


Tapi saat ini sepertinya nggak hanya Ali yang menjadi bad boy di hidupnya. Aisyah tercenung sesaat teringat nama itu, atau hampir setiap hari nama itu nggak pernah pergi dari pikirannya? "Kenapa orang yang berarti di hidup gue itu selalu bad boy sih?" gumam Aisyah sedikit kesal belok ke pertigaan menuju rumahnya, sepi mungkin karena hari sudah hampir gelap.


Aisyah terus berjalan menunduk, menendangi kerikil-kerikil yang ada di depannya seperti biasa, entah kenapa kakinya seperti gatal kalau nggak menendang kerikil yang ada di depannya itu.


"Nunduk aja lo ..." celetuk seseorang, suara yang nggak asing di telinga Aisyah. Aisyah yang sedari tadi hanya menunduk pun, langsung mendongakkan kepalanya. Dilihatnya cowok yang sedang bersender di depan pagar rumahnya melempar senyum yang sudah lama nggak dia lihat. Aisyah setengah berlari menghampirinya, memegangi kedua pipinya, menyentuh kening, bahkan tangannya panik. Sedang yang disentuh tiba-tiba diam terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Aisyah. Sesaat ada yang bergetar di dalamnya, detak jantungnya yang dulu sempat nggak normal, kenapa sekarang kembali nggak normal. Apa dia harus jatuh cinta lagi di saat-saat seperti ini?


"Wahyu ... lo udah sadar?" tanya Aisyah sangat khawatir memegang erat kedua pipi Wahyu yang memerah karena mungkin salah tingkah? Ahhh hanya Wahyu si jahat yang tahu.


"Ud ... dah ..." balas Wahyu gugup bingung harus jawab bagaimana.


"Kenapa lo nggak bilang kalau udah siuman, gue kan bisa kesana nyusul, lo kesini sendiri hah?"


"Iya, naik taksi ..."


"Lo nyari Bang Al?" tanya Aisyah lagi kali ini langsung menyadarkan Wahyu dari niatnya semula. Dia tersadar tujuannya kesini untuk apa, yang jelas bukan berharap mendapat cinta dari Aisyah, nggak akan pernah terjadi hal semacam itu. Jangan sampai pernah.

__ADS_1


"Ehhh, nggak, gue nyari lo, udah lama nggak liat lo nerocos kayak gini." Ucap Wahyu tersenyum jahil membuat Aisyah manyun kesal.


"Ya ya ya, gue juga udah lama nggak bertengkar sama lo, kangen tahu!" sahut Aisyah jujur mencubit hidung Wahyu gemes, hidung Wahyu seketika merah dibuatnya. Sungguh, Aisyah samasekali nggak menyadari kalau dia dalam bahaya.


"Ai ..." panggil seseorang membuat Aisyah dan Wahyu menoleh bersamaan. Nggak tahu sejak kapan dia sudah berdiri di sana di belakang sebuah mobil sporty warna merah.


"Mas Eza ..." cuma satu kata itu yang muncul, saat ini ada Eza di depannya, Eza yang masih dia usahakan untuk pergi dari pikirannya. Terlihat Wahyu sedikit menegang saat melihat Eza, sepertinya Wahyu sudah sadar apa tujuan Eza menemui Aisyah.


"Ai, lo ikut gue sekarang." Pinta Eza dingin tanpa memandang Aisyah, matanya lurus tajam memandang Wahyu, seakan dengan tatapan itu dia bisa membunuhnya, Eza harap bisa segampang itu.


"Ngapain mas?" tanya Aisyah masih bingung nggak mengerti suasana yang terjadi saat ini.


"Lo ikut gue sekarang, lo nggak boleh sama Wahyu mulai sekarang!" jelas Eza masih dingin menghampiri Aisyah menggenggam tangannya erat, dan sontak langsung dapat penolakan keras dari Aisyah yang nggak tahu apa-apa. Aisyah hempas tangan Eza sedikit kasar. Terlihat Eza seperti menahan emosinya, dia mengerti mungkin kali ini Aisyah lebih mempercayai Wahyu, kalau saja Aisyah tahu apa yang terjadi, bahkan saat ini Eza nggak tahu dimana Ali dan apa yang terjadi dengan Ali. Dari perjalanan menuju kesini, Ali nggak bisa dihubungi, ponselnya dimatikan. Eza menghela napas panjang, memejamkan matanya sebentar, mengatur emosinya agar tidak meledak, "Ai, dengerin gue, gue nggak bisa jelasin sekarang, tapi lo harus ikut gue, lo nggak aman sama Wahyu!" bujuk Eza sekali lagi membuat Aisyah malah mundur mendekat ke Wahyu.


"Ai, please kali ini lo turutin gue ya, lo ikut gue, lo harus ikut gue!" tandas Eza dengan nada mulai meninggi.


"Nggak!" tolak Aisyah kukuh, menggeleng kepala keras, kali ini memegang erat ujung bawah kaos milik Wahyu seperti meminta perlindungan.


"Lo nggak denger apa yang dibilang Ai, hah?" sela Wahyu akhirnya pura-pura membela Aisyah membuat mata Eza kembali teralih padanya lagi dengan emosi jauh lebih besar.


"Lebih baik lo diem! Gue nggak lagi ngomong sama lo!" geram Eza menegang, megatupkan rahangnya keras.


"Ai nggak mau ikut lo! Lo nggak bisa liat hah?!" bentak Wahyu nggak kalah keras, Eza yang mendengar itu malah menyunggingkan senyum kesal. Tanpa diduga, dengan gesit Eza tarik kerah kaos Wahyu dan menonjok mukanya keras pada rahang kanan Wahyu, dan tersungkur membuat Aisyah kaget mundur menjauh dari mereka berdua.

__ADS_1


"Mas Eza! Mas Eza apaan sih, Mas Eza sadar apa yang Mas Eza lakuin?" bentak Aisyah ketakutan membantu Wahyu berdiri.


Kesalahan! Ini kesalahan, sepertinya akan sulit membawa Aisyah menjauh dari Wahyu. Sedang Wahyu hanya diam, menyaksikan permainan yang nggak dibuatnya ini. Kesalahan terbesar karena cewek yang sedang Ali dan Eza lindungi malah lebih memilih berada di sampingnya. Dalam hati Wahyu tersenyum puas dan Eza semakin geram dibuatnya.


"Apa sih yang Mas Eza pikirin, Ai bilang, Ai nggak mau ikut Mas Eza! Ngapain Mas Eza pukul Wahyu, Mas Eza sadar nggak sih, udah bikin Wahyu celaka dan sekarang Mas Eza malah pukul Wahyu? Mas Eza jahat banget!" keluh Aisyah menggebu penuh emosi.


"Ai, lo salah paham, gue ..."


"Udah cukup Mas ..." potong Aisyah, melepas gelang yang pernah Eza kasih dan meletakkan di telapak tangan Eza, mungkin ini waktunya Aisyah mengakhiri ini semua, dan semuanya salah! Salah besar! "Ai balikin ini, mulai sekarang Ai nggak mau ketemu Mas Eza lagi, dan tolong jangan sakitin Wahyu lagi, udah cukup!" tambah Aisyah berhasil merontokkan sudah hati Eza, seperti ada bom yang meledak tepat di depannya saat ini, kaki Eza tiba-tiba terasa lemas mendengarnya, hampir saja dia terjatuh kalau nggak pegangan pagar rumah Aisyah. Tanpa bisa apa-apa lagi, Eza hanya melihat kepergian Aisyah dengan Wahyu yang masuk ke dalam taksi. Pergi? Apa untuk selamanya? Apa dia akan gagal menjaga Aisyah? Apa dia akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya?


"Tuan muda, tidak apa-apa?" seru pengawalnya yang sedari tadi hanya mengawasi Eza dari mobil, langsung keluar begitu Aisyah dan Wahyu pergi.


"Dimana Ryan?" tanya Eza mengerjapkan matanya, mencoba kembali sadarkan diri, nggak seharusnya dia selemah ini.


"Tuan Ryan saat ini sedang di markas Tuan Muda, disana sudah ada Dimas, Pak Kuncoro, juga Lintang!" terang si Pengawal setelah mendapat telepon dari Ryan beberapa saat lalu.


"Lalu hasil rapat pemegang saham?"


"Sudah selesai Tuan Muda, semua sudah beres untuk urusan saham, tapi kami belum bisa menemukan dimana Ali sekarang!"


"Kita ke markas sekarang, gue yakin salah satu diantara mereka ada yang tahu dimana Ali, dan juga cari terus kemana Wahyu membawa Aisyah, gue nggak peduli gimana caranya, kalian harus bisa menemukan Aisyah juga Ali!"


***

__ADS_1


__ADS_2