Preman Jatuh Cinta 1

Preman Jatuh Cinta 1
Balapan


__ADS_3

"Kali ini lo beneran punya hutang sama gue." Suara Eza terdengar sangat jelas, sangat jelas membuat Ali seperti sudah kalah dalam pertandingan. "Gue tahu apa yang dipermasalahkan si anak manja Dimas ..." sambungnya masih terus memandang jauh di arena balap miliknya, milik Eza secara pribadi dan Ali tahu itu. Beberapa tahun yang lalu, Ali pernah berada di sana. Dan ini untuk pertama kalinya setelah orang tua mereka bercerai.


Ali meregangkan otot-otot tangannya. Dia rapatkan jaket kulit yang dia kenakan, bersiap-siap untuk kembali memasuki arena itu. Matanya juga memandang jauh ke arena balap, dan tanpa dia minta, secara otomatis otaknya memutar lagi kenangan saat itu, saat hari yang seharusnya menjadi hari paling istimewa di hidupnya, tapi hancur seketika karena seseorang yang sekarang ada di sampingnya.


"Mungkin lo udah bosen denger ucapan gue, tapi gue nggak akan bosen bilang sama lo, bukan gue,itu semua kecelakaan, bukan gue yang mel ..."


"Udah cukup!" Ali menggertakan rahangnya, matanya kembali menyulut kebencian memandang Eza. "Gue kesini karena balapan dengan Dimas bukan untuk ngebahas masalah itu ..." tandas Ali menuruni tangga menuju luar arena balap. Langkahnya yang tenang tapi hatinya sudah memanas. Eza hanya tersenyum ikut menuruni tangga.


***


Enam orang, anak SMA Unggul sudah menunggu kedatangan dua petolan SMA Almas, Eza dan Ali. Eza dan Ali yang baru saja datang langsung menghampiri motor masing-masing. Sebentar Ali menengok ke gerombolan teman-temannya, "Mana Wahyu?" tanyanya mengarahkan mata pada Denis yang berada paling pinggir duduk di atas motor ninja milik Wahyu.


"Dia nyusul, tadi dia nyuruh gue buat langsung kesini bawa motornya." Terang Denis menepuk tangki motor ninja milik Wahyu.


"Jadi mana bos kalian? Nggak ikut?" tanya Eza menimang-nimang helmnya sendiri seakan dia ingin melempar helm itu ke muka Elang yang berada tepat di sampingnya. Elang pun langsung menciut nyalinya. Dari tiga pentolan Almas memang Eza lah yang paling ditakuti Elang dan juga Ali. Tapi sejak kejadian beberapa tahun lalu, Ali sudah tak seganas Eza. Ali sudah hampir 180 derajat berubah. Dia sudah nggak peduli lagi dengan tawuran apalagi balapan. Hanya kali ini, Dimas berhasil memancing Ali untuk kembali ke arena balap ini.


"Belum waktunya dia muncul." Jawab Elang datar memakai helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya.


"Pengecut, okey kita mulai sekarang." Sahut Eza santai memposisikan motornya di start balapan diikuti anak SMA Unggul juga Ali dan teman-temannya. Tapi baru Denis akan memberi aba-aba, nggak tahu dari arah mana, tiba-tiba muncul seseorang yang setengah berlari hampir saja menubruk motor milik Ali. Sontak Ali pun tercengang, untung saja dia belum menyalakan mesin motornya. Sebentar Ali menatapnya geram, kalau saja bukan cewek, sudah dia hajar habis-habisan tuh orang. Geram Ali kembali membuka helmnya bersiap untuk memaki tuh cewek, "Lo buta hah? Ngapain lo disini?!" bentak Ali menatapnya tajam. Sedang yang ditatap masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, sepertinya dia baru saja menyelesaikan lari marathonnya. Hmmm, kalau ini Aisyah pasti nggak akan separah ini.


"Sorry, sorry, aku yang kerja disini ... sebelum kalian melakukan balapan, cek dulu kendaraan masing-masing, dan kalian harus melihat lintasannya dulu." Ucapnya seketika membuat cowok-cowok yang ada disitu diam terbengong saling memandang heran. Yah cuma Eza yang diam santai melipat tangannya di dada, membiarkan cewek itu melakukan pekerjaannya.


"Ini apa-apaan sih? Siapa dia?" tanya Ali emosi memalingkan mukanya ke Eza yang ada di belakangnya.


"Kan tadi dia udah bilang, dia yang kerja disini, anak baru." Jawab Eza melirik cewek itu, dan yang dilirik pun melempar senyum mengangguk tanda memberi hormat pada sang majikan, pemilik arena balap ini.

__ADS_1


"Oke, pertama kalian cek mesin motor kalian, rem, dan silahkan kalian pelajari lintasan yang akan kalian pakai disana!" cewek itu pun mengarahkan pandangannya ke arah layar besar di atas, disana diputarkan video arena balap yang akan mereka pakai nanti, berikut penjelasannya. Semua cowok yang ada disitu termasuk Ali pun seperti dihipnotis mengikuti arah pandang si cewek itu. Ini beda, beberapa tahun yang lalu ini belum ada. Sebentar Ali menoleh ke belakang, melihat Eza yang tersenyum puas saat suara yang ada di video menjelaskan rute seperti apa yang akan dilewati, tikungan, kecuraman, semua detail arena agar para pembalap bisa memperkirakan setiap kecepatan mesin mereka. Ini dilakukan Eza semata-mata untuk meminimalkan kecelakaan. "Lo harus tahu itu Al ..." batin Eza tersenyum saat menangkap mata Ali yang memandangnya. Ali pun langsung terkesiap mengalihkan pandangannya ke depan, jauh ke arena balap, tempat dimana mimpi buruk itu pernah terjadi.


"Lintang ..." panggil Eza, Lintang pun langsung menoleh, dan lagi-lagi semua cowok disitu termasuk Ali pun ikut menoleh, teman-teman Ali saling bergumam mengangguk-angguk, mengetahui bahwa cewek yang berwajah agak lonjong ini ternyata bernama Lintang.


"Iya, mas ..." sahut Lintang melempar senyum.


"Tugas lo udah selesai, sekarang lo boleh pulang, minta Viko buat gantiin." Perintah Eza dan langsung dituruti Lintang. Tanpa banyak bicara, Lintang langsung melengos pergi memasuki ruangan menuju atas melalui pintu yang ada diantara bangku penonton.


"Jadi kita mulai sekarang?" tanya Eza kembali memakai helmnya dan menyalakan mesin.


***


Ketegangan semakin menjadi saat motor milik Ali berada di tikungan, dan lucunya balapan ini bukan antara anak Almas dan juga Unggul. Ini balapan antara Ali dan Eza. Anak Almas yang lain dan juga Elang cs malah tertiggal di belakang. Entah dapat kekuatan dari mana Eza dan Ali sama-sama saling salip menyalip dengan kecepatan yang sangat tinggi. Bahkan tikungan tercuram pun seperti nggak terlihat. Hampir saja saat putaran kedua, Ali terpeleset, tapi dia langsung menyeimbangkan kemudinya. Eza yang melihat itu, sedikit mengurangi kecepatannya saat Ali akan mencapai garis finish.


"Bilang sama Dimas, kalau dia punya urursan pribadi langsung temui Ali, bukan ngirim anak buahnya, bilang juga sama dia, jangan jadi pengecut, atau dia masih takut kej ..."


"Cukup ... " potong Ali dingin, tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Sesaat semua tercengang, ini bukan Ali. Sejak tadi Ali hanya diam, Denis yang akan menghampirinya pun langsung dicegah Eza. Ali kembali mengenakan helmnya, menyalakan mesin dan meninggalkan arena tanpa sepatah kata lagi.


"Kenapa sama Ali? Kenapa dari tadi dia diam aja sih ..." omel Rangga juga bersiap-siap pergi.


"Bos lo nggak apa?" bisik Ryan pada Eza yang sedari tadi diam. Ryan tahu pasti ada sesuatu yang terjadi antara Eza juga Ali.


"Lo urus mereka, pastiin mereka segera pergi dari sini." Ucap Eza melirik tajam semua anak Unggul, "Gue masih ada urusan." lanjutnya juga mulai menyalakan mesin meninggalkan arena.


***

__ADS_1


"Bang Al kok belum pulang sih ..." Aisyah terus menerus mondar mandir di depan Wahyu. Sudah dari sore tadi dan sekarang sudah malam Ali juga belum pulang.


"Wahyuuu, lo nggak mau cari abang gue hah?" bentak Aisyah kesal menghentakkan kakinya duduk di samping Wahyu.


"Gue nggak bisa ninggalin lo, gue dapet info kalau dari sore tadi ada yang ngawasin rumah lo!" jawab Wahyu tenang, sedikit pun dia nggak terlihat cemas. Wahyu malah asyik memainkan game di ponselnya sambil menghabiskan snack yang dibeli tadi dalam bus.


"Bang Al lagi balapan kan? Lo harus telepon Bang Al ..." desak Aisyah semakin khawatir.


"HP nya nggak aktif Ai, lo tenang aja bisa nggak? Bang Al tahu apa yang harus dia lakukan." Wahyu meletakkan ponselnya berdiri duduk di dekat kolam ikan depan rumah. "Tenang aja, abang lo pasti balik kok, lo nggak perlu panik kayak gitu."


"Lo bisa bilang kayak gitu, tapi lo nggak tahu, sejak perceraian orang tua kita, abang gue udah nggak mau lagi balapan." Aisyah kembali berdiri dan mondar mandir, memikirkan kemungkinan-kemungkinan keadaan abangnya saat ini. Dia samasekali nggak tahu apa yang terjadi dengan Ali, kenapa Ali nggak bersedia untuk balapan lagi. Padahal balapan liar adalah hobinya.


"Lo tahu kenapa Bang Al nggak mau balapan lagi?" Wahyu menyipitkan matanya, seperti meneliti isi dari kolam ikan yang ada di bawahnya itu. Seperti disitu ada jawaban dari semua pertanyaan di benaknya.


"Nggak tahu ..." Aiyah berhenti sejenak menggelengkan kepalanya.


"Balapan ini penting buat Abang lo, Ai ..."


"Penting?"


"Ntar juga lo tahu, lo masuk gih, tidur, gue tunggu di luar!" pinta Wahyu beranjak berdiri, mendorong kedua pundak Aisyah masuk ke dalam. Dan nggak tahu kenapa lagi, seperti dihipnotis si mata bening, Aisyah hanya menurutinya. Sebentar Aisyah menoleh ke arah belakang, menatap mata Wahyu, berharap Wahyu akan memberinya penjelasan lagi, penjelasan yang lebih melegakan hatinya.


"Abang lo baik-baik aja, okey?" Wahyu mengelus lembut pucuk kepala Aisyah, dia bukakan pintu kamar Aisyah, dan mendorongnya masuk. Sebentar Wahyu menghela nafasnya panjang, "Ini bakal jadi lebih rumit Ai, lo harus siap." Gumam Wahyu kembali ke depan tepat saat ponselnya bunyi, senyum simpul Wahyu menyambut telepon dari seseorang yang dia tunggu dari tadi, akhirnya.


"Iya, gimana? Oke, lo lanjutin deh, pastiin kalau Ali nggak kenapa-kenapa!"

__ADS_1


__ADS_2