
"Maaf, aku cuma memiliki ini saja." Tiffany datang sambil membawa makanan hasil masakannya. Wanita itu sangat senang karena semua tamunya sudah datang. Bahkan wanita itu baru saja menyelesaikan mandinya.
"Aku mau steak, Mom," pinta Quinn.
Tiffany mengambilkan Quinn steak kesukaannya. Untung saja Tiffany membuat steak yang mana pastinya Luca juga menyukainya. Bukankah ini makanan orang kaya? Tiffany tidak ingin kalau Luca membuang hasil masakannya.
"Aku senang karena rumah ini jadi ramai," kata Quinn secara tiba-tiba.
"Begitukah? Aku juga senang karena kalian berdua sudah mengundangku." Viana mencubit pipi Quinn.
"Syukurlah kalau kau senang. Lain kali katakan saja, kau ingin apa. Aku akan mengabulkannya untukmu, Quinn," sela Luca.
Quinn menoleh ke arah Luca. "Sungguh, Paman Luca? Aku ingin sekali pergi ke pasar malam. Kudengar di pusat kota ada pasar malam. Apa Paman Luca mau mengajakku pergi ke sana?"
"Quinn! Kita sedang mengundang orang untuk makan malam di rumah kita. Mengapa kau malah ingin pergi ke pasar malam? Itu tidak sopan!" Tegur Tiffany.
"Biarkan saja, Tif. Jangan membuat Quinn bersedih. Lagi pula hanya datang ke acara pasar malam itu." Luca membela Quinn. Laki-laki itu mengusap pucuk kepala Quinn dengan lembut.
"Jangan khawatir. Setelah makan malam ini, kita akan pergi ke sana," bujuk Luca.
"Sungguh, Paman Luca?" Kedua mata Quinn berbinar. Ia senang bukan main.
"Tentu saja," sahut Luca dengan cepat.
"Tuan Luca, maaf. Tapi, rumah ini tidak ada yang menjaga nantinya. Lebih baik aku di rumah saja. Kalian berdua bisa pergi bersama." Tiffany keberatan dengan ide Luca dan Quinn.
"Kalau masalah rumah, titipkan saja pada Joni dan temanmu, Tiffany."
—-
"Aku tidak mengerti. Kenapa kita harus berada di sini?" Viana mengoceh tidak jelas ketika tiba-tiba saja Luca membawa pergi Tiffany dan juga Quinn.
__ADS_1
Kali ini Viana Justru harus menjaga rumah baru Tiffany bersama dengan laki-laki asing. Viana melirik laki-laki yang ada di sebelahnya. Gadis itu sedikit canggung lantaran laki-laki itu terasa asing baginya. Namun Joni malah mengambil rokok dan kemudian memantiknya.
"Tidak masalah kan kalau aku merokok?" Joni bertanya kepada Viana. Orang asing yang kini terjebak di satu tempat yang sama.
"Tidak apa-apa. Lagi pula ini juga bukan rumahku." Viana tidak dapat menjawab yang lebih keren lagi.
Gadis itu berdebar-debar lantaran tidak pernah berdekatan dengan laki-laki. Selama ini ia hanya bekerja untuk mencari uang. Sebab ia masih harus menyekolahkan adik-adiknya.
"Sebenarnya pergi ke mana mereka berdua?" Viana akhirnya bertanya tentang kepergian Luca dan Tiffany.
"Aku tidak tahu. Bukankah aku berada di sini bersamamu? Apakah kau teman dari Nyonya Tiffany? Aku baru melihatmu. Kenapa selama ini kau tidak bersama dengan Nyonya Tiffany?" Joni berusaha untuk mencairkan suasana.
Tidak mungkin rasanya bila mereka berdua harus terus terdiam sampai Luca dan Tiffany datang. Viana memberanikan diri untuk menoleh ke arah Joni. Tanpa diduga keduanya malah saling berpandangan.
Seketika Viana yang merasa malu itu segera mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Sedangkan Joni menggaruk Tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Aku harus bekerja. Jadi aku dan Tiffany jarang sekali bertemu belakangan ini. Tapi ngomong-ngomong sejak kapan Tuan Luca dan Tiffany dekat? Aku bahkan tidak tahu kalau Tiffany dekat dengan Tuan Luca. Biasanya Tiffany selalu menjaga jarak." Ucapan dari Viana membuat Joni penasaran. Laki-laki itu menoleh ke arah Viana.
"Tidak apa-apa. Mungkin Tiffany tidak nyaman dekat bersama laki-laki lain setelah dia bercerai dengan mantan suaminya. Apa kau tahu kalau mantan suami Tiffany sedikit gila?" Viana kini berani menatap Joni untuk waktu yang lama.
Meskipun hatinya berdebar karena ia belum mengenal Joni. Namun Seiring berjalannya waktu keduanya pun saling merasa nyaman setelah berbicara beberapa menit kemudian.
"Maksudmu Tuan Dante? Dia mengajukan proposal kerjasama kepada Tuan Luca. Hanya saja Tuan Luca masih belum memberikan balasan ataupun jawaban proposal milik Dante Sebenarnya sebelum ini pun mantan suami Nyonya Tiffany memaksa Nyonya Tiffany untuk mengakui bahwa anak yang sekarang bersama dengannya Tiffany itu merupakan hasil pernikahan mereka."
"Tapi Untunglah Nona Quinn sangat tahu bagaimana menyelamatkan keadaan itu. Aku ingat kalau Nona Quinn mengatakan bahwa Tuan Luca merupakan ayahnya. Sehingga mantan suami Nyonya Tiffany itu tidak berani berkutik lagi. Ya walaupun berulang kali laki-laki itu terus memaksanya Tiffany untuk kembali. Tetap saja mantan suami Nyonya Tiffany itu sedikit tidak kapok. Itu terbukti karena dia benar-benar tidak tahu diri." Joni berbicara panjang lebar dan menceritakan tentang keadaan di mana mantan suami Tiffany sedikit kurang ajar. Viana yang baru saja mendengarnya pun sangat terkejut.
"Bisa-bisanya mereka sangat tidak tahu diri? Mereka sendiri yang sudah membuang Tiffany! Lalu untuk apa lagi meminta Tiffany kembali dengan laki-laki brengsek sepertinya? Kalau saja aku berada di sana Aku akan memukulnya dengan keras! Sayangnya aku tidak ada di sana." Viana menyayangkan keadaan itu terjadi tanpa adanya kehadiran dirinya.
"Sepertinya kau sangat tahu perjalanan hidup Nyonya Tiffany. Apakah kau tahu siapa Ayah Nona Quinn?" Joni mematikan rokoknya.
Ia kemudian memasang wajah yang serius dan mulai mendengarkan penjelasan dari Viana dengan fokus. Karena ada dua laki-laki yang menurutnya sangat aneh. Satu Dante dan satunya lagi Luca. Cukup aneh karena Luca memintanya untuk tes DNA dengan rambut milik Quinn.
__ADS_1
"Di sini. Aku benar-benar penasaran Apakah Quinn memiliki Ayah biologis? Masalahnya adalah Tuan Luca tiba-tiba saja menyuruhku untuk tes DNA dengan rambut Nona Quinn." Joni berbicara dalam hati. Laki-laki itu penasaran setengah mati dengan siapa ayah kandung Quinn.
"Mengapa kau tiba-tiba bertanya tentang ayah kandung Quinn? Itu tidak sopan tahu! Bagaimana kalau tiba-tiba Tiffany mendapatkan fitnah bahwa dia suka bergonta-ganti laki-laki? Kau harus bertanggung jawab akan hal itu!" Viana tidak terima dengan apa yang menjadi pertanyaan Joni.
Walaupun Kenyataannya memang Tiffany tidak tahu siapa Ayah biologis dari Quinn. Tetap saja Viana harus membela sahabatnya. Karena Viana tahu betul Bagaimana perjuangan Tiffany setelah perceraiannya dengan laki-laki kurang ajar itu.
"Bukan begitu! Masalahnya adalah sekarang ini Tuan Luca dekat dengan Nyonya Tiffany. Apakah tidak tahu kalau ada banyak orang yang mungkin saja akan menjatuhkan Tuan Luca? Seandainya tahu siapa ayah kandung Quinn maka Tuan Luca bisa membela Nona Quinn kapan saja. Itu sudah terjadi beberapa waktu lalu. Kau jangan menyesali apa yang terjadi." Tiba-tiba saja Joni merasa kesal karena Viana yang terlalu menelan pertanyaannya secara mentah-mentah.
Gadis itu memang secara tidak langsung menuduh Joni memfitnah Tiffany. Padahal Joni Hanya penasaran siapa ayah kandung Quinn.
"Apakah ini berkaitan dengan mantan suami Tiffany?" tanya Viana.
"Siapa lagi jika bukan laki-laki yang terus saja memaksa Nyonya Tiffany dan bersikap kurang ajar kepada Tuan Luca? Itu sedikit menyebalkan. Karena bisa-bisanya dia menuju Tuan Luca yang tidak-tidak. Ngomong-ngomong Siapa namamu? Kita sudah bersama di sini tanpa tahu dan saling mengenal di sini," pungkas Joni.
"Panggil saja aku tanpa nama." Viana mengerucutkan bibirnya. Ia tidak peduli dengan kata-kata Joni.
"Baiklah tanpa nama. Kenapa kau sebagai seorang gadis sangat galak? Bisa-bisa kau tidak mendapatkan jodoh." Joni pergi meninggalkan Viana setelah laki-laki itu mengejek Viana.
Mendengar ejekan dari Joni Viana tidak terima dan mengejar laki-laki itu. Namun Viana mendadak menciut nyalinya ketika ia melihat Joni masuk ke dalam mobilnya. Viana yang takut ditinggalkan berlari cepat menyusul Joni.
"Apa Tuan tidak kasihan padaku? Mengapa Tuan ingin meninggalkan aku di sini? Bahkan di rumah ini tidak ada siapapun! Bagaimana kalau aku ikut masuk ke dalam mobil?" Viana mencoba untuk bernegosiasi dengan Joni. Sebab Viana takut apabila ditinggalkan di rumah ini sendirian.
"Tidak sudi!" Joni menjawab dengan tegas.
Membuat Viana berkaca-kaca. Gadis itu ingin sekali menangis. Jika tahu acara makan malam akan berakhir seperti ini, mungkin Viana memilih tidak akan datang.
"Dasar cengeng! Kenapa kau malah ingin menangis?" Kedua mata Joni membulat. Laki-laki itu kemudian turun dari mobil dan mendekati Viana.
"Hua! Itu karena kau mau meninggalkan aku! Kenapa kau kejam sekali? Rumah ini besar dan bagus. Tapi aku takut tinggal di rumah besar ini sendirian! Lebih baik aku tinggal di kos atau rumah kontrakan saja! Hua! Kalian semua jahat!" Viana merengek.
"Rasakan! Kau jahat sekali mau meninggalkan aku di sini! Awas saja! Kalau kau ingin pergi, maka bawa aku juga, brengs*k!" batin Viana dalam hati.
__ADS_1