
Aisyah mendesah, melempar tasnya ke kursi di sampingnya. Ali samasekali nggak menyentuh nasi goreng yang dibuatnya. Setelah mandi Ali langsung berangkat menuju kantor sebelum ke sekolah. Muka Aisyah masam kucel nggak karuan, dia benar-benar penasaran kenapa abangnya begitu membenci Eza. Apa salah Eza? Kalau memang Eza itu jahat, nggak seharusnya Eza menyelamatkannya kan saat itu. Geram, Aisyah tancapkan keras garpu ke telor mata sapi buatannya.
"Makanan itu dimakan, bukan dicacah!" celetuk seseorang, Aisyah semakin manyun saat tahu siapa yang datang, Si Mata Bening-Wahyu. Tanpa minta ijin Wahyu langsung mengambil alih nasi goreng kepunyaan Ali, dia sikat habis seperti seminggu belum makan.
"Abang gue kenapa sih?" tanya Aisyah mencuil pinggiran telor mata sapinya lalu dimakan bersamaan nasi goreng.
"Kenapa apanya?" tanya Wahyu balik nggak mengerti.
"Kenapa kemarin dia marah-marah mulu sih?"
"Ya lo nggak nurut!" jawab Wahyu santai. Tadi sebelum Ali berangkat sempat mereka membicarakannya.
"Tapi kan Mas Eza udah nolong gue, kalau nggak ada Eza pasti kepala gue yang berdarah!" Aisyah masih bersikeras kalau nggak seharusnya Eza dibenci.
Wahyu menaruh garpu dan sendoknya, dia tatap lekat-lekat Aisyah.
"Ada hal yang harus lo tahu." Ucap Wahyu dengan wajah seriusnya.
"Soal Abang gue?" tanya Aisyah agak curiga, kalau memang tentang abangnya, kenapa harus Wahyu yang memberitahu? Dan kenapa Wahyu tahu banyak hal tentang keluarganya? Kenapa Ali nggak kasih tahu sendiri?
"Apalagi?" Wahyu mengangkat bahunya,"Dulu Bang Al dan Eza itu sahabatan, gue tahu karena gue satu smp dengan Eza saat itu. Eza terkenal nakal banget, juga abang lo sih, makanya mereka dijuluki raja jalanan ..." Wahyu menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulut Aisyah. Seperti dihipnotis Aisyah pun menerimanya.
"Beberapa tahun lalu, Eza udah ngelakuin kesalahan yang fatal."
"Kesalahan fatal?"
"Dia udah bikin Bang Al kehilangan Bunga." Tandas Wahyu pada nama Bunga, seakan dia tahu gimana rasanya kehilangan Bunga. Seperti dia tahu seberapa berartikah Bunga itu.
"Bunga? Siapa?" tanya Aisyah ragu. Siapa Bunga? Sejak kapan Abangnya punya seseorang yang istimewa?
"Lo nggak tahu?" tanya Wahyu balik.
__ADS_1
"Bang Al nggak pernah cerita apa-apa."
"Bunga itu seseorang yang spesial buat abang lo!"
***
PYARRR ...
Eza menggertakkan rahangnya keras, gelas di depannya langsung jadi bahan amukan Eza, Ryan hanya bisa diam begitu juga dengan dua laki-laki berjas hitam yang dari tadi menjaga di kamarnya.
"Gimana ini bisa terjadi?" suara Eza memecah keheningan kamarnya sendiri.
"Kami sedang mencari tahu tuan muda, diperkirakan ini dilakukan oleh orang dalam." Jawab salah satu laki-laki berjas hitam, pengawal Eza.
"Diperkirakan?" suara Eza meninggi.
"Ada yang kita lewatkan Za, kita kelewatan sesuatu ..." timpal Ryan terdengar khawatir dengan kejadian di taman. Gimana bisa ada penyusup yang masuk di kawasan Eza, dia berniat untuk meredam emosi Eza, jangan sampai amukannya menjadi lebih parah.
"Kenapa dia Za?" tanya Ryan nggak mengerti.
"Gue ngerasa ada yang aneh sama dia, gue rasa dialah yang akan membeli saham milik pegawai di Jogja. Pokoknya lo cari tahu tentang dia, dan terus pantau perkembangan perusahaan Ali, pastikan juga kalau 40% saham perusahaannya nggak akan terjual!"
"Baik Tuan ..." sahut dua laki-laki pengawal Eza, segera mereka meninggalkan kamar Eza setelah menerima foto tadi dari Ryan.
"Kenapa lo harus curiga sama mereka berdua?" tanya Ryan lagi masih nggak paham.
"Karena gue tahu siapa Lintang, gue tahu kenapa dia kesini, jadi cari tahu siapa yang menyuruhnya kesini, dia mulai kerja di tempatnya Ali juga kan?" Ryan hanya mengangguk mengiyakan.
"Ali dalam bahaya, cuma itu yang bisa gue pastikan, dan juga Aisyah dia juga dalam bahaya, lo harus kirim orang buat terus mengawasi dia."
***
__ADS_1
Lintang menggeleng-gelengkan kepalanya, berkacak pinggang melihat sepedanya sendiri emosi. Hampir sepuluh menit dia berdiri di depan sepeda barunya di parkiran. Bingung gimana caranya mengunci sepedanya sendiri.
"Gimana sih ini?" gumamnya jongkok memegangi kunci spiral yang melilit di bawah sedel sepedanya.
"Bodoh banget sih lo." Celetuk seseorang berdiri di sebelah Lintang, memasukkan kedua tangannya di saku celana, kemudian ikut jongkok dan meraih kunci spiral sepeda Lintang. Dia masukkan salah satu ujungnya ke lubang yang ada di ujung lain, dia kaitkan itu tadi di roda sepeda.
"Gini aja lo nggak bisa?" tanyanya lagi, tapi Lintang hanya diam nggak berkutik, nggak menyangka kalau tiba-tiba dia disini, Ali. Yah Ali sang pentolan sekolah, seseorang yang sedang dia awasi, kenapa tiba-tiba ada di sebelahnya.
"Lo nggak mau bilang makasih?" ucap Ali lagi menjentikkan jarinya di depan muka Lintang, Lintang pun langsung terkesiap.
"Mak ... kas ..sih Mas Al ... Li ..." ucap Lintang lirih gugup.
"Siang ini lo ke kantor!" Ali beranjak berdiri mengibaskan tangannya di belakang celana dan beranjak pergi meninggalkan Lintang yang terbengong-bengong dibuatnya.
***
.
Aisyah hanya diam, merebahkan kepalanya di meja setelah pelajaran Fisika selesai. Jam istirahat yang biasanya membuat Aisyah semangat pun kali ini diabaikannya begitu saja. Wahyu yang melihatnya heran, duduk menghadap Aisyah dan memijat pundak Aisyah lembut.
"Lo kenapa sih hah?" tanyanya pelan.
"Nggak papa ..." jawab Aisyah tanpa sedikit pun menoleh ke arah Wahyu.
"Kita ke kantin sekarang ..." pinta Wahyu, tapi tangannya langsung dihempaskan dari pundak Aisyah. Aisyah mengangkat kepalanya, memandang Wahyu lesu,"Gue lagi nggak mau kemana-mana, lo pergi aja sendiri, Bang Al lagi butuh lo kan?" tanya Aisyah dingin, sebentar Wahyu terlihat kaget tapi langsung tersenyum.
"Lo cemburu ya?" goda Wahyu tapi nggak mempan, Aisyah samasekali nggak tersenyum.
"Ya udah lo di kelas aja, ntar gue bawain makanan!" ucap Wahyu akhirnya mengelus kepala Aisyah sebelum pergi meninggalkan kelas.
***
__ADS_1