
"Ai, yakin mau tinggal di Korea?" tanya Ali sekali lagi, terkejut tiba-tiba saja Aisyah memutuskan untuk tinggal di Korea. Aisyah yang ditanya hanya mengangguk, mengiyakan. Kembali Ali tarik Aisyah kepelukannya, dia elus rambut Aisyah lembut, dan mencium keningnya pelan.
"Ai tahu nggak, kenapa Bang Al, ajak Ai kesini, ke rooftop?" tanya Ali lagi mengganti topik pembicaraan, dia ingin Aisyah menenangkan pikirannya dulu.
"Kenapa Bang?" gumam Aisyah lirih mendongakkan kepalanya pelan memandang wajah Abangnya, sudah lama rasanya dia nggak sedekat ini dengan Ali. Kejadian kemarin itu rasanya seperti menjauhkannya dengan Ali, beruntung Ali selamat. Diam-diam Aisyah mengela napas lega.
"Karena jarang orang berkeliaran di rooftop, tempatnya tenang. Setiap Bang Al lagi ada masalah dan suntuk, Bang Al selalu lari ke rooftop, kalau di rumah paling-paling naik ke atas genteng." Terang Ali tersenyum tipis.
"Serius Bang? Kok Ai nggak pernah tahu Bang Al naik ke genteng?" tanya Aisyah mulai penasaran mengernyitkan kening sembari mengingat-ngingat semua hal yang dilakukan Ali. Dari kesemua itu, sepertinya cuma ini yang nggak Aisyah tahu.
"Setiap Bang Al naik ke atas genteng, kan Ai udah tidur!" jawab Ali santai gemas mencoel hidung Aisyah lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Dan di tempat seperti inilah Abang selalu bisa ambil keputusan-keputusan sulit!" Ali akhiri dengan helaan napasnya dan dari penjelasan itu agaknya Aisyah tahu apa yang dimaksud Ali. Aisyah lepaskan pelukan Ali lalu menarik tangan Ali kepangkuannya, dia tatap mata Abangnya itu lembut, berusaha menembus ke dalam, berharap dari sana dia bisa menemukan sesuatu yang bisa membuatnya jauh lebih tenang. Entahlah, sampai sekarang pikiran Aisyah masih kacau. Permintaan ayahnya yang tiba-tiba, mungkin bisa jadi solusi terbaik. Baik untuk dirinya, juga Eza. Mungkin sudah cukup Eza melindunginya, Aisyah nggak mau Eza semakin celaka kalau terus-terusan menjaganya. Apalagi Ali nggak akan memasukkan Wahyu ke penjara. Siapa yang tahu kalau Wahyu akan mengulangi untuk keduakalinya.
"Ai yakin Bang, Ai mau pindah ke Korea, untuk sementara Ai mau tinggal disana, lagian selama 6 bulan film Abang bakalan syuting di korea kan? Bang Al bisa temenin Ai." ucap Aisyah meyakinkan Ali juga dirinya sendiri. Berharap kalau keputusannya ini nggak akan pernah dia sesali. Berharap kalau semua ini akan jadi yang terbaik buat semuanya.
"Ai ... Ai nggak perlu lakuin ini, Wahyu nggak akan ganggu kita lagi Ai, Bang Al jamin itu!" bujuk Ali. Dia tahu persis, sangat tahu kalau sebenarnya Aisyah nggak mau meninggalkan Indonesia, kalau sebenarnya bisa terus bersama Eza itu hal yang sangat diinginkan adiknya saat ini. Tapi kenapa tiba-tiba Aisyah berpikir seperti itu? Sebentar Ali menunduk lesu, bingung harus bagaimana lagi.
"Ini bukan soal Wahyu Bang, Bahkan kalau pun Wahyu mau ikutin Ai ke Korea, Ai nggak takut. Ai cuma ...," ucap Aisyah menggantung melepas genggamannya, matanya menerawang jauh ke depan, kembali bayang-bayang Eza yang masih belum sadarkan diri menghantuinya. Teriakan Ibunya Eza yang sangat membenci dia dan Ali. Ahhh seandainya semua nggak serumit ini. Kalau dia bersikeras untuk tetap berada di samping Eza, pasti akan bermasalah dengan perusahaan Abangnya yang sahamnya sudah dibeli Eza 60%.
__ADS_1
"Terus soal apa?" tanya Ali menyerah kali ini.
"Mas Eza udah nolongin kita, Mas Eza juga udah selamatin perusahaan Bang Al kan, tapi Mamanya Bang Al nggak suka sama kita Bang ...," jawab Aisyah jujur, kembali dia harus menahan air matanya. Sial, mengingat itu rasanya Aisyah seperti sedang bermain film saja. Tapi sayang ending seperti apa kisahnya kali ini dia nggak tahu.
"Ai, Ai tahu dari mana?" wajah Ali berubah menjadi sedikit panik dengan ucapan adiknya itu. Darimana Aisyah tahu tentang Ibunya Eza?
"Ai udah ketemu sama mamanya Mas Eza, Ai nggak papa kok, Ai cuma butuh tenangin diri. Dan Ai pengen buktiin ke mamanya Mas Eza, kalau kita ini bukan preman yang bikin onar, kalau kita ini orang baik Bang." Tutur Aisyah meyakinkan Ali.
"Ai yakin?"
"Oke kalau gitu, kita pergi setelah Eza sadar." Putus Ali tapi langsung ditolak Aisyah.
"Nggak!" bantah Aisyah langsung melepas pelukannya pasang muka cemberut tanda kalau dia nggak setuju dengan keputusan Abangnya. "Besok kita berangkat!" pungkas Aisyah langsung sebelum Ali menyelanya.
"Kenapa buru-buru Ai, Ai nggak mau nungguin Eza sadar?"
"Kalau Mas Eza sadar, Mas Eza nggak akan biarin Ai pergi Bang." Pungkas Aisyah menunduk lesu, menyeka air matanya yang sempat jatuh. Aisyah samasekali nggak menyangka, pisah dengan Eza ternyata nggak enak banget. Rasanya ada yang hilang jauh di dalam hatinya. Seseorang yang dia tunggu lama, akhirnya muncul dan sekarang dia harus pergi jauh.
__ADS_1
Ali pandangi Aisyah yang menunduk lesu itu, prihatin. Belum pernah Aisyah semurung ini saat memikirkan orang lain. Dan sedalam itu juga kah perasaannya untuk Eza? Ali keluarkan sesuatu dari saku celananya, gelang buatan Eza yang bertuliskan SATU. Dia tarik tangan Aisyah dan menaruh gelang itu di tangan Aisyah. "Ini punya Ai, jadi Ai, harus simpen ya."
"SATU ... Bang Al, Mas Eza belum sempet kasih tahu Ai apa artinya SATU itu." Ucap Aisyah memandangi gelang itu, yah gelang yang sempat Aisyah kembalikan karena kesalahpahaman, gelang itu pasti akan terus mengingatkan dia tentang Eza.
"SATU itu artinya, selalu ada tempat untukmu di hatiku. Eza sendiri yang bikin singkatan itu, dan itu dia buat khusus spesial buat kamu Ai, Ai harus simpen gelang itu baik-baik." Ujar Ali dibalas Aisyah dengan anggukan kepalanya. Pelan dia kenakan gelang itu, dia elus bagian tulisan SATU. Dalam hati Aisyah berjanji akan terus pakai gelang itu, "Selamanya selalu ada tempat untukmu di hatiku."
"Ai tahu nggak lagu favorit abang?"
"Dewa 19 kan?"
"Judulnya?"
"Cinta Kan Membawamu Kembali Disini?"
"Ai mau kan percaya itu?"
***
__ADS_1