Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Me adudomba


__ADS_3

Kicauan burung terdengar saling bersahutan, nggak tahu kenapa rasanya di dalam sekolah pun Aisyah masih merasa nggak aman. Wahyu di rumah sakit, Eza kena pukul karena menolongnya tapi Eza juga yang menjadi penyebab Wahyu masuk rumah sakit, atau ini cuma bohong belaka? Aisyah mendesah, meniup bubur ayam yang dia pesan di kantin sekolah, uapnya mengepul di muka Aisyah, hangat rasanya di hawa yang lumayan dingin ini.


"Sendirian aja ..." celetuk seseorang dari belakang Aisyah, yahh Aisyah hafal betul suara siapa itu. Si empunya suara langsung duduk di depan Aisyah, dia tahu pasti Aisyah lagi nggak mau melihat mukanya. Ahhh si brengsek itu, cepet banget menjebaknya.


"Kepala Mas Eza gimana?" Aisyah melirik keningnya, yah dia Eza, yang duduk di depan Aisyah. Kening Eza masih di perban, kelihatannya lumayan parah, ini sudah seminggu lebih dan kepalanya masih diperban.


"Gue bisa pastiin kalau itu bukan gue." Ucap Eza nggak menghiraukan pertanyaan Aisyah. Tapi Aisyah hanya diam, menunduk, mengaduk-aduk bubur ayamnya, tiba-tiba saja nafsu makannya hilang.


"Kenapa Mas Eza ngomong sama Ai, seharusnya Mas Eza jelasin sama Wahyu atau Bang Al." Aisyah masih saja menunduk, dia pastikan kalau sebentar saja memandang mata Eza, Aisyah bisa nangis lagi. jauh di lubuk hatinya, dia nggak mau kalau ini semua perbuatan Eza. Sudah cukup dulu Eza nggak sengaja menabrak Bunga, dan sekarang mencelakai Wahyu? Ini hanya akan menambah rasa benci abangnya terhadap Eza.


"Gue cuma butuh lo percaya, gue nggak butuh yang lain, asal lo percaya gue bisa selesein dengan Ali juga Wahyu." Bujuk Eza, kali ini matanya benar-benar menunjukkan kalau dia sudah lelah, bosan, jenuh dengan permainan Mr. X ini. Kenapa dia harus mengadu domba dirinya dengan Ali bahkan Aisyah? Ahhh, pengen rasanya Eza mati saja. Eza mengibaskan rambutnya ke belakang yang sedikit gondrong menutupi perban di keningnya.


"Lo nggak perlu ngomong sama adek gue ..." potong Ali datang, dia duduk di samping Aisyah, menatap tajam Eza. "Ini urusan gue sama lo, jangan libatin adek gue."


"Gue nggak mau kehilangan dia untuk kedua kalinya!" sela Eza tegas membuat Aisyah tercengang seketika, apa maksud omongan Eza? Kehilangan untuk keduakalinya? Itu artinya Eza pernah kehilangan dia? Kapan?


"Lo nggak akan kehilangan Aisyah kalau elo bisa buktiin semuanya, lo bukan dalang di balik ini semua!" seketika Aisyah kembali tercengang kali ini menatap Ali yang ada di sampingnya, pusing rasanya, pagi-pagi dia sudah dua kali terkejut. Tapi Aisyah hanya bisa diam, seperti dia sedang tidak diizinkan untuk ikut bicara, bibirnya kaku, hanya mendengar pembicaraan dua orang ini yang bisa dia lakukan.


"Oke kalau itu yang lo mau." Jawab Eza setelah selang beberapa detik dia menarik nafas, dia nggak mau mengalami hal yang sama untuk keduakalinya, disalahkan atas hal yang samasekali nggak dia inginkan. "Gue akan segera menangkap siapa yang udah memukuli Wahyu dan gue akan menagkap siapa yang mau mencelakai Aisyah." Lanjut Eza mengambil keputusan, yah walaupun terlambat setidaknya dia bersyukur ternyata Ali masih sedikit mempercayainya.

__ADS_1


"Dan itu semua adalah orang-orang lo kan?" Ali mencibir berdiri menggandeng tangan Aisyah, terpaksa Aisyah pun ikut berdiri sebelum selesai menghabiskan buburnya.


"Lo tahu betul Al, gue nggak pernah punya niat buat melakukan itu semua, juga terhadap Bunga!"


Ali hanya diam, pergi begitu saja menggandeng Aisyah meninggalkan Eza sendiri yang langsung terhempas ke kursi seperti dia nggak bisa menyangga tubuhnya yang begitu lemas. Kepalanya kembali sakit, ahhh pukulan ini masih menyiksanya.


***


Eza segera bertindak, dia mengurungkan niatnya untuk masuk ke kelas. Kembali menuju parkiran mengambil motornya. Tak dia hiraukan pandangan murid-murid yang mengawasiya, bahkan satpam dekat parkiran pun sudah siap-siap mencegahnya. Ahh tapi kelihatannya si satpam langsung mengurungkan niatnya setelah tahu kalau dia Eza si pentolan sekolah yang terkenal sedikit sadis kalau keinginannya dilawan. Motornya pun berhasil dengan mulus keluar dari sekolah di jam tujuh kurang 15 menit. Dia bisa gila kalau masalah ini terus-terusan melebar, bahkan dia harus kembali mendapat pandangan buruk dari Ali, dan harus bersiap-siap kehilangan Aisyah lagi.


"NGGAKKK!!!!" teriaknya di tengah padatnya lalu lintas kota, dia naikkan kecepatan motornya menuju rumahnya sendiri, ada hal yang harus dia lakukan.


Untuk beberapa saat dia hanya mondar mandir pelan, mengatur nafasnya agar tenang pikirannya.


"Gimana caranya supaya gue tahu kenapa bisa mereka pakai jas hitam itu?" suara Eza yang tenang menggema di ruangan rumahnya yang besar itu. Tenang. Nggak ada jawaban.


"Gimana bisa ada penyusup yang masuk ke dalam taman?" lanjutnya lagi masih tenang. Masih belum ada yang menjawabnya.


"Ada orang dalam yang memasukkan mereka tuan muda." Sahut salah satu pengawalnya, memberanikan diri menghampiri Eza dan memberikan beberapa lembar berkas. Sembari Eza membaca, pengawal itu melanjutkan penjelasannya,"Pada tanggal 20 Juni hari dimana Tuan Muda dipukul, saat itu jumlah pengawal 145 orang, tapi keesokannya jumlahnya berkurang menjadi 144 orang, ini membuktikan kalau salah satu diantara mereka lah yang memukul tuan muda saat itu."

__ADS_1


Penjelasan yang masuk akal menurut Eza. Setiap pagi sebelum bekerja, semua pengawal Eza memang harus melakukan absensi. Dan semua pengawal Eza harus melewati beberapa prosedur saat melamar menjadi pengawal. Tidak sembarangan orang bisa menjadi pengawal Eza, mengingat Eza adalah calon pemilik salah satu perusahaan perfilman terbesar di Indonesia yang bersaing dengan perusahaan milik Ayah Ali.


"Dan kenapa lo baru melaporkannya ini sekarang? Kenapa lo baru tahu ini sekarang hah?" Eza melempar berkas-berkas itu ke arah pengawalnya geram.


"Maafkan saya tuan muda, ada yang sengaja memalsukan laporan absensi, ini saya ketahui setelah saya menghitung sendiri lewat sisi tv." Ucap si pengawal terdengar ragu takut dan terus menunduk.


"Plat nomor motornya terlihat kan dari sisi tv?" Eza mengalihkan pembicaraan, percuma marah-marah nggak akan menyelesaikan masalah.


"Iya Tuan Muda, plat nomor itu tidak terdaftar. Sepertinya motor itu dibawa dari luar Indonesia sengaja agar tidak mudah terlacak."


"Kemudian lo juga nggak bisa cari tahu motor itu milik siapa?" hardik Eza kembali geram menyahut selembar foto yang ada di tangan pengawalnya itu. Foto motor beserta pengendara yang mencoba menyerang Aisyah. Agaknya Eza pernah melihat tipe motor ini, memang bukan di Indonesia tapi ... yah dia ingat.


"Lalu dengan orang-orang yang menyerang Wahyu?" Baru Eza teringat Wahyu, ah iya sekali lagi ada penyusup yang mencoba menjebaknya.


"Itu juga sama Tuan, kami sedang mencari tahu siapa yang memasukkan mereka, pastinya orang yang sangat disegani, yang Tuan muda sangat percaya." Si Pengawal menekankan pada kalimat "Yang tuan muda sangat percaya". Dan berhasil mengingatkannya pada seseorang.


"Oke, lo tahu siapa orang yang sangat gue percaya, lo selidiki dia, lo datang ke hotel Narita, disana sponsor Ali dari Korea menginap, juga periksa semua sponsor Ali selain dari Korea. Gue rasa Mr. X akan menyerang Ali lewat sponsornya. Dan untuk itu lo paksa Dimas buat kasih informasinya." Jelas Eza menoleh ke seluruh pegawainya,"Pasang di semua tubuh mereka alat pelacak, kalau sampai ada yang nggak bisa terlacak, gue jamin gue sendiri yang akan menendang mereka dari sini!"


***

__ADS_1


__ADS_2