Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Kasihan


__ADS_3

Luca berbaring lemah di dalam kamarnya. Sebenarnya pria itu hanya pura-pura saja. Dia ingin membuat Tiffany merasa bersalah. Dia ingin memberi pelajaran kepada Tiffany.


"Tuan, ini air hangatnya," ucap Tiffany dengan suara yang pelan. Namun Luca masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Tiffany menahan langkah kakinya lalu memperhatikan kamar Luca yang terlihat begitu luas dan mewah. Bisa dibilang kamar yang kini ditempati Luca untuk istirahat luasnya sama dengan rumah yang selama ini ditempati oleh Tiffany dan Quinn. Perabot yang terdapat di dalam kamar nilainya sangat fantastis. Berbeda jauh dengan kehidupannya dengan Dante dulu. Meskipun Dante juga orang yang berduit tetapi pria itu selalu saja perhitungan jika ingin mengisi perabot di dalam rumah mereka.


"Sejauh ini aku lihat Tuan Luca sendirian saja. Apa dia tidak memiliki istri dan anak atau keluarga lainnya? Kamar ini justru terlihat seperti kamar pria single," batin Tiffany.


"Uhuk uhuk!"


Tiffany tersadar dari lamunan singkatnya. Wanita itu segera menghampiri Luca di tempat tidur. "Tuan, ini minuman hangat yang anda pesan. Mau langsung diminum atau nanti saja?"


Luca menatap sinis ke arah Tiffany sebelum mengatur ekspresi wajahnya. Pria itu berusaha untuk duduk namun ia terlihat sangat kesulitan. Satu tangannya ada di perut seolah-olah perutnya masih sangat sakit akibat makanan pedas yang ia konsumsi.


"Tuan, biar saya bantu." Tiffany segera meletakkan air minum yang ia bawa di atas nakas. Dengan cepat wanita itu membantu Luca untuk duduk. Ketika Tiffany memegang tubuhnya justru Luca terlihat mematung. Pria itu menatap wanita yang kini sangat dekat di hadapannya.


"Kenapa kau memakai pakaian seperti ini?" Luca memperhatikan penampilan Tiffany dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Nenek Ar memberiku pakaian ini. Dia bilang semua pelayan yang bekerja di rumah ini akan memakai pakaian seperti ini," jawab Tiffany apa adanya.


Luca memalingkan wajahnya. "Mana air minumku?" ketusnya dengan wajah galak.

__ADS_1


Tiffany segera mengambil minuman yang tadi ia bawa dan memberikannya kepada Luca. Wanita itu memperhatikan wajah Luca dengan seksama untuk memastikan apakah pria itu masih sakit atau sudah sehat.


"Ini terlalu dingin." Luca memberikan lagi gelas yang masih berisi air minum itu kepada Tiffany. "Ganti dengan yang baru."


Tiffany menghela napas kasar. Kali ini dia tidak bisa galak-galak dengan Luca karena posisinya sebagai seorang pelayan. Tanpa mau banyak protes Tiffany segera membawa gelas itu keluar kamar untuk menggantinya dengan yang baru. Di dalam kamar Luca hanya tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai Tiffany.


Di depan kamar, Tiffany bertemu dengan Quinn. Anak kecil itu berdiri di sana sambil memperhatikan Tiffany dengan wajah yang begitu serius. "Mommy Kenapa airnya masih penuh? Apa Tuan Luca tidak mau meminumnya?"


"Ya. Dia bilang sudah dingin dan Mommy harus menggantinya dengan yang baru," jawab Tiffany sebelum melangkah menuju ke tangga. Melihat Tiffany tidak ada di sana, Quinn segera masuk ke kamar Luca. Anak kecil itu ingin melakukan negosiasi lagi agar Mommynya tidak sampai menderita.


Di dalam kamar, Luca terlihat tertawa riang. Pria itu benar-benar puas sudah mengerjai Tiffany. Ketika melihat Quinn muncul Luca cepat-cepat mengatur ekspresi wajahnya. Pria itu pun memasang wajah seperti orang sakit. Padahal yang sebenarnya terjadi pria itu sudah benar-benar sehat.


"Hai anak kecil. Bukankah kau sendiri yang menawarkan Mommymu agar bekerja sebagai pelayan pribadiku? Kenapa sekarang kau berkata seolah-olah aku yang salah?" protes Luca tidak terima.


"Ya anda benar. Memang tadinya saya pikir Mommy harus menebus kesalahannya dengan menjadi pelayan pribadi anda. Tetapi bukan berarti anda berhak untuk mengerjai Mommy saya seperti ini. Mommy sudah melakukan apa yang Anda perintahkan tetapi anda tidak menerima hasil kerjanya."


"Aku memintanya untuk membawakan air hangat. Tetapi dia membawakan air dingin. Apa itu berarti aku yang salah jika menyuruhnya kembali ke dapur untuk menggantinya dengan air yang baru?"


Baik Luca maupun Quinn sama-sama keras kepala. Di antara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah.


"Paman, sebenarnya ada hal lain yang ingin aku sampaikan. Seseorang telah membobol dataku. Aku kehilangan semuanya. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana untuk memulainya lagi. Aku butuh waktu untuk sendiri dan menyelesaikan semuanya. Tetapi akhir-akhir ini Mommy selalu mengawasiku dengan begitu ketat. Sampai-sampai aku tidak bisa bekerja dengan maksimal."

__ADS_1


"Lupakan saja. Setelah aku pikir-pikir Aku tidak akan mungkin kalah lagi. Bukankah data inti sudah kau kunci? Untuk misi yang lain aku sudah melupakannya." Luca kembali diam. Ternyata pria itu sudah tahu kalau lawannya di dunia mafia mulai beraksi dan kali ini Luca tidak berani main-main lagi. Dia ingin menghentikan Quinn agar Quinn tidak terlibat dalam masalah yang terjadi di dalam dunia hitam.


"Kalau begitu bukankah itu berarti saya sudah tidak memiliki tugas lagi? Setelah anda benar-benar sembuh saya dan Mommy akan pergi dari rumah ini. Kita juga sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Saya minta untuk tidak pernah menemui kami lagi karena kelihatannya Mommy tidak nyaman jika anda selalu muncul di hadapan Mommy. Terutama ketika Mommy sedang berkelahi dengan pria bernama Dante itu."


"Ternyata kau sama saja dengan ibumu. Aku datang untuk menolong kalian kenapa kalian sama-sama menganggapku sebagai pengganggu. Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Setelah ibumu berhasil melakukan tugasnya kalian boleh pergi. Aku janji tidak akan menemui kalian lagi." Meskipun Luca terlihat setuju dengan ide yang dilontarkan oleh Quinn tetapi tetap saja di lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak rela jika harus berpisah dengan Quinn.


"Tuan, Sebenarnya saya sangat menyayangi anda. Anda jangan salah paham. Awalnya memang Anda terlihat sangat menyebalkan. Tetapi lama-kelamaan justru Anda terlihat seperti pria yang sangat baik. Jika saja saya boleh meminta Saya ingin anda menjadi Ayah angkat saya. Tetapi saya juga selalu memikirkan perasaan Mommy. Mommy sudah cukup menderita dengan masa lalunya."


"Kau tahu bagaimana masa lalu Mommymu?"


"Jelas saja aku tidak tahu. Mommy tidak pernah cerita apapun kepadaku. Yang aku tahu hidup kami sejak dulu sangat menderita. Aku ingin menjadi orang yang berguna agar bisa membahagiakan Mommy. Aku selalu berusaha untuk membuat Mommy bahagia. Tetapi pada kenyataannya justru orang-orang di sekitar Mommy suka sekali membuat Mommy sedih."


Luca tersentuh dengan perkataan Quinn. Pria itu meminta Quinn untuk duduk di tempat tidurnya. "Aku akan membantumu untuk membuat Mommymu bahagia. Dilihat dari penampilannya sepertinya kebahagiaan dia tidak berasal dari uang. Apa kau tahu kira-kira hal apa yang bisa membuat Mommymu bahagia?"


"Anda salah. Faktor utama yang membuat Mommy sedih selama ini karena dia tidak memiliki uang. Dia selalu merasa gagal karena tidak berhasil menjadi Ibu yang baik untukku. Paman, apa tidak ada pekerjaan yang cocok untuk Mommy di perusahaan anda? Dengan begitu Mommy akan memiliki penghasilan tetap. Tidak perlu bekerja paruh waktu lagi. Dia juga bisa memiliki liburan setiap minggunya agar bisa bermain denganku di rumah."


"Tentu saja ada. Nanti akan aku pikirkan lagi. Sekarang tugasmu adalah belajar. Kau harus bisa tumbuh menjadi anak yang pintar agar bisa membanggakan Mommymu."


Quinn mengangguk sambil tersenyum. Tanpa disadari mereka berdua ternyata sejak tadi Tiffany menguping pembicaraan mereka di depan pintu. Quinn tidak menutup pintu kamar itu dengan rapat hingga akhirnya Tiffany bisa mendengar obrolan mereka dengan begitu jelas.


"Benar apa yang dikatakan Quinn. Kalau Tuan Luca pria yang sangat baik. Sepertinya selama ini aku telah salah paham menilainya," gumam Tiffany di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2