
"BRENGSEK, BRENGSEK LO WAHYU, LO MANUSIA YANG NGGAK PUNYA HATI, LO BISA BUNUH GUE SEKARANG, TAPI BEBASIN MEREKA, LEPASIN MEREKA!" ronta Ali geram menggoncang-goncangkan kursi yang dia duduki, emosinya langsung memuncak saat layar laptop tiba-tiba jadi gelap tepat beberapa detik saat api menyala.
"Gue udah lepasin mereka." Jawab Wahyu santai memainkan tongkat baseball yang ada di tangan kanannya, sesekali Wahyu menoleh ke arah pintu gerbang yang terbuka. Dari sini dia juga Ali bisa melihat gudang yang terbakar itu. Tapi kenapa dengan Wahyu? Ada yang aneh, kenapa sejak tadi pikirannya selalu ada Aisyah? Bahkan mungkin saat ini dia malah mengkhawatirkan Aisyah yang memang sengaja dia jebak di dalam sana dengan Eza.
"APA MASALAH LO WAHYU! Gue yang nyebabin Bunga pergi bukan mereka, lepasin mereka!" kali ini cairan bening berhasil lolos dari sudut mata Ali. Kebodohan macam apa yang sudah dia lakukan, bahkan hanya untuk melindungi adiknya sendiri saja nggak bisa.
"Lo nggak berhak buka suara Al, gue yang nentuin kali ini. Sekarang lo rasain kan gimana rasanya jadi gue? Lo bisa lihat sendiri, lo nggak bisa apa-apa saat adek kesayangan lo ada di dalam!" balas Wahyu geram, dia condongkan mukanya sedikit mendekati Ali menatapnya tajam penuh dengan kebenciannya selama ini, "Itu yang gue rasakan dulu Al, saat gue nggak bisa apa-apa, saat Bunga mengalami kecelakaan dan itu karena lo juga Eza!"
"Lepasin Ai, lepasin Eza, lepasin mereka, jangan ganggu mereka, gue mohon Wahyu!" pinta Ali masih terus memohon, tapi Wahyu masih saja tetap nggak mengacuhkannya. Hatinya benar-benar sudah mati, kebenciannya yang terlalu dalam membuat seorang Wahyu yang hangat berubah menjadi monster yang nggak punya hati, meski kadang sekelebat senyum konyol Aisyah kadang membayanginya. Entah apa yang sebenarnya dia rasa, kenapa di saat-saat seperti ini malah bayangan Aisyah bermain bebas di benaknya.
"Sorry Al, tapi gue bener-bener benci sama lo, gue nggak bisa ngebiarin lo ataupun mereka bahagia." Wahyu ayunkan tongkat itu ke atas hendak memukul Ali yang ada di depannya, saat itu entah kenapa satu persatu kenangannya bersama Bunga kembali berputar, senyum Bunga, tawa Bunga sampai semua itu beralih untuk Ali, dan berganti Aisyah? Tawa Aisyah, keusilan Aisyah dan ...
BRUUKKK
Saat pertamakali bertemu Aisyah, saat itu memang Wahyu datang terlambat. Dalam perjalanannya ke sekolah, dia bingung harus bikin alasan apalagi karena dia lupa mengerjakan PRnya, ah Fisika itu pelajaran yang paling Wahyu benci. Dulu masih ada Bunga yang selalu mengajarinya tentang Fisika, tapi ternyata? Pagi itu dia melihat gadis mungil yang sedang meminta satpam sekolah untuk mengijinkannya masuk, dan tiba-tiba saja muncul ide gila untuk mengerjai gadis mungil itu, seperti disengat hatinya, tiba-tiba saja lidah Wahyu jadi kaku saat melihat sepasang mata mungil yang ada di depannya menatapnya penuh tanda tanya, mata itu mata Aisyah gadis mungil yang pernah dia kerjai saat hari pertamanya masuk di SMA Almas, ternyata membekas di dalam hatinya, sampai saat ini.
Lintang lebih dulu memukul tekuk leher Wahyu sebelum tongkat baseball yang dia bawa menghantam Ali. Wahyu pun langsung tersungkur dengan semua kenangan tentang Aisyah yang entah kenapa tiba-tiba muncul begitu saja. Matanya mengarah ke gudang sebelah, apinya mulai dipadamkan oleh pemadam panggilan Fahmi, beberapa pengawal Eza membantu melepas ikatan Ali dan membopongnya keluar. Sedang Wahyu langsung dibawa beberapa polisi menuju ambulans. Lintang sendiri hanya terdiam kaku setelah melakukan semua ini, tatapannya datar melihat semua ini. Apa yang dirasakan Ali, Eza, Aisyah dan bahkan Wahyu, baru dia rasa.
__ADS_1
"Lintang lo nggak papa?" celetuk Ryan.
Lintang hanya diam mengangguk. Dan tanpa banyak kata juga, Ryan langsung memapahnya keluar gudang.
***
"Al, lo harus ke rumah sakit sekarang!" bujuk Fahmi pada Ali yang masih saja ngotot untuk masuk ke dalam gudang terbakar tempat Aisyah dan Eza berada.
"Lo gila hah nyuruh gue ke rumah sakit, Ai ada di dalam, gue harus nolong dia!" bentak Ali masih saja meronta masuk ke dalam, tapi dua pengawal Eza jauh lebih kuat mencekalnya. Fahmi yang melihat itu sudah frustasi sendiri, nggak tahu harus berbuat apa. Api terlalu besar, tim pemadam masih berusaha masuk mencari mereka, cuma doa yang bisa Fahmi lakukan saat ini. "Di dalam bahaya Al, tim pemadam bakal cari mereka!" bentak balik Fahmi tepat saat terdengar ledakan dari dalam, dan berhasil merobohkan Ali seketika. Matanya berkaca-kaca, jantungnya berdegup begitu cepat, bayang-bayang buruk terus menghantuinya, tangannya pun nggak berhenti gemetar. Semua mata menatap gudang yang sudah hancur setengahnya itu dengan tatapan yang nggak bisa diartikan, dua tim pemadam kebakaran muncul tanpa membawa Aisyah juga Eza, kemana mereka?
"Udah kalian lihat di semua tempat?" desak Fahmi semakin panik, Ali hanya diam menunduk nggak bergerak samasekali, "Ya Tuhan apa yang terjadi, gue harus gimana?" batin Fahmi kacau.
"Kita hanya menemukan ini." Ucap salah satu pemadam menunjukkan sebuah gelang, gelang yang bertuliskan SATU milik Aisyah.
"NGGAK, MEREKA MASIH HIDUP, MEREKA MASIH ADA DISANA, GUE AKAN CARI SENDIRI!" sergah Ali tiba-tiba bangkit beranjak masuk ke dalam tapi langsung dicegah Fahmi dan dua pengawal Eza.
"Al sadar Al, sadar!" bentak Fahmi mencekal kedua pundak Ali.
__ADS_1
"Lo diem, gue nggak bisa disini aja, gue bakal cari ke dalam!" desak Ali terus menerus meronta.
"Gue disini. Lo pikir gue mati hah?"
"Za...," gumam Fahmi dan Al bersamaan menoleh ke arah gudang. Eza terlihat menggendong Aisyah, tapi Aisyah nggak sadarkan diri memeluk erat leher Eza.
Segera dua pengawal Eza pun membantu menurunkan Aisyah untuk membawanya ke ambulans.
"Ai nggak papa kan Za?" sela Ali langsung melihat Aisyah yang dibawa ke ambulans.
"Dia cuma pingsan aja kok, lo gimana?" tanya Eza semakin lirih, matanya mulai kabur, pukulan Wahyu yang berkali-kali tadi dan juga asap dari api membuatnya terlalu lemah untuk berdiri.
"Gue baik-baik aja, thanks lo berhasil nolong Ai, Za" Ali segera menghampiri Eza tersenyum lega.
"Al, ja-di gu-e boleh kan suka sama Ai?"
"Iya, cuma lo yang bisa jaga Ai, Za."
__ADS_1