
Hampir sepuluh menit Wahyu berdiri di sebelah Fahmi mengawasi Ali. Dari pertama sampai di kantin Ali langsung membuka buku diktat Biologi dan mengerjakan soal-soal UAN tahun kemarin. Bahkan nggak cuma Fahmi dan Wahyu, tapi hampir semua murid yang ada di kantin heran melihat Ali. Sambil menikmati gado-gado pesanannya dia terlihat begitu semangat mengerjakannya. Jauh beda dengan Ali kemarin-kemarin. Kali ini Ali lebih mirip murid teladan sungguhan.
"Apa ini gara-gara 40% saham itu?" akhirnya Wahyu memulai pembicaraan.
"Gue nggak yakin Ali stress cuma karena masalah itu." Fahmi menarik kesimpulannya sendiri, agaknya Ali memang punya rencana sendiri untuk mengatasi masalahnya. "Kemarin gue baru dapat kabar, kalau beberapa hari yang lalu, sebelum kalian menemui pegawai di Jogja, calon pembeli saham itu sudah mengunjungi mereka." Terang Fahmi untuk kedua kalinya. Tadi pagi saat bertemu Ali di depan kelas, fahmi langsung menceritakan informasi yang dia dapat.
"Apa yang bakal dilakukan Bang Al?"
"Gue rasa Ali bakal nunjukin ke mereka kalau pembuatan film pertama ini akan membuat mereka membatalkan niatnya untuk menjual saham."
"Apa itu mungkin?" tanya Wahyu meragukan.
"Just see ..."
"Mau sampai kapan kalian berdiri di sana hah?" celetuk Ali mengagetkan Fahmi dan Wahyu. Saling pandang, ragu mereka berdua duduk di depan Ali. Saat mereka berdua duduk, Ali pun langsung menutup bukunya, memasukkannya ke dalam tas.
"Lo udah punya rencana?" tanya Fahmi ragu.
"Besok gue mau ke Jogja, pembuatan film akan dimulai minggu depan, Fahmi ..." kali ini matanya menatap Fahmi, "Lo persiapin semuanya bareng sama Lintang ..."
"Lintang?"
"Kenapa harus Lintang?"
"Karena Lintang sedang diselidiki Bang Al, apa dia ada hubungannya dengan Dimas atau bahkan Eza." Sela Wahyu menjelaskan apa yang dia simpulkan. Kurang lebih seperti itu pemikiran Ali menurut Wahyu. Dan that's right Ali pun tersenyum mengangguk setuju mengacungkan dua jempol untuk Wahyu.
"Dan lo Wahyu sama Denis cari tahu siapa yang mau celakain Aisyah."
***
"Hari ini lo mau kemana dulu?" tanya Wahyu jalan di samping Aisyah. Kali ini Wahyu nggak perlu mengejar Aisyah, karena langkah Aisyah malah jauh lebih lamban dari putri solo dan otomatis menuju parkiran motor, nggak kabur seperti biasanya.
"Mau pulang aja ..." jawab Aisyah pendek tanpa menoleh ke samping, kepalanya terus menunduk menendangi kerikil-kerikil yang ada di depannya. Pikirannya kosong.
__ADS_1
"Mau nggak gue ajak ke suatu tempat?" sela Wahyu lagi memandangi langit di atasnya, agak mendung semoga nggak hujan.
"Kemana?" akhirnya Aisyah berhenti menoleh lesu ke arah Wahyu yang sudah nyengir. Tanpa menjawabnya, Wahyu langsung menarik tangan Aisyah ke motornya. Dia lajukan motornya meninggalkan sekolah, sekilas sebelum keluar dari gerbang Aisyah sempat melihat mobil Eza. Kenapa Eza datang ke sekolah?
"Kita mau kemana?" teriak Aisyah di sela deru motornya.
"Ntar juga lo tahu!" balas Wahyu juga berteriak dari balik helmnya. Motor terus melaju memasuki hutan yang mulai sepi, di sana ada sebuah danau yang sering Wahyu datangi, tempat ini dekat sekali dengan bukit, yah bukit dimana ada sebuah taman, namanya TAMAN BUNGA milik Bunga kekasih Ali yang beberapa tahun lalu meninggal.
Wahyu menghentikan motornya di tepi danau. Aisyah pun langsung turun mengikuti Wahyu yang duduk di kursi kayu di dekat pohon cemara di sisi barat danau.
"Dulu abang lo sering kesini ..." Wahyu mulai memutar kembali memori itu, sedikit senyum simpulnya, mimpi buruk. Wahyu selalu berharap waktu bisa diputar kembali.
"Lo tahu lagi soal dia." Aisyah tersenyum kesal.
"Gue ketemu abang lo disini."
"Kenapa lo ngajak gue kesini?"
"Disini abang lo selametin nyawa seseorang, Bunga namanya. Bunga hampir saja tenggelam saat mau mengambil liontin milik orang tuanya, dia lupa kalau nggak bisa renang." Aisyah langsung menoleh, terlihat terkejut.
"Terus lo?"
"Gue kebetulan datang ke TAMAN BUNGA, sejak saat itulah gue kenal mereka berdua, Ali, Eza." Sepintas Aisyah mengerutkan kening, agak terasa aneh. Dari banyak hal yang diceritakan Wahyu, samasekali abangnya nggak pernah bercerita padanya.
"Jangan-jangan lo itu adiknya Bang Al yang ketuker sama gue ya?" Aisyah menyipitkan mata menunjuk pipi Wahyu.
"Ngawur, mereka bertemu setelah orang tua kalian bercerai, dan kecelakaan Bunga di arena balap milik Eza, itu menjadi pukulan terberat Bang Al untuk kedua kalinya, mungkin karena itu dia nggak mau cerita sama lo."
Diam sesaat. Aisyah menunduk merenungkan semua omongan Wahyu.
"Bang Al lagi ada masalah kan?" Wahyu mengangguk pasti.
"Apa yang bisa gue bantu?"
__ADS_1
"Ada, ini ..." Wahyu meletakkan selembar kertas ke tangan Aisyah.
"Bikin promosi?"
"Yup, minggu depan pembuatan film pertama Bang Al, film ini harus dapat dukungan banyak pihak juga harus mendapat banyak untung seenggaknya jangan sampai mengalami kerugian. Gue tahu lo pasti bisa atasi ini kan?" tanya Wahyu melempar senyum sambil mengusap pucuk kepala Aisyah, sengaja dia nggak menceritakan soal saham.
"Gue pasti bakal bantu Bang Al, gue pasti bakal bantu Bang Ali."
***
Mata mereka saling menatap tajam. Tapi Eza nggak tahu apa yang ada di pikiran orang yang ada di depannya itu. Sesekali Eza memijat pundaknya sendiri, pukulan kemarin di kepala ternyata menjalar juga sampai pundak.
"Jadi, sampai kapan Bapak Kepala Sekolah alias bapak saya sendiri ngomonggggg!!!!" desak Eza kesal mengetuk meja di depannya keras. Yah saat ini dia sedang berada di ruang kepala sekolah SMA Almas, tanpa ada yang tahu kalau kepala sekolah di depannya ini adalah ayah angkat Eza. Hmmm ...
"Suap." Satu kata keluar dari mulut Kepala Sekolah.
"Suap?"
"Calon pembeli saham, Lintang, Pengendara motor itu, itu semua dilakukan oleh satu orang ..."
"Berarti bukan Dimas?" tanya Eza menyimpulkan.
"Ya jelaslah anak bodoh itu, mana mungkin Dimas? Kamu tahu sendiri walaupun Dimas itu hobi tawuran, mabuk-mabukan, apa mungkin dia seberani itu?" tanya Kepala Sekolah, Eza mengangguk mengiyakan, mengingat kembali semua tentang Dimas. Dimas itu kalau diibaratkan seperti balita yang beraninya cuma koar-koar.
"Jangan-jangan dia?" Eza menjentikkan jarinya, tepat saat kepala sekolah tersenyum mengangguk. "Kok papa bisa tahu?"
"Itu tugas kamu buat menyelidiki dia, dan satu lagi, sebaiknya kamu harus segera menyadarkan Ali, sebelum dia semakin jauh membenci kamu."
"Ituuuu, yang susah pa, gimana caranya?" Eza memegang kepalanya yang dibalut perban erat, bingung gimana caranya membantu Ali kalau Ali masih saja membencinya.
"Kamu itu juga bodoh, hobi kamu kan selalu pakai uang, kenapa nggak pakai uang kamu untuk membantu Ali, buat jaga-jaga, permainan bisnis ini. Kalau dia bisa menyuap banyak orang, kamu juga bisa pakai kekuasaanmu buat bantu Ali."
Sesaat Eza hanya diam, meminum secangkir kopi milik kepala sekolah begitu saja tanpa permisi. Dasar anak badung.
__ADS_1
"Ya ya ya, kelihatannya Eza emang harus turun tangan sejauh itu sebelum membuktikan kalau dialah dalangnya."
***