
William memperhatikan Dara dan Daniel, keduanya terlihat keluar dari pesta.
Willy, pura-pura mengatakan kepada Barbie, ada urusan sebentar di luar. Barbie, merasa tidak mencurigai pria yang dekat dengannya itu. Jadi, membiarkan Willy, melakukan hal sesuai dengan keinginannya.
Daniel begitu kasar terhadap Dara, cinta yang terlalu besar membuatnya cukup murka.
"Aku sangat mencintaimu tetapi kau begitu mudahnya terpikat oleh pria yang baru saja datang," ucap Daniel sambil mencengkram erat lengan Dara.
"Daniel, ini sangat sakit dan aku tidak akan memaafkanmu jika terlalu memaksaku untuk menjauhi siapapun," jawab Dara dengan suara yang cukup berat.
Dia sebenarnya sudah muak dengan apa yang dilakukan oleh teman yang selama ini menolongnya tetapi sungguh pamrih.
Willy semakin dekat dengan keduanya lalu, meminta salah satu karyawan untuk memberikan pesan kepada Dara.
Sebuah pesan yang di tulis melalui sebuah kertas.
Willy memberikan upah pada karyawan itu lalu si karyawan bayaran melaksanakan tugasnya dengan baik.
"Nona, ada pesan untuk anda," ucap si karyawan yang sama sekali tidak peduli jika ada seorang Daniel di depan Dara.
"Apa ini?" ucap Daniel langsung merebut pesan itu dan merobeknya.
Setelah itu, Willy berada di belakang mobil milik Daniel, dia meminta Dara menjawab panggilan telepon darinya.
Panggilan telepon benar-benar terdengar jelas di saat Daniel mengintrogasi si karyawan, karena ini sangat menganggu Daniel.
__ADS_1
Sedangkan Willy berhasil memancing Dara berjalan ke arahnya.
Kini dia bertatap muka dengan Dara.
"Aku sudah bilang, jangan ikut dengannya, ikut saja denganku."
"Aku kemari dengan cara baik-baik dan ingin mengatakan bahwa aku ingin kita berpisah."
"Tidak semudah itu."
Willy sudah merencanakan segalanya, dia membius sang gadis dan membawanya pergi menaiki taksi yang sudah dipesan, jika dia menggunakan mobilnya, akan sangat kentara.
"Aku yang menang sekarang."
Sang pria lalu membawa Dara ke sebuah tempat yang jauh dari kota besar.
"Aku akan menjagamu sayang, tidak perlu merasa sendiri lagi. Si Daniel itu, biarkan kau yang mengurusnya."
Willy membayar seorang pria yang menjadi sopir taksi.
Dia sudah menutup mulut sang sopir agar tidak ember kepada Barbie tentang keberadaanya.
William mengendong tubuh itu keluar dari mobil dan mendapati sang gadis belum sadar juga.
Dia masuk ke dalam area villa.
__ADS_1
Willy merebahkan tubuh Dara di dalam sebuah kamar yang sudah di siapkan untuk Dara.
"Bangun sayang?" ucap Willy sambil memberikan aroma wewangian yang sangat menyengat tepat di hidung Dara.
Dara sampai batuk-batuk dan kedua matanya terbuka.
"Aku ada dimana?" tanya Dara sambil memegang kepalanya yang pusing.
"Kau ada bersamaku, tidak ada yang bisa menganggu kita lagi," jawab Willy dengan percaya diri.
"Astaga, minyak apa yang kau beri pada hidungku?" cetus Dara yang merasa tak sanggup menghirup aroma yang terlalu pekat itu.
"Aku merasa kau sangat suka, jadi aku berikan yang ini," ungkap Willy sambil menahan tawa, sebenarnya Willy sengaja melakukan ini pada Dara agar dia bisa segera menatap wajah ayu itu dan mata lentik mempesona.
"Aku tahu, kau sengaja melakukannya kan?" ucap Dara yang melihat Willy lebih tampan dari sebelumnya.
Kedua mata yang sudah lama tidak saling menatap, sungguh memancarkan sinar rindu yang membahana.
"Aku rindu padamu, bisakah kau memberikan sesuatu yang aku inginkan?"
"Tidak, aku harus pulang Will."
Dara masih cukup pusing, tetapi mencoba untuk tetap beranjak dari tempat tidurnya.
Namun, Willy mencegahnya.
__ADS_1
"Aku ingin memelukmu, aku rindu pelukanmu!"
*****