
Wahyu dan Asiyah saling menjaga kewaspadaan. Ibu Bayu yang sedang mengajar materi tentang tata cara penulisan surat pun hanya mereka anggap sebagai radio untuk meramaikan suasana kelas. Baik Aisyah juga Wahyu sama sekali nggak bisa konsentrasi dengan pelajaran. Aisyah yang berharap bel istirahat segera bunyi agar bisa segera kabur dari Wahyu, berkebalikan dengan Wahyu yang lebih berharap kalau bel istirahat nggak berbunyi agar dia bisa terus-terusan mengerjai Aisyah yang mukanya sudah panik dari jam pertama tadi. Dalam hati Wahyu nggak bisa berhenti tertawa.
"Denger baik-baik ya, gue nggak akan lepasin lo!" bisik Wahyu mendekatkan kursinya ke Aisyah.
"Denger baik-baik juga, gue nggak peduli itu!" bisik Aisyah balik tepat saat bel istirahat akhirnya berbunyi. Aisyah pun menarik napas lega. Segera dia masukkan bukunya yang sama sekali nggak dia buka dari tadi ke dalam tas. Begitu Ibu Bayu keluar kelas, Aisyah langsung beranjak berdiri, berniat segera keluar kelas, tapi bukan Wahyu namanya kalau hanya diam saja. Wahyu langsung berdiri menghadang jalan Aisyah, mengumbar senyum yang sebenarnya sesaat mempesona Aisyah. Aisyah langsung terkesiap begitu sadar dari pesonanya cowok gila di depannya itu. Gila, mikir apa sih gue ini? batin Aisyah menggelengkan kepalanya, mengembalikan kesadarannya.
"Mau ke mana, Ai?" tanya Wahyu lembut.
"Mau nyamperin abang gue, minggir lo!" jawab Aisyah sewot mendorong tubuh Wahyu untuk minggir. Pelan Aisyah berjalan keluar kelas, sesekali dia menoleh ke belakang, dan sialnya ternyata Wahyu juga mengikutinya. Sampai di belokan koridor pun Wahyu masih mengikuti Aisyah. Sadar kalau dia nggak mungkin bisa lepas dari Wahyu, akhirnya terpaksa Aisyah melakukan aksi lari maratonnya.
"Lo bikin gue capek Wahyu, 1, 2, 3 ...." Aisyah langsung mengeluarkan jurus andalannya lari sekenceng mungkin, saat Wahyu tengah disapa teman-temannya anak basket. Berhasil lolos.
***
"Lo nggak mau minta maaf sama Eza?" tanya Ryan sekali lagi mencekal kerah baju Ardi, murid kelas sepuluh yang jadi bahan bulian Eza cs.
"Sa ... ya ... nggak melakukan apa-apa!" jawabnya tergagap dan langsung dapat pukulan keras dari Ryan. Eza hanya diam memandangi Ardi dengan tatapan dingin, yah satu lagi pentolan sekolah yang terkenal sadis, musuh bebuyutan Ali.
"Lo denger, Za. Dia nggak ngerasa bersalah nih," seru Ryan membanting Ardi ke tanah, dia lepas kacamata yang dipakai Ardi sambil tersenyum sinis. "Dia udah numpahin kuah bakso di seragam lo, dan bilang nggak ngelakuin apa-apa?" gumam Ryan memainkan kacamatanya. Eza masih saja diam lalu jongkok mendekati Ardi. Dia lepas seragamnya yang kena tumpahan kuah bakso lalu menciumnya.
"Baju gue bau, Di. Rencananya hari ini gue mau nemuin cewek mungil, tapi lo malah berantakin semuanya," ucap Eza datar beranjak berdiri lalu menyahut kacamata Ardi yang dibawa Ryan.
Di saat Eza dan Ryan lagi asyik-asyiknya membuli Ardi, Aisyah nggak sengaja melihat itu semuanya. Napasnya memburu akibat lari dari Wahyu, dia pun langsung tercengang begitu melihat kejadian di depan matanya. Dia hampir nggak percaya dengan apa yang dia lihat. Aisyah tahu betul siapa yang lagi berdiri di hadapan murid yang duduk tersungkur itu, muka penuh lebam.
"Itu kan Eza artis ftv kan?" gumam Aisyah sendiri memastikan menyipitkan matanya. Walaupun Aisyah menyangkalnya, tapi tetap saja, dia benar-benar Eza artis di ftv yang sering dia tonton. Yah nggak mengelak sih, Aisyah memang mengidolakannya, tapi langsung kecewa seketika melihat kejadian di depannya itu. Terlihat Eza menaruh kacamata yang dia pegang di tanah dan akan menginjaknya.
"Lo udah berantakin hari gue, Di, gimana kalau biar impas, lo juga ngerasain yang sama?" tanya Eza melipat tangannya di dada tersenyum tipis lalu melirik Ryan,"Kok dia diem aja sih, coba lo tanya lagi!" perintah Eza langsung dituruti Ryan.
"Lo denger kan apa yang Eza omongin? Lo udah ngerusak acaranya dan sekarang lo harus bayar itu semua!" tandas Ryan, Eza pun nggak segan dan langsung menginjak kacamata milik Ardi, tapi langsung dapat tendangan dari Aisyah sebelum kakinya mengenai kacamata itu.
Baik Eza, Ryan juga Ardi pun terkejut tiba-tiba Aisyah muncul. Aisyah hanya diam mengambil kacamata itu dan mengembalikannnya pada Ardi.
"Nih kacamata lo, buruan pergi gih," pinta Aisyah. Setelah Ardi pergi gantian Aisyah yang mempelototi Eza juga Ryan. "Eza aktor itu kan?" tanya Aisyah dingin, melihat itu Ryan jadi geram sendiri.
"Lo itu ikut campur banget ya, berani-beraninya lo ..."
"Udah nggak apa-apa, biar gue yang urus," potong Eza mendorong Ryan mundur saat Ryan akan menyahut juga kerah baju Aisyah.
"Lo Aisyah?" tanya Eza kalem melempar senyum.
__ADS_1
"Lo pengecut banget jadi cowok," cibir Aisyah mengabaikan pertanyaan Eza. Lagi-lagi Eza tersenyum, bukannya marah Eza malah semakin tertarik.
"Lo perhatian banget sama gue," balas Eza santai.
"Gila lo!" ucap Aisyah jadi semakin jengah sama cowok sombong di depannya ini, mau kasih pelajaran tapi sepertinya momen lagi nggak pas. Akhirnya Aisyah memilih mengabaikannya dan berniat kembali sebelum Eza menahan tangannya.
"Mau ke mana? Kita kan belum ngobrol?" tanya Eza pelan langsung dapat tatapan kesal Aisyah. "Mau lo apa?" tanya Aisyah balik.
"Mau gue? Ngobrol sama lo."
"Siapa yang ngobrol sama siapa?" seru seseorang dari belakang Aisyah. Dia tarik Aisyah ke belakangnya, seakan melindungi Aisyah dari Eza.
"Mau ngobrol sama siapa maksud lo?" tanyanya lagi, kali ini tersenyum.
"Wahyu, lo ngapain?" bisik Aisyah dari belakangnya, yah dia Wahyu. Wahyu yang datang tepat waktu.
"Jangan lagi lo deketin dia, kalau nggak-"
"Kalau nggak apa?" potong Eza dengan nada tinggi mengangkat sebelah alisnya sarat menantang.
"Lo bakal berhadapan sama gue ... juga Ali!" jawab Wahyu pasti nggak sedikit pun takut dengan tatapan Eza, musuh bebuyutannya saat SMP. Saat SMP mereka berdua sama-sama jadi pentolan sekolah dan nggak menyangka saat SMA pun mereka masih harus sama-sama jadi pentolan sekolah, bahkan saling bermusuhan.
***
Wahyu membawa Aisyah ke parkiran sekolah. Dia dudukkan Aisyah di bawah pohon beringin tempatnya dan Ali nongkrong seusai sekolah. Wahyu menatap tajam Aisyah seakan Aisyah ini sudah melakukan kesalahan yang sangat amat besar yang nggak bisa diampuni, sedang yang dipandang malah menatap balik heran, merasa dirinya nggak punya salah apa pun. "Nih anak ngapain sih?" batin Aisyah bingung.
"Ngapain lo nemuin dia?" tanya Wahyu akhirnya tajam masih emosi.
"Gue nggak nemuin dia, gue nggak sengaja ketemu dia," jelas Aisyah membenarkan, masih dengan nada tenang.
"Ngapain lo ke belakang gudang?" tanya Wahyu lagi masih dengan nada yang sama.
"Gue nyasar, terus gue liat anak kelas satu dibuli sama Eza, ya gue tolong, cuma gitu doang," terang Aisyah sedikit dengan nada tinggi, agaknya dia ngerasa kalau Wahyu lagi nggak sedang becanda. Dia serius emosi, sepertinya memang mereka berdua itu saling bermusuhan juga dengan abangnya?
"Ini untuk pertama dan terakhir kali gue bilang, jangan deket-deket sama dia, jangan bicara sama dia, jangan sampai lo punya urusan sama dia!" tandas Wahyu memegang kedua pundak Aisyah yang masih duduk, dia tatap kedua mata Aisyah untuk meyakinkannya.
"Kenapa?" tanya Aisyah pendek, Wahyu menghela napas melepas cekalannya dari pundak Aisyah, "Karena dia musuh abang lo. Sejak sebelum mereka masuk ke Almas!" jawab Wahyu kali ini lirih, sepertinya dia berat mengucapkan itu semua. Sebenarnya dia berharap kalau Aisyah nggak akan tahu ini semua. Wahyu menghempaskan tubuhnya duduk di samping Aisyah.
"Mereka udah bersitegang sejak sebelum masuk Almas. Lo tau kan kalau Bang Ali itu telat masuk SMA, seharusnya dia udah lulus, begitu juga dengan Eza," terang Wahyu kembali mengingat cerita yang dia dengar dari Ali setahun yang lalu.
__ADS_1
"Kenapa gue nggak tahu?" tanya Aisyah benar- benar polos. Wahyu cuma tersenyum mendengar pertanyaan Aisyah, sekarang Wahyu tahu kenapa Ali nggak pernah menceritakan apa pun tentang Eza.
"Karena lo bodoh!" jawab Wahyu asal mendorong bahu Aisyah, Aisyah cuma manyun membalas dorongan Wahyu.
"Jadi abang gue kenal sama Eza? Eza si artis itu?"
"Iya," jawab Wahyu pasti menghadapkan tubuhnya ke Aisyah, menunjuk kening Aisyah dengan jari telunjuk, "Jadi demi keselamatan lo sendiri dan demi abang lo, jangan deket-deket sama dia, okey?" Aisyah diam sesaat, dia pandangi Wahyu yang masih menyentuh keningnya, si Mata Bening ini kenapa bisa tahu banyak tentang rahasia abangnya, sedang dia? Sepertinya Ali nggak mau melibatkan Aisyah terlalu dalam.
Aisyah menurunkan tangan Wahyu pelan, "Gue laper" ucap Aisyah beranjak berdiri meninggalkan Wahyu. Wahyu pandangi Aisyah dari belakang, cewek mungil ini mungkin benar-benar istimewa untuk mereka. Tapi, apa yang bakal dilakukan Eza kalau tahu Aisyah ini adik Ali? Wahyu mengambil ponsel di saku celananya, dia tekan nomor ponsel yang sudah sangat dia hafal, "Bang Al, Aisyah udah ketemu Eza."
***
"Brengsek nih orang ya!" DUGGG! Ali tendang roda motor Ninja hitam yang ada di depannya yang menghalangi motornya sendiri untuk keluar. Dan yang membuat Ali emosi adalah karena dia tahu siapa si empunya motor itu. Segera dia tekan nomor yang sudah ada di ponselnya sejak lama, nomor yang nggak pernah ganti untuk 3 tahun terakhir ini, Ali sangat tahu itu,"Ngapain lo taruh motor lo di sini hah? Lo mau cari ribut, hah?!" bentak Ali langsung begitu telepon tersambung.
"Santai aja, nggak ada tempat lagi jadi gue taruh di situ, kebetulan di depan ada motor lo," celetuk seseorang dari belakang Ali menjawab telepon darinya. Seseorang itu, tersenyum mematikan ponselnya lalu berdiri di depan Ali, tepat memandang kedua bola mata Ali.
Tanpa banyak bicara Eza pindahkan motornya dari belakang motor Ali. Dia nyalakan mesinnya, Ali hanya diam, dingin memandang Eza. Ali yakin Eza melakukan ini dengan sengaja. Apalagi setelah dia tahu kalau Aisyah ada di Almas. Bodoh, Ali mengumpat dalam hati merutuki dirinya sendiri, menyesal memasukkan Aisyah ke Almas.
"Satu ...," ucap Eza datar sembari memakai helmnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah Ali yang ada di sampingnya, "cuma satu, lo masih inget kan? Gue suka adik lo!" lanjut Eza tersenyum tipis langsung melajukan motornya meninggalkan sekolah.
Tepat sesuai prediksi Eza, Ali langsung meradang. Buru-buru dia nyalakan mesin motornya, dia kejar Eza yang sudah jauh melesat meninggalkan sekolah.
Nggak butuh waktu lama, Ali yang memang rajanya jalanan berhasil dengan mudah mengekor di belakang Eza. Sesekali Eza menoleh ke belakang, tersenyum dari balik helmnya. Rasanya sudah lama Eza nggak melewati momen seperti ini, beradu balap dengan sang pentolan sekolah Ali.
Sesekali Ali berada di samping Eza, tapi dengan cepat Eza mendahuluinya. Mereka saling meliuk-liuk di jalanan menuju hutan yang pada jam-jam segini memang masih sepi. Tapi sayang, tepat pada tikungan yang sedikit curam, motor Eza tergelincir dan hampir saja Ali menabraknya kalau dia nggak segera memutar motornya.
Dengan napas tersengal, Ali turun dari motornya, dia hampiri Eza yang masih berusaha bangun dari tindihan motornya. Segera setelah Eza berhasil berdiri, dia tarik kerah jaket Eza erat. Satu tonjokan melayang keras di sudut bibir Eza.
"Maksud lo apa ngomong gitu, hah?!" bentak Ali di tengah-tengah hutan yang sepi, dan sekali lagi Eza cuma tersenyum berhasil membuat Ali meradang.
"Oke, gue ulangi," ucap Eza tenang masih dalam cengkraman Ali, sebentar dia seka darah yang ada disudut bibirnya. "Gue suka adik lo, si Ai, Aisyah." BUKKK! satu tonjokan keras lagi mendarat ke pipi Eza, dia langsung tersungkur roboh di bawah Ali.
"Jaga mulut lo! Lo pikir gue akan biarin, lo deketin Aisyah?"
"Mau lo tampar gue, lo tonjok gue, lo mau hajar gue," sebentar Eza diam menarik napas mencoba berdiri, "di sini ..."-dia tunjuk dadanya sendiri yakin-"di sini tetep nggak berubah, gue suka sama adik lo! Mau lo pukul gue, bahkan mau lo bunuh gue sekalipun itu nggak akan berubah!" tandasnya menatap tajam Ali yang semakin meradang.
"Gue peringatin sekali lagi, kalau sampai terjadi apa-apa sama Aisyah, gue pastiin tangan gue sendiri yang akan habisin lo!" Ali menendang helm Eza yang tergeletak di bawahnya. Dia nyalakan mesin motornya meninggalkan Eza yang masih berdiam diri, memutar kembali memori saat di mana dia melihatnya, masih sama satu.
"Ini baru aja dimulai Al, dulu lo boleh menghalangi gue, tapi kali ini, itu nggak akan terjadi."
__ADS_1