Pria Dewasa Yang Nakal

Pria Dewasa Yang Nakal
Hadiah selamat tinggal!


__ADS_3

Sang gadis merasa perasaannya menjadi aneh, sebelum sang kekasih mengatakan ingin pergi, dia ingin sekali mengatakan bahwa dirinya merasa berarti sikap berada di dekat sang pria.


Namun, saat kata-kata itu terlontar tanpa permisi dari mulut sang kekasih, Dara seperti terbungkam dan tidak mampu berkata-kata lagi.


"Kalau kau mengatakan jangan pergi, mungkin aku bisa mempertimbangkannya," ucap Wiliam.


Dia terlihat melirik sang gadis, tetapi tidak mendapatkan respon apapun karena pandangan Dara lebih tertarik pada pemandangan di luar sendiri.


Namun, di hatinya sangat ingin sang kekasih berada di sisinya selamanya tanpa harus meninggalkannya meski hanya beberapa jam atau hari saja.


Dia sudah mendapatkan perasaan itu, sebuah perasaan yang diharapkan oleh William.


Hanya saja, Dara belum ingin mengungkapkannya secara jelas sebab dirinya masih ragu, antara malu atau takut untuk menerima perasaannya sesungguhnya dari seorang William.


Sang gadis terlihat diam saja dan melamun, ada suara yang terdengar dari mulutnya yang biasanya banyak bicara.


"Kau sakit atau bagaimana?" tanya Wiliam mencoba untuk menyapa karena dia khawatir sang gadis mendapatkan tekanan setelah melakukan pembalasan terhadap sang mantan kekasih yang kurang ajar itu.


"Aku tidak ingin apapun selain, kau bekerja dengan baik di sana."

__ADS_1


Sang gadis tadi mengutarakan apa yang ada di dalam mulutnya saja bukan di dalam hatinya, setidaknya dia bisa membuat sebuah keputusan meskipun belum final.


"Ya, tentu saja. Di sana juga ada banyak gadis cantik yang tentunya lebih segalanya darimu, apakah kau masih bertahan dengan rasa egois itu?"


Beberapa menit kemudian, sang pria menghentikan mobilnya dan menatap sang kekasih lagi.


"Kenapa kau menghentikan mobilmu?" tanya sang gadis kebingungan.


"Aku ingin memberikan tawaran terakhir kepadamu, apa kau ingin aku pergi? apa kau ikut denganku? kita pergi bersama!"


Sang kekasih terlihat sangat antusias mengajak si gadis ikut bersamanya karena dia tidak suka melihat sang gadis diam saja oleh sebab merindukan dirinya.


Namun bukannya menjawab pertanyaan sang kekasih, sang gadis justru sibuk dengan ponselnya.


William agaknya tidak menyukai jika diabaikan begitu saja, dia merebut ponsel sang gadis dan meraih dagu Dara.


"Apa masalahmu William? mengapa kau membanting ponselku?" tanya sang gadis pura-pura tidak mengetahui alasan di balik sikap arogan sang kekasih, udah sebenarnya dia memahami apa yang diucapkan olehnya.


Hanya saja, Dara tidak mau ambil pusing tentang kepergian sang kekasih.

__ADS_1


"Aku bertanya sekali lagi kepadamu, jika kau memintaku tetap tinggal di sini, aku akan membatalkan kepergian ku tetapi jika kau tidak mempermasalahkan pekerjaanku ini, aku akan tetap pergi."


"Aku tidak ingin ikut, aku di sini saja."


"Oke, jangan salahkan aku jika kau rindu. Kau harus menempuh beberapa mil dari sini untuk bertemu denganku."


"Ya, aku tak masalah dengan semua itu. Aku akan menunggu kau kembali."


Cup!


William menge cu p bibir ranum itu, awalnya sang gadis enggan melanjutkan, tetapi tatapan mata itu sungguh mampu menghadirkan tatapan iba.


Dia memperdalam ci u ma nnya dan sangat intens keduanya menghayati sentuhan itu.


Keduanya masuk ke dalam harmoni cinta yang memabukkan hingga, satu persatu helai kain terlepas.


Sang gadis terlihat mendominasi.


"Oh, apa ini seperti hadiah selamat tinggal?"

__ADS_1


"Anggap saja seperti itu!"


*****


__ADS_2