Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Korea


__ADS_3

Aku serius sama kamu, aku enggak mau komitmen ini cuman sekedar kata kamitmen doang.


.


____


"Kita harus berubah Za, demi kita sendiri, demi Ai, demi keluarga lo, jangan letakkan mereka dalam bahaya lagi, cukup sampai disini masalah yang selama ini kita buat."


"Tapi apa Gua bisa?"


Aisyah telah pergi saat Eza masih dirumah sakit, dia tidak mau kalo sampai Eza menghalangi dia pergi, dia hanya ingin yang terbaik untuk Eza.


***


Dua tahun kemudian


"Aigoo, dangsin-eul salanghabnida, aku cinta kamu ..." Aisyah menepuk keningnya sendiri, ini untuk kelima kalinya wisatawan domestik di pulau jeju meminta dia mengajari bahasa indonesia. Aisyah sampai harus menahan tawanya saat ada gadis berusia sekitar 19 tahun yang bertanya dan mempraktekan dengan logat koreanya.


"Eotteohge? imi olbaleun?" tanya si gadis itu tentang pengucapannya sudah benar atau belum. Tapi gadis itu nampak bingung melihat Aisyah masih terus memegangi perutnya menahan tawa.


Dan karena Aisyah nggak segera menjawab, si gadis semakin penasaran menggoncang-goncangkan lengan kanan Aisyah gemas, "Aigoo, please tell me? I'm so curious!" Rengeknya menggoncang-goncangkan lengan Aisyah gemas.


"Okay okay, wait wait, followed me." ujar Aisyah pelan, "A-ku-cin-ta-ka-mu." Eja Asiyah pelan seperti sedang mengajari bayi bicara.


"Okay, A-ku-cin-ta-ka-mu, how?"


"Yahhh, jal haess-eo." puji Aisyah puas mengacungkan kedua jempolnya.


"Gomabseubnida, thanks." Saat ini Aisyah telah tinggal di Korea, betah? Pastinya kalau itu. Gimana nggak betah kalau dia tinggal di pulau jeju, tepatnya jadi tour guide di Jeju Folk Village Museum. Berkat kecerdasannya berbahasa korea dalam waktu enam bulan, kenalan Ali yang ada di Seoul menawari Aisyah untuk menjadi tour guide di Pulau Jeju. Jeju Folk Village Museum ini merupakan desa buatan yang sengaja didirikan dengan meniru konsep pedesaan yang berada di Korea puluhan tahun lalu. Ada 117 pondok, rumah, dan fasilitas umum ala zaman kerajaan yang bisa ditemui di sini. Dari sini juga Aisyah semakin mengenal tentang negara gingseng favoritnya itu. Yah, tinggal di Korea apalagi pulau Jeju adalah mimpinya sejak dulu.


"Jadi sekarang udah betah nih tinggal di Korea?" celetuk seseorang dari belakang Aisyah saat dia tengah asyik memandangi para wisatawan yang mengambil beberapa foto di museum rumah penduduk nelayan. Wajah Aisyah semakin sumringah tahu suara siapa yang dia dengar itu. Langsung tanpa memunggu persetujuan siempunya suara, Aisyah lari menghambur memeluknya erat. Cowok terganteng yang sangat dia sayangi, Ali.


"BANG ALLLL, Ai kangen banget!" ujarnya mengeratkan pelukannya yang dibalas Ali dengan usapan lembut di kepalanya.


"Gimana? Ai betah disini? Maaf ya, Abang baru sempet jenguk Ai kesini."


"Iya nggak papa, abis syuting selesai Abang kan sibuk sama urusan di Indo."


"Bagus deh kalau gitu, ternyata lama nggak ketemu adik gue tambah jelek aja ya?" ledek Ali pura-pura serius mengamati adiknya. Dia lepas pelukannya memegang kedua pundak Aisyah, menyipitkan mata mengamati Aisyah dari atas sampai bawah, mengenakan mantel hitam tebal dengan syal yang melilit di lehernya. Yang sebenarnya, Aisyah adiknya ini semakin manis saja. Eza pasti setuju dengan itu.


"Bang Al bilang apa tadi?" desak Aisyah manyun pasang muka cemberutnya, kesal.


"Jadi tambah jelek." sahut Ali santai langsung dapat cubitan keras di lengannya.


"Aduh, sakit Ai, Bang Al kan cuma ngomong fakta, bener kan?"


"Tahu ah, bodo amat!" tolak Aisyah memalingkan mukanya, meninggalkan Ali menuju kantornya bekerja. Tapi baru beberapa langkah salah satu pegawai museum menghampirinya, terburu-buru.


"Aisyah, geogi chajgo isseubnida." Ucapnya ngos-ngosan. Aisyah cuma mengerutkan keningnya heran, siapa yang mencarinya? Apakah tamu dari Seoul dua minggu lalu?


"Nuga?"


"Nado molla," jawab pegawai itu menggelengkan kepala nggak tahu siapa yang mencari Aisyah.


"Gomabseubnida." Aisyah melempar senyumnya menundukkan kepala mengucapkan terimakasih. Sejak tinggal di Korea, Aisyah juga terbiasa menundukkan kepalanya saat mengucapkan terimakasih. Kebiasaan yang menurut Aisyah nggak buruk sama sekali.


Begitu si pegawai itu pergi Aisyah langsung menghampiri Ali yang tengah asyik menikmati pemandangan desa buatan itu. Sejenak Aisyah termenung melihat abangnya dari belakang, memakai jaket kulit dengan syal di lehernya, sepatu boots warna coklat, membuat Ali semakin tampan. Ini sudah dua tahun sejak dia meninggalkan Indonesia, dan sepertinya Ali sudah benar-benar menjadi orang baik. Lalu bagaimana kabar Eza? Aisyah menggelengkan kepalanya keras. Waktu selama 365 hari yang terjadi 2x selama hidupnya terakhir ini ternyata nggak mampu membuat dia melupakan Eza. Semoga pertanda baik, harap Aisyah.


"BANG AL!" seru Aisyah keras melambaikan tangannya, Ali menoleh menaikkan sebelah alisnya. "Ai ke kantor depan ya, ada tamu." Lanjutnya dan hanya dibalas Ali dengan acungan jempol nggak lupa senyumnya yang nggak pernah berubah, terlalu tampan untuk orang Indonesia. Kalau di Korea? Entahlah, baru sekitar lima gadis Korea yang mengamatinya sedari tadi di museum desa ini.


***


"Lo udah datang?" seseorang menghampiri Ali. Suara yang nggak asing lagi di telinga Ali. Seseorang yang baru enam bulan lalu dia temui di Korea. Orang yang sudah membawa Aisyah ke sini, Pulau Jeju.


"Gimana kabar lo, Lex ..." dia Alex Dirgantara, yang dua tahun lalu masih memakai nama Wahyu Dirgantara bahkan sampai sekarang. Sepertinya Wahyu lebih nyaman pakai nama barunya.


"Seperti yang lo liat sekarang, gue masih tetep jauh lebih ganteng dibanding lo!" canda Wahyu tersenyum tipis, dibalas Ali juga mengangguk tersenyum menjabat tangan Wahyu. Ali percaya kalau Wahyu sebenarnya bukan orang jahat, yahh dan feeling Ali terbukti kan saat ini Wahyu sudah berubah.


"Lo nggak mau menemui Ai, yakin?" selidik Ali sesekali menoleh ke arah kantor depan, terlihat Aisyah sedang sibuk membolak-balik buku mungkin sedang mencari sesuatu.


"Nggak Al, gue nggak bisa. Kasih perhatian dia dari jauh itu lebih baik." Balas Wahyu ikut mengamati Aisyah.


Sejak saat itu, saat dia melihat api yang menghanguskan gudang tempat dimana Aisyah disekap, sejak saat itu Wahyu mungkin sadar bahwa kedekatan mereka selama ini punya arti tersendiri yang baru dia rasa. Membuat Aisyah sakit ternyata bukan keinginan Wahyu, rasanya nggak enak saat harus kehilangan Aisyah. Rasanya seperti ada pecahan kaca yang menjatuhinya setiap ingat kesalahan yang dia lakukan itu. Kebencian yang terlalu besar itu sungguh dia sesali.

__ADS_1


"Tapi Lex, gimana bisa lo lakuin banyak hal buat Ai sedang Ai nggak tahu itu?" desak Ali masih terus membujuk Wahyu untuk menemui Aisyah. Rasanya nggak adil saja, saat Wahyu sudah berubah, tapi dia masih terus bersembunyi.


"Gue udah biasa kali Al kayak gitu, udah lo tenang aja. Minggu depan ada acara karnival kan di Seol, dia jadi kan kasih surprise buat Ai disana?" tanya Wahyu mengingatkan Ali.


Ali yang sebenarnya lupa langsung menepok keningnya sendiri, menyadari keteledorannya itu. "Oh My God, gue lupa Lex, untung lo ingetin. Tapi ada sedikit masalah di Indo kemarin lusa. Dia kecelakaan pas lagi syuting." ucap Ali sedikit kecewa, tingkahnya yang selalu tengil, nggak bisa tenang saat syuting, sudah mengacaukan semuanya. Karena ulahnya yang nggak jelas itu, syuting dibatalkan sampai dia sembuh total.


"Kecelakaan? Kecelakan apa?" Wahyu mengernyitkan kening sedikit panik. Kalau sampai batal, dia juga bisa rugi. Pasalnya menyewa tempat khusus untuk kejutan buat Aisyah itu kan nggak murah.


"Dia nggak sengaja menyenggol lampu di lokasi syuting, dan kena tangan kanannya, sedikit juga tiangnya menggores pipi." Jelas Ali jengkel.


"Lo bilang dia udah berubah."


"Berubah sih iya, tapi kalau sifat tengil sama usilnya kan tetep."


"Ya ya ya."


***


Aisyah samasekali nggak berkedip saat membaca berita dari majalah yang dia beli tadi pagi. Dia semakin panik saat menemukan kata kecelakaan di dalamnya. Gimana mungkin? "Kenapa bisa gini? Ini bohongan kan Mel?" tanya Aisyah untuk kesekian kalinya pada Amel teman SMPnya yang kebetulan juga tinggal di Korea untuk pertukaran pelajar.


"Serius lah, itu majalah dari Indo yang kemarin lusa gue bawa Ai, lo nggak percaya sama gue?" Omel Amel cemberut mencomot sosis goreng yang dibawa Aisyah untuk bekalnya. Tapi langsung diserobot Aisyah sebelum masuk ke mulut Amel.


"Ini jatah gue, punya lo ada di tas noh ..." tunjuk Aisyah pada tas di sampingnya tanpa memindahkan pusat perhatian dari majalah yang saat ini ada di genggamannya.


"Yaelah pelit amat!"


"Kondisi dia sekarang gimana? Nggak parah kan?" desak Aisyah panik mengabaikan keluhan Amel. Dia terus-terusan bergumam "nggak nggak nggak" sampai Amel menghela napasnya kesal. Segitu cintanya kah?


"Lo sayang beneran sama dia?" tanya Amel akhirnya, pertanyaan yang selama ini dia pendam. Dulu Amel hampir heran dengan tingkah laku Aisyah, entah Aisyah itu mengidolakan atau cinta? Tapi saat ini setelah dengar cerita dari Aisyah, agaknya dia mulai percaya kalau Aisyah ini cinta bukan cuma mengidolakan. Aisyah hanya diam mengangguk, menyenderkan kepalanya di kursi sambil menutupi mukanya dengan majalah itu.


"Gue sayang sama dia, gue sayang banget sama Mas Eza, gue kangen sama Mas Eza!" keluh Aisyah. Ungkapan yang selama ini hanya dia tahan dalam hati, akhirnya muncul juga. Terkadang dia sedikit menyesal pergi sejauh ini, ke Korea. Tempat yang sangat jauh dari Indonesia. Tempat yang sangat jauh memungkinkan dia untuk bisa melihat Eza secara langsung. Seandainya saat itu dia tetap berada di Indonesia, seandainya dia tetap menemani Eza sampai sadar ... yah semua ini hanya berakhir dengan penyesalannya. Selama ini dia mencegah Ali untuk memberitahunya tentang keadaan Eza, sengaja dia lakukan agar dia nggak terus kepikiran tentang Eza. Tapi tetep aja, dari Korea dia masih bisa mencari tahu informasi Eza lewat internet, bahkan pesan majalah dari teman smp nya Amel.


"Gue juga sayang sama lo ..." Hening, hampir bersamaan Aisyah juga Amel menoleh ke arah pintu. Aisyah yang menyadari itu, langsung melempar bantal kursi ke muka orang yang saat ini berdiri di depan pintu sambil memainkan lekuk senyumnya.


"Bang Al ..." gumam Amel terpaku, terpesona seketika. Bahkan matanya nggak berkedip samasekali. Dari dulu, dari pertama dia main ke rumah Aisyah, dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Cuma mungkin ini bukan cinta yang benar-benar cinta, cuma rasa kagum mungkin.


"Kalau kangen kenapa nggak ngomong langsung hah?" desak Ali melempar balik bantal itu. Langsung menghambur duduk di sebelah Aisyah merangkul leher Aisyah gemas.


"Apaan sih Bang, nggak lucu deh!"


"Kok Bang Al nggak cerita kalau Mas Eza kecelakaan?" tanya Aisyah kembali ke topik pembicaraan hatinya. Yah, hatinya yang terus menerus mengkhawatirkan Eza sejak membaca majalah itu. Dia tunjukkan majalah yang sedari tadi dia pegang pada Ali. Sebentar Ali hanya diam, pura-pura serius membaca majalah yang kali ini ada di pangkuannya, lalu manggut-manggut seakan dia baru tahu berita itu.


"Bang Al jawab!" seru Aisyah kesal menarik ujung bawah jaket Ali. Dan Amel? Dia hanya bisa diam terpesona melihat setiap gerak gerik Ali.


"Beruntung banget lo Ai, punya kakak secakep dia!" batinnya sampai menelan ludah.


"Ai dengerin ya." Ali menutup majalah itu, dia taruh di meja yang ada di sampingnya. Lalu duduk menyender dan melipat tangannya di dada, matanya lurus memandang Amel yang kebetulan duduk di depannya. Tebak apa yang terjadi? Seketika muka Amel memerah malu dibuatnya. Tanpa Amel sadari, dia refleks merapatkan kedua kakinya grogi, dia remas bantal yang ada di pangkuannya, dan refleks menunduk nggak berani balas memandang.


"Ai sendiri kan yang minta Bang Al untuk nggak kasih info soal Eza?"


"Tapi Bang, ini kan bahaya, gimana sih?" omel Aisyah sendiri kesal manyun memandang abangnya.


"Tapi kan Ai udah bisa tahu kabar Eza dari majalah kan?" tanya Ali lagi santai masih terus mengerjai Amel dengan memandanginya.


"Iya sih, tapi kan Ai butuh kepastian juga!" desak Aisyah masih saja nggak mau menyerah, dia sama sekali nggak sadar dengan yang terjadi di depannya saat ini. Pikirannya terlalu fokus pada Eza, dan nggak peduli dengan Abangnya yang mngerjai Amel, dan Amel yang sudah salah tingkah karena dikerjai Ali.


"Gimana sih Ai, Ai baca dari majalah, kondisi Eza gimana?"


"Ya parah, sampek masuk rumah sakit, sampai sekarang nggak sadarkan diri." Terang Aisyah sesuai apa yang dia baca dari majalah. Wajahnya semakin cemas geregetan sendiri.


"Ya udah, berarti emang gitu!"


"Jadi bener gitu?" tanya Aisyah lagi setengah berteriak. Ali hanya diam mengangguk berdehem, berdiri merapikan syal yang dia pakai.


"Hari ini Bang Al langsung ke Seoul ya, minggu depan kamu nyusul kesana!" ujar Ali keluar ruangan mengabaikan adiknya yang masih diam terpaku bingung, khawatir tentang Eza dan Amel yang terpaku nggak bisa apa-apa. Baru setelah Ali keluar, Nisa berani memandangnya dari belakang.


"BANG AL!" seru mereka berdua bersamaan.


***


"Ayo buruan Mel, jalannya keburu ditutup, bentar lagi karnaval lampion dimulai!" protes Aisyah buru-buru keluar taksi dan membantu Amel mengeluarkan seluruh barang bawaannya. Heran deh, dia kan tinggal di Korea, ngapain juga ke Pulau Jeju bawa barang sebanyak ini. Dan apa ini? Ya Tuhan, Aisyah geleng-geleng kepala, kapan juga si Amel petik bunga liar di pulau Jeju? Yah memang indah banget sih, bunga liar yang tumbuh disana, tapi kalau sampai dibawa pulang? Ya ampun, Aisyah nggak habis pikir. Selain membawa bunga liar dari sana, ternyata Amel juga membawa souvenir miniatur patung grandfather juga boneka ganze.


"Makasih." ucap Amel nyengir setelah berhasil keluar dari dalam taksi tanpa sedikit pun merasa bersalah, maklum selain oleh-oleh yang nggak muat kalau ditaruh di bagasi, di dalam taksi pun dia masih jejalkan pakaian dan entah apalagi. Dasar Miss Shopping!

__ADS_1


"Lo ini abis ngerampok ya di Jeju?" tuduh Aisyah membawa beberapa bawaannya langsung berjalan menuju hotel diikuti Amel di belakangnya.


"Hehehehe, ini semua pesenan orang di rumah, oh iya, nanti apa kita harus pakek pakaian tradisional Korea juga?" tanya Amel balik saat mereka sudah berada di lift menuju lantai tiga tempat dimana mereka akan menginap.


"Terserah sih, tapi kalau gue nggak, gue mau ke bazar dekat karnaval nanti." ujar Aisyah nyengir-nyengir sendiri. Entah ini beneran atau nggak, entah dia salah dengar atau nggak. Minggu kemarin sebelum Ali balik ke Seoul, dia sempat mendengar Ali menelpon Jessica assitennya dan mengatakan tentang persiapan artis-artis yang akan mengikuti karnaval di Seoul. Mungkin, ada Eza disana nanti. Saat ini Aisyah sangat teramat berharap banget! Dan kalau beneran, berarti kan berita di majalah itu cuma hiperbola aja? Iya kan? Harusnya sih iya.


"Emang ada apanya?" tanya Amel penasaran menghentikan Aisyah yang akan membuka pintu kamar hotel. Sebentar dia diam, nggak mau mengatakan yang sebenarnya, dia cuma takut kalau nanti cerita dan kenyataannya nggak ada Eza, kan jadi malu.


"Katanya ada yang unik disana, bazarnya orang Jakarta kan itu, kali aja memang lebih seru." Jawab Aisyah berusaha sewajar mungkin. Segera dia palingkan mukanya sebelum ketahuan bohong.


"Oh, gitu tapi masih lama kan? Kita istirahat dulu aja gimana? Ngantuk banget nih." Amel langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur sambil memeluk boneka beruang besar warna biru muda yang mungkin dia beli di Pulau Jeju.


"Iya deh, gue mandi dulu."


***


"Assalamualaikumwarrokhmatulloh ...," Eza mengakhiri sholatnya dengan salam. Sebentar dia diam menoleh ke belakang, tersenyum tipis mengulurkan tangannya dan langsung Aisyah cium.


"Ai tahu nggak kenapa, aku bikin istilah SATU?" tanya Eza menghadapkan tubuhnya ke Aisyah, menggenggam kedua tangan Aisyah lembut.


"Kenapa mas?"


"Kamu tahu itu singkatan apa?"


"S, selalu, A, ada, T, tempat, U, untukmu, dihati kan?" tanya Aisyah balik memastikan kalau kepanjangan istilah yang dia tahu dari Ali nggak salah.


"Iya bener, selalu ada tempat untuk-Mu yang Maha Cinta di hati kita, inget ya, apapun yang terjadi, inget kalau kita nggak akan sendiri. Allah selalu ada buat kita, dan Allah selalu ada buat jagain kamu buat aku, meski kita nggak lagi bersama." Ujar Eza membuat Aisyah nggak sadar tersenyum terharu, dia genggam erat tangan Eza, seakan yakin kalau Eza lah yang selamanya untuk dirinya.


"Iya mas, Ai percaya kok, Ai ... aduh ..."


BRUKKK ...


Aisyah mengelus kepalanya yang terbentur lantai, dia kerjap-kerjapkan matanya pelan baru sadar kalau barusan cuma mimpi. Apa? Cuma mimpi? "Gue tadi mimpi sholat bareng Mas Eza? Serius?" gumamnya sendiri bangun dari jatuhnya, dia senderkan tubuhnya di pinggiran tempat tidur.


Pelan dia kembali membayangkan mimpi yang barusan dia alami dan ... Ya ampun, Aisyah langsung bangkit menepuk keningnya sendiri karena melupakan sesuatu. Dia lihat tempat tidur yang ada di sampingnya. Amel sudah nggak ada, lalu dia lari ke meja yang ada di dekatnya melihat jam di ponselnya.


"Ya ampun udah jam 11 malem." gumamnya panik berlari ke arah jendela. Terlihat karnaval lampion sudah semakin sepi.


Kalau karnavalnya sepi, gimana bazarnya? Buru-buru Aisyah meraih mantel di kursi dan meraih tasnya nggak lupa syal yang masih tergeletak di atas tempat tidur. Apa dia akan kehilangan Eza untuk kedua kalinya? Tapi apa mungkin Eza juga ikut pergi ke bazar? Sebentar Aisyah menghentikan langkahnya ragu saat akan menekan tombol lift, "Terserah lah, gue harus liat sendiri, apa mas Eza ada disana atau nggak!" batin Aisyah mantap.


***


Aisyah terus menyusuri jalanan menuju bazar yang katanya Ali nggak jauh dari daerah Hongdae. Disini walaupun malam, tetaplah ramai. Bahkan sampai jam 3 pagi pun, kawasan di daerah ini semakin ramai oleh para remaja Korea. Meski karnaval telah usai. Tapi sepanjang perjalanan, Aisyah belum juga menemukan bazar yang dimaskud Ali. Aisyah coba hubungi Ali juga Nisa tapi sialnya ponsel mereka sama-sama nggak aktif. "Kemana sih mereka ini? Kok tega ninggalin gue sendirian!" gumam Aisyah sendiri kesal menggosok-gosok kedua telapak tangannya sembari melihat sekeliling pertokoan dan beberapa cafe.


Menurut Aisyah tempat di Hongdae unik banget, dan baru Aisyah sadari kalau ternyata hampir semua tempat-tempat disini terlihat artistic penuh dengan seni yang nggak bisa ditemui baik di Jakarta maupun Bandung. Seingat Aisyah, belum pernah deh. Yah meski begitu, Aisyah tetap cinta Indonesia kok, hehehe. Dan, akhirnya langkah Aisyah terhenti saat berdiri di depan Hello Kitty Cafe, cafe yang full bercat pink dengan dinding membentu telinga hello kitty dan nggak lupa pita pink hello kitty.


Bukan itu sebenarnya yang menyita perhatian Aisyah, melainkan bendera indonesia yang di pasang di teras depan cafe. Senyum Aisyah mulai merekah, pelan dia langkahkan kakinya masuk. Tapi kenapa sepi? Cuma terlihat kursi-kursi yang berserakan, dan beberapa pelayan yang membersihkan makanan minuman. Sepertinya baru saja ada acara besar disini. Dan di sampingnya ada tenda yang sudah kosong, tinggal beberapa ornamen batik yang menunjukkan kalau ini tempat bazar Indonesia diadakan.


"Excusme." ucap Aisyah mendekati salah satu pelayan yang sedang beres-beres.


"Can I help you?" tanyanya balik ramah, tapi dilihat dari mukanya, Aisyah merasa dia ini bukan orang korea melainkan orang Indonesia. Dengan kulit sawo matang dan punya mata coklat khas Indonesia.


"Are you from Indonesia?" tanya Aisyah memastikan, ketimbang ngomong bahasa asing ribet, lebih enak kan ngomong pakek bahasa sendiri kan? Hehehe ...


"Yeahh, are you ..."


"Saya juga dari Indonesia." potong Aisyah mengurai senyumnya lantas mengulurkan tangan berniat berjabat tangan, "Saya Aisyah, apa bazar Indonesia diselenggarakan disini?" tanya Aisyah langsung dibalas dengan senyuman mengembang si pelayan, seakan Aisyah ini tamu yang sudah ditunggu dari tadi.


"Aisyah? Adiknya Pak Ali?" tanyanya langsung membuat Aisyah bernapas lega, akhirnya ketemu juga.


"Iya bener, Bang Al mana ya? Apa acaranya udah selesai?" Aisyah celingukan mencoba menilik ke dalam, tapi kelihatannya acara memang sudah selesai? Dasar, kenapa abangnya itu tega banget sih? Aisyah mendengus kesal seketika.


"Iya, acara dilanjut ke Menara Namsan Tower, Pak Ali sudah menyuruh saya untuk mengantar anda ke sana."


"Oh gitu, oke kita kesana sekarang?"


***


Sambil meniup-niup kedua tangannya, Wahyu terus memantau ke arah jalan. Mobil yang membawa Aisyah ke stasiun gantung belum datang juga.


"Dimana? Lama banget, lo naik mobil kan? Hah, oh iya iya keliatan, lo pastiin ntar kalau Ai, naik kereta gantung!" perintah Wahyu langsung begitu telepon terhubung dengan pegawainya yang dia minta untuk mengantar Aisyah ke stasiun kereta gantung. Untuk menuju Namsan Tower, salah satunya bisa dengan menaiki kereta gantung.


Wahyu atas permintaan si cowok tengil gila itu, dia sudah menyiapkan kereta gantung spesial untuk Aisyah. Wahyu langsung memberi kode pada semua petugas stasiun tentang kedatangan Aisyah. Segera setelah itu dia langsung menuju mobilnya sendiri yang terparkir di depan stasiun. "Ai, cuma ini yang bisa gue lakuin buat lo, semoga ini bisa menebus kesalahan gue, dan semoga lo bisa beneran bahagia, Ai." Harap Wahyu segera memutar mobilnya menuju bandara Incheon.

__ADS_1


***


__ADS_2