
"Kita mau kemana sih Mas? Pulang aja yuk?" rengek Aisyah gelisah menoleh kesana kemari, gimana nggak gelisah, Eza membawanya ke salah satu taman di kota yang paling sepi, kalau malam pasti akan terkesan horor. Tiba-tiba bulu kuduk Aisyah berdiri, hanya beberapa orang saja.
"Gue ini artis, kalau kita jalan-jalan ke tempat rame yang ada gue dikejar-kejar!" sahut Eza melepas kaca mata dan topi yang sedari tadi dia kenakan. Baru Aisyah sadari kalau dari tadi ternyata Eza mengenakan topi hitam, jaket hitam, dan kaca mata hitam. Kalau yang nggak melihat dia dari dekat sih nggak akan sadar kalau dia si artis paling populer di kalangan remaja saat ini.
"Terus tadi kenapa mas Eza datang ke mall?" tanya Aisyah penasaran.
Sesaat Eza diam, menghentikan langkahnya, Aisyah pun ikut berhenti, tahu kalau Eza sepertinya akan mengatakan sesuatu yang penting.
"Gue udah tahu kalau lo ada di mall hari ini." Deggg tiba-tiba seperti ada sesuatu yang aneh yang Aisyah rasa, atau jangan-jangan Eza ini ...
"Gue bukan mau culik lo, ada yang mengintai lo!" sahut Eza seperti tahu apa yang ada di pikiran Aisyah. Aisyah cuma menunduk malu, pikirannya dapat ditebak begitu mudahnya.
"Abang lo lagi keluar kan?" tebak Eza dan pasti benar.
Aisyah mengangguk lagi, Eza pun tersenyum puas. Yah dia tahu semuanya, dia tahu kalau hari ini Ali dan Wahyu sedang menemui Dimas. Tapi dia masih penasaran siapa orang-orang yang mengintai Aisyah. Sengaja Eza bawa Aisyah ke tempat ini, daerahnya. Kalau disini dijamin aman, karena taman ini sudah menjadi wilayah kekuasaan anak buah Eza.
"Sebentar lagi gue akan anter lo pulang!" ucap Eza lagi duduk di kursi taman memandangi jalanan sepi yang ada di depannya. Aisyah pun ikut duduk di samping Eza.
"Mas Eza ini siapa sih? Bang Al musuhin Mas Eza, Bang Al larang Ai buat ketemu sama Mas Eza, tapi Mas Eza cari tahu soal Ai, soal Bang Al, Mas Eza ini siapa?" keluh Aisyah menelungkupkan mukanya di kedua telapak tangannya.
"Nanti Ai juga bakalan tahu siapa Mas Eza yang ada di depan Ai ..." ucap Eza lembut mengelus kepala Aisyah lembut tepat saat sebuah sedan berwarna hitam berhenti di seberang. Satu orang keluar dari mobil berpakaian jas hitam rapih tinggi, seperti presdir-presdir orang korea.
"Tuh jemputan udah datang, yuk pulang ..."
"Mobil Mas Eza gimana?"
"Gampang, udah ada yang urus ..." ucap Eza berdiri menghampiri mobil itu dan langsung diikuti Aisyah di sampingnya.
Tanpa diperintah orang yang berjas hitam tadi langsung membukakan pintu mobil untuk mereka. Tapi sesuatu terjadi, langkah kaki Eza terhenti saat dari selatan ada motor yang melaju dengan kencangnya membawa pemukul di tangan kirinya, Aisyah yang nggak menyadari itu masih terus berjalan ke depan hendak menyeberang, dan ...
DAGGG ...
Diam sesaat, seakan waktu berhenti mendadak. Kaki Aisyah rasanya kaku banget, masih syok dengan kejadian yang begitu cepat itu, tanpa dia sadar air matanya menetes. "Mas Eza, Mas Eza ..." Aisyah hanya bisa memanggil namanya, saat laki-laki yang tadi membukakan pintu langsung mengangkat Eza memasukkannya ke dalam mobil. Tanpa diperintah Aisyah ikut masuk ke dalam. Sebelum mobil dilajukan, sempat laki-laki tadi menelpon seseorang melaporkan keadaan Eza. Eza yang melihat motor itu langsung menarik Aisyah ke belakang, tapi sayang sebelum sempat Eza menepi, pukulan keras dari orang yang menaiki motor itu tepat mengenai kepala Eza.
"Tuan Muda Eza diserang, tangkap pengendara bermotor, dia ada di taman!" perintah laki-laki itu dingin dan langsung melajukan mobilnya.
***
Harap-harap cemas Lintang menunggu seseorang di depan arena balap milik Eza tempat dia bekerja. Sesekali dia menengok arlojinya, kakinya sudah kesemutan sejam lebih berdiri di situ.
"Haduhh mas, mas kok lama banget sih ditunggu dari tadi juga, untung Mas Eza belum datang." Seru Lintang akhirnya menarik nafas lega melihat cowok yang datang dengan sepeda gunung, mengenakan jaket baseball topi hitam dan memakai masker hingga menutupi sebagian mukanya.
"Nggak ada orang kan di dalam?" tanya cowok itu dari balik maskernya.
"Nggak ada, Mas Eza, Mas Ryan juga nggak ada, kebetulan hari ini sama Pak Parno yang jaga disini, Pak Parno lagi makan di dalam." Terang Lintang pasti, sebelum keluar Lintang sudah memastikan itu semua, jadi dia rasa aman kalau dia bertemu cowok yang ada di depannya ini.
"Gimana kontrak kerja lo?"
"Sudah mas, semuanya sudah beres, sebentar lagi novel saya bakal diresmikan untuk jadi ide cerita di film kedua Mas Ali."
__ADS_1
"Bagus kalau gitu, ini ..." cowok itu memberikan Lintang selembar kertas yang sudah ada tulisan tangan berupa hal-hal yang harus dilakukan Lintang. Lintang membacanya sebentar .
"Ini apa mas?"
"Itu hal-hal yang harus lo lakuin mulai sekarang, awasin terus Ali. Mulai sekarang lo nggak usah hubungin gue, lo lakuin apa yang ada di kertas itu, gue yang bakal cari lo kalau ada sesuatu lain yang harus lo lakukan. Gue bakal terus pantau lo. Dan lo tenang aja, setiap minggu gue bakal kirimin uang buat lo. Jangan pernah lo cari gue, oke! Anggep ini pertemuan terakhir.!" Tandasnya meletakkan kaki kanannya di pedal sepeda pergi, tapi Lintang langsung menahan setir sepedanya.
"Gimana saya bisa percaya?" selidik Lintang butuh kepastian.
"Lo harus percaya, kalau sampai sedikit aja lo bikin kesalahan, lo bakal tahu akibatnya!" dia hempaskan tangan Lintang kasar dan langsung melajukan sepedanya menjauhi arena balap itu. Lintang hanya bisa diam, yah ini semua dia lakukan karena terpaksa.
***
Fahmi terus menerus mondar mandir di depan Ali. Yang punya masalah Ali kenapa harus Fahmi yang panik. Ali hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya ini.
"Bang Fahmi kenapa sih?" tanya Wahyu juga bingung.
"Kenapa???" Fahmi berhenti memandang Wahyu kesal. "Lo tanya kenapa? Ini masalah besar? Dan lo masih tanya kenapa?"
"Udah santai aja." Sahut Ali tenang, membolak-balikkan buku diktat matematika yang ada di depannya.
"Lo itu ya Al, ini masalah lo, kenapa lo santai-santai aja hah?" bentak Fahi geregetan sendiri.
"Hei, kita ini pelajar, kewajiban utama kita ya belajar, emang lo udah ngerjain PR ini?" Ali mengetuk-ketukkan bolpoinnya di atas buku diktat matematikanya. Fahmi terdiam sesaat nyengir, berteman dengan Ali sedikit membuatnya lupa kalau dia ini masih seorang pelajar. Fahmi langsung duduk di samping Ali dan mengeluarkan bukunya sendiri. Wahyu pun jadi cekikikan, tapi langsung terhenti saat ponselnya bunyi, ada sms masuk.
"Bang Al, gue pulang duluan ya, ada tetangga gue yang mau ambil motornya, tadi dititipin di rumah." Ujar Wahyu berdiri membereskan buku-bukunya sendiri.
"Masuk Bang, besok Ai biar gue yang jemput!" ujar Wahyu sudah menyalakan mesinnya melesat meninggalkan halaman rumah Ali.
"Jadi gimana rencana lo Al?" Fahmi kembali membahasnya, baru satu nomor yang dikerjakan sudah kembali panik.
"Lo tu panikan mulu jadi orang, santai aja, PR ini jauh lebih penting. Lo tahu kan horornya Bu Marni?" tanya Ali mengingatkan Fahmi dengan guru terkiller di SMA Gajah Mada.
"Ya ya ya, terserah lo deh, tuh hp lo nyala ..."
"Assalamualaikum Ai, kenapa? Apa? Rumah sakit? Lo kenapa Ai?"
***
Tangan Aisyah sudah keringat dingin, gemetaran berdiri di samping Eza yang sedang diperiksa dokter. Beberapa menit yang lalu kepala Eza sudah diperban, untung Eza cepat sadar.
"Gimana dok? Mas Eza ada yang ..."
"Eza baik-baik saja, nggak ada yang perlu dikhawatirkan ..." potong si dokter memutus kekhawatiran Aisyah.
"Yakin dok? Tapi kan tadi Mas Eza kepalanya dipukull keras banget dok, yakin kan nggak ada yang perlu dikhawatirkan?" desak Aisyah masih nampak panik, gimana dia nggak panik, sekali pukul darah langsung keluar dari pelipis Eza, dan Eza langsung ambruk. Gimana dokter bisa bilang Eza baik-baik saja?
"Gue baik-baik aja Ai, ini dokter keluarga gue mana mungkin dia bohong ..." sela Eza yang dari tadi hanya diam. Sedikit terbesit rasa senang saat Aisyah mengkhawatirkannya. "Gue cuma perlu kontrol minggu depan kan dok?" tanya Eza kali ini menatap si dokter yang menjawabnya dengan anggukan senyum ramah.
"Ya udah, terus kapan mas Eza boleh pulang?"
__ADS_1
"Sekarang!" sahut Eza langsung mengerlingkan matanya pada si dokter, agaknya memang seharusnya Eza menginap di rumah sakit, tapi gimana mungkin si dokter bisa melawannya.
"Kalau begitu, besok saya akan kontrol ke rumah kamu! Dan ingat kamu nggak boleh melakukan aktifitas yang berat dulu, biar nanti saya yang akan buat surat untuk sekolah juga manager kamu!" terang Si Dokter sebagai alternatif jika Eza nggak mau dirawat di rumah sakit. Eza hanya mengacungkan jempolnya setuju.
"Mas Eza yakin?" sela Aisyah tanpa sadar memegang lengan kiri Eza.
"Yakin 100% Ai, bahkan 1000%!" jawab Eza mantap mengerlingkan matanya.
"Ya udah, Ai bantu jalan." Pelan Aisyah membantu Eza untuk bangun dari ranjangnya. Ahh Walaupun saat ini kepala Eza masih nyut-nyutan tapi kalau di sampingnya masih ada Aisyah, semua rasa sakit itu seakan hilang. Hehehe ...
"Ai ..." panggil Eza saat mereka berjalan menuju luar rumah sakit. Aisyah merangkul tangan Eza membantunya jalan.
"Ya mas ..."
"Ada yang pengen gue kasih ke elo ..." balas Eza menghentikan langkahnya. Menurunkan tangan Aisyah dari bahunya lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeansnya. Sebuah gelang.
"Apa itu mas?" Aisyah mengerutkan keningnya heran.
"Ini martabak!"
"Apa?"
"Ini gelang Ai, masak iya martabak!" Eza mencolek pipi Aisyah gemes. Eza memasangkan gelang ke tangan kanan Aisyah.
"SATU?" gumam Aisyah membaca tulisan "SATU" di gelang itu, bentuk tulisannya unik, bagus, belum pernah Aisyah melihat yang seperti ini. Tapi kenapa Satu?"
"Suatu saat nanti lo pasti bakal tahu, kenapa tulisannya SATU." Ucap Eza mengelus gelang itu, akhirnya benda yang sudah lama Eza simpan, akhirnya sekarang dia bisa memberikannya untuk Aisyah.
"Lepasin tangan Ai!" sahut seseorang datang, menghempaskan tangan Eza dari tangan Aisyah. Yah, dia Ali. Tanpa banyak bicara, Ali lagsung menyeret Aisyah ke belakangnya.
"Gue udah bilang kan, jangan berhubungan sama dia!" bentak Ali menatap kesal Aisyah menunjuk Eza emosi.
"Mas Eza nggak ngapa-ngapain Ai Bang ..." elak Aisyah.
"Lo tu dibilangin, kalau terjadi apa-apa sama lo gimana hah?"
"Yang luka itu Mas Eza, ada yang mau nyerang Ai Bang, untung Mas Eza nyelametin Ai, Mas Eza yang kena bukan Ai ..." terang Aisyah semakin berkaca-kaca, belum pernah dia melihat abangnya semarah ini.
"Jangan salahin Ai, gue yang bawa dia." Sela Eza akhirnya, baru saja, baru saja dia merasakan ini tapi kenapa harus selalu ada masalah.
PLAKKK ...
Ali menonjok muka Eza sampai dia terhuyung ke belakang, untung saja dua bodyguard Eza sudah berada di belakag untuk menangkapnya.
"Lo mau apa hah? Belum cukup yang dulu? Lo mau ambil Ai juga?" bentak Ali murka, geram dia melihat Eza. Agaknya Ali terlalu takut hal yang sama akan terjadi pada adiknya.
"Gue nggak pernah punya niatan itu! Lo tahu itu Al, LO TAHU LEBIH TAHU DARI YANG LAIN!!!" bentak Eza balik, nafasnya langsung memburu kesal. Akhirnya luapan emosi yang selama ini dia pendam bisa ia keluarkan.
"Stop, kalian ini kenapa sih! Ini rumah sakit, nggak seharusnya kalian bertengkar disini!" potong Aisyah mencekal lengan kanan Abangnya, "Lebih baik kita pulang sekarang."
__ADS_1