
Indah, satu kata yang selalu Wahyu ucapkan setiap melihat Bunga. Hampir setiap hari dia sempatkan waktu di sela-sela kesibukannya untuk menemui Bunga. Bahkan karena Bunga lah, kebiasaan buruknya mabuk-mabukan, merokok, dan tawuran nggak jelas langsung berhenti, hanya karena dia nggak mau Bunga merasa nggak nyaman berada di dekatnya.
Tapi hari itu, hari dimana Bunga bertemu Ali, semuanya berubah. Bunga masih sama, indah dengan senyumnya yang manis. Tapi sayang, Wahyu tahu senyum itu bukan lagi untuknya, melainkan untuk Ali. Bahkan tulip yang Bunga tanam sendiri di rumah Wahyu sudah nggak pernah lagi dia rawat semenjak mengenal Ali. Waktunya lebih sering dia habiskan dengan Ali. Semakin Wahyu kesal saat tahu, Bunga mengalami kecelakaan dan semua itu disebabkan oleh dua raja jalanan yang sangat terkenal di kota ini, Ali sang raja balap liar dan Eza si preman aktor terkenal.
Semakin sesak rasanya setiap Wahyu melihat mereka, apalagi saat ini melihat Aisyah si cewek badung tapi polos, yang nggak tahu apa-apa harus jadi bahan pelampiasannya.
"Kita kesini lagi?" suara Aisyah menyadarkan Wahyu dari lamunannya. Segera dia membayar supir taksi dan mengajak Aisyah turun. Hari sudah semakin gelap, dan disini juga semakin sepi, sesuai perkiraan Wahyu.
"Lo nggak suka?" tanya Wahyu balik mengernyitkan kening mengusap pucuk kepala Aisyah lembut. Mungkin sedikit terselip sesuatu di hatinya untuk Aisyah, tapi Wahyu harus menolaknya jauh-jauh, nggak akan ada lagi yang namanya cinta di hidupnya, apalagi dengan adik dari musuhnya.
"Bukan gitu ..." elak Aisyah jalan mendahului Wahyu menuju tepi danau, dia gosok-gosokkan kedua telapak tangannya, dingin banget dan bodohnya dia nggak pakai jaket, cuma seragam sekolah karena tadi nggak sempet masuk rumah. "Lo ngapain ajak gue kesini? Malem-malem? Gue kan belum minta ijin sama Bang Al."
"Lo tenang aja, Gue udah bilang Bang Al kok mau ngajak lo keluar malam ini." Jawab Wahyu yang jelas-jelas bohong, tapi sayang Aisyah nggak tahu itu. Apalagi melihat senyum Wahyu yang kelihatan tulus, nggak ada yang tahu kalau Wahyu ini jauh lebih bahaya ketimbang Eza yang masih suka membully adik kelas. Wahyu tarik kedua tangan Aisyah dia tiup kedua telapak tangannya hangat.
"Gue juga nggak bawa jaket, lo kedinginan?"
Aisyah hanya mengangguk bingung dengan situasi seperti ini, jarang banget seorang Wahyu yang selalu nyebelin bisa selembut ini, Wahyu pegang erat tangan Aisyah, dia tuntun Aisyah ke tepi danau sebelah selatan tempat dimana dia dulu sering memancing bersama Bunga.
"Lo lagi ada yang dipikirin?" tanya Aisyah melirik Wahyu yang matanya masih lurus menatap depan, entah apa yang dipikirkan Wahyu, Aisyah nggak bisa membacanya.
"Iya ..."
"Apa?"
"Lo ..."
__ADS_1
"Hah?" Aisyah syok seketika melepas genggaman Wahyu begitu saja, Wahyu yang melihat itu langsung tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya, lalu kembali dia raih tangan Aisyah lebih erat membimbignya duduk di kursi panjang tepat berada sangat dekat dengan tepi danau tempat Bunga dulu pernah tenggelam, dan diselamatkan Ali.
"Biasa aja kali, gue lagi mikirin tadi waktu lo belain gue, kenapa lo belain gue?"
"Yah lo kan sobatnya Bang Al, wajar dong kalau gue bela lo, lagian lo kayak gini juga gara-gara Mas Eza kan?" tanya Aisyah polos.
"I don't know!" jawab Wahyu menggidikkan bahu, "Bukan seperti ini yang sebenarnya terjadi Ai", batin Wahyu menghela napas panjang. Wahyu sengaja mengajak Aisyah untuk ke danau, dan sudah dia rencanakan mengajak Aisyah berada tepat di tempat Bunga dulu tenggelam, di situ juga tanpa Aisyah sadar sudah terpasang cctv yang terhubung dengan laptop, memungkinkan Ali yang sedang disekap Denis bisa mengawasi mereka berdua.
"Ada yang pengen lo ceritain ke gue?" tanya Aisyah lagi masih saja penasaran, dia berdiri di tepi danau memandangi kunang-kunang yang bergerombol membentuk cahaya indah di malam hari, baru kali ini Aisyah melihat kunang-kunang, dan satu kata yang muncul dari mulut Aisyah, "Indah."
"Gue punya rahasia yang harus lo tahu Ai, mungkin setelah ini lo bakal benci sama gue ..." tutur Wahyu masih duduk di kursi menopangkan kakinya membiarkan Aisyah terheran heran dengan ucapannya yang menggantung, Wahyu berharap saat ini Ali benar-benar melihatnya, dan tahu apa yang akan terjadi pada Aisyah setelah ini.
"Rahasia?" Aisyah mengernyitkan keningnya.
"Mak ... sud lo apa? Kebanyakan teka teki deh ..." tawa Aisyah garing mencoba mencairkan suasana namun sayang, Wahyu nggak sedikit pun tersenyum. Wahyu yang menyebalkan, Wahyu yang selalu usil dengan senyumnya sekarang tiba-tiba berubah dingin.
"Gue sahabatnya Bunga, seseorang yang sangat mencintai Bunga ..." deg, ucapan Wahyu ini benar-benar menyentak Aisyah.
"Apa lo mau bilang kalo lo itu selama ini cuma ..."
"Yupp betul ..." potong Wahyu tersenyum, tapi bukan senyum yang selama ini Aisyah lihat. "Lo mau sebut gue bajiingan atau apa terserah lo Ai, sorry kalo gue lakuin ini sama lo juga abang lo, Ali ..."
"Lo nyalahin Bang Al atas kematian Bunga? Semua itu kecelakaan, lo tahu itu Bang Al ..."
"IYAAA, GUE TAHU ITU!!!" potong Wahyu membentak Aisyah, "Gue tahu itu Ai ..." kali ini suaranya sedikit lirih tapi percuma, Aisyah sudah terlanjur ketakutan, tanpa dia sadar dia semakin menepi ke danau. "Tapi itu semua nggak akan terjadi kalo Bunga nggak bertemu Ali!"
__ADS_1
"Gue nggak nyangka Wahyu, lo ... " ucap Aisyah terhenti, mukanya jadi semakin panik teringat Abangnya, dimana Ali sekarang? Matanya menatap Wahyu menuntut. "Dimana Bang Al? Dimana dia sekarang Wahyu!" geram Aisyah, tapi malah dapat senyuman sinis Wahyu.
"Bukan waktunya lo mengkhawatirkan dia Ai, percuma, sekarang disini ... gue pengen ingetin lo sama sesuatu, gue pernah cerita sama lo kan soal Bunga tenggelam, disini, tepat di belakang lo, Bunga tenggelam." Mata Wahyu mengarah ke belakang Aisyah, tapi Aisyah sama sekali nggak berani menoleh ke belakang, matanya terus mengawasi Wahyu, takut kalau tiba-tiba Wahyu melakukan hal yang membahayakan dirinya. Aisyah mendengus kesal, bodohnya dia baru sadar kalau Wahyu sangat menakutkan sekarang, kenapa dia nggak percaya Eza?
"Seharusnya Bunga nggak bertemu Ali, seharusnya Ali nggak usah menolong Bunga, Bunga punya gue, dia punya gue yang selalu ada buat dia. Tapi Ali merusak semuanya. Bunga sudah memperingatkan Ali untuk nggak balapan lagi, dan lo tahu Ai, apa yang dilakuin Abang lo?" tanya Wahyu lebih bernada memperingatkan, "Ali samasekali nggak menggubris Bunga, dia tetap adu balapan dengan sobatnya itu, sobat yang lo cintai Ai ..." sekali lagi Aisyah terkejut, siapa lagi kalau bukan Eza yang Wahyu maksud.
"Apa kalau lo balas dendam, Bunga bakal balik?" tanya Aisyah memberanikan diri, dan lagi-lagi Wahyu hanya menyunggingkan senyum mengangguk membenarkan ucapan Aisyah.
"Ya ya ya gue tahu itu Ai, tapi lo nggak tahu gue, lo nggak tahu betapa besarnya rasa sayang gue sama dia! Dan ini bakal terbayarkan kalau Ali merasakan apa yang dia rasakan, kalau dia sadar nggak seharusnya dia melakukan itu semua!" tandas Wahyu mendekati Aisyah.
"Bang Al bukan orang jahat, Bang Al juga sayang sama Bunga, dia nggak akan sengaja melakukan itu semua sama Bunga, harusnya lo tahu itu, Wahyu!" tanpa Aisyah sadari air matanya sudah menetes.
"Iya Ai, gue tahu itu, tapi sayang hati gue nggak mau tahu itu, bajingan seperti Ali nggak seharusnya ada di dunia ini! Dan lo, gue harap bisa bantu Ali buat sadar kalau selama ini dia nggak seharusnya bisa hidup bebas!"
"Wahyu, lo mau apa?" tanya Aisyah gemetar, kakinya sudah hampir terpeleset ke danau.
"Gue mau, lo bantu gue bikin Ali merasakan apa yang gue rasakan Ai!"
PYURRR ...
Satu dorongan Wahyu membuat Aisyah terjatuh, membuat Wahyu teringat kejadian saat itu, saat Bunga tenggelam.
"Lo lihat ini kan Al, lo lihat pasti lihat!" gumam Wahyu tersenyum puas.
..
__ADS_1