
Mata Aisyah samasekali nggak berkedip. Memang dia sudah tinggal di Korea selama 2 tahun. Tapi untuk naik kereta gantung, ini kali pertama. Apalagi ini bukan kereta gantung biasa. Kereta gantung yang dinaiki dihias dengan ornamen es krim coklat kesukaannya. Tadi sempat dia sudah ke ge-er an mengira kalau ini pasti kejutan dari si Eza. Tapi ternyata, saat dia menanyakan pada si pegawai yang mengantarnya, itu merupakan konsep yang disediakan oleh perusahaan Dirgantara Property yang bekerjasama dengan Ali. Dirgantara? Aisyah seperti pernah mendengarnya, tapi dimana?
"Welcome to Namsan Tower." Seseorang menyambut Aisyah di depan area gembok cinta. Gembok cinta? Bukan gembok cinta yang membuat Aisyah terkejut. Aisyah sudah pernah kesini sekali. Dia terkejut karena di sekitar gembok gembok itu terangkai lampu-lampu yang berbentuk es krim juga.
"Where is Ali?" Kali ini Aisyah nggak perlu tanya apakah dia orang Indonesia atau bukan. Dilihat dari warna kulit juga wajah pun, sudah terlihat kalau dia orang Korea.
"Come on." ajaknya ramah membawa Aisyah menuju bagian atas Namsan Tower, ke observatorium. Dari semua tempat di Seoul sebenarnya, inilah tempat yang sangat disukai Aisyah. Karena setiap Aisyah berada di atas menara ini, dia bisa melihat seluruh kota Seoul, dan terkadang Aisyah berpikir, mungkin akan lebih menyenangkan kalau dari atas sini dia bisa melihat Indonesia. Ah, lebih tepatnya bisa melihat Eza. Begitu sampai di atas, Aisyah ditinggal sendiri. Belum juga bilang terimakasih, si pegawai sudah pergi meninggalkannya.
"Terus ngapain gue disini sendirian? Sepi lagi." omel Aisyah berdiri di dekat kaca bertuliskan kota-kota di Negara lain, ada tulisan besar Bangkok, Hanoi, Kuala Lumpur juga dengan jarak kotanya dari Seoul. Jakarta mana ya?
"Kadang kita hanya bisa bermimpi untuk bahagia, yang sangat berbeda dengan kenyataan ini." Suara seseorang itu tepat berada di belakang Aisyah. Dan Aisyah nggak akan mungkin lupa suara siapa itu, tapi dia belum berani menoleh, mungkin ini cuma halusinasinya. Mungkin itu cuma pengunjung yang kebetulan juga orang Indonesia. Aisyah menggeleng keras membuyarkan harapannya.
"Tapi terkadang juga ada di saat mimpi-mimpi itu nggak seindah kenyataan saat ini." lanjutnya lagi membuat Aisyah semakin deg deg an nggak karuan. Tiba-tiba saja detak jantungya melaju secepat Valentino Rossi berkendara. Itu beneran suaranya kan? Saking penasaran, akhirnya pelan Aisyah pun menoleh.
"Kamu tahu, kamu itu seperti angin hanya sekedar lewat, dan setelah itu aku nggak tahu lagi kemana kamu pergi, aku pun nggak bisa mendapatkan jejakmu lagi. Bodohnya lagi aku tahu akan hal itu tapi nggak ingin percaya itu. Karena aku tahu, kebodohan ini bukanlah kesalahan, melainkan hanya sebuah keyakinan yang harus aku pegang, sampai rasa ini benar-benar muncul, atau mungkin akan hilang seketika." Itulah lanjutan penggalan kalimat yang dia ucapkan
Ini benar-benar nyata yang jauh lebih indah dari mimpi. Saat seseorang yang kita harap benar berdiri di depan kita, saat waktu yang lama itu akhirnya berakhir juga, apa yang harus kita katakan? Bahkan nggak ada ungkapan yang bisa terucap, karena ini jauh lebih indah dari mimpinya selama ini.
"Mas Eza, " iya, saat ini Eza benar-benar berdiri di depan Aisyah. Senyumnya masih sama, bahkan alisnya yang selalu dinaikkan sebelah itu, ahhh Aisyah merindukannya. Sangat merindukannya. Aktor tukang bully itu, akhirnya Aisyah bisa melihatnya lagi.
"Hai ...," sapa Eza melambaikan tangannya, tapi Aisyah hanya diam. Dia masih berusaha mengembalikan kesadarannya. Masih memastikan kalau ini bukan mimpi, sampai dia nggak sadar kalau Eza sudah berdiri di depannya saat ini, dan senyumnya semakin terlihat jelas. Bukan lagi hanya di majalah, tapi disini, di Namsan Tower, Korea. Ahhh Aisyah merasa kalau dirinya saat ini sedang bermain drama korea saja.
"Katanya kecelakaan, kok ada disini?"
"Beritanya terlalu heboh, cuma luka di pipi aja kok." Aisyah usap pelan pipi Eza yang terkena goresan, walaupun ada bekas luka toh Eza tetaplah Eza yang selalu mempesona Aisyah.
"Sakit?" Eza menggeleng.
"Mama udah tahu tentang lo disini, dan mama udah ijinin gue buat ...," ucap Eza menggantung memainkan bola matanya, sengaja membuat Aisyah penasaran.
"Buat apa mas?"
"Buat ..."
"BUAT LAMAR LO AI!!!!" teriak Ali tiba-tiba yang nggak sabar melihat adegan di depannya itu.
"Aduh mas Eza lama banget sih, tinggal ngomong gitu aja!" timpal Amel ternyata juga sudah ada disitu.
"Kalian? Jadi kalian sekongkol ninggalin gue sendirian di hotel?" protes Aisyah yang baru sadar dengan keberadaan abang dan teman SMP nya itu. Mukanya langsung manyun kesal, sedang Eza cuma bisa geleng-geleng. Ternyata melamar anak orang di film dan kenyataan rasanya beda banget. Hal ini beneran membuat Eza gugup setengah mati.
"Salah lo sendiri tidur pules banget, jadi gimana nih?" sahut Amel memandang Eza yang langsung terkesiap. Eza tatap Aisyah lembut dan mengeluarkan sesuatu. Dari balik jaket kulit hitamnya. Beberapa lembar kertas, melihat itu senyum Eza semakin merekah.
"Ai, dengerin gue ya, bismillah gue udah yakin buat melakukan ini, jadi will you marry me?"
Suasana hening sesaat di jam satu pagi, di Korea, tepatnya di Namsan Tower. Aisyah cuma mengedip-kedipkan matanya berkali-kali, berharap kalau yang dia dengar itu nggak salah. Berharap kalau arti dari will you marry me belum berubah.
"Mas Eza."
"Iya."
__ADS_1
"Ai boleh tanya nggak?" Eza mengangguk pasti.
"Arti dari will you marry me masih sama kan?" tanya Aisyah begitu polosnya, membuat Eza, Ali juga Amel dan yang lainnya melongo dibuatnya. Sesaat Eza mengulum senyumnya, mengangguk pasti lagi.
"Terus kertas-kertas yang mas Eza bawa itu apa?" Aisyah menunjuk kertas yang saat ini ada di genggaman Eza.
"Ini surat permohonan ijin menikah di Jakarta, jadi lo mau kan nikah sama gue?" Aisyah memandang abangnya kali ini. Dan yang dipandang pun langsung mengangguk pasti mengacungkan dua jempolnya. Ini kebahagiaan adiknya yang nggak akan mungkin dia biarkan begitu saja. Yah ini lah cinta.
"Mas Eza ..."
"Hmmm ..."
"Ai mau ..."
"Apa Ai, gue nggak denger ..." seru Eza pura-pura, sumpah mimpi apa kemarin Eza, pagi ini seperti mimpinya jadi nyata.
"Ai mau ..."
"Masih nggak denger Ai ..."
"AI MAU NIKAH SAMA MAS EZAAAA!"
Dan genggaman erat Eza pada tangan Aisyah pun menunjukkan semuanya. Semua keseriusannya untuk nggak lagi melepas Aisyah.
Akan ada waktu dimana aku akan terlalu mempedulikanmu. Dan akan ada waktu dimana aku akan terlalu mengabaikanmu. Tapi nggak akan pernah ada waktu
.
Wahyu hobinya kok di balik layar trus ya gaes?
Heran gua sama si mata bening
.
.
***
Beberapa tahun Kemudian
SMA Almas terkenal mempunyai fasilitas terlengkap di sekolahnya. Dari laboratorium biologi, fisika, kimia, sampai beberapa ruang khusus untuk pelajaran sejarah dan geografi pun ada. Juga prasarana dari beberapa olahraga dari sepak bola, basket, voli, sampai renang tersedia di sekolah swasta ini. Tapi nggak usah takut, meskipun termasuk sekolah swasta yang tergolong mewah, biaya untuk sekolah disini nggak semahal fasilitas yang tersedia. Biaya nya setara dengan sekolah negeri pada umumnya. Sejak kepemilikan beralih pada Ali, dia merubah semua aturan yang ada. Tujuan sekolah didirikan adalah untuk menuntut ilmu dengan fasilitas yang memadai, tanpa membuat murid memikirkan biayanya. Itu pun juga bertujuan supaya yang bersekolah di Almas bukan murid dari keluarga kaya saja.
Oke, dari semua fasilitas di sekolah, ada satu tempat yang sangat disukai Ali. Lampu sorot di kedua sisi menyala terang, menerangi Ali yang tengah sibuk mendribel bola menghindari Eza yang terus menghalanginya menuju ring basket.
Napas Eza sudah ngos-ngosan. Tangannya meleset saat menemukan cela untuk merampas bola dari Ali. Ali bergerak ke samping gesit lalu melakukan slamp dunk, bola masuk.
"Udah, udah, capek gue!" sergah Eza duduk begitu saja di tengah lapangan menepis bola basket yang sengaja Ali lempar ke arahnya.
"Faktor usia ya lo? Mana Eza preman sekolah yang selalu menang tanding basket hah?" ledek Ali meneguk botol air mineral yang ada di pinggir lapangan.
__ADS_1
"Cemen lo, Za!" timpal Wahyu yang sedari tadi hanya mengawasi mereka berdua dari bangku penonton. Wahyu terlalu lelah hari ini, dia sedang nggak mood ikut main. Wahyu baru saja datang dari Denpasar. Ada pertemuan penting. Begitu dapat misi dari Ali, dia langsung terbang ke Bandung membatalkan niatnya untuk liburan sebentar di Denpasar.
"Heh kunyuk, ngaca dong, lo cuman duduk doang. Lo musuh gue waktu itu!" damprat Eza nggak terima. Tapi meski begitu dia cuma ngomel dengan tetap duduk nggak berniat mengajak Wahyu ribut adu jotos seperti dulu. Iya, mereka memang sudah cukup dibilang tua untuk bertingkah seperti bocah.
"Udah lah ya, malah ribut. Ini nunggu apa lagi sih? Apa nggak bisa kita berangkat?" sela Ali mengingatkan keduanya tentang alasan kenapa mereka bertemu disini. Tempat paling aman untuk bertemu, seenggaknya disini nggak akan ada mata-mata dari musuh yang mengikuti mereka.
Awalnya Eza menawarkan pertemuan diadakan di rumahnya. Tapi Ali menentang keras. Dia nggak mau Aisyah khawatir yang nantinya malah berdampak buruk untuk kehamilannya. Mau diadakan di rumah Ali pun jelas nggak mungkin. Sudah ada mata-mata dari Yachio Dragon yang sejak seminggu lalu mengawasi rumahnya. Mau di rumah Wahyu? Sama saja, mereka tahu betul kalau Ali dan Wahyu itu berhubungan dekat. Apalagi keluarga Wahyu sangat terkenal di dunia bisnis baik yang main kotor maupun bersih. Bisa-bisa keluarga Wahyu jadi sasaran empuk Yachio Dragon kalau mereka sampai salah langkah.
"Iya, nunggu apa lagi sih? Gue ikut aja kan bisa? Bertiga cukup kan? Ditambah anak buah gue."
PLAKKK
"Aduhh, kepala gue! Apa-apaan sih lo Al!" Ali seketika melempar kepala Eza dengan bola basket, geram.
"Lo macem-macem gue hajar ya. Tugas lo jaga Aisyah. Gue nggak mau Aisyah kehilangan lo bego. Lo udah bukan waktunya terjun ke lapangan!" cerca Ali. Lagi-lagi dia terus mengingatkan Eza. Ali memang sangat protektif sejak Aisyah menikah dengan brandal satu itu. Meskipun Eza sahabatnya dan nggak diragukan lagi keahliannya dalam adu jotos. Tapi kejadian beberapa tahun lalu saat Eza dan Aisyah terjebak di gudang yang terbakar, Ali jadi parno sendiri. Dia nggak akan membiarkan sedikit saja Aisyah dalam bahaya.
"Tenang, gue nambah pasukan kok, tuh mereka udah datang." Wahyu turun dari bangku penonton bergabung dengan mereka berdua saat beberapa cowok yang dia maksud datang. Wahyu tersenyum puas.
"Sorry, bang telat!" Rian nyengir menggaruk tekuk lehernya.
"Kalian?" seru Eza dan Ali bersamaan.
"Gue ada kuliah tadi sore jadi nggak bisa langsung kesini." Timpal Angga melepas tudung hodienya, berdiri di samping Eza.
"Gue harus antar Ara dulu pulang dan harus bikin dia percaya kalo gue lagi main pes di apartement kunyuk ini." Kali ini Ari menambahi melepas rangkulannya dari sahabatnya yang lain, Marvel. Marvel menatapnya sinis Ari lantaran kesal menjadikan dirinya tameng untuk membohongi Ara. Gara-gara Ari, Marvel yang tadinya sudah mau berangkat ke tournament balap harus batal.
"Kalian mau bantuin gue?" tanya Ali menatap keempat laki-laki yang tengah duduk di perguruan tinggi itu takjub. Sepertinya sudah lama dia nggak bertemu dengan mereka setelah kelulusan SMA.
"Ya iyalah Bang!" jawabnya mereka kompak membuat Wahyu terkekeh.
"Wow wow, hebat banget. Tapi kalian yakin? Yang bakal kita hadapi sekarang bukan anak SMA Unggul, tapi lebih besar lagi." Eza bertepuk tangan bangga tapi sekaligus khawatir juga. Pasalnya dia sangat tahu seperti apa Yachio Dragon itu. Keluarga Black Shadow yang bahkan keluarga Erlangga saja sulit untuk menaklukannya. Selalu terjadi pertumpahan darah setiap keluarga Erlangga mencoba merebut lahan bisnis mereka. Tahun lalu Elang cucu dari kakek Erlangga masuk rumah sakit setelah terkena sepuluh tembakan di tubuhnya, untung saja Tuhan masih membiarkan brandal itu hidup.
"Tenang aja, Bang. Kita udah tahu semuanya dari Bang Wahyu." Jawab Ari melirik sekilas kakaknya itu.
"Oke kalo gitu. Lebih cepat lebih baik." Pungkas Ali mengambil alih pembicaraan. Satu persatu Ali tatap lawan bicaranya itu sebelum dia menjelaskan apa misi mereka malam ini. Ali menarik napas dalam-dalam.
"Malam ini, kita akan melakukan misi penyelamatan Tiara. Malam ini Tiara akan dibawa ke China dengan kapal untuk dijual. Dan yang akan kita hadapi bukan main-main. Mereka mafia yang terkenal sangat kejam. Bahkan pemerintah pun enggan berurusan dengan mereka. Tapi kita punya keuntungan. Karena di mata mereka kita bukan apa-apa, mereka nggak akan tahu kalau kita akan menyerang mereka. Mereka hanya akan mengawasi keluarga Eza dan Wahyu, tapi bukan kita, paham?"
Seperti dihipnotis mereka semua yang ada mengangguk, nggak ada satu pun yang ingin menyela, protes atau bahkan kabur karena takut.
Sampai Jumpa lagi
.
.
.
TAMAT
__ADS_1