
"Muka lo kenapa?" Ali mengerutkan kening melihat pipi Rangga sudah lebam. Tapi nggak ada yang ngejawab, baik Denis, Fahmi, Andre juga Wahyu. Mereka sama-sama mengangkat bahu tanda nggak tahu. Karena memang sedari tadi mereka duduk di bawah pohon beringin lagi nungguin Rangga ngomong sesuatu.
Karena ngerasa ada yang aneh, Ali menggeser Wahyu yang duduk di samping Ryan. Dia topangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, lalu meregangkan otot lehernya sebentar. Sepertinya memang sudah ada lagi yang cari masalah dengannya. Ali menarik napas dalam, dia menoleh ke arah Wahyu, "Aisyah di mana?" tanyanya.
"Di kelas bang, lagi ngerjain PR," terang Wahyu mengingat Aisyah yang baru saja datang langsung ngeluyur ke meja Yasmin untuk meminjam buku PR Fisika. Yahh, Aisyah memang selalu lemah dengan yang namanya Fisika.
"Siapa?" tanya Ali pendek kali ini memandang Rangga yang masih saja menunduk.
"Pasti Eza," sahut Dion akhirnya angkat bicara, sejak Eza tahu kalau Aisyah itu adiknya Ali, semua teman-teman Ali terus-terusan mewaspadai Eza, si musuh dalam satu tempat.
"Bukan," timpal Rangga akhirnya buka mulut. Seketika semua pasang mata tertuju padanya, Wahyu menghela napas lega karena akhirnya setelah setengah jam lebih mereka menunggui Rangga, yah akhirnya dia buka mulut juga.
"SMA Unggul, tadi di perempatan jalan," jelas Rangga singkat padat, malah menimbulkan tanda tanya di benak teman-temannya kecuali Ali. Ali menghentakkan kakinya kesal, yah dia tahu kenapa. Bersyukur banget Ali, karena tadi Wahyu menjemput Aisyah mengantarnya berangkat ke sekolah. Seenggaknya mereka nggak tahu kalau Ali punya adik perempuan, untuk sementara ini.
"Jadi, mereka lagi?" gumam Ali menggertakkan rahangnya, tanda kalau dia sedang berpikir memprediksi apa lagi yang akan dilakukan mereka selanjutnya.
"Kenapa sama mereka? Ngapain mereka cari gara- gara?" sela Fahmi semakin penasaran, emosinya semakin memuncak saja. Anak-anak Unggul memang sudah lama selalu cari keributan dengan anak-anak Almas, apalagi setelah tahu tiga anak orang ternama di kota ini, berada dalam satu sekolahan yang sama, Ali, Wahyu dan juga Eza.
"Mereka akan selalu cari gara-gara selama gue, Wahyu dan juga Eza ada di Almas," sahut Ali beranjak berdiri, melempar senyum tanda kalau perang dimulai lagi. Sedikit Ali ngerasa bersalah, nggak seharusnya dia melibatkan teman-temannya di Almas, karena sebenarnya masalah yang dibuat anak Unggul itu berhubungan dengan urusan pribadinya sendiri.
"Jadi kita cuma diem aja? Apa perlu gue selidiki?" timpal Wahyu menghentikan langkah Ali.
"Nggak perlu, kita tunggu aja. Lo jaga Aisyah, jangan sampai dia pulang sendiri. Dan Denis, lo anter gih si Rangga ke UKS, lo kan soulmate-nya," olok Ali langsung dapat sambutan gelak tawa, cuma Denis dan Rangga yang manyun karena nggak terima. Apalagi setelah Denis menjomblo hampir dua tahun, Ali terus-terusan menjuluki mereka berdua sebagai pasangan teromantis di SMA Almas.
"Ah, Bang, resek lo!" keluh Rangga mengelus pipinya yang lebam.
***
Waspada. Itulah kata yang tepat dipakai Aisyah. Selama di sampingnya ada Wahyu, mau ke toilet aja harus laporan. Buat hari ini Aisyah pengen banget bebas dari si Mata Bening. Pelan dia buka pintu toilet, bak pencuri yang akan keluar dari rumah jarahannya, Aisyah mengendap-endap menjaga matanya untuk terus mengawasi sekeliling, supaya nggak berhasil menemukannya. Idenya yang tiba-tiba muncul, 10 menit sebelum bel pulang bunyi, dia meminta izin untuk ke toilet. Dan sekarang sudah 15 menit setelah bel pulang dibunyikan. Menurut prediksi Aisyah sih, mestinya Wahyu udah capek nungguin dia dan memutuskan buat pulang.
"Seharusnya tuh Mata Bening udah pulang," gumam Aisyah mengintip kelasnya sendiri dari balik dinding Kelas 11 Ipa 2. Masih terus mengawasi satu persatu murid di kelasnya, dan senyum Aisyah pun melebar karena sudah nggak ada lagi yang keluar dari kelasnya, pasti nih si Wahyu udah keluar dari tadi dengan tampang kesal karena dia nggak balik-balik. "Aman deh kalau gini," ucap Aisyah puas tapi langsung mengkerut saat tiba-tiba seseorang mencolek pundaknya.
"Siang, Ai ..." sapa seseorang itu yang suaranya Aisyah sangat hafal. Dalam hati Aisyah merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia langsung kabur keluar sekolah, bukannya malah masih di sini. Aisyah memutar tubuhnya pelan sambil nyengir memamerkan barisan giginya yang untung saja putih bersih. Tambah manis, batin Wahyu sesaat lagi-lagi terpesona.
"Siang juga, Wahyu. Lo ngapain di sini? Nggak pulang?" tanya Aisyah pura-pura polos, seperti nggak ada hal yang harus dipermasalahkan.
__ADS_1
"Nungguin elo lah, Ai. Ngapain lagi?" tanya Wahyu balik menyunggingkan senyum sembari mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Nungguin gue? Owh, gitu, mau ngapain?" tanya Aisyah lagi-lagi sok nggak tahu, "Nggak usah repot-repot nunggu kalau kelamaan, kan lo bisa pulang duluan," tambahnya meyakinkan Wahyu tapi sepertinya sia-sia belaka.
Tapi Wahyu bergeming, dia hanya melempar senyum dan tanpa meminta izin, dia tarik tangan kanan Aisyah, memakaikan gelang pasangan yang dia pesan secara khusus. Alhasil, Aisyah pun langsung panik dibuatnya.
"Eh ngapain? Wahyu lo mau ngapain sih?" rengek Aisyah panik karena Wahyu memasangkan gelang pasangan, seperti borgol. Satu bagian lagi dipakai Wahyu pada tangan kirinya.
"Udah beres," ucap Wahyu mengabaikan pertanyaan Aisyah. Tanpa banyak omong, Wahyu langsung melangkahkan kakinya menuju luar sekolah, secara otomatis pun Aisyah ikut terseret. Kena dehh, Wahyu nyengir lebar, merasa puas bisa ngerjain adik seniornya ini.
"Wahyuuuu, apaan lagi sih nih?"
***
Lima belas menit Wahyu juga Aisyah berdiri di depan sekolah menunggu bus lewat. Keringat sudah menetes dari kening mereka berdua. Wahyu yang melihat Aisyah kepanasan langsung menariknya untuk berdiri di belakang punggungnya.
"Kenapa nggak naik motor aja sih? Lo kan bawa motor tadi?" tanya Aisyah menyipitkan matanya, menghindari terik matahari. Tapi baru saja Wahyu mau menjawab, segerombolan siswa dari SMA lain berhenti di depan mereka. Mengeraskan gas motor mereka, membuat murid-murid Almas yang masih ada di depan sekolah sedikit panik. Yah karena mereka tahu, kalau yang datang ini adalah musuh dari pentolan SMA Almas, anak-anak dari SMA Unggul.
"Sial, ngapain sih mereka ke sini!" keluh Wahyu sudah siaga, merapatkan Aisyah di belakangnya.
"Ada apa?" tanya Wahyu balik dingin. Elang malah tersenyum melirik Aisyah yang masih berdiri di belakang Wahyu. Dan PLAKKK satu tamparan keras mendarat di pipi Wahyu, akibatnya Aisyah pun terhuyung jatuh karena tertimpa Wahyu.
"Lo tanya ada apa? Bos lo pengecut? Panggil dia sekarang!" bentak Elang tajam.
"Ngapain lo cari Ali?" tanya Wahyu sekali lagi, tapi kali ini menyebut nama Ali yang berhasil menyentakkan Aisyah. Pelan Wahyu dan Aisyah mencoba berdiri.
"Ngapain? Lebih baik lo tanya sendiri aja sama dia atau kalau nggak-"
"Kalau nggak apa?" timpal seseorang datang dengan tenangnya berdiri di samping Wahyu, dia Eza.
Tanpa banyak bicara satu pukulan keras melayang di sudut pipi Elang dari Eza. "Bilang sama Dimas, jangan bawa-bawa urusan pribadi ke sekolah," ucap Eza dingin menarik kerah baju Elang.
"Lo nggak usah ikut campur!" sahut Elang agak sedikit takut. Yah Eza sebanding dengan Ali, siapa yang nggak kenal Eza, walaupun dia punya pamor sebagai anak brandal, tapi tetap Eza adalah aktor yang dielu-elukan oleh fans fanatiknya. Aktor muda berbakat, cerdas, dan selalu memukul mundur para brandal yang seenak jidat berkeliaran di kota ini.
"Lo nyuruh gue nggak ikut campur?" tanya Eza menyunggingkan senyum menghempaskan Elang keras. "Sekarang lo berada di wilayah gue. Lo lagi dia area Almas, punya nyawa berapa lo hah?" tanya Eza, Elang diam seketika. Karena kebodohannya ini, bisa pastikan Dimas bakal ngamuk besar, nekat tanpa rencana menghampiri ke Almas. "Lo mau ngajak Ali balapan kan? Nih ...!" Eza melemparkan selembar kertas yang berisikan alamat sebuah tempat.
__ADS_1
"Itu arena balapan, kalau lo mau ngajak balapan, jangan pernah ngajak kita balapan liar di jalanan, main sportif bisa kan? Kalau lo kalah, 1, 2, 3, 4 ...." Eza menunjuk empat motor anak SMA Unggul, "Itu motor semua jadi milik kita, tapi kalau kita yang kalah ...," kali ini matanya beredar ke jip merah yang terparkir di depan halte dekat sekolah, "Jip di sana, bisa jadi milik lo!" tandas Eza yakin, lalu kembali menyunggingkan senyum. Sebentar dia menoleh ke arah Aisyah yang teryata sedari tadi juga nggak berkedip sedikit pun melihat aksi Eza. Tapi langsung gelagapan menunduk, saat matanya tertangkap Eza.
"Oke, gue terima tantangan lo!" sahut Elang ketus langsung menyalakan mesin motornya meninggalkan SMA Almas.
"Lo baik-baik aja, Ai?" tanya Eza begitu Elang pergi, Aisyah hanya mengangguk tanpa sadar sudah memegang erat ujung seragam Wahyu.
"Denis ...!" panggil Wahyu saat Denis sudah sampai dengan membawa motor miliknya.
"Lo bawa motor gue ke rumah Aisyah, gue anter dia naik bis," terang Wahyu dingin tanpa sedikit pun menanggapi aksi heroik ala Eza. Yah, walaupun Wahyu membenci Eza, dia akui kalau Eza memang punya pengaruh lebih besar dibanding dia, Eza sebanding dengan seniornya, Ali.
"Siap, Bos," sahut Denis mantap, segera Wahyu menarik Aisyah menuju bis yang kebetulan baru saja lewat. Eza melepas kepergian Aisyah dengan senyum penuh kepuasan, satu langkah lagi untuk lebih dekat.
***
Hanya tersisa satu kursi di dalam bus. Wahyu langsung mendudukan paksa Aisyah di kursi kedua dari belakang paling pinggir. Sedang dia sendiri berdiri, di samping Aisyah. Raut muka Wahyu kentara sekali tegangnya, bahkan Aisyah yang biasanya suka meledek atau teriak- teriak padanya pun lebih memilih diam. Aisyah merasa kalau pertengkaran tadi memang sudah sangat gawat karena melibatkan mereka bertiga Ali abangnya sendiri, Wahyu si Mata Bening, dan Eza si aktor itu.
"Wahyu," panggil Aisyah lirih, gatal juga mulutnya saking penasaran, Wahyu terus saja diam.
"Hmmm," gumam Wahyu tanpa memandang Aisyah, matanya lurus menatap luar bus.
"Kenapa kita nggak naik motor?"
"Lo liat kan tadi? Kalau sampai Eza turun tangan itu tandanya beneran bahaya," jelas Wahyu datar, "Setelah Elang tahu lo ada sama gue, itu artinya juga lo dalam bahaya. Lebih bahaya lagi, kalau sampai dia tahu, lo itu adiknya Bang Ali!" lanjut Wahyu langsung membuat tangan Aisyah gemetaran. Bahaya? Separah apa memang? Aisyah nggak habis pikir.
"Terus abang gue gimana?"
"Itu urusan gue, yang penting lo selamat sampai rumah, dan jangan keluar rumah sebelum abang lo pulang. Kalau sekarang kita naik motor, gue takut Elang cs bakal ikutin kita, lo tahu maksudnya kan?" Wahyu menunduk memadang kedua mata Aisyah yang sedikit terlihat takut. Wahyu yang bisa merasakan ketakutan Aisyah pun langsung, mencairkan suasana. Dia tersenyum, mengelus pucuk kepala Aisyah.
"Tenang aja, kayak gini udah biasa, besok juga selesai!"
"Wahyu ...," panggil Aisyah ragu, ini untuk pertamakalinya dia melihat sendiri. Bukan mendengar cerita dari Ali kalau dia itu sering sekali terlibat perselisihan. Ini untuk pertama kalinya dia melihat ketengangan yang sebenarnya. Walaupun dia nggak melihat tawuran yang sering Ali ceritakan, tapi ucapan Eza, juga Elang tadi benar-benar membuat Aisyah diam tanpa kata. Bahkan saat dia terjatuh karena tertimpa Wahyu yang ditonjok Elang pun, Aisyah langsung kaku dibuatnya. Seperti ada sesuatu yang menyusutkan keberaniannya selama ini.
"Hmmm ...,"
"Lo nggak akan tinggalin Abang gue sendiri kan?"
__ADS_1
"Gue akan selalu ada buat Bang Al, tenang aja, ada atau nggak ada gue, Bang Al bisa jaga dirinya sendiri."