Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Lintang si murid baru


__ADS_3

Aisyah masih nampak cemas saat menunggui Wahyu yang memanaskan motornya. Dia hentakkan terus kakinya seakan dia ingin segera lari dan lari mencari abangnya yang belum juga pulang.


"Bang Al udah di sekolah ...." celetuk Wahyu akhirnya menghentikan kegelisahan Aisyah.


"Kok lo tahu?" tanya Aisyah heran.


"Denis tadi kesini nganter motor gue, Bang Al tidur di kantor dan langsung ke sekolah, lo tenang aja." Tutur Wahyu menaiki motornya, tapi langsung membuat Aisyah panik.


"Lhoh lo mau kemana? Gue kan belum siap-siap."


"Mau pulang lah, ganti baju, emang lo pikir?" tanya Wahyu kembali sewot, agaknya suasana hatinya sudah membaik, dia sudah bisa mengerjai Aisyah lagi. Hehehe, diam-diam Wahyu tersenyum tipis.


"Ya lo harus nganterin gue ke sekolah lah ..." Wahyu langsung menggeleng pasti sambil melambaikan tangannya, melesatkan motornya meninggalkan Aisyah yang cemberut dibuatnya.


"Wahyuuuu resekkkk, dasar cowok gilaaaaa, gue laporin abang gue baru tau rasa lo!" teriak Aisyah melempar sandalnya ke arah gerbang, tapi sial bukannya kena helm Wahyu, malah sandalnya masuk ke selokan.


***


Ira sudah senyum-senyum penuh kepuasan. Dia tadi sempat melihat kalau Ali sudah masuk ke dalam kelas dan tidur. Jadi ini waktu yang pas buatnya, memberi hukuman buat si cewek penggoda Ali. Diikuti dayang-dayangnya, Ira menuju area kelas 2, dan mungkin keberuntungan untuknya, cewek yang dia maksud malah sudah berdiri di depan kelas, Mila geram sendiri. Dia tarik kerah baju Aisyah sampai mendekat ke arahnya, dan tawa Aisyah pun langsung berhenti. Dalam hati Aisyah merutuki dirinya sendiri, kalau saja dia nggak jauh lebih pendek.


"Gue nggak peduli siapa lo, tapi kalau gue masih ngeliat lo deket-deket Ali, gue akan bikin lo ...,"


"Bikin apa Ra?" potong seseorang dari belakang Ira. Seketika cengkraman Ira pun terlepas, dia langsung gelagapan takut. Gimana nggak gelagapan, walaupun muka orang itu terlihat lelah, tetep aja judulnya yang datang Ali alias abangnya Aisyah. Aisyah pun mengurai senyumnya, berlari memeluk Ali erat.


"Bang Al," gumam Aisyah dalam pelukan Ali, "Bang Al kasih tahu dong siapa Ai ini, masak tadi Ai diseret kesini, terus dijatuhin ke bawah," adu Aisyah pasang mimik polosnya, dalam hati Aisyah pengen banget ketawa keras. "Terus kerah baju Ai ditarik gitu ..."


"Nggak, nggak gitu Al ceritanya, aku tadi cuma ...,"


"Cuma apa?" potong Ali lagi membuat Ira semakin menciut nyalinya juga dengan dayang-dayangnya.


"Cuma ..., " ragu Ira berucap, dia nggak tahu harus gimana lagi, padahal tadi sudah dia pastikan kalau Ali masih tertidur di kelas. "Bodoh, kenapa bisa ketahuan sih?" batin Ira mengumpat.


"Gue tegesin buat yang pertama dan terakhir kalinya, jangan lo sentuh Aisyah, kalau lo masih berani macem-macem, gue jamin lo nggak bakal tenang sekolah disini, inget, jangan berani lo sentuh dia, adek gue!" tandas Ali mengeratkan rangkulannya pada Aisyah. That's right seketika Ira dan dayang-dayangnya tercengang, sampai Ira nggak sadar mulutnya sudah menganga lebar.


"Jad-jadi dia," Ira tergagap gagap menunjuk Aisyah yang nyengir lebar menjulurkan lidahnya.


"Lo masih mau idup kan? Jauh-jauh dari gue juga adek gue!"


***


"Lo tadi nggak bareng Wahyu?"


Aisyah cuma menggeleng membukakan bekal nasi yang dia bawa dari rumah untuk abangnya. "Katanya dia pulang dulu Bang ..." Aisyah mulai menyuapi abangnya yang nampak sedang berpikir keras. Dia pikir ada yang aneh dengan Wahyu.

__ADS_1


"Tapi semaleman dia ada di rumah kan?" tanya Ali lagi menyelidik membuka mulutnya menerima suapan dari Aisyah.


"Iya, katanya Bang Al tidur di kantor ya? Kenapa Bang Al nggak pulang? Bang Al kalah ya?" cerca Aisyah pasang mimik cemas, Ali cuma tersenyum mengelus pucuk rambut Aisyah.


"Gue nggak kalah kok, lo masih inget Dimas? Yang pernah gue ceritain?" Ali berniat menceritakan semuanya tentang siapa Dimas, yah berharap Aisyah bisa jaga dirinya sendiri, kalau sesuatu terjadi sama dia. Aisyah kembali mengangguk mengiyakan. Dulu Ali memang pernah bercerita tentang Dimas yang selalu mengajaknya ribut, bahkan Ali pun nggak tahu kenapa Dimas berbuat seperti itu, sampai dia tahu kalau sebenarnya Dimas itu ...


"Dimas itu saudara tiri kita Ai ..." ucap Ali menyentakkan Aisyah. Saudara? Mendengar kalimat itu rasanya seperti sesuatu yang ... Aisyah ngerasa ada yang nggak beres.


"Dia anak dari istri Ayah yang baru, dia seumuran dengan kita. Perusahaan yang gue jalanin selama ini sebenarnya dikasih Ayah buat Dimas, Dimas yang seharusnya ngejalanin. Tapi karena yah lo tahu kan gue sering cerita kalau ternyata Dimas itu sering terlibat tawuran, mabuk-mabukan, itu ngebuat Ayah nggak jadi menyerahkan perusahaannya buat Dimas, dia lebih percaya sama gue." Mata Ali menenerawang jauh ke depan seakan bisa menembus pagar sekolah yang tertutup nggak berongga itu.


"Terus kemarin kenapa dia ngajak Bang Al balapan?"


"Gue berhasil dapat sponsor dari korea buat ngelanjutin proyek pembuatan film terbaru ...."


"Apa? Serius Bang???" Nggak sadar Aisyah setengah menjerit, korea? Aisyah sudah tahu kalau perusahaan kecil yang dijalankan abangnya itu bergerak di bidang perfilman meski masih jauh dengan yang lain, tapi kalau bisa ambil sponsor dari korea? Wahhh, Aisyah nyengir sendiri membayangkan kalau dia bisa jalan-jalan ke korea, mungkin bisa.


"Iyaaa, makanya mungkin dia kesal."


"Abang yakin kan kalau masalahnya cuma itu?" selidik Aisyah menyipitkan matanya memandang Ali, masih curiga kalau masalah yang dihadapi abangnya nggak cuma itu.


"Bang Al, gawat gawat ..." sergah Denis, napasnya memburu, tangannya terus menunjuk-nunjuk arah kantor kepala sekolah.


"Ngapain lo?" mata Ali mengikuti arah tangan Denis heran, kenapa hanya sebuah ruang kepala sekolah bisa membuat Denis ketakutan. Padahal kan dia juga sering kena hukuman karena tawuran dan berjam-jam di dalam sana.


"It ... tu, dia, dia ada disana ..." ucap Denis semakin panik.


"Lintang, Lintang ... dia ada disini ... dia sekolah disini!"


***


Beruntung hari ini semua guru rapat sampai jam ke enam. Jadi semua murid agak sedikit bebas bergerak. Ada yang ke kantin, ada yang ke lapanga bola, basket ada juga yang hanya duduk duduk di dalam dan luar kelas. Aisyah yang jenuh di dalam kelas akhirnya memilih jalan-jalan sebentar ke luar mumpung si mata bening nggak ada. Yah, kelihatannya si mata bening emang nggak niat masuk, mungkin kecapekan semalaman jaga rumah. Entah dapat pemikiran darimana, Aisyah iseng mengiriminya pesan singkat.


Aisyah : Hei cowok gila, dimana lo?


Wahyu : Ngapain tanya-tanya?


Aisyah : Ditanyain Bang Al ....


Wahyu : Gue uda bilang Bang Al, nggak masuk hari ini


Aisyah : Kenapa? Lo sakit?


Wahyu : Ngantukkk abis jagain putri tidur semalaman

__ADS_1


Aisyah : Sorry, ya udah met istirahat ...


Wahyu : Kenapa lo? Khawatir sama gue ya?


Gilaaaa !!! Aisyah meninju ponselnya pelan seakan ponsel itu adalah wajahnya Wahyu. Enak aja bilang khawatir? Aisyah menggelengkan kepalanya keras, menyesal kenapa harus sms si mata bening.


"Nyesel gue sms lo, dasar cowok kepedeannn!" geram Aisyah menendang kaleng minuman yang ada di depannya dan ....


DUGGG ....


"Auchhh ..." Aisyah berjiingkat mundur ke balik dinding. Sial banget, kaleng yang tadi dia tendang nggak sengaja mengenai kepala seseorang, dan ternyata seseorang itu." Ya Allah, kenapa harus dia lagi sih," Aisyah menepuk keningnya, menyeselai tindakannya yang nggak perna hati-hati. Sesuatu yang ceroboh, beberapa hari ini selalu mempertmukannya dengan dia, Eza si aktor favoritnya yang diharamkan abangnya buat ditemui.


"Sialll, siapa ini woy," teriak Eza menoleh ke belakang yang ternyata sepi, ya iyalah lha Aisyah nya aja sembunyi di balik dinding.


Aisyah berniat pergi saja sebelum ketahuan, tapi langkahnya langsung terhenti saat dia teringat sesuatu. Dia pun mengurungkan niatnya dan berniat menghampiri Eza.


"Ai .... " Eza menaikkan alisnya sebelah heran tiba-tiba Aisyah menghampirinya, lalu dia melihat kaleng yang tadi mengenai kepalanya lantas tersenyum memandang Aisyah.


"Elo yang tendang kaleng itu?" tanya Eza menunjuk kaleng yang ada di sampingnya, Aisyah hanya cemberut mengangguk polos. Eza semakin gemes aja ngelihatnya.


"Kenapa?"


"Nggak sengaja."


"Terus?"


"Terus apanya?"


Sebentar Eza tersenyum, pengen banget cubit itu pipi, sayang seribu sayang dia nggak bisa ngelakuin itu untuk saat ini.


"Ai ngapain kesini?"


"Kenapa Mas Eza nyuruh cewek itu sekolah disini?" tanya Aisyah langsung, sesaat Eza agak terkejut kemudian baru ingat kalau yang dimaksud Aisyah pasti Lintang. Mungkin Ali sudah menceritakan tentang balapan kemarin.


"Lintang maksudnya?" suara terdengar lembut jauh beda saat dia ada di jalanan dan saat adu jotos. Aisyah mengangguk lagi, nggak tahu kenapa kalau di depan Eza, Aisyah selalu bisa bersikap manis, kalem, beda kalau dengan si mata bening, selaluuuuu pengen bentak-bentak.


"Kenapa emang lo pengen tahu?"


"Mas Eza musuhnya Bang Al, kemarin kalian balapan, Lintang pegawainya Mas Eza, kenapa Mas? Mas Eza mau ngapain Bang Al? Apa Bang Al punya salah sama Mas Eza?" cerca Aisyah begitu lancar, padahal sebenarnya dia sangat sangat takut, belum pernah dia sejauh ini untuk tahu tentang abangnya sendiri. Eza hanya berdehem melipat tangannya di dada, memandang Aisyah lekat.


"Lintang datang dari Cilegon, Ayahnya baru saja meninggal, pamannya dulu pernah kerja di tempat gue, pamannya minta gue buat kasih dia kerjaan, dan mencarikan dia sekolah disini. Jadi gue masukin dia disini ... sekolah ini punya beasiswa nggak mampu buat anak seperti Lintang. Ada yang salah?" tanya Eza santai kembali tersenyum, kalau saja Eza tahu setiap dia tersenyum itu sudah menggetarkan dinding di hati Aisyah, seperti ada sesuatu yang menyengatnya, dan selalu membuat Aisyah terkesiap.


"Ya udah kalau gitu ... maaf ganggu ...." Aisyah berbalik berniat kembali ke kelasnya, tapi lagi-lagi suara Eza menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Ai ... boleh minta no.ponsel lo?" tanya Eza enteng seperti nggak punya salah. Apa dia sudah lupa kalau Aisyah ini adiknya Ali? Haisttt, Eza nggak lupa, Eza ingat betul siapa Aisyah ini, nggak akan dia lupa.


"NGGAK!"


__ADS_2