
Sera membuka kedua matanya secara perlahan. Kepalanya terasa sangat sakit. Saat Dante pergi pelayan dan penjaga yang ada di rumah itu segera menolong Sera. Mereka tidak mau sampai terjadi sesuatu terhadap Sera. Karena Sera sudah tidak sadarkan diri mereka semua segera membawanya ke rumah sakit. Kini Sera kembali bersedih ketika dia kembali mengingat surat cerai yang sempat dilayangkan oleh Dante. Wanita itu tidak terima.
"Sera, bagaimana keadaanmu. Apakah kau sudah merasa jauh lebih baik?"
Pertanyaan Ny. Alessandro mengalihkan perhatian Sera. wanita itu tidak menyangka kalau mertuanya juga ada di ruangan itu untuk menunggunya. Wajahnya langsung sedih. Buliran air mata terus saja mengalir dengan deras.
"Ma, Dante ingin menceraikan aku." Suara wanita itu serak. Dia benar-benar bersedih kali ini.
__ADS_1
"Pelayan yang ada di rumah bilang kalau kau melompat ke kolam renang dan berniat untuk bunuh diri. Mama masih tidak menyangka Kenapa kamu memiliki pikiran pendek seperti itu. Sera seberat apapun masalah yang kau alami pasti masih ada solusinya. Jangan jadikan kematian sebagai pilihan terakhirmu."
"Untuk apa aku hidup di dunia ini jika Dante tidak lagi bersamaku ma?" Sera menghapus air mata yang terus saja menetes. Wanita itu masih demam bibirnya sangat pucat.
"Mama janji akan membantumu menyelesaikan masalah ini. Dante tidak akan berhasil menceraikanmu. Tenang saja Sera. Selama mama masih hidup, Mama akan selalu ada di pihakmu. Mama juga tidak mau sampai kau dan Dante berpisah lalu Dante kembali dengan wanita itu lagi."
"Terima kasih Ma. Tolong bantu aku. Lakukan apapun agar Dante mau kembali ke sisiku."
__ADS_1
Sera menggangguk setuju. "Aku akan menunggu Mama di sini. Cepat kembali Ma. Bawa Dante untuk menemaniku di sini."
Nyonya Alessandro segera pergi meninggalkan ruangan tempat Sera dirawat. Setelah pintu kembali tertutup Sera memaksakan dirinya untuk duduk. Sebenarnya kepala wanita itu terasa sangat berat tubuhnya sangat kedinginan. Tetapi Sera tidak mau berbaring lemah seperti itu. Dia ingin melakukan sesuatu untuk membalas perbuatan Dante karena sudah melukai hatinya dengan begitu parah.
"Jika kau tidak bisa menjadi milikku maka kau juga tidak boleh kembali dengan wanita itu." Sera memegang tempat tidur itu dengan sangat kuat agar ketika ia menapakkan kaki di lantai tidak sampai terjatuh. Wanita itu segera melepas jarum infus yang masih tertancap di punggung tangannya. "Aku harus pulang. Aku harus memastikan sendiri Apakah benar mertuaku itu pergi untuk menemui Dante. Bagaimana kalau dia hanya sekedar membohongiku saja agar putranya tidak terlibat? Bagaimanapun juga mereka itu adalah ibu dan anak. Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja.'
Sera berhasil menapakkan kakinya di lantai lalu berjalan secara perlahan. Wanita itu sempat kebingungan karena kini ia menggunakan pakaian pasien. Jelas saja pihak rumah sakit akan segera membawanya kembali ke ruangan tempat dia dirawat Jika ia keluar dengan pakaian seperti itu.
__ADS_1
"Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak bawa dompet, handphone, apalagi pakaian ganti." Sera terduduk di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur. Wanita itu berpikir keras agar bisa menemukan cara untuk kabur dari rumah sakit. Hingga tidak lama kemudian ada senyum licik di sudut bibirnya.
"Percuma saja aku hidup jika tidak bersama dengan Dante. Sekarang akan aku pertaruhkan satu-satunya nyawa yang aku miliki!"