
"Heiii, ayoooo berangkat!!!!" teriak Amel teman smp nya Aisyah saat itu geregetan, karena sudah hampir dua jam lebih Aisyah masih saja nonton ftv kesukaannya. Padahal rencananya mereka mau jalan-jalan ke mall.
"Bentar lagi juga selesai Mel, nanggung nih, gue nggak boleh kelewatan nonton ftv nya Eza, lo liat deh baik-baik ..." celoteh Aisyah menunjuk-nunjuk tv nya sendiri tepat pada muka Eza, seakan dia akan menganalisa wajahnya dengan seksama, "Dia ini jago banget aktingnya, mau karakter kayak apa juga dia bisa. Auranya itu lho, apalagi kalau perannya jadi cowok tengil, kerennnnn ..." puji Aisyah mengumbar senyumnya. Nggak tahu kenapa sejak kemunculan Eza di tv, Aisyah langsung terpesona. Senyumnya, matanya, alisnya saat diangkat sebelah, bahkan suaranya sudah berhasil bikin Aisyah klepek-klepek. "Apalagi kalau perannya jadi cowok dingin, duhhh abang gue yang kata lo gantengnya nggak ketulungan aja lewat dah!"
Amel cuma bisa geleng-geleng melihat tingkah Aisyah itu, dia langsung mematikan tv setelah ftv nya selesai dan menarik tangan Aisyah keluar. Saat itu, yahh saat itu Aisyah pernah sekali saja berharap, suatu saat nanti bisa bertemu dengan dia si aktor favoritnya.
"MAS EZA ...." teriak Aisyaah tiba-tiba sadarkan diri. Napasnya memburu mencengkram erat lengan Ali yang sedari kemarin menungguinya.
"Ai, Ai tenang Ai ...,"
"Dimana Mas Eza Bang?" desak Aisyah melihat sekeliling yang serba putih, baru dia sadar kalau dia masuk rumah sakit, mungkin setelah kejadian di gudang itu, tapi dimana Eza? Apa dia baik-baik saja? Baru saja Aisyah ingin duduk tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
"Auchhh ...," keluhnya memegangi kepalanya sendiri, dengan tangan masih menggenggam erat lengan Ali.
"Ai tenang ya, Eza baik-baik aja kok." Ali usap pucuk kepala adiknya itu pelan menenangkannya. Baru Ali sadari, kalau adiknya benar-benar peduli sama Eza, seandainya dia sadar dari dulu, mungkin Aisyah juga Eza nggak akan menderita seperti ini.
"Gimana keadaan Mas Eza? Dia baik-baik aja kan?" sekali lagi Aisyah menangis, kejadian saat itu benar-benar membuatnya takut, apalagi saat melihat Eza dihajar Wahyu. Dia tahu baik abangnya juga Eza memang brandal, tapi kalau buat mengalami semua kejadian seperti ini, di luar bayangannya
"Dia ada di kamar sebelah Ai, Ai mau liat?" tawar Ali mengelus pipi adiknya lembut.
"Mau Bang, Bang Al gimana? Bang Al ada yang sakit?"
"Bang Al nggak papa kok, cuma lebam dikit aja." Ali nyengir sendiri melihat adiknya yang begitu panik. Keadaannya sendiri saja masih belum baik-baik malah mengkhawatirkan orang lain. Dibantunya Aisyah berdiri, memapahnya ke ruangan Eza dirawat, sejak dua hari yang lalu Eza juga Aisyah memang nggak sadarkan diri setelah keluar dari gudang. Untuk Eza mungkin phobia akan gelap mempengaruhinya, dan Ali juga heran kalau Eza ternyata bisa bertahan. Padahal dulu mati lampu cuma 10 menit saja paniknya bukan main, kalau terlalu lama, parahnya Eza bisa pingsan. Mungkin ini kali ya yang dinamakan kekuatan cinta.
"Mas Al ...," celetuk seseorang dari belakang mereka saat akan masuk ke ruangan Eza. Ali tahu betul suara siapa itu, bersamaan Aisyah dan Ali menoleh. Wajah kurus pucat pasi terlihat jelas, hampir dua hari ini juga dia nggak mau istirahat. Kejadian seperti ini sedikit mengingatkan Ali pada Bunga saat semalaman menjaganya yang sedang sakit karena demam.
"Lintang, lo ...," gumam Aisyah sedikit merasa nggak nyaman dengan kehadiran Lintang. Gimana bisa dia bisa merasa nyaman kalau ternyata Lintang ini suruhan Wahyu?
"Ai, Ai masuk dulu ya ke dalem, Bang Al mau ngomong sama Lintang." potong Ali buru-buru, dia tahu pasti Aisyah akan memarahi Lintang yang notabene adalah suruhan Wahyu. Karena dia juga belum tahu, kalau Lintanglah yang telah menyelamatkan Abangnya ini.
"Tapi Bang ...," rengek Aisyah kembali manja memegangi ujung bawah kaos Ali.
"Nggak papa, dia yang udah nolongin Bang Al, Ai masuk dulu ya."
"Nolongin Bang Al? Kok bisa?" cerca Aisyah masih nggak terima dengan pernyataan Abangnya itu. Dan Ali dengan sabarnya memegang kedua pipi adiknya itu, dia tatap hangat mata mungil adiknya sambil menempelkan dahinya ke dahi Aisyah setiap kali Aisyah marah, dan dia ingin menenangkannya.
"Ai, sayang, Lintang yang udah nolongin Bang Al, kalau Lintang nggak ada hari ini mungkin Ai nggak akan liat Abang." Terang Ali lembut mengurai senyumnya. Diam-diam Lintang memperhatikan Ali, senyum Ali memang selalu mempesonanya sejak awal mereka bertemu. Dalam hati Lintang terus merutuki dirinya sendiri, gimana bisa dia nggak punya hati, mau saja membantu Wahyu buat hancurin Ali.
"Tapi Bang, gimana mungkin, Lintang itu kan ...," elak Aisyah langsung dipotong Ali.
"Nanti Bang Al ceritain, tapi kali ini ijinin Abang buat ngobrol sama Lintang, okey?"
Aisyah diam sesaat merenungkan omongan Ali, sekali dia menoleh ke arah Lintang yang menunggui mereka, lalu melepas genggaman Ali dari pipinya, "Ya udah, Ai masuk ke dalam, tapi Bang Al harus jaga diri ya?"
__ADS_1
"Yupp pasti, thanks ya sayang!" tukas Ali akhirnya, mengelus pucuk kepala Aisyah, sembari membukakan pintu ruang Eza untuk Aisyah.
***
Untuk beberapa saat, Aisyah hanya diam berdiri mematung melihat Eza yang terbujur kaku. Tanpa Aisyah sadari, dia tersenyum sendiri tiba-tiba mengingat pertama kali mereka bertemu. Kesan buruk saat Eza membully ternyata bukan jadi kenangan buruk untuk Aisyah. Bagi Aisyah, Eza tetaplah aktor favoritnya, yang selalu dia kagumi. Rasanya seperti mimpi, kalau Eza itu ternyata sahabat abangnya, dan semakin Aisyah nggak percaya bahwa Eza lah yang menyelamatkan dirinya.
Eza yang suka becanda menggodanya, Eza yang masih saja menyombongkan diri saat berhadapan dengan Wahyu, kali ini dia hanya bisa diam, tertidur. "Mas Eza, kapan bangun, Ai kan belum bilang makasih." gumam Aisyah lirih menahan air matanya menetes. Perlahan dia hampiri Eza, dia sentuh punggung tangan Eza dengan ujung jarinya, "Mas Eza kan rajanya preman, kok masih tidur aja, Mas Eza nggak mau lihat Ai?" gumamnya lagi kali ini setetes cairan bening berhasil lolos juga tepat jatuh di punggung tangan Eza. Aisyah goncang tangan Eza pelan dengan jari telunjuknya berharap dia bangun, tapi tetap saja Eza masih belum bangun, semakin Aisyah berusaha membangunkannya semakin dia nggak bisa menahan air matanya sendiri.
"Mas Eza bangun, Mas Eza nggak boleh sakit, Mas Eza bangun!" Sesenggukan Aisyah menelungkupkan mukanya di atas tangan Eza, seakan dia nggak mau melepasnya. Nggak untuk kedua kalinya, seharusnya dia percaya Eza, seharusnya saat itu dia ikut Eza, seharusnya dia nggak boleh melepas tangan Eza setiap kali Eza meraihnya.
"Jadi kamu yang udah sebabkan Eza jadi gini?" suara seseorang mengagetkan Aisyah, buru-buru dia mundur dari Eza, tapi baru Aisyah berdiri, siempunya suara sudah mendorongnya kasar.
"Ma, jangan gitu ma. " cegah laki-laki yang bersamanya, baru Aisyah sadari mungkin mereka ini orang tua Eza. Dan yang mendorong Aisyah itu, dia ibunya Eza. Terlihat Ibunya Eza langsung menghambur memeluk Eza menangis sejadi-jadinya. Melihat itu semua, nggak tahu kenapa tiba-tiba terbesit bayangan Aisyah tentang ibunya, beruntung banget Eza masih punya Ibu yang memperhatikannya. Mungkin wajar, seorang Ibu yang khawatir dengan anaknya yang bergaul dengan anak yang nggak dapat didikan orang tua seperti dirinya. Cap Preman Sekolah yang dipegang Abangnya siapa yang nggak tahu. Dulu Ali pernah cerita kalau Ibu sahabatnya paling nggak suka Ali bergaul dengannya, dan mungkin sahabat yang selama ini dimaksud Ali ya Eza ini.
"Sayang kamu kenapa nak? Bangun sayang."
"Ma, Eza nggak papa, dia pasti akan sembuh." bujuk suaminya memegangi pundak sang istri, tapi langsung ditepis kasar.
"Eza nggak akan jadi gini kalau dia ...," ibunya menatap Aisyah tajam, Aisyah pun langsung menunduk takut, nggak berkutik. Kenapa jadi gini? Tangan Aisyah gemetaran memegangi handle pintu kamar mandi.
"Gara-gara kamu Eza jadi gini, nggak seharusnya dia urus kamu, kamu itu siapa hah? Keluarga preman yang hobinya bikin keonaran!" bentak ibunya lagi, tapi Aisyah cuma bisa diam nggak tahu harus bagaimana lagi selain sesenggukan. Ayah Eza yang nggak tega melihat Aisyah pun langsung menghampirinya memegang kedua pundak Aisyah. Beliau tahu siapa Aisyah, gadis yang membuat Eza selalu tersenyum setiap membuat es krim coklat. Beliau juga tahu, anaknya selalu menganggap Aisyah orang terpenting di hidupnya.
"Aisyah, kamu keluar dulu aja ya, mamanya Eza saat ini cuma lagi emosi, nanti kalau Eza sudah sadar, kamu jenguk dia!" bujuknya lembut, Aisyah hanya mengangguk mengikuti ayahnya Eza yang memapahnya keluar ruangan. Sebentar Aisyah menoleh ke Eza yang belum juga sadar, dia cuma berharap kalau Eza nggak akan mendengar pertengkaran barusan. Sudah cukup dia membuat Eza khawatir tentangnya. "Mas Eza nggak boleh menderita lagi ya." batin Aisyah, menutup pintu.
Untuk beberapa menit mereka hanya saling diam, Lintang yang masih menunduk ragu ingin mengawalinya, sedang Ali yang duduk diam melipat tangan di dada dan terus memberi tatapan dinginnya itu pada Lintang. Saat ini mereka ada di kantin rumah sakit lantai dua, sengaja memilih tempat di balkon agar lebih leluasa membicarakan masalah mereka berdua. Masalah? Masalah tentang apa ini? Kenapa tiba-tiba Ali bingung sendiri, sebenarnya apa yang dia khawatirkan dari Lintang? Ali berdehem menjernihkan pikirannya yang carut marut itu. Mungkin penculikan kemarin sudah membuat seorang Ali jadi nggak berkutik. Seharusnya kalau sesuai dengan tipikal Ali, dia nggak akan memaafkan siapapun yang mengkhianatinya. Mungkin pengecualian untuk Wahyu yang notabene adalah sahabat Bunga. Ali memang memutuskan untuk membiarkan Wahyu dibawa orangtuanya kembali ke Paris. Tapi kalau Lintang? Ahhh, Ali geram sendiri dibuatnya.
"Mas Al ..., " gumam Lintang memberanikan diri menegakkan kepalanya pelan, meski suasana di kantin cukup ramai, kenapa di saat bersama Ali, Lintang selalu merasa kalau mereka hanya berdua, dan dia harus waspada kalau-kalau Ali akan melakukan hal yang nggak diinginkan. Meski Lintang tahu, Ali sebenarnya orang baik, tapi aura Ali terlalu menakutkan untuknya. "Mas Al, nggak papa kan?" lanjutnya ragu, gugup meremas kedua tangannya sendiri yang berada di pangkuan. Dua hari dia terus-terusan menunggui Ali di depan ruang rawatnya, bahkan hanya untuk pergi makan pun enggan. Dia akan merasa sangat bersalah sekali kalau terjadi apa-apa pada Ali.
"He'em ..." gumam Ali tanpa sedikit pun merubah ekspresi mukanya yang dingin.
"Ini naskah skenario film yang sudah saya selesaikan ..." Lintang menyodorkan map kuning pada Ali. "Juga semua hal yang harus saya kerjakan semuanya sudah selesai, jadi kalau saya pergi Mas Al nggak perlu repot lagi cari pengganti saya." Terangnya lagi, kali ini Lintang kembali menunduk. Saat ini Lintang sangat amat berharap, mendengar satu saja kata dari mulut Ali. Tapi untuk beberapa saat Ali hanya diam saja, dia lirik map yang kali ini ada di depannya lalu kembali menatap Lintang, si gadis mungil yang selalu membuat dia ingin melindunginya.
"Kalau gue nggak salah inget, kontrak lo belum habis kan?" tanya Ali akhirnya buka suara mengernyitkan kening, meminggirkan map itu dari hadapannya pelan.
"Iy ... iya mas, tapi setelah kejadian ini, saya rasa saya nggak akan bisa kerja bareng Mas Al lagi."
"Kenapa? Lo harus inget ya, berapa denda yang harus lo bayar kalau lo pergi sebelum kontrak selesai?" tandas Ali sengaja menakut-nakuti Lintang. Dan berhasil, Lintang langsung mendengus kesal saat diingatkan tentang kontrak yang sudah dia tandatangani. Semestinya ini kan jadi tanggung jawab si Mr.X alias Wahyu kan?
"Tapi Mas, Mas Al juga pasti nggak nyaman kerja bareng saya, jadi saya kira Mas Al mau saya segera pergi dari perusahaan."
"Kapan gue ngomong gitu?" Sontak Lintang mengangkat kepalanya memandang ekspresi datar di depannya ini penuh tanda tanya. Apa ini reaksi wajar yang ditunjukkan seorang pentolan sekolah setelah dikhianati?
"Tap pi Mas, kan saya udah ...,"
__ADS_1
"Keputusan ada di tangan lo, lo berhenti, bayar denda ke perusahaan gue, atau selesaikan tugas lo sampai kontrak abis!" Potong Ali langsung, sedikit dia tersenyum tapi langsung disamarkan. Sudah lama rasanya Ali nggak mengerjai orang seperti ini. Samasekali dia nggak menyalahkan Lintang atas semua yang terjadi, Ali tahu kenapa Lintang mau menuruti permintaan Wahyu. "Gimana?" tanya Ali lagi mengernyitkan keningnya mengamati ekspresi Lintang yang gelisah itu.
"Ehh, ya udah mas, saya bakal lanjutin kontrak ini sampai selesai." Putus Lintang akhirnya ditanggapi Ali dengan anggukan kepalanya yang khas, nggak tahu kenapa setiap gerak gerik Ali selalu mempesona kaum hawa, kecuali satu orang, yah adiknya sendiri.
"Bagus, kalau gitu ini, lo bawa lagi, minggu depan lo gabung sama yang lain!" Ali melempar kembali map kuning berisi naskah skenario itu agak kasar dan langsung diterima Lintang. Lintang yang sedikit atau mungkin sangat takut dengan sikap dingin Ali, buru-buru berdiri berniat pergi. Tapi langsung terhenti saat pertanyaan Ali sedikit mengejutkannya.
"Kenapa lo nolongin gue?" tanya Ali langsung masih dengan posisi duduknya tadi, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Lintang yang sudah berdiri membelakanginya.
Sebentar Lintang terdiam, tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Dia keluarkan sebuah buku dari dalam tasnya dan menaruhnya di depan Ali.
"Mas Eza mengajak saya ke kantor Mas Al, dia nyuruh saya buat baca diary kalian. Dan disitu saya menemukan banyak hal yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, tentang Mas Al yang begitu sayang sama Mbak Bunga, Mas Eza yang begitu peduli dengan Aisyah ... dan ..."
"Cukup ..." potong Ali langsung nggak berminat mendengar penjelasan Lintang. Terlalu sakit kalau harus mengulang kisah itu lagi. Cukup kisah itu hanya di buku. "Thanks lo udah nolongin gue, sekarang lebih baik lo pulang istirahat!" pinta Ali dingin sarat akan memerintah Lintang untuk meninggalkannya sendiri.
Nggak lama setelah Lintang pergi, Fahmi datang menghampirinya dengan membawa beberapa berkas kantor. "Al lo baik-baik aja kan? Kalau lo lagi nggak sehat, ini bisa kita selesaikan besok." Ucap Fahmi langsung begitu mendapati Ali diam tanpa ekspresi yang bisa dijelaskan. Apa mungkin ada yang aneh dengan otak Ali setelah dipukul kemarin? Ahhh Fahmi menggeleng keras membuyarkan lamunannya yang nggak jelas itu. Mana mungkin pentolan sekolah jadi aneh gini? Nggak masuk akal!
"Nggak, gue nggak papa, kita cek sekarang aja, kasihan Eza, selama ini dia udah ngurus perusahaan buat gue, sekarang gantian gue yang turun tangan kan?" tanya Ali melempar senyumnya membuat Fahmi sedikit terperanjat dibuatnya. Agak ragu Fahmi memberikan berkas-berkas itu pada Ali.
"Oh ya Mi, soal Denis gimana?" tiba-tiba saja Ali teringat Denis.
"Denis?" tanya Fahmi balik bingung.
"Iya Denis, dia kan yang kasih tahu Eza dimana keberadaan gue?"
"Owhh itu, iya ...," Fahmi menganggukkan kepalanya, baru tahu apa yang Ali maksud. "Iya emang Eza yang pancing Denis buat datang ke kantor. Dan sesampainya di kantor, Eza mengatakan semuanya. Tentang lo yang bantu keluarga Denis di kampung, tentang lo yang ngurusin pemakaman ayahnya saat itu. Dan sampai sekarang lo masih ambil tanggungjawab itu." Jelas Fahmi apa adanya sambil membayangkan ekspresi Eza saat itu, si preman yang selalu berhasil mengintimidasi orang dengan ucapannya. Kalau masalah adu jotos Ali ahlinya tapi kalau masalah menakut-nakuti orang lewat ancaman, yah Eza lah jagonya. Tanpa sadar Fahmi senyum-senyum sendiri memikirkannya. Memang nggak ada gantinya dua pentolan sekolah ini.
"Dasar Eza, selalu gitu!" omel Ali juga ikut tersenyum mengangguk seakan dia bisa membaca pikiran Fahmi tentang Eza. "Oh iya, Ai masih di kamarnya Eza?" tanya Ali kali ini sudah memfokuskan dirinya pada berkas itu.
"Nggak, tadi gue liat dia lagi ngobrol sama bokap kalian!" jawab Fahmi santai tanpa sedikit pun merasa aneh dengan ucapannya sendiri. Sedang Ali yang mendengarnya langsung mendongakkan kepala memandangi Fahmi penuh dengan tanda tanya, "Sama bokap gue?" tanya Ali memastikan.
"He'em."
***
Aisyah terus-menerus menangis menunduk di hadapan ayahnya. Dia nggak tahu harus ngomong apa lagi, nggak tahu harus gimana lagi. Sudah terlalu pusing dia memikirkan semua ini. Permainan yang dibuat Wahyu memang membuat perasaannya semakin rumit. Dan tentang Eza? Apa mungkin setelah ini nggak akan ada lagi masalah kalau dia terus-terusan berada di samping Eza?
"Ai, Ai mau kan berangkat ke Korea? Ini demi kamu, juga demi keselamatan kamu, karena Ali nggak akan memasukkan Wahyu ke penjara. Papa takut kalau Wahyu akan bertindak lebih jauh lagi." Jelas papanya lagi memegangi kedua bahu Aisyah, berharap Aisyah mengerti maksudnya. Bukan maksud dirinya ingin memisahkan anak perempuannya ini dengan abangnya, lantaran si ayah ini nggak mau sesuatu terjadi lebih buruk lagi terhadap Aisyah. Gimana pun juga Aisyah adalah anaknya, dan dia sangat menyayangi Aisyah.
"Kemana Ai pergi itu urusan Al, bukan papa!" timpal Ali tiba-tiba menarik Aisyah kepelukannya, dia dekap Aisyah erat. Mungkin cuma Ali yang tahu apa yang dirasakan Aisyah. Kali ini bukan ucapan seperti itu yang Aisyah butuhkan, dia hanya ingin merasa nyaman saat ini. Bukan malah disuruh pergi mendadak di saat kondisi pikirannya sedang kacau. Di dalam pelukan Ali, Aisyah malah menangis sejadi-jadinya, dia pegang erat jaket milik Ali, memang berada di pelukan abangnya jauh membuat dia merasa nyaman. Baginya Ali itu lebih dari seorang Abang, dia bisa jadi Ibu, bisa jadi Ayah, bahkan terkadang bisa jadi pacarnya. Yahhh Ali itu paket sempurna yang dikirim Tuhan untuknya. "Ai mau kemana itu urusan Ali, papa nggak berhak mengatur Ai!" pungkas Ali lagi menatap tajam mata ayahnya. Bukannya nggak menghormati, tapi Ali sudah terlanjur kesal dengan tingkah kedua orang tuanya. Mereka hanya melihat dari luar, mereka samasekali nggak mengerti apa yang dirasakan anak-anaknya. Orang tua yang setiap hari hanya berpikir mencari uang yang banyak? Ahhh Ali merasa jengkel setiap mengingat itu semua. Pertengkaran orang tuanya beberapa tahun lalu, sampai mereka bercerai, untung saja Aisyah nggak pernah mendengar pertengkaran mereka saat itu.
"Kamu berani lawan papa? Ai ini anak papa, papa berhak menentukan apapun untuk Aisyah!" bentak papanya mulai emosi dengan sikap Ali yang keras kepala.
"Sejak perceraian itu, dan sejak papa mama mengabaikan kita, Ai jadi tanggungjawab Al, jadi ke Korea atau nggak itu urusan Al, papa nggak perlu ikut campur!" elak Ali dingin tenang, tapi tatapan matanya sarat akan kebencian yang begitu mendalam. Dia bawa Aisyah pergi meninggalkan papanya yang terdiam mematung melihat kepergian kedua anaknya itu. Matanya berkaca-kaca, baru merasa kalau sikapnya selama ini sudah membuat jarak yang terlalu jauh dengan anak-anaknya.
__ADS_1
***