Pria Dewasa Yang Nakal

Pria Dewasa Yang Nakal
Pertemuan Dara dan Willy


__ADS_3

Pukul 19.00 ...


Setelah drama beberapa waktu lalu, kini Dara bersama Daniel telah berada di gedung yang di maksud.


Dara terlihat pura-pura bahagia.


"Kau kenapa?" tanya Daniel.


"Oh, aku? tidak apa-apa, memangnya kenapa?" jawab Dara merasa dirinya tidak baik-baik saja tetapi mencoba menjadi dirinya sendiri.


Apalagi dia melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.


"William?" batin Dara, ketika dia menatap lurus ke depan seorang pria berperawakan tinggi besar dan rambut yang masih gondrong, terlihat berjalan ke arahnya bersama seorang wanita yang sangat dia kenal.


"Astaga, kakak dan Willy? apakah mereka berkencan?" batin Dara berkecamuk.


Pandangannya masih menuju satu titik dan membuat Daniel agak kesal.


"Aku sekarang mengerti mengapa kau tidak baik-baik saja, ada dia kan?" ucap Daniel.


Daniel merasa dipermainkan, namun dia harus menyadari bahwa Dara sejak dulu memang tidak menyukainya.


Dara menghindar, namun Daniel mencegahnya.


"Kau selesaikan urusanmu dengannya agar aku bisa segera menikah denganmu," bisik Daniel.


"Tapi Dan, aku ...." Belum sempat Dara mengungkapkan keengganannya untuk berbicara dengan pria yang memang masih ada di hatinya, Daniel sudah pergi.


Dia benar-benar memberikan waktu, karena sejatinya Daniel hanya mencintai Dara.


Daniel tak mau mendapatkan kesulitan di kemudian hari karena kesalahan yang tidak penting.


Dara ingin menyerah, tetapi apa yang di katakan oleh Daniel ada benarnya.


Barbie dengan bangga mengandeng lengan WIlliam dan mengecup pipi William tepat di depan Dara.

__ADS_1


"Sayangku, apa kau merasa risih dengan wanita penggoda ini? aku sama sih, makanya kita segera pergi saja."


Barbie ingin melangkah pergi, tetapi Dara mencegahnya.


"Kak, aku ingin berbicara dengan William. Aku akan menikah dengan Daniel, jangan cemas."


Dara terpaksa mengatakan ini agar sang kakak tidak terlalu mencampuri urusannya dengan sang mantan.


"Oh, bagus lah kalau kau sudah melupakannya. Aku tidak perlu cemas."


Barbie terlihat menyingkir dan bergabung dengan orang-orang yang ada di tempat itu, para wanita istri dari pebisnis penting.


Dara tidak menyangka akan bertemu dengan William lagi.


Dia mencoba tegar menghadapi semua ini.


"Dara."


Tatapan mata William sangatlah luar biasa. Dia seperti orang yang sudah rindu akan kehadiran seorang gadis cantik itu.


"Jika kau ingin mengakhiri hubungan, setidaknya kau harus menuruti kemauanku."


"Apa mau mu?"


"Setelah acara pesta selesai, aku tunggu di hotel X. Kamar no 23."


"Kau sudah gila ya?"


"Kalau kau ingin semuanya berakhir, datanglah!"


Willy kemudian pergi begitu saja, dia memberikan kesan misterius yang membekas.


Dara semakin kalang kabut. Dia merasa segalanya menjadi tidak baik-baik saja.


Satu jam berlalu ...

__ADS_1


Dara yang tidak tenang merasa ingin segera mengakhiri ini semua meski rasanya sangat sakit dan tidak nyaman.


Willy mengirim pesan padanya.


Dara segera membuka ponselnya. Dia membaca pesan itu.


Dara, aku harap kau mau memberiku kenangan terakhir yang manis.


Aku tunggu setelah pesta ini.


Dara segera mematikan ponselnya saat Daniel curiga Dara sedang bermain ponsel.


"Apa yang kau lakukan? Apa dia menghubungimu lagi?"


"Tidak, aku merasa pusing. Baterai ponselku juga habis. Apa kau mau mengantarku pulang?"


"Ya, sebentar lagi kita pulang."


"Tapi aku sudah tidak tahan, rasanya pusing sekali."


"Oh oke, aku akan membawamu ke rumahku."


"Aku tidak mau. Aku mau pulang ke rumahku."


"Apa pria itu akan datang ke rumahmu hingga kau tidak mau lagi datang padaku?"


"Daniel?"


"Ada apa?"


"Aku tidak mau berdebat."


"Makanya, ikut ke rumahku!"


Dara merasa Daniel kesal. Dia terpaksa mengikuti apa yang pria itu katakan.

__ADS_1


*****


__ADS_2