
Tiffany mengerjapkan kedua matanya. Operasi Quinn sudah selesai. Wanita itu masih menunggu Quinn untuk membuka kedua matanya. Dengan gelisah ia tertidur di sofa.
Pikiran rumit berkelebat di kepalanya. Meskipun mengantuk, Tiffany masih berjuang untuk tetap terjaga. Alasannya hanya satu. Yaitu, golongan darah langka yang dimiliki oleh Quinn dan Luca.
Tiffany sudah bertanya kepada dokter tentang golongan darah yang langka itu. Hasilnya, disebut langka karena sangat sulit ditemui golongan darah tersebut. Jadi, kemungkinan hanya sedikit orang yang memiliki golongan darah itu.
"Aku tidak tahu apakah Tuan Luca benar merupakan Ayah kandung Quinn atau bukan. Ya Tuhan!" Tiffany lemas tak berdaya.
Ingatan Tiffany terlempar pada 7 tahun yang lalu. Yang mana Tiffany dan seorang laki-laki asing telah menghabiskan satu malam panas. Ya, saat itu. Sebuah kalung ia temukan di kmar hotel.
"Jika Luca memang laki-laki itu, maka dia pemilik kalung yang aku temukan waktu itu. Sepertinya nanti aku perlu bertanya pada Luca. Entah kemana perginya laki-laki itu. Padahal biasanya dia sering menempel," gumam Tiffany.
Meskipun hati Tiffany gelisah, tapi wanita itu mencoba untuk tetap sadar. Quinn membutuhkan dirinya. Namun, perlahan seiring berjalannya waktu kedua mata Tiffany tidak bisa diajak bekerja sama. Kedua mata Tiffany memaksa untuk terpejam.
__ADS_1
"Ah!" Mendadak Tiffany menjerit. Wanita itu memegangi pipinya.
Tampak Luca tersenyum dalam posisi berdiri. Di tangannya ada kopi dingin yang mungkin saja dibeli Luca di supermarket.
"Minum kopi dulu. Sepertinya kau mulai mengantuk. Ini. Aku mentraktirmu." Luca mengulurkan kopi dingin dalam kaleng.
Perlahan Tiffany menyambut kopi itu. Dengan canggung, wanita itu mulai tersenyum. Lidahnya terlalu kaku untuk sekedar mengucapkan rasa terima kasihnya. Tak lama kemudian, Tiffany kembali terkejut. Lantaran Luca tiba-tiba duduk tepat di sampingnya.
"Apa kau tahu, kalau ini merupakan kepanikanku yang pertama kali dalam hidupku?" tanya Luca.
"Sejujurnya aku sedikit bingung. Karena aku menjadi khawatir dan panik dalam waktu yang bersamaan. Sungguh, itu tidak nyaman dan aku justru berada di sini sampai detik ini. Aneh kan? Aku dan Quinn hanya tidak sengaja berteman. Tapi, entah bagaimana bisa sampai di sini." Luca meneguk minuman kaleng sampai sisa separuh.
Sedangkan Tiffany, sedang menyusun kepingan-kepingan puzzle di kepalanya. Mendadak ia menemukan satu hal. Ikatan batin? Benarkah Luca dan Quinn memiliki ikatan batin? Jantung Tiffany mendadak berdegup kencang.
__ADS_1
"Apa kau pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita? Maksudku, rasanya tidak enak jika dia berpikir Quinn menghalangi kedatanganmu. Bukankah ini malam minggu?" Tiffany memancing pembicaraan kekasih Luca. Ya, selama keduanya dekat, Tiffany tidak pernah melihat kekasih Luca.
"Omong kosong apa yang katakan? Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Sudah kubilang untuk pertama kalinya kalau aku baru merasakan perasaan khawatir, panik dan senang ketika bersama Quinn," ungkap Luca.
Tiffany tersenyum aneh. Luca tidak memiliki kekasih ataupun kisah tentang wanita yang bercinta dengannya dalam satu malam. Itu artinya Luca bukan laki-laki yang bersamanya waktu itu.
"Lalu siapa laki-laki yang menghabiskan malam panas itu denganku?" tanya Tiffany dalam hati.
"Tapi, kalau aku ingat-ingat aku pernah tanpa sengaja bercinta dengan seorang wanita. Itu tidak sengaja. Sungguh. Aku juga tidak tahu bagaimana bisa kami menghabiskan malam panas itu. Hanya saja kalung yang aku gunakan itu hilang," jelas Luca.
Deg!
Wajah Tiffany pucat pasi. Kedua mata wanita itu melotot. Luca tersenyum tipis. Jadi dugaannya benar. Tiffany tidak tahu siapa laki-laki yang menghabiskan malam panas itu dengannya. Jadi, Tiffany bukan dengan sengaja menyembunyikan Quinn darinya.
__ADS_1
"Dan kalau aku tidak salah ingat. Kau menyimpan kalung yang sama dengan milikku yang hilang selama 7 tahun lebih itu, Tiffany."
Deg!