
"Tekanan darahnya sudah stabil, dia sudah melewati masa kritisnya." Ucap si dokter setelah selesai membuka mata Wahyu satu persatu untuk mengecek kondisinya. Tangan Aisyah nggak berhenti gemetar melihat kondisi Wahyu yang babak belur seperti itu. Kepalanya diperban, kakinya di gips dan dia nggak sadarkan diri. Fahmi terus merangkul bahu Aisyah, takut kalau Aisyah sampai jatuh, karena wajah Aisyah sejak masuk ke ruangan Wahyu sudah pucat pasi.
"Kenapa dia nggak sadarkan diri, dok?" akhirnya Fahmi buka suara setelah dokter selesai memeriksa Wahyu.
"Belum ada kepastian, lebih baik kita tunggu dan doakan yang terbaik untuk Wahyu, pukulan keras di kepalanya membuat dia gegar otak ringan." Terang si dokter sembari membaca catatannya.
"Terimakasih dok ... tolong lakukan yang terbaik buat Wahyu dok." Pinta Fahmi penuh harap sebelum si dokter meninggalkan ruangan.
Begitu si dokter pergi, Aisyah langsung menghampiri Wahyu, dia pegang erat tangan si mata bening yang biasanya bikin ulah, sekarang hanya bisa terbujur kaku. Ada apa sebenarnya ini? Kenapa semua bisa terjadi? Cairan bening menetesi punggung tangan Wahyu, Aisyah yang sadar itu langsung menelungkupkan mukanya di samping Wahyu.
"Kenapa gini? Kenapa bisa gini? Wahyu, bangun Wahyu ..." Aisyah menggoyang-goyangkan tangan Wahyu keras tapi Wahyu hanya diam, sedikit pun nggak bergerak.
"Bang Fahmi, beneran yang lakuin ini Mas Eza?" Aisyah mengelus kepala Wahyu pelan, seperti dulu yang pernah dilakukan Wahyu kalau Aisyah sedang bersuasana hati nggak baik.
__ADS_1
"Ini ditemuin di tempat kejadian." Fahmi mengambil jas hitam yang terdapat noda darah menunjukkannya pada Aisyah. Nggak tahu sengaja atau tidak, jas itu tertinggal di tempat kejadian. "Disitu ada lambang huruf E, jas itu hanya dimiliki oleh semua pengawal Eza." Lanjut Fahmi menerangkan seperti yang dia ketahui dari dulu. Aisyah juga ingat waktu di taman bersama Eza, dia sempat melihat lambang huruf warna emas di kerah jas hitam milik pengawalnya Eza. Tapi pertanyaannya apa mungkin beneran Eza yang melakukan? Kenapa? Kenapa harus menyerang Wahyu? Aisyah sedikit meragukan ini semua, setelah apa yang dilakukan Eza agaknya dia nggak percaya kalau semua ini ulah Eza. Nggak mungkin.
"Bang Al kapan pulang? Ini udah hampir jam 12 ..."
"Ali perjalanan kesini Ai, lo tunggu disini ya, gue mau beliin lo makanan dulu." Ujar Fahmi, Aisyah hanya mengangguk, kembali menidurkan kepalanya di samping tangan Wahyu. Aisyah berharap semua ini cuma mimpi. Cuma mimpi, kenapa Eza harus beneran jadi orang jahat? Kenapa harus Eza? Dan kenapa tiba-tiba Aisyah kecewa?
***
Ali memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit paling pojok dekat pohon. Sejenak dia menyenderkan tubuhnya di mobil jib kesayangannya itu, sejenak merasakan terpaan angin yang menenangkan jauh dari semua permasalahannya saat ini mungkin menyenangkan, hanya bangun pagi berangkat sekolah dan menikmati masa liburan yang panjang ke pegunungan rinjani, ahh semua harapan itu terasa sepertii mimpi untuknya. Segera dia tersadarkan kalau ini bukan waktunya untuk bersenang-senang segera dia memasuki rumah sakit itu, rumah sakit yang pernah dia datangi sangat meninggalnya Bunga, sesak dadanya terlalu sakit, ini seperti Bunga masih ada di dalam sana. Kecelakaan ini lagi, kenapa harus mengarah ke Eza? Bukan cuma Aisyah, Ali pun sebenarnya nggak percaya kalau semua ini kerjaan Eza. Nggak mungkin Eza melakukan ini, sebenci itukah Eza pada dirinya? Eza bukan orang yang jahat, cuma itu yang Ali tahu meski dia sangat membencinya.
"Ah lo Al lama banget!" seru Fahmi langsung sambil menenteng dua tas kresek makanan. Ali melirik dua tas kresek itu sebentar dan mencibir, rasa-rasanya dia belum pernah melihat Fahmi begitu kerepotan membawa makanan.
"Ini buat adik lo!" ucap Fahmi lagi seakan bisa membaca pikiran Ali, Ali hanya berdehem mengangguk lalu merubah mukanya kembali serius.
__ADS_1
"Kenapa bisa kayak gini?" satu pertanyaan Ali memfokuskan diri pada masalah Wahyu, ini rasanya seperti ada yang bermain-main, bukan Eza tapi siapa yang berani-beraninya mengadu domba mereka.
"Kita harus segera menemui Eza Al, berkas kontrak dengan korea dibawa anak buahnya Eza."
"Nggak, bukan Eza, ini bukan permainan Eza!" ucap Ali lirih membuat Fahmi mengerutkan kening. Bukannya Fahmi nggak percaya, cuma Fahmi terkejut kalau ternyata Ali bisa berpikiran seperti itu. Fahmi juga tahu kalau Eza nggak mungkin lakuin ini, tentang saham 40%, semua itu dia tahu dari Eza sendiri. Diam-diam Eza terus memantau perusahaan Ali, juga dengan tindakan Dimas tentang penjualan saham 40 % itu. Lantas kalau bukan Eza terus siapa? Fahmi sudah benar-benar jengah, bahkan rasanya dia pengen pergi saja, kalau bukan karena Ali mungkin dia sudah pergi jauh nggak akan mau mengurusi hal yang terlalu membingungkan ini.
"Terus apa yang bakal lo lakuin?" tanya Fahmi saat pintu lift terbuka. Mereka langsung menuju ruangan Wahyu dirawat. Sambil jalan mereka masih saja terus mendiskusikan masalah ini.
"Dimas udah nyebarin isu tentang gue, tentang aslinya gue ke orang-orang yang ada di Jogja, tentang gue yang dulu, lo tahu kan?" tanya Ali menyuggingkan senyum mengingat dirinya dulu, raja jalanan hobi tawuran dan suka banget sama yang namanya kekerasan termasuk membuli orang, yah plus minus lah seperti Eza. Itulah mungkin yang bisa menjadikan mereka sahabat, punya hobi yang sama.
"Emang brengsek banget tuh anak ingusan, terus mereka tetep ngejual sahamnya?"
"Nggak, gue udah yakinin mereka untuk tetap percaya sama gue. Kalau pembuatan film ini sukses gue minta sama mereka untuk nggak menjual saham mereka ke Mr. X itu." Langkah mereka tepat berhenti di depan pintu ruangan Wahyu dirawat. Fahmi dan Ali saling memandang, sebentar Ali menepuk bahu Fahmi menandakan kalau dia akan segera menyelesaikannya, yah akhirnya Ali akan bertindak. "Assalamualaikum Ai ..." sapa Ali membuka pintu, Aisyah pun langsung menoleh walaupun suara Ali terdengar lirih. Mata Aisyah berkaca-kaca, dia hanya bisa diam tersenyum memeluk abangnya itu, seakan dengan memeluk hatinya akan jauh lebih tenang. Dekat dengan abangnya memang jauh lebih aman.
__ADS_1
"Yuk pulang, besok kan kita harus sekolah ... Wahyu nggak papa kok sendirian ..." ujar Ali lagi mengelus pucuk kepala Aisyah. Sebentar Aisyah memandang Wahyu yang masih memejamkan matanya, "Dia baik-baik aja, Bang Al jamin Wahyu nggak akan kenapa-kenapa!"
***