
Pikirannya melayang ke tahun sebelumnya, tahun dimana dia bertemu pertama kali dengan sang pria.
Dia mengira pria itu adalah penolong, tetapi pada kenyataannya, sang mantan telah membuat jiwanya hancur.
"Kita pergi baby, tidak perlu kau hiraukan orang ini," pinta sang pria.
Sang gadis mengikuti apa yang dikatakan oleh sang pria, tidak ada hal yang lebih membahagiakan selain sang pria harus tewas dengan cara yang mengenaskan seperti ini, dia tidak bisa menahan diri, dia meminta pistol dari sang kekasih dan me nem bak kan kepada sang mantan dengan membabi-buta.
"Aku lega dengan tewasnya dia, ku rasa semua ini sudah menjadi jalan agar aku, tidak terus menerus memikirkannya."
"Oh, kau masih memikirkannya?"
"Bukan itu baby, tapi memikirkan kejadian itu. Terima kasih kau telah memberikan segalanya untukku tanpa kurang apapun, kau memang yang terbaik, hanya saja aku belum memiliki keberanian untuk menjadikanmu pangeran di hatiku."
"Tak apa baby, oh ya, maaf aku besok harus pergi ke luar kota. Kau tetaplah di sini, ada hal yang harus aku lakukan di sana. Kau berani kan?"
"Aku berani? sangat berani. Namun, kau pergi untuk apa?"
"Ada beberapa pekerjaan, aku mendapatkan beberapa pengalaman bertemu dengan bos besar, beberapa orang dari mereka ingin aku datang dalam pertemuan para bos. Investasi yang mereka berikan sangat lumayan, aku tidak bisa menolaknya," ujar sang pria yang sudah muak berada di sana.
__ADS_1
Dia ingin segera pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
"Kau ingin pergi kemana?"
"Pulang saja ya? mood ku sedang buruk."
"Oke."
Dua orang itu berjalan menuju mobil dan perlahan masuk ke dalam, sang pria duduk di kursi kemudi dan sang gadis berada di sampingnya.
"Kita lepaskan segalanya, aku akan meminta anak buah ku mengurus pria ini.
Sang pria tancap gas dari tempat itu sambil menelpon seorang pria yang merupakan anak buahnya.
"Kau sibuk?"
"Tidak bos, ada apa?"
"Pergi ke jalan xxx, di sini ada may at pria menyebalkan, kau buang dia mulut singa. Ada banyak di kandang."
__ADS_1
"Siap bos!"
Panggilan telepon usai dan sang gadis merasa bebannya telah hilang.
Dia tidak khawatir lagi mengenai sang mantan yang tidak waras itu.
"Baby, kau jangan pergi ya?" Untuk pertama kalinya sang gadis mencegah kepergian sang kekasih.
Dia biasanya tidak terlalu peduli, namun entah mengapa hari ini sangat berbeda.
Apa mungkin karena sang gadis merasa dirinya telah terbebas dari seorang mantan kurang ajar itu, entahlah semuanya itu hanya sang gadis yang tahu.
"Wah, apa kau sudah mulai mencintaiku?" Sang pria yang sok percaya diri, terlihat seperti bocah.
"Hm, kau mulai lagi, bagaimana bisa otakmu selalu tak baik, tidak ada hal seperti itu. Hanya saja kau jarang pergi, kini pergi lagi. Aku ingin kau menemaniku di sini."
"Maaf sayang, aku tidak bisa. Pekerjaanku sangat banyak. Tidak ada yang menghandle di sana, apalagi pertemuan itu tidak bisa di wakilkan. Aku sangat sibuk besok, kau menelepon aku pukul 22.00 malam saja ya? itu waktu beristirahat." Sang pria memang sangat sibuk, jadi dia tidak bisa menemani sang gadis.
Terlihat raut kehilangan dari sang kekasih. Dia tidak terbiasa dengan perasaan aneh ini, entah apalah. Dia benar-benar tak paham.
__ADS_1
*****