Putri CEO Tersembunyi

Putri CEO Tersembunyi
Misi


__ADS_3

Luca sangat mengenali kalung miliknya. Sebab itu didesain khusus olehnya sendiri. Bukankah itu aneh kalau Tiffany memiliki kalung hasil desain milik Luca yang hanya ada satu di dunia? Dengan hati yang berdebar, Luca menutup kembali kotak itu. Kemudian ia mengembalikan kotak tersebut ke tempatnya semula.


Mendadak otak Luca tidak dapat berpikir. Luca sangat syok dengan apa yang sudah ia temukan di sini. Perlahan Luca mengusap dadanya yang terus berdebar. Napas Luca pun menderu. Sungguh, Luca sangat terkejut menemukan kalung yang sudah 7 tahun lebih menghilang.


"Tujuh tahun lebih?" Luca tanpa sadar menggumam lirih. Ia lalu menghitung berapa lama kalung miliknya menghilang.


"Paman Luca! Kenapa Paman Luca malah melamun begitu? Wajah Paman terlihat jelek. Ayo, kita ke rumah sakit. Jangan sampai mommy selesai operasi aku tidak ada di sana menemaninya. Atau dia akan berpikir aneh padaku," seru Quinn.


"Oh, i-iya!" Luca berjalan tergopoh-gopoh. Laki-laki itu tersenyum kaku pada Quinn. Namun, justru Quinn malah menyipitkan kedua matanya. Gadis kecil itu seolah sedang mencari sesuatu.


"Kenapa kau menatapku begitu, Quinn?" tanya Luca.


"Wajah Paman terlihat aneh. Apa Paman Luca baru saja berpikiran mesum setelah aku menyuruh Paman Luca untuk mengemas baju mommy?" tuduh Quinn.


Betapa terkejutnya Luca mendapatkan tuduhan seperti itu dari Quinn. Laki-laki itu gelagapan.


"Apa yang kau bicarakan? Aku sedang merenung tahu!" elak Luca.


Quinn mengerucutkan bibirnya. "Merenung? Kenapa? Apa Paman Luca baru sadar kalau memiliki banyak dosa?"


Luca melebarkan kedua mata. Bisa-bisanya Quinn kembali menyebalkan di saat seperti ini. Luca pun mengusap pelan dada bidangnya. Ia mencoba menahan diri supaya sabar dalam menghadapi Quinn.


"Tunggu! Aku harus mengambil rambut Quinn. Kalau Tiffany wanita malam itu, maka kemungkinan besar Quinn anakku. Ya! Aku harus mendapatkan rambut Quinn secara diam-diam. Sebab Quinn sangat pintar. Ah, benar juga. Quinn pasti memiliki IQ yang sama tingginya denganku!" Luca menjerit dalam hati. Ia hampir kehabisan napas ketika mengetahui bahwa bisa saja Quinn merupakan darah dagingnya.


"Aduh!" Luca menjerit keras. Ia merasakan kakinya sedikit ngilu. Quinn menendang kakinya.


"Jangan marah. Aku hanya menghentikan Paman Luca yang terus bengong. Bukankah kita harus segera pergi, Paman? Kita sudah menghabiskan banyak waktu!" Quinn menggerutu.


Gadis kecil itu pun melangkah pergi meninggalkan Luca yang mematung di tempatnya. Susah payah Luca berusaha mengontrol debaran jantungnya.

__ADS_1


"Ya Tuhan! Ini semua seperti mimpi. Aku bahkan sudah lupa tentang kalung itu. Tapi hari ini aku justru mendapatkan sesuatu yang mengejutkan. Kalung yang selama ini aku pikir hilang entah ke mana rupanya malah berada di rumah wanita yang selalu kupikir menyebalkan dan menjengkelkan. Ya Tuhan, ini seperti sebuah permainan saja." Luca kembali menggerutu pelan.


Ia tidak habis pikir Bagaimana takdir mempermainkannya. Setelah memastikan bahwa jantungnya berdetak Normal, laki-laki itu kemudian menyusul Quinn.


"Kenapa Paman lama sekali?" Quinn kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Luca memutar bola matanya kesal.


Padahal Luca belum duduk di kursi kemudinya. Laki-laki itu memilih untuk mengabaikan pertanyaanku yang. Lalu Luca menginjak pedal gas dan membawa mobilnya menuju ke rumah sakit lagi.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Luca terus berpikir tentang Tiffany. Tiffany yang beberapa waktu lalu bertengkar dengan mantan suaminya lantaran Quinn. Di mana Quinn menjadi pertengkaran karena disinyalir sebagai anak dari mantan suami Tiffany.


"Waktu itu Quinn mengatakan jika aku merupakan ayah kandungnya. Aku tahu kalau waktu itu Quinn mengatakannya hanya supaya mantan suami Tiffany tidak lagi mengganggu Tiffany. Namun apa yang terjadi sekarang? Tiffany menyimpan kalung yang tepatnya 7 tahun lebih hilang setelah aku pulang dari hotel itu. Mungkinkah ini Kebetulan yang merupakan kenyataan? Bagaimana ini bisa terjadi?" Luca membatin gelisah.


Laki-laki itu kemudian melirik ke arah Quinn yang sudah memejamkan kedua matanya. Benar. Quinn sudah tertidur pulas entah sejak kapan. Tiba-tiba saja lupa mendapatkan sebuah ide.


Lalu Luca mengaktifkan mode kemudi otomatis. Kini kedua tangannya pun bisa bergerak bebas. Luca mengeluarkan gunting yang kebetulan ada di mobil itu.


Dengan hati yang berdebar Luca menggunting beberapa helai rambut Quinn. Setelah melakukan hal itu, Luca menyimpan rambut Quinn ke dalam dompetnya. Ia harus memastikan secepatnya Apakah Quinn anak kandungnya atau bukan.


"Benar. Aku harus memastikan Apakah dia Anakku atau bukan. Jika bukan karena kalung dan kata-kata Tiffany yang mengatakan bahwa Quinn bukanlah anak dari mantan suami Tiffany aku mungkin akan berpikir berbeda." Luca terus berbicara dalam hati.


Setelah 40 menit dalam perjalanan akhirnya mobil Luca memasuki halaman rumah sakit. Laki-laki itu kemudian menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil. Ia harus segera membangunkan Quinn untuk turun dari mobil.


"Hey Bocah Tengil kau harus segera bangun." Luca membangunkan Quinn.


Laki-laki itu menoell hidung mancung Quinn. Meski Luca tidak sabar akan tetapi ia tetap membangunkan Quinn dengan lembut.


"Apakah kita sudah sampai Paman Luca?" Quinn bertanya sambil menggeliat pelan. perlahan-lahan Quinn membuka kedua matanya.


"Kita sudah sampai. Ayo turun. Apa kau ingin aku membawakan tas milikmu?" Luca menunjuk pada tas yang ada di pangkuan Quinn.

__ADS_1


"Tidak perlu. Paman sudah membawa tas yang lebih besar dari itu. Ayo kita turun. Mungkin Mommy sudah selesai operasi. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan Mommy." Quinn turun dari mobil.


Meskipun ia masih sedikit mengantuk akan tetapi Quinn sangat bersemangat untuk bertemu dengan Tiffany. Luca menghela napas panjang. Ia pun mengikuti langkah kecil Quinn memasuki rumah sakit. Di sana rupanya Joni sudah tidak ada. Kemungkinan operasi sudah selesai.


"Aku akan bertanya dulu kepada dokter atau perawat. Tunggulah di sini. Jangan kemana-mana." Luca memberikan peringatan kepadaku untuk tetap berada di tempatnya. Sebab Luca akan mencari informasi di mana keberadaan Joni dan juga tempat Tiffany dirawat.


Beberapa waktu kemudian Luca kembali. Laki-laki itu kemudian mengatakan kepada Quinn bahwa Tiffany sudah menyelesaikan operasinya. Luca dan Quinn pun mencari di mana ruang rawat Tiffany. Setelah mencari beberapa waktu, akhirnya mereka sampai di ruangan VIP.


"Wah! Paman Joni, tempat ini sangat bagus sekali. Tidak seperti rumah sakit saja! Wah! Bahkan Mommy mendapatkan peralatan terbaik! Terima kasih Paman Joni!" Quinn membungkukkan setengah badannya. Seolah gadis kecil itu benar-benar tulus berterima kasih kepada Joni.


"Hei! Yang membayar semua itu aku! Kenapa kau malah berterima kasih padanya?" Luca mendadak cemburu.


Karena Quinn malah berterima kasih pada Joni yang memang bekerja padanya. Luca sendiri bingung sebab tiba-tiba ia tidak terima atas ungkapan hati Quinn.


"Eh? Benarkah? Wah! Terima kasih Paman Luca! Kau sudah memberikan perawatan terbaik untuk mommy!" Kini Quinn membungkukkan setengah badannya.


"Hmm!" Luca menjawab datar. Kemudian laki-laki itu menaruh tas besar Tiffany di salah satu sofa yang ada di sana.


"Quinn, kau temani mommy-mu. Aku dan Paman Joni perlu berbicara sebentar." Luca menarik tangan Joni dengan kasar.


Membuat Joni kaget karena ulahnya. Namun, Joni tidak menyanggah kata-kata Luca atau Joni akan mendapatkan hukuman.


"Sebentar, mengapa Tuan Luca malah menyeretku? Apa aku sudah salah mengambil keputusan? Ah! Si*l! Sepertinya karena aku membawa Nyonya Tiffany di ruangan VIP! Seharusnya aku tidak melakukan hal ini!" Joni membatin gelisah. Ia takut mendapatkan amukan dari Luca.


Setelah mereka berada di luar ruangan Tiffany, Luca mengeluarkan apa yang tersimpan di saku celananya. Luca mengeluarkan dompetnya dan di sana ada beberapa helai rambut. Joni menatap bingung pada Luca. Untuk apa Luca membawa rambut itu? Tidak mungkin kalau Luca akan menyuruhnya untuk menyantet orang.


Yang lebih membingungkan adalah, Luca mengeluarkan isi di dalam dompet dan hanya menyisakan Beberapa helai rambut.


"Joni, pergilah ke bagian di mana kau bisa melakukan tes DNA." Luca menarik rambutnya sampai rontok. Sekali lagi, membuat Joni meringis.

__ADS_1


"Aku tahu apa golongan darahku. Jadi, kau bawa rambutku ini untuk mencocokkan dengan rambut yang ada di dalam dompet ini. Jangan sampai ada yang tahu. Cepat pergilah!" Luca berbicara dengan nada berbisik.


"Eh? Tapi untuk apa?"


__ADS_2