Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Ikut terlibat


__ADS_3

Ali ingat betul saat itu, saat dimana dia begitu antusias beradu balap dengan Eza. Sore itu Ali sengaja menjemput Eza ke lokasi syuting, yang lebih tepatnya bukan menjemput melainkan menculik. Dari jarak sekitar 100 meter, Ali sudah mematikan mesin motornya menuruni jalan yang agak curam. Lalu dia parkirkan motornya di dekat mobil milik Eza. Berlagak seperti pencuri yang mengendap-endap Ali menghampiri Eza yang sedang menghafalkan naskah skenario di belakang ruang rias.


"Syuttt ... syuttt ..." desis Ali sembunyi di balik semak-semak. Butuh beberapa kali panggilan barulah Eza menoleh dan melempar senyumnya menandakan kalau dia sudah siap untuk kabur. Eza terlihat mengedarkan matanya ke seluruh tempat dan memastikan kalau nggak ada orang disitu. Diraihnya tas ransel yang berisi jaket kulit. Dia buka tas itu dan langsung memakai jaketnya. Nggak lama mereka sudah berada di tempat motor Ali terparkir.


"Lo lama banget sih Al, gue nunggu dari tadi tahu!" omel Eza naik ke boncengan bersamaan Ali menyalakan mesinnya.


"Gue tadi masih jemput Aisyah dari sekolah, lo mau gue nggak jemput dia?" tanya Ali menoleh membuka kaca helmnya, tahu bahwa Eza sahabatnya ini menyukai adiknya, dan Eza nggak mau apa-apa terjadi pada Aisyah.


"Nggak, lo harus jemput Ai tepat waktu!" elak Eza langsung.


"Bagus!" ucap Ali mantap melajukan motornya meninggalkan lokasi syuting.


Ali membelai lembut rambut Aisyah, mengingat masa lalu itu ah sungguh membuat Ali semakin sesak. Aisyah hanya diam menungguinya, menyender pada bahu Ali. Aisyah tahu kalau abangnya ini pasti lagi tertekan banget, gimana pun juga Eza itu pernah jadi sahabatnya, dan mungkin sampai sekarang Ali masih menganggap Eza itu sahabatnya.


"Ai ..." panggil Ali menggenggam tangan Aisyah lembut.


"Kenapa bang?"


"Maafin abang ya ..."


"Maaf buat apa?" Aisyah mendongakkan kepalanya.


"Lo suka Eza?" seketika raut muka Aisyah memerah karena pertanyaan itu, segera dia gelengkan kepalanya keras, berbalik menggenggam tangan Ali erat melempar senyum.


"Ai nggak suka sama Mas Eza, Bang Al tenang aja. Kalau Bang Al mau Ai ngejauhin Mas Eza, Ai bakal lakuin, Ai janji akan turutin omongan Bang Al." Cerca Aisyah entah benar atau tidak. Aisyah berharap dia nggak akan menyesal mengucapkan itu semua. Jangan sampai menyesal.


"Ai masih inget es krim coklat yang setiap hari Bang Al bawain dulu?" pertanyaan Ali melayangkan ingatan Aisyah ke beberapa tahun lalu saat dia masih duduk di bangku SMP. Setiap Ali pulang main, pasti dia nggak pernah lupa membawakan es krim kesukaannya, es krim coklat yang punya rasa sangat nikmat. Nggak tahu kenapa menurut Aisyah rasanya beda dari es krim di toko-toko.


"Masih, udah lama Ai nggak makan es krim itu Bang ..." Aisyah tersenyum simpul kembali menyenderkan kepalanya di bahu Ali.


"Itu es krim buatan Eza ..." sebentar Aisyah terkejut, tapi dia hanya diam lebih ingin mendengarkan Ali melanjutkan ceritanya. "Sore hari waktu Ai temenin Bang Al main basket, Ai ketiduran di tepi lapangan, dan hari itu hari pertama kali Eza ketemu sama Ai. Saat itu Eza nggak menyangka es krim buatannya yang dia kasih buat Bang Al, yang ngabisin Ai, mungkin sejak saat itu Eza suka sama Ai."


"Bang, kalau Bang Al nggak mau cerita, nggak papa kok, Ai juga nggak akan maksa Bang Al cerita, Ai nggak punya perasaan apa-apa sama Mas Eza ..." sela Aisyah sebelum Ali melanjutkan ceritanya. Bagi Aisyah saat ini kebahagiaan Abangnya jauh lebih penting ketimbang perasaannya, yang entah seperti apa. Mungkin dia harus segera mundur sebelum benar-benar menaruh harapan pada orang yang sudah membuat abangnya sakit.


"Ai tahu kenapa Eza kasih gelang itu? Dan apa artinya tulisan satu di gelang itu?" ucap Ali melirik gelang yang ada di pergelangan tangan kanan Aisyah mengabaikan ucapannya. Aisyah langsung menggeleng keras, "Ai nggak tahu, dan Ai nggak butuh tahu juga, Ai bakal balikin gelang ini ke Mas Eza nanti." Ucap Aisyah lagi mengelak dari perasaannya sendiri. Ali hanya tersenyum melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


"Seharusnya gelang itu Eza kasih waktu Ai lulus smp, karena Bang Al baru ijinin dia buat ketemu Ai kalau Ai sudah SMA, tapi kejadian itu ngerubah semuanya, saat itu ..."


"Syuttt ..." potong Aisyah langsung menaruh jari telunjuknya di bibir Ali, "Nggak usah dilanjutin, lebih baik Bang Al fokus sama sekolah dan perusahaan, sebentar lagi pembuatan film perdananya kan? Ai udah bikin promo besar-besaran kok. Ya udah Ai masuk kelas dulu ya Bang!" dia peluk erat Ali lalu mencium pipi abangnya dan langsung ngeluyur lari menuju kelas.


Tapi langkahnya terhenti di koridor, begitu hilang dari padangan Ali, runtuh sudah pertahanannya, air mata mengucur deras dari pelupuk mata. Jadi seperti itukah? Eza yang dia kenal? Eza memang sudah lama mengenalnya? Dan gelang itu? Aisyah melepas gelang itu lalu memandangi tulisan "SATU" dengan begitu penasaran. Apa sebenarnya arti kata itu? Aisyah sungguh penasaran dengan artinya, tapi dia juga nggak mau Abangnya lebih sakit lagi. Lagi pula mungkin itu dulu, bukan sekarang. Yah, Aisyah mengusap air matanya sendiri, meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak larut dalam masa lalu. Seharusnya dia lebih mengkhawatirkan keadaan si mata bening.


***


Baru saja Ali beranjak dari tempat duduknya, secara kebetulan dia melihat Lintang terburu-buru masuk kelas, tapi berhenti sejenak di depan tempat sampah. Ali megerutkan kening kembali duduk memperhatikan Lintang yang mengeluarkan selembar kertas, meremasnya lalu membuangnya ke tempat sampah dan segera masuk kelas. Ali dapat memastikan kalau Lintang begitu panik melihat sekitar, sepertinya dia memang nggak mau ada yang tahu dia membuang kertas itu.


Begitu Lintang masuk kelas, Ali pun langsung menghampiri tempat sampah itu dan mengambil kertas yang tadi diremas Lintang. Raut muka syok langsung terlihat jelas begitu Ali membacanya, sesekali dia melihat ke arah ruang kelas Lintang yang nggak jauh dari tempatnya berdiri. Ali tahu betul tulisan tangan yang ada di kertas itu. Apa mungkin? Ali mengerjapkan matanya frustasi, kerumitan ini sungguh membuatnya muak. Kembali dia perhatikan tulisan tangan itu, yang menyuruh Lintang mungkin untuk merusak perusahaannya, lewat sponsor? Dan ... Ahhh Ali menggeram menggertakkan rahangnya mulai emosi. Gimana bisa?


"Apa mungkin, dia? Dia yang lakuin ini semua? Kenapa?" gumam Ali masih belum yakin.


"Hei Bang, ngapain disini?" celetuk Denis tiba-tiba muncul dari belakangnya. Ali langsung memasukkan kertas itu ke saku celananya.


"Ehhh gue tadi abis nganterin Ai ke kelas, lo ngapain pakai jaket, nggak pakek seragam?" tanya Ali balik mengalihkan pembicaraan supaya nggak curiga. Ali sedikit penasaran dengan Denis yang memakai kaos oblong putih dengan jaket baseball, jaket baseball? Sepertinya Ali pernah melihat jaket itu, tapi dimana? Ali benar-benar lupa.


"Owh ini, tadi kecipratan air pas ada mobil kepsek lewat, anjirrr, jadi basah kan!" omel Denis kesal nggak sadar kalau sedari tadi Ali terus mengawasi jaketnya.


"Thanks banget Bang, untung aja gue ketemu Bang Al." Seru Denis puas melepas jaketnya dan langsung memakai seragam itu.


"Keadaan Wahyu gimana?" tanya Ali membuat Denis kehilangan senyumnya, seperti pertanyaan itu nggak seharusnya Ali ajukan. Ali terus memperhatikan ekspresi muka Denis, sedikit gugup tapi langsung tersamarkan.


"Ehh Wahyu masih di rumah sakit, terakhir kemarin gue jenguk, dia belum sadarkan diri." Jawab Denis berusaha menghindari tatapan Ali. "Ya udah ya Bang, thanks seragamnya, gue masuk kelas dulu." Lanjutnya lagi tanpa menunggu reaksi Ali, Denis langsung ngeluyur naik ke lantai dua dimana kelasnya juga Aisyah berada tepat saat ponsel Ali bunyi.


"Iya pa, iya Ali ke kantor sekarang."


***


Belum pernah Ali setegang ini menghadapi Ayahnya. Dia tahu kenapa Ayahnya memanggilnya ke kantor. Apalagi kalau bukan soal pembuatan film dan saham 40%. Di perjalanan menuju kantor, Ali baru dikabari Fahmi kalau pegawai Jogja kembali mengancam akan menjual saham mereka, karena mereka mendengar gosip tentang pencabutan sponsor dari pembuatan film Ali. Dan sialnya itu nggak hanya sekedar gosip, melainkan kenyataan. Semua sponsor Ali, termasuk sponsornya dari korea sudah membatalkan kerja sama secara sepihak di tiga hari menjelang pembuatan film tersebut.


Pelan dia buka pintu ruangannya sendiri, mendapati sang Ayah sudah duduk di kursi tamu menatapnya tajam. Ali tahu hal mengerikan akan terjadi.


"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" suara berat sang Ayah membuat Ali sang pentolan sekolah nomor wahid ini sedikit gugup.

__ADS_1


"Al dijebak pa ... dan ..."


"Dan kamu hanya akan diam?" potong ayahnya tajam.


"Al akan mengurus semua." Tukas Ali segera mengumpulkan sekuat tenaga, dia bisa. Ali yakin bisa mengatasi ini semua, permainan Mr.X akhirnya dia tahu, dan dia akan menyelesaikannya. Ayahnya tersenyum sinis melempar berkas yang tadi dia bawa saat menuju kantor Ali. "Bagaimana caranya kamu mengatasi ini semua? Semua sponsor sudah mencabutnya, dan apalagi yang akan kamu lakukan?" bentak si ayah murka menggebrak meja milik Ali.


"Apa sebelumnya papa nggak pernah menghadapi yang seperti ini?" Ali membalikkan pertanyaan ayahnya, yah Ali pandai dalam hal perdebatan dan kali ini Ali jamin dia juga bisa mengatasi perdebatan dengan ayahnya sendiri. Sesaat ayahnya diam, bingung harus menjawab apa. Baru dia sadar kalau anak laki-lakinya ini punya watak yang sama dengannya.


"Beri waktu Al sampai tiga hari ke depan, Al jamin pembuatan film ini tetap berjalan!" tandas Ali mantap walaupun sebenarnya dia juga masih bingung bagaimana harus mencari sponsor baru lagi.


"Lalu dengan ganti rugi untuk pihak Korea?" Ahhh Ali menghela napas panjang diingatkan dengan hal itu. "Taman Bunga akan papa jual!" deggg seketika pertahanan emosi yang sedari tadi Ali buat langsung runtuh. Matanya langsung menyala tajam menatap ayahnya.


"Papa bilang apa?" tanya Ali memastikan, berharap kalau ucapannya hanya bercanda. Tapi sepersekian detik dia sadar kalau Ayahnya nggak sedang becanda, dia serius akan menjual Taman Bunga.


"Kamu tahu itu akan papa lakukan kalau kamu melanggar kesepakatan." Ucapan itu mengingatkan Ali ke setahun yang lalu, saat Taman Bunga hampir bangkrut karena sudah tidak diurus Bunga, akhirnya Ali mengambil alih dan berkat bantuan ayahya, Taman Bunga masih ada sampai sekarang. Tapi kalau begini? Yah mau tidak mau Ali harus memenuhi kesepakatannya saat itu dengan ayahnya. Kalau dalam mengelola perusahaan ini Ali melakukan kesalahan yang besar, terpaksa ayahnya harus menjual Taman Bunga.


"Lakuin apa yang mau papa lakuin, tapi Al janji kalau film ini akan tetap dibuat, dan Al akan mempertahankan Taman Bunga, Al akan mengambil Taman Bunga lagi!"


"Terserah, semua itu ada di tangan kamu, papa tahu ini semua terjadi karena masa lalumu, papa ingatkan, jangan sampai kamu membuat adikmu celaka!" tandasnya sarat akan peringatan. Agaknya ayahhnya tahu kalau dia dalam masalah besar, bukan tentang perusahaan tapi tentang permusuhan. Sang ayah meninggalkan ruangan Ali setelah menyerahkan berkas penandatanganan penjualan Taman Bunga.


"Al, gue ..." Fahmi membuka pintu ruangan Ali kasar, napasya memburu mengacungkan ponselnya panik.


"Kenapa?" tanya Ali pendek mengesampingkan berkas itu dari hadapannya.


"Anak buah Eza ngirim ini, foto-foto ini!" tukas Fahmi menyerahkan ponselnya dan lajut menjelaskan, "Itu foto para sponsor yang sedang bertemu seseorang, gue rasa dia Mr.X yang akan membeli saham 40 % dan juga yang sudah berhasil membatalkan semua sponsor kita."


Sesaat Ali diam, sudah mengira kalau dialah Mr. X, walaupun nggak terlihat mukanya, Ali tahu siapa dia. Agaknya masalah ini lebih menyangkut masalah hati, ahhh cinta memang selalu berujung dengan sakit, batin Ali kesal.


"Gue tahu siapa dia." Ucap Ali membuat Fahmi sedikit terkejut.


"Hari ini Lintang kesini, lo tahan dia, lo paksa buat ngaku siapa dia, bilang kalo gue tahu dialah yang mencuri informasi tentang sponsor, dan pastikan Lintang akan tetap bekerjasama dalam pembuatan film ini." Terang Ali beranjak berdiri mengenakan jaket kulitnya.


"Jadi Lintang serius terlibat?" tanya Fahmi masih ragu.


"Apapun yang terjadi film ini harus tetap dibuat."

__ADS_1


***


__ADS_2