
____
"Yah, bener, gue Alex Dirgantara sahabatnya Bunga dan mulai hari ini gue akan mengakhiri semuanya." Sorot mata Wahyu yang tadinya santai berubah tajam, kembali kebencian yang dia rasa selama ini semakin memuncak. Seharusnya nggak begini, seharusnya hidupnya juga Bunga tenang. "Seharusnya lo nggak hadir di hidup Bunga, seharusnya saat itu lo, juga sahabat busuk lo itu nggak muncul buat tolong Bunga. Sebelum ada lo, Bunga tenang, Bunga hidupnya damai, tapi sejak kenal lo semuanya kacau, dan bahkan karena lo dia kehilangan nyawanya!" derap langkah Wahyu yang menghampiri Ali memecah kesunyian di area parkir ini. "Lo dan sahabat busuk lo itu bener-bener brengsek, dan lo bisa hidup tenang? Mimpi lo!"
"Gue tahu, gue salah!"
"Yahh sudah kewajiban kalo itu, tapi hanya sekedar tahu aja pun, itu kurang. Lo harus merasakan apa yang Bunga juga gue rasakan." Satu tepukan lembut ke bahu Ali.
"Apa yang harus gue lakuin?"
"Lo? Yang harus lo lakuin? Hmmm ..." Wahyu berdehem pura-pura berpikir. "Lo cinta kan sama Bunga? Gimana kalo lo nyusul dia? Minta maaf sana gih ke Bunga, mau kan? Tenang aja, lo kesana nggak sendiri kok, Ai juga akan ikut!" seketika langsung menyulut emosi Ali, tangannya menggenggam keras.
"Jangan sentuh Ai!" Ali memperingatkan agar Wahyu nggak melibatkan Aisyah.
"Jangan? Bukannya lo sendiri yang menitipkan Ai ke gue? Lo nggak lupa kan?" Wahyu tersenyum geli menggerak-gerakkan lengan kanannya yang diperban tanpa rasa sakit sedikit pun, karena semua ini hanya pura-pura.
"Ai nggak terlibat sedikit pun dalam insiden ini."
"Ya ya ya gue tahu itu, tapi sekarang lo yang harus turutin omongan gue, oke!"
DUGGG ...
__ADS_1
Hantaman keras mengenai tekuk leher Ali, membuatnya roboh seketika. Dilihatnya seseorang yang berdiri di sampingnya saat ini mengenakan jaket baseball. Sekarang Ali ingat tentang jaket itu, jaket yang dulu pernah Bunga berikan untuk sahabatnya, dan baru Ali tahu Wahyu lah sahabatnya itu.
"Hai Al, thanks seragamnya, dan sorry kalo gue harus pukul lo kayak gini." Yupp, dia Denis, menyunggingkan senyum tipis sambil melepas jaket baseballnya, melemparkan ke arah Wahyu.
"Tugas gue udah selesai kan?" tanya Denis melirik Ali yang tersungkur, bukannya nggak bisa bangkit tapi rasa bersalahnya selama ini membuat dia hanya diam, mungkin ini cara Tuhan menghukumnya.
"Bawa dia ke lokasi, pastiin nggak ada yang ngikutin lo!" jawab Wahyu terdengar serius, kali ini nggak ada sedikit pun senyum di mukanya. Segera dia kenakan jaket baseball itu dan beranjak pergi. Denis pun langsung menarik Ali dengan kasar memasukkannya ke dalam bagasi mobil tepat di belakangnya.
***
"Pak Kuncoro memang terlibat tuan muda ..." terang pengawal Eza menaruh berkas ke meja kerjanya.
"Jadi bener dia sengaja, dia suruhan Mr.X?" tanya Eza, lebih tepatnya memastikan.
"Alex Dirgantara ..." timpal Ryan datang duduk di depan Eza, "Nggak tahu darimana, Wahyu bertemu Pak Kuncoro, melibatkan Lintang, memperkerjakan di tempat lo juga Ali, lo tahu kan kenapa Wahyu ngelakuin itu?"
"Mengadu domba gue sama Ali?" Eza mengangkat sebelah alisnya menyunggingkan senyum.
"That's right, dia memanipulasi semuanya, pengawal lo, juga pemukulan untuk dirinya sendiri."
"Kenapa ada orang sebrengsek dia ya?"
__ADS_1
"Apalagi kalau bukan karena cinta? Semua juga gitu kan?" cibir Ryan, Eza pun langsung tersinggung, memasang tampang memperingatkan.
"Cinta gue ke Ai nggak kayak gitu!" elak Eza membela diri.
"Serius?" goda Ryan tersenyum jahil.
"Apaan sih lo, jadi semua udah fix kalo pihak sponsor mencabut kerjasamanya?" Eza mengalihkan pembicaraan, mukanya akan semakin memerah malu kalau Ryan masih saja terus menggodanya.
"Yuppp, dipastikan film ini nggak akan dibuat kalau Ali nggak bisa mendapatkan sponsor baru dalam waktu tiga hari." Jelas Ryan yang juga kembali serius tepat saat ponsel Eza bunyi, whatssap dari Ali.
Sebentar Eza menghela napas panjang, menyadari kalau permainan benar-benar sudah dimulai. Sekarang, saat ini.
"Lo tenang aja soal itu, gue pastiin film Ali tetap dibuat. Sekarang lo pergi ke kantor Ali, bikin rapat pemegang saham segera, pengacara bakal nyusul lo kesana, bawa beberapa orang buat jagain lo." Perintah Eza langsung beranjak berdiri diikuti Ryan yang langsung tanggap,"Ini berkas-berkas yang lo butuhin."
"Lo sendiri?"
"Gue akan tangkap Wahyu sekarang, jangan libatin polisi, kalo sampai besok pagi gue nggak ada kabar, lo panggil polisi." Lanjut Eza memberi pengarahan, lantas melirik dua pengawal yang sedari tadi menunggui mereka,"Kalian berdua ikut gue!"
Whatssap from Ali :
Tolong jagain Ai dari Wahyu, sekarang!
__ADS_1
***