Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Pertikaian


__ADS_3

"Paman Luca!" Quinn berseru ketika ia melihat Luca berhasil mendobrak pintu.


Gadis kecil itu berbinar melihat kedatangan Luca yang sangat dinantikannya. Namun, senyumannya menghilang ketika Quinn melihat seseorang hendak menembak Luca. Kedua mata Tiffany dan Quinn membulat. Keduanya sangat takut jika Luca tertembak.


"Tuan Luca, awas!" Tiffany berteriak.


Akan tetapi, kepanikan Tiffany pun berganti menjadi kelegaan saat Luca berhasil menghindar. Tak lama kemudian seorang laki-laki berjalan mendekati Tiffany dan Quinn. Dua orang itu ketakutan. Bilamana laki-laki itu merupakan bagian dari musuh.


"Tenang. Saya anak buah Tuan Luca. Jangan terlalu berisik. Saya akan melepaskan ikatan Anda. Kalau Anda berdua terlalu berisik, takutnya pihak musuh mengetahui kedatangan saya, Nyonya." Laki-laki itu menempelkan jari telunjuknya di bibir. Menandakan ia sedang memberikan isyarat pada Tiffany dan Quinn.


Setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan kepala, laki-laki itu melanjutkan kembali langkah kakinya yang tampak pelan-pelan. Tak lama kemudian laki-laki itu mengeluarkan gunting dan memotong tali yang mengikat kaki beserta tangan Tiffany. Selanjutnya laki-laki itu memotong ikatan yang mengikat kaki dan tangan Quinn.


"Terima kasih, Tuan." Tiffany berterima kasih dengan tulus. Wanita itu segera memeluk Quinn. Ia pun menangis sesenggukan. Rupanya Tuhan masih berbelas kasihan kepada Tiffany.


"Jangan berterima kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada Tuan Luca. Sekarang, ayo kita pergi dari sini," ajak laki-laki itu.


Mendengar penjelasan dari anak buah Luca, mata Tiffany kini tertuju ke arah depan. Yang mana Luca seperti sedang menantang seseorang. Mata Tiffany beralih dari Luca ke arah yang berlawanan. Tampak laki-laki seusia Luca berdiri di seberang yang berlawanan. Keduanya saling memandang dengan mata yang tajam.


Tiffany merinding ketakutan. Ia tidak tahu jika Luca memiliki aura yang mengerikan. Sungguh, Tiffany merasa tidak berdaya melihat bagaimana tegapnya Luca menantang musuh.


"Diego, ini permasalahan kita. Mengapa kau harus menyeret orang yang tidak tahu apapun tentang dunia kita? Apa kau terlalu pengecut?" Luca mengejek laki-laki yang bernama Diego.


Mendengar Luca menyebut nama Diego yang sejak tadi tidak muncul membuat Tiffany kembali mengamati Diego. Penampilan laki-laki itu masih seusia dengan Luca. Tiffany mulai sadar rupanya Diego juga mengenakan jas mewah yang menunjang penampilannya.


"Mungkinkah ini karena persaingan bisnis? Mengapa mereka berdua sangat menyeramkan? Hanya karena kekuasaan saja mereka bisa sampai sejauh ini. Menculik orang yang tidak bersalah. Tapi, berapa banyak jumlah orang yang bekerja pada mereka berdua? Mengapa kelompok mereka sangat banyak sekali?" gumam Tiffany dalam hati.


"Tidak ada yang salah dengan semua ini, Luca. Semua halal di dunia kita. Jangan harap aku akan diam saja melihatmu mengambil alih kekuasaan. Lihatlah dirimu. Sejak kapan kau tergila-gila dengan ibu dan anak itu ha? Ha-ha-ha! Kau menggelikan, Luca!" Tawa Diego menggelegar membuat telinga Tiffany panas.


Luca mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat marah dengan balasan dari Diego yang mengejek dirinya. Wajah bersih Luca tampak memerah. Menandakan amarah mulai menguasai hati Luca.


Pandangan Diego beralih pada Tiffany dan Quinn. Keduanya seketika menundukkan kepala secara reflek. Mungkin tidak biasanya berhadapan dengan orang mengerikan seperti Diego. Memang Diego memiliki wajah tampan. Namun, tetap saja tatapan mata laki-laki itu membuat nyali Tiffany mengkerut.

__ADS_1


"Ya Tuhan, apakah dia ingin membunuhku? Kumohon, selamatkan aku dan anakku." Tiffany berdoa dalam hati. Wanita itu mencoba untuk menenangkan hatinya yang berdegup kencang.


"Lihat wanita itu. Dia begini saja sudah sangat ketakutan. Mengapa kau tertarik padanya? Kau benar-benar sudah menjatuhkan selera dalam memilih wanita." Diego bertepuk tangan. Seolah ia sedang memberikan Applause untuk Luca.


"Aku selalu memilih wanita. Tidak semua wanita selalu aku pilih untuk menemani kencan ku. Contohnya Aku tidak seperti dirimu. Yang asal Bertemu dengan wanita dan berkencan dengannya Menghabiskan malam panjang. Kalau begini siapa memangnya yang lebih murahan?" Luca tersenyum menyeringai.


Ia tahu semua tabiat musuhnya itu. Sebab keduanya seringkali menghadiri acara-acara yang mengharuskan keduanya untuk bertemu di satu acara itu. Contohnya adalah Serikat mafia. Di sana semua ketua mafia akan berkumpul dan mencoba untuk bernegosiasi untuk mendapatkan sekutu.


Sebelum memasuki acara itu tentunya pihak dari serikat mafia sudah memilih siapa saja yang akan hadir di dalam pesta itu. Akan tetapi perseteruan antara Luca dan Diego memang sudah mendarah daging.


Dua orang itu selalu saja bersaing dalam hal apapun. Tidak heran kalau banyak diantara ketua geng mafia lain yang mencoba untuk mencari muka di depan Luca maupun Diego. Sebab dua ketua geng mafia itulah yang memiliki wilayah kekuasaan besar.


"Luca! Apa kau tahu kalau kau sudah membuatku merugi hingga miliaran?" Akhirnya Diego tidak lagi mampu menahan emosinya.


Laki-laki itu mulai berapi-api ketika membahas masalah kerugian dari bisnis yang ia jalankan. Terlebih baik Diego maupun Luca sama-sama pernah membobol data rahasia antar perusahaan mereka.


"Apa kau bodoh? Aku hanya membalas semua perbuatanmu. Kenapa kau malah menyalahkan aku atas balasan yang kau terima? Nasib baik aku bisa membalasmu. Bagaimana kalau aku tidak bisa membalas dan membalikkan keadaan? Mungkin aku akan bangkrut dan terus mengalami kerugian. Kenapa? Apa kau tidak menduga kalau aku bisa membalasmu?" Luca menyeringai.


"Apakah kau merasa lebih baik dariku? Kau selama ini selalu sombong! Kau selalu berusaha untuk menguasai perhatian dunia. Mengapa harus kau?" kesal Diego.


"Karena aku pintar. Dunia mencintaiku karena aku memiliki otak yang berguna untuk membuatku kaya. Bukan seperti dirimu yang selalu mencuri milik orang lain." Luca lagi-lagi mengejek Diego.


Bahkan Luca memuji dirinya sendiri dan mengatakan bahwa bahwa Diego seorang pencuri. Kini amarah Diego tidak tertahankan. Laki-laki itu hendak mengerahkan anak buahnya untuk menyerang Luca.


Akan tetapi sebelum sempat Diego memberikan isyarat kepada anak buahnya, Luca segera angkat bicara. Sebab Diego bisa berbuat curang. Tidak tahu di bagian mana Diego memasang jebakan.


"Supaya aku tidak terjebak, lebih baik aku membuatnya terjebak dalam rencanaku," ucap Luca dalam hati.


"Jangan mengandalkan anak buahmu. Apa kau sendiri tidak memiliki nyali untuk berhadapan denganku? Ngomong-ngomong jika begitu adanya bukankah kau sangat pengecut? Selain kau menculik orang yang tidak ada hubungannya dengan dunia kita, kau juga seorang pengecut besar. Kalau kau memiliki nyali, Bagaimana kalau kita satu lawan satu tanda tanya Bukankah itu adil?" Luca memberikan saran kepada Diego agar Luca dan Diego saling berhadapan tanpa membawa anak buahnya yang lain.


Sontak saja Diego tidak lagi tersulut amarahnya. Laki-laki Itu tampak pucat pasti. Luca tersenyum melihat reaksi yang diberikan oleh Diego. Sejak dulu Diego tidak pernah menghadapi dirinya secara langsung.

__ADS_1


Kini Luca melepaskan Jas mewahnya. Ia hanya menggunakan kemeja melekat di badan. Luca tidak akan melepaskan kemeja tersebut. Karena di dalamnya terdapat rompi anti peluru. Tidak mungkin kalau Luca memamerkannya di depan Diego.


Menyadari bahwa dirinya ditantang oleh Luca, Diego pun segera melepaskan jas mahalnya. Ia juga hanya mengenakan kemeja yang ia pakai. Dua orang itu melangkah maju ke depan. Hanya berjarak beberapa langkah saja keduanya Saling berhadapan.


"Aku sudah menantikan hal ini. Kau selalu saja berhasil di depanku. Aku akan membuatmu sadar bahwa kau tidak lebih baik dariku." Diego berkata dengan sombong. Laki-laki itu membusungkan dadanya ketika ia melihat Luca berdiri terdiam.


"Mengapa dia sangat percaya diri? Sebelumnya ia selalu bertindak curang. Sekarang apalagi yang membuatnya begitu sombong?" Luca membatin penuh curiga.


Diego menyerang membabi buta pada Luca yang melamun. Sedikit mencuri start memang. Tapi beruntung Luca sigap menghindar. Terus saja Diego menyerang Luca melancarkan aksi tendangan maupun pukulan. Pun juga dengan Luca yang menghindar.


"Hei! Apa kau sekarang justru menjadi pengecut? Mengapa kau selalu menghindar? Apa kau takut padaku?" Diego menyeringai. Laki-laki itu merasa menang dari Luca. Padahal Luca belum membalas serangan yang diberikan oleh Diego.


"Paman Luca! Jangan membuang waktu!" teriak Quinn secara tiba-tiba.


Teriakan Quinn cukup mengejutkan semua orang. Bahkan Tiffany reflek membungkam mulut Quinn dengan kedua tangannya. Mendengar teriakan dari Quinn, Luca seolah mendapatkan kekuatan. Laki-laki itu dengan cepat memukul dan menendang Diego.


Luca membalikkan keadaan. Diego pun mendapatkan pukulan secara membabi buta. Beberapa menit kemudian, Diego mulai sempoyongan. Wajahnya mengalami banyak luka.


Tiffany yang terus fokus melihat dua orang itu, tanpa sengaja melihat Diego memainkan tangannya. Kedua mata Tiffany membulat saat ia mengetahui bila Diego memberikan isyarat pada anak buahnya untuk menyokong senjata.


Dor!


"Ah!" Tiffany tiba-tiba datang dan berdiri tepat di depan Luca.


Wanita itu terburu datang sehingga mengejutkan Luca. Namun, Luca justru kaget ketika Tiffany mendadak roboh tepat di depan Luca. Luca menatap tajam punggung Tiffany yang berdarah.


Tubuh Luca membeku seketika. Laki-laki itu tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tiffany menyelamatkan nyawanya? Padahal Luca sendiri sudah menggunakan rompi anti peluru.


"Mommy!" Quinn menangis histeris di samping tubuh Tiffany yang lemas.


"Mommy! Jangan tinggalkan aku, Mommy! Hua! Mommy! Paman Luca, tolong Mommy! Kenapa Mommyku menutup mata?" Quinn bersimpuh di bawah kedua kaki Luca.

__ADS_1


"Mengapa dia menyelamatkan aku?"


__ADS_2