Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Alex Dirgantara


__ADS_3

Question :


Kamu udah pisah sama si dia, karena alasan tertentu. Kalian masih saling sayang sebenarnya.


Kalian pisah, tapi ada saja hal yang membuat kalian bertemu lagi. Bersama lagi. Sampai akhirnya kalian benar-benar berpisah. Lama.


Akhirnya kalian memilih mundur. Mengakhiri semua.


Tapi setahun berlalu. Tanpa rencana. Tanpa berniat, kamu kembali ke tempat dimana kalian pernah bersama. Satu persatu tempat kamu datangi di bulan yang sama seperti tahun lalu. Kejadian yang sama terulang lagi. Hanya bedanya kamu sendiri, nggak bersama dia.


Satu hal yang kamu takuti. Kamu takut akan dibuat mendatangi tempat yang dulu pernah kalian janji untuk bertemu disana.


Sekali lagi kamu nggak pernah punya niatan mengulanginya lagi. Atau bahkan menemuinya lagi. Pekerjaan yang membuat kamu seolah mengulanginya lagi. Di waktu yang sama hanya beda tahun, dan tanpa dia.


_______


SATU ...


"Lo lagi nulis apa sih? Sibuk bener?" Ali menubruk bahu Eza iseng yang berhasil membuat Eza geram kesal.


"Jangan ganggu gue dulu, gue lagi buat buku untuk kita, buku diary kita ..." terang Eza menyunggingkan senyumnya saat itu, mungkin cinta membuatnya sedikit aneh. Yah Aisyah sudah berhasil membuat Eza jadi cowok brandal teraneh dengan menciptakan buku diary bersama. Ali mengerutkan kening, membaca tulisan huruf kapital besar di tengah cover depannya.

__ADS_1


"SATU? Apaan tuh?" tanyanya penasaran.


Eza berdehem, membenarkan kerah kaosnya seakan dia akan menjelaskan hal yang sangat penting di hidupnya, "Satu, S selalu, A ada, T tempat, U untukkmu ... dihatiku ..." ucapnya selesai menulis nama mereka berempat Eza, Aisyah, Ali, Bunga. Sontak Ali pun tertawa terpingkal-pingkal menepuk-nepuk bahu Eza geli.


"Karena gue yang bikin ini, gue yang akan menulisnya disini untuk pertama kali." Ucap Eza mengabaikan tawa Ali yang mengejek. Kemudian dengan terampil dia menulis sesuatu yang dia harap bisa segera terwujud, hari dimana dia akan benar-benar bertemu Aisyah, memperkenalkan dirinya sebagai Eza yang selalu membuatkannya es krim coklat.


"Jadi buku diary ini isinya tentang apa yang kita rasakan, dan apa yang akan kita lakukan nanti, lo buat Ai, dan gue Bunga?" Eza mengangguk membenarkan.


Hari itu tawa mereka begitu renyah, hangat dan sangat bersahabat. Nggak ada yang menyangka kalau hari itu adalah hari terakhir mereka bisa tertawa bersama, dan duduk bersama sebagai sahabat.


***


Kembali Ali memarkirkan mobilnya di rumah sakit, membaca nama rumah sakit ini membuat Ali merasa sangat bodoh, gimana bisa? Itu yang selalu ditanyakan oleh otaknya selama perjalanan ke rumah sakit.


"Akhirnya pulang juga ..." ucap salah satu perawat merapikan selimut yang berantakan di atas ranjang.


"Iya, kenapa dia nggak kasihan sih sama pasien lain, seharusnya kamar ini kan bisa dipakek buat yang lebih membutuhkan." Timpal perawat satunya.


"Yahh mau gimana lagi, namanya juga yang punya rumah sakit, nggak akan ada yang berani nolak permintaannya kan?"


Semakin yakin Ali dengan apa yang terjadi, buru-buru dia menuruni basement tempat parkir rumah sakit, Ali yakin pasti dia masih ada disini, belum pergi jauh.

__ADS_1


***


"Wahyu Dirgantara ... atau Alex Dirgantara?" deg, langkah Wahyu langsung terhenti seketika mendengar suara itu. Sedikit dia terkejut memutar badannya dan benar siapa yang dia lihat, "Bang Al?" Wahyu mengernyitkan kening tersenyum kaku.


"Bang Al kesini? Kenapa nggak bilang? Sorry lupa bilang kalau gue udah siuman." Terang Wahyu terlihat sangat kaku, jelas sekali dari gelagatnya.


"Gue udah tahu semua Lex, Alex Dirgantara." ucap Ali dingin, menyebut nama Alex, nama asli Wahyu. Wahyu si Mr.X yang selama ini sudah mengacaukan hidupnya, juga Aisyah dan Eza.


Sebentar Wahyu menunduk menarik napasnya dalam, mengangkat kepalanya menyunggingkan senyum jahat yang selama ini nggak terlihat.


"Akhirnya ketahuan ya?" suara Wahyu terdengar lembut tapi menimbulkan ketegangan diantara keduanya.


"Apa mau lo?" tanya Ali tajam.


"Kok lo nggak bisa santai sih Al, Ali." kembali Wahyu menyunggingkan senyum, "Udah lama rasanya gue menantikan hari ini, berhenti panggil lo dengan embel-embel BANG!" tandasnya, "By the way gue dua tahun lebih tua dari lo, Al."


"Bunga Tulip, dan sahabat itu, Bunga yang lo maksud?" tanya Ali yang mestinya nggak harus dia tanyakan, karena sudah tahu jawabannya. Kenapa begitu bodohnya dia, tertipu terlalu jauh.


Hmm tak habis fikir rasanya. Disatu sisi Ali sangat geram disatu sisi lainya, ia merasa ini juga salahnya.


Ali bukan takut akan terancam dirinya. Siapa lagi kalau bukan adiknya. Ya Abang mana yang tak memikirkan keselamatan Adiknya, jika posisinya seperti ini. Tapi bukan Ali namanya jika tidak bisa menguasai keada'an. Tetap saja sih, ada rasa gundah di gumpalan dalam yang bernama hati.

__ADS_1


***


__ADS_2