Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Pembalasan dendam Denis


__ADS_3

___


"Gue udah bilang, gue nggak tertarik, jadi stop lo sodorin gue cewek-cewek kayak mereka!" bentak Eza saat itu, sudah dua gelas pecah akibat kemarahannya, sedang Ryan nggak tahu harus bagaimana lagi. Artis pendatang baru yang notabene cantik-cantik pun ditolak mentah-mentah. Sudah dua bulan lebih sejak meninggalnya Bunga, Eza mengurung diri di kamar setelah hampir puluhan kali diusir Ali saat ingin meminta maaf.


"Sampai kapan lo mau gini terus Za, kalau lo beneran cinta sama Ai, lo harus perjuangin dia, bukan ngurung diri kayak gini!" bentak Ryan balik semakin frustasi dengan tingkah sahabatnya ini. Ryan sodorkan dokumen kontrak film terbaru yang akan Eza perankan.


"Gimana caranya hah? Ali udah usir gue berkali-kali, dia nyalahin gue atas kematian Bunga." Keluhnya lagi, saat itu pikiran Eza benar-benar keruh, rasa takut kehilangan Aisyah sudah membuatnya nggak bisa berpikir jernih.


"Kalau lo nggak bisa lewat Ali, lo harus usaha sendiri, lo tunjukin kalau lo ada Za, lo tunjukin ke Aisyah, buka mata Aisyah buat liat lo." tandas Ryan mengetuk-ngetukkan bolpoin ke dokumen itu. Dokumen tentang kontrak film baru.


Dan sejak saat itulah, Eza terus-terusan tampil di layar kaca, entah itu ftv, sinetron sampai film dilakoninya demi agar Aisyah bisa terus melihatnya.


***


Satu persatu Eza pandangi dengan tatapan dinginnya, dari Pak Kuncoro, Dimas, sampai Lintang. Sedikit Eza senang punya sahabat seperti Ryan, dengan mudahnya Ryan membawa mereka ke markas Eza.


"Udah lama nggak ketemu ya Pak Kuncoro." Ucap Eza akhirnya menyapa Pak Kuncoro tenang melempar senyum, meski begitu suasana masih saja tetap menegangkan. Pak Kuncoro hanya diam menunduk.


"Pak Kuncoro mantan anak buah kepercayaan Ayah kan, bahkan Pak Kuncoro selama ini sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri." Papar Eza menghampiri Pak Kuncoro duduk di meja depan mereka bertiga, suara Eza yang santai tapi berhasil megintimidasi mereka semua.


"Maafkan saya Mas Eza, saya melakukan ini demi ..."


"Uang ..." potong Eza menyunggingkan senyum. "Kenapa Bapak lakuin ini sama saya? Pak Kuncoro tahu semua tindakan Bapak berakibat fatal?" suara Eza semakin dalam, sinis terdengar.


"Belum ada kabar tentang keberadaan Ali juga Aisyah, Za ..." timpal Ryan setelah dapat laporan dari salah satu pengawal Eza yang baru datang.


"Tenang aja, gue tahu harus gimana." Sahut Eza melempar senyumnya, Ryan pun balas tersenyum mengangguk mengiyakan, dia tahu Eza si aktor tengil sudah kembali. Dan ini semua bisa terjadi berkat Aisyah.


"Pak Kuncoro tahu kan, kalau sekali saja saya dibohongi, buat selamanya saya nggak akan pernah percaya lagi." Ucap Eza kembali memperhatikan Pak Kuncoro. "Apa yang Bapak tahu soal Wahyu alias Alex!" tandas Eza langsung menggertakkan rahangnya, berhasil membuat Pak Kuncoro takut. Eza di keluarga besarnya memang mewarisi sifat ayah kandungnya yang keras tapi berhati lembut. Yang nggak kenal Eza pasti akan bilang kalau Eza itu cuma aktor preman yang bisanya cuma membully, tapi di balik itu semua, di usianya yang tergolong muda saat itu, sebagian besar hasil kerja kerasnya menjadi artis dia pakai untuk membuat beberapa panti asuhan untuk anak jalanan, dan hal itu hanya diketahui Ali, Ryan dan keluarga besarnya saja.


"Saya, saya ..." ucap Pak Kuncoro gaguk ketakutan.


"Apa benar, Wahyu itu anak pemilik Perusahaan Motor terkenal di Paris? Michael Dirgantara, asli orang Indonesia?" tukas Eza langsung. Saat Eza disodori foto orang bermotor yang memukul kepalanya, dia langsung tahu kalau itu motor buatan Paris, kebetulan Michael Dirgantara rekan bisnis Ayahnya yang ternyata punya anak bernama Alex Dirgantara alias Wahyu.


"Iya mas, Mas Alex memang anak dari Bapak Michael Dirgantara rekan bisnis keluarga Mas Eza ..." terang Pak Kuncoro mulai menyesali perbuatannya. Kenapa bisa dia menghianati keluarga yang sudah memperkerjakannya dan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, hanya karena terhasut bujukan Wahyu tentang uang yang melimpah kalau bersedia membantunya.


"Ehm, besok saya harap Pak Kuncoro sudah menaruh surat pengunduran diri di meja Ayah dan minta maaf sama Ayah, dan juga jangan muncul lagi di hadapan saya atau Ayah saya, saya masih akan terus mengawasi Bapak, jadi jangan melakukan hal yang semakin merugikan Bapak!" tandas Eza bangkit menghampiri Dimas, sebentar dia melirik dua pengawalnya yang ada di depan pintu. "Antar Pak Kuncoro pulang, pastikan selamat sampai rumah, dan pastikan dia nggak berhubungan dengan Wahyu atau orang lain yang berhubungan dengan Wahyu!" perintah Eza segera dilaksanakan pengawalnya.


Begitu Pak Kuncoro pergi, mata Eza beralih ke Dimas. Kali ini Dimas nggak seperti Pak Kuncoro. Dia tersenyum mengangkat dagu tinggi-tinggi menantang Eza. Tapi Eza yang dipandang malah menyunggingkan senyum geleng-geleng.


"Gue yang ngomong duluan atau lo yang ngomong duluan?" tanya Eza pelan menarik kursinya mendekat ke arah Dimas.


"Lo udah terlambat Za, Perusahaan Ali bakalan jadi milik gue, Taman Bunga juga bakalan jadi milik gue, dan satu hal yang paling gue seneng, Ali juga Aisyah nggak akan kembali buat selamanya!" koar Dimas santai tapi berhasil menyulut emosi Eza. Tangan Eza meremas keras, berusaha menahan emosinya, dia harus tenang kalau nggak semuanya akan kacau, dia harus berhasil menangkap Wahyu dan menyelamatkan Ali juga Aisyah.


"Mimpi lo, kemana aja lo selama ini hah?" cerca Eza mengambil dokumen yang ada di meja kerjanya. Eza lemparkan dokumen itu ke muka Dimas. "Gue pemilik 60% saham perusahaan Ali, jadi lo nggak akan bisa apa-apa, film akan tetap dibuat, gue yang akan jadi sponsor penuh untuk film itu, dan taman bunga tetap akan jadi milik Ali, gimana? Jelas?" Eza menaikkan sebelah alisnya puas, melihat raut muka Dimas kacau panik.


"In ni, in ni nggak mungkin, nggak mungkin!" gumam Dimas gusar.


"Makanya jangan kebanyakan tidur lo, mimpi mulu kan?" ledek Eza tertawa kecil menepuk pundak Dimas dan mencengkramnya erat, "Jadi, lo mau gimana? Kasih tahu dimana Wahyu? Siapa yang terlibat dengan Wahyu? Atau gue ngomong ke bokap lo, kalau lo terlibat dengan penculikan Ali juga Aisyah? Mereka berdua anak bokap tiri lo kan?" tawar Eza lebih ke mengancam dan berhasil. Dimas yang notabene memang pengecut langsung mengkerut mendengar ancaman Eza.


"Gu ... e gu ... e, gue cuma ..."


"Iya gue tahu lo cuma ngebantu Wahyu buat ngedapetin Taman Bunga, tapi lo tahu kalau yang diincer Wahyu, Ali kan? Lo tahu kan siapa yang ngebantu Wahyu buat menculik Ali? Nggak mungkin Wahyu bisa menculik Aisyah juga Ali dalam waktu bebarengan di tempat yang berbeda!" papar Eza semakin memojokkan Dimas, cengkraman Eza di bahu Dimas semakin keras, membuatnya merintih kesakitan.


"Gue nggak tahu soal itu! Gue nggak tahu soal penculikan itu, gue berhenti berhubungan dengan Wahyu setelah urusan gue sama dia selesai tentang sabotase sponsor film Ali!" jawab Dimas langsung buru-buru, takut kalau Eza akan melakukan hal yang membahayakannya, dan sadar Eza belum puas dengan jawabannya, dia lanjutkan memberi penjelasan, "Denis, Denis yang ngebantu Wahyu, mungkin dia juga yang ngebantu menculik mereka."


"Denis?" timpal Ryan akhirnya buka suara, keningnya berkerut mengingat-ngingat tentang Denis.


"Denis teman sekelas Wahyu?" sahut Eza juga penasaran, Dimas hanya mengangguk pasti.


"Bukan, bukan itu yang gue maksud, Denis ini apa Denis yang dulu jadi korban tawuran Ali dulu? Waktu kalian tawuran Za, masih inget?" tanya Ryan mengingatkan Eza pada tawuran yang dulu pernah dia lakukan, ada korban dari tawuran itu, tapi Eza nggak sempat melihatnya.

__ADS_1


"Denis? Namanya Denis? Bisa lo cari tahu soal dia sekarang?" pinta Eza langsung ditururti Ryan. "Jadi apa lagi yang lo tahu?" kembali Eza mengalihkan pandangannya ke Dimas yang sudah mengangkat kedua tangannya.


"Sumpah gue nggak tahu apa-apa lagi, gue cuma tahu Denis teman sekelasnya yang selama ini berhubungan sama Wahyu, yang selama ini juga jadi penghubung gue sama Wahyu." Jelas Dimas semakin ketakutan.


"Okey kalau gitu, gue lepasin lo sekarang, tapi inget gue akan terus awasin lo, kalau sampai gue tahu sedikit aja tingkah lo yang mencurigakan, gue nggak akan tinggal diam!" tandas Eza mulai geram.


"Jadi Tuan Muda, Dimas mau dilepas juga?" sela salah satu pengawalnya.


"Lo anter dia pulang, dan Lintang ..." kali ini matanya mengarah ke Lintang, satu-satunya orang yang sekarang bisa diandalkan hanya Lintang. "Bawa dia ke kantornya Ali, gue mau ngomong sama dia sekarang, disana!"


"Kantor? Tap tapi ngapain?" seru Lintang akhirnya yang sedari tadi hanya diam nggak berkutik. Beberapa menit dia komat kamit ketakutan, akhirnya datang juga giliran dia diintrogasi si Eza pentolan sekolah senior.


"Ngapain?" tanya Eza balik tersenyum sinis, "Lo pikir?"


"Gue nggak mau!" tolak Lintang lantang, yang membuat Eza langsung menatapnya kesal mengangkat sebelah alisnya.


"Mau atau nggak mau, itu gue yang putusin!"


***


Darah segar terus mengalir dari pelipis Ali, matanya kabur tapi dia masih sadarkan diri. Masih bisa dia lihat Denis yang duduk di depannya membawa tongkat baseball di tangan kanannya.


"Udah sadar Al?" gumam Denis samar-samar terdengar oleh Ali. Ali meskipun sudah nggak berdaya lagi, tapi dia masih bisa menyunggingkan senyumnya menandakan kalau dia nggak semudah itu ditaklukan.


"Lo nggak heran kenapa gue bisa jadi komplotan Wahyu?" tanya Denis kali ini mendekat menghampiri Ali, jongkok di depannya mengangkat dagu Ali.


"Lo anak yang kena hajar gue kan saat itu? Lo cuma sekedar lewat disana tapi gue yang nggak sadar udah gebukin lo, nganggep lo komplotannya Dimas." Jawab Ali datar melirik Denis. Yah Ali baru ingat saat wajah Denis begitu marah menatapnya memukulnya dengan tongkat baseball itu. Mungkin ini bagian dari hukuman yang harus diterimanya, pikir Ali. Buat dia gampang banget untuk balik menghajar Denis maupun Wahyu, tapi rasa bersalah yang dia alami selama ini sudah melumpuhkannya.


Denis melepas dagu Ali kasar, tertawa garing sarat akan kebencian, menjejakkan kakinya di pinggiran kursi tempat Ali duduk. Matanya sebentar mengitari seluruh isi gudang tua ini tempat dimana nanti Wahyu akan membalas dendamnya juga dirinya. Kesempatan yang selama ini dia nanti akhirnya datangnya juga.


"Dan lo nggak mau minta maaf?" geram Denis menggertakkan rahangnya.


"Oke, lo bener. Lo nggak perlu minta maaf, cukup dengan lo nggak ada lagi di dunia ini, itu udah impas buat gue!" Denis ayunkan tongkatnya itu hendak sekali lagi memukul kepala Ali tapi langsung terhenti saat seseorang suruhannya masuk ngos-ngosan.


"Gawat Bang, gawat!" ucapnya berantakan membuat Dion geram.


"Gawat apanya?" bentak Dion.


"Soal saham, saham 60% milik Ali sudah dibeli Eza, dan besok pembuatan film akan tetap dilakukan, dan lagi saat ini Eza sedang menunggu Bang Denis atau Bang Wahyu buat ke kantor Ali untuk membahas ini semua, kalau nggak kalian bakal kena denda karena sampai sekarang masih menyita Taman Bunga." Papar si orang suruhan Wahyu itu membuat Denis juga Ali terkejut. Eza bisa sejauh itu? Bahkan Ali nggak berpikir sampai kesitu.


"Wahyu udah tahu ini semua?" tanya Denis lagi memastikan kalau kepanikannya ini benar.


"Belum Bang, gue nggak berani bilangnya."


"Ya udah, lo disini, jagain Ali jangan sampai dia kabur, gue bakal urus semuanya."


***


Termenung. Ada yang sakit, rasanya kecewa banget. Setetes air mata Aisyah membasahi pipinya. Samasekali dia nggak menyangka, Wahyu yang dulu pertamakali dia temui di SMA Almas, sekarang benar-benar mengerjainya. Tiba-tiba saja, Aisyah merindukan sosok si mata bening tukang usil, si mata bening yang selalu jadi bodyguardnya, kenapa dia sejahat itu? Apa yang ada di pikirannya?


"Lo udah bangun Ai?" suara parau khas Wahyu terdengar begitu jelas, tapi kali ini membuat Aisyah muak mendengarnya. Ah rasanya seperti mimpi buruk saja, Aisyah berharap ini semua nggak nyata. Aisyah berharap Wahyu bukan orang jahat, Aisyah berharap semua akan membaik seperti hari biasanya.


Dengan lembut Wahyu sibakkan rambut Aisyah yang basah menutupi keningnya. Sudah dia pakaikan handuk ke bahu Aisyah.


"Kenapa?" tanya Aisyah datar menahan air matanya agar nggak menetes lagi.


"Apanya?" tanya Wahyu balik.


"Kenapa lo selametin gue? Lo yang udah jatuhin gue ke danau dan sekarang lo selametin gue?" cerca Aisyah geram dengan tingkah Wahyu yang samasekali nggak dia mengerti. Wahyu sendiri yang sudah menjatuhkannya ke danau, tapi kenapa dia juga yang menyelamatkan Aisyah?


"Lo liat ini baik-baik, lo bisa kasih salam perpisahan buat abang lo." Ucap Wahyu mengabaikan pertanyaan Aisyah. Wahyu buka laptop yang ada di depan Aisyah, menghubungkan koneksi dengan Ali yang berada di gudang sebelah gudang ini. Wahyu menyekap Aisyah dan Ali di gudang yang terpisah. Laptop pun menyala, dari situ baik Aisyah atau Ali bisa saling bertatap muka.

__ADS_1


"Bang Al, Bang Al kenapa? Muka Bang Al!" seru Aisyah panik begitu melihat Ali yang babak belur tersenyum padanya, tapi kenapa? Kenapa Ali hanya diam diperlakukan seperti itu?


"BANG AL JAWAB! Apa yang terjadi? Kenapa sama Bang Al?" bentak Aisyah akhirnya nggak tertahankan lagi, kali ini air matanya sudah deras membasahi pipinya, dan Wahyu? Wahyu hanya diam menyaksikan ini semua.


"Maafin Bang Al ya, maafin Bang Al nggak bisa jagain Ai ..." jawab Ali kaku memaksa dirinya tersenyum.


"Lo tahu kan Al kenapa gue lakuin ini?" akhirnya Wahyu buka suara mengakhiri percakapan Ali dengan Aisyah.


"Iya, gue tahu, lo mau tunjukin gimana sakitnya lo saat lihat gue yang nyelametin Bunga waktu dia tenggelam." Jawab Ali datar matanya menatap Wahyu dingin.


"Ternyata selain pentolan sekolah tukang onar lo juga cerdas."


"Tapi itu nggak akan terjadi sama Ai, Ai bukan Bunga, dan gue nggak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya!"


"Apa lo bilang?" tanya Wahyu tersenyum mengejek, "Lo bisa apa? Inget, bukan cuma Ai, tapi juga elo mati disini! Dan gue harap lo bakal segera minta maaf ke Bunga saat lo udah ada disana!" tandas Wahyu tajam.


"Iya gue mati, tapi Ai nggak akan mati bareng gue." Sahut Ali geram. Sejujurnya dia sendiri juga nggak tahu harus bagaimana menyelamatkan adiknya, yang cuma bisa dia andalkan saat ini hanya Eza. Ali berharap Eza akan segera menemukan Aisyah dan menyelamatkannya.


"Lo mau ngandelin siapa lagi hah? Eza?"


"Iya gue ..."


Hening. Wahyu dan Aisyah sama-sama menoleh ka arah pintu gudang. Senyum tengil nampak jelas saat Eza dengan santainya melambaikan tangan pada Wahyu.


"Hei Lex, gimana kabarnya?" ucap Eza tersenyum menghampiri mereka lalu menengok ke arah laptop dimana disitu ada Ali, "Hei Al, lama nggak ketemu ..." sapanya juga melambaikan tangan. Sesaat Wahyu nggak berkutik, dia terlalu syok melihat Eza tiba-tiba datang. Seharusnya Eza nggak tahu keberadaannya, semua akses baik dari mobil, gps sudah dia hilangkan, tapi kenapa bisa?


"Masih baik, akhirnya si tengil balik juga." Ucap Ali lega tersenyum dari balik sudut bibirnya yang luka.


"Owhh jelas dong, si ganteng kembali." Sahut Eza bangga menaikkan sebelah alisnya, ahhh dia hampir lupa menyapa pujaan hatinya. Eza menoleh ke belakang mengerlingkan matanya pada Aisyah yang terbengong-bengong melihatnya.


"Hei Ai ..." sapanya, tapi Aisyah masih saja diam, lega orang yang sangat amat dia rindukan selama ini, akhirnya muncul.


"Darimana lo tahu tempat ini?" sela Wahyu akhirnya mengembalikan kesadarannya.


"Ehm, emang sih gue nggak bisa melacak keberadaan lo," mata Eza kembali menatap Wahyu, "Lo hebat banget Lex, bahkan pengawal-pengawal gue nggak bisa lacak keberadaan lo, tapi ...," terang Eza menggantung menimbulkan tanda tanya di benak Wahyu juga Aisyah. "Yah mau gimana lagi kalau emang gue ini selain ganteng juga cerdas!" koar Eza menyombongkan diri sambil sesekali melirik Aisyah, memastikan kalau keadaannya baik-baik saja. Semoga keputusannya untuk masuk kesini sendirian benar, nggak salah menolak pengawalnya untuk ikut. Dia sendiri nggak tahu hal bahaya seperti apa yang akan dilakukan Wahyu kali ini.


"Gitu ya?" tanya Wahyu tersenyum sinis, "Bagus deh, jadi kalian bertiga bisa sama-sama merasakan apa yang dulu Bunga rasakan." Lanjutnya mengeluarkan senjata api dari saku celana. Aisyah yang melihat itu langsung terperanjat kaget.


Sedang Eza yang melihat itu langsung refleks bergerak membelakangi Aisyah, "Jadi main senjata lo, hah?"


"Gue denger-denger lo paling phobia kan sama yang namanya gelap?" Wahyu tersenyum sinis mengarahkan pistolnya ke arah lampu atas. Benar saja , Eza langsung gugup begitu tahu maksud Wahyu.


"Mas Eza, Mas Eza nggak papa?" gumam Aisyah panik, tapi Eza hanya diam, menatap was-was lampu yang ada di atas, dan ...,


***


PLAKKK


Hantaman keras mengenai rahang kanan Eza, tanpa bisa menghindar satu pukulan keras tepat mengenai perutnya. Eza sama sekali nggak berkutik saat satu persatu pukulan mengenainya, hanya jeritan panik Aisyah yang terdengar di gudang ini. Wahyu tanpa ampun terus saja menghajar Eza. Phobia gelap membuat Eza kalah telak. Dia nggak menyangka kalau Wahyu bisa tahu kelemahannya. Eza lupa, Pak Kuncoro lah sumber informasi Wahyu, Eza mengabaikan itu semua. Wahyu menembak lampu yang ada di gudang, dan gelap memang jadi kelemahan Eza.


Tendangan keras mengenai dadanya sampai dia tersungkur di bawah kaki Aisyah.


"Mas, Mas Eza, Mas Ezaaaaa!" teriak Aisyah panik membungkuk berusaha meraih Eza tapi ikatan di kedua tangannya terlalu kencang membuatnya kesulitan meraih Eza.


"Lo pikir lo siapa hah?" bentak Wahyu menginjakkan kakinya di pergelangan tangan kanan Eza.


"Lo nggak tahu siapa gue?" tanya Eza balik merintih kesakitan, tapi dia masih bisa tertawa meski terpaksa. "Walaupun lo tahu kelemahan gue, bukan berarti gue kalah bego!" lanjutnya masih saja bisa menyombongkan diri. Ahh memang dasar aktor brandal bin tengil satu ini. Dia memang sengaja bersikap seperti itu supaya Aisyah nggak terlalu mengkhawatirkannya.


"Lebih baik lo gunain waktu lo yang tinggal sedikit ini buat ungkapin perasaan lo sama Ai!" tukas Wahyu memindahkan kakinya dari tangan Eza. Dia ambil botol besar yang ada di dekat Aisyah berisi bensin, dia tuang isinya ke seluruh gudang lalu langsung berjalan ke arah pintu gudang. "Satu sulutan api, dan semuanya selesai!" gumam Wahyu lirih menyalakan korek gas, melemparnya ke dalam.


***

__ADS_1


__ADS_2